NILAI & NORMA SOSIAL

NILAI & NORMA SOSIAL

  1. Nilai Sosial
  • Pengertian Nilai Sosial

Nilai sosial dapat diartikan sebagai sesuatu yang baik, yang didinginkan, dicita-citakan, diharapkan, dan dianggap penting oleh warga masyarakat dan dijadikan dasar dalam bertindak.

  • Jenis-jenis Nilai Sosial

Jenis-jenis nilai sosial menurut Notonegoro adalah sebagai berikut.

  1. Nilai material, sesuatu yang berguna bagi kehidupan masyarakat.
  2. Nilai vital, segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat hidup dan melakukan kegiatan sehari-hari
  3. Nilai spiritual, segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.
  • Ciri-ciri Nilai Sosial :
  1. Dipelajari melalui sosialisasi
  2. Disebarkan dari satu individu ke individu yang lain
  3. merupakan hasil interaksi antar warga masyarakat
  4. mempengaruhi perkembangan diri seseorang
  5. pengaruh nilai tersebut berbeda pada setiap anggota masyarakat
  6. berbeda antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain
  7. bagian dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya
  8. cenderung berkaitan antara yang satu dengan yang lain dan membentuk kesatuan nilai.
  • Fungsi Nilai Sosial:
  1. Sebagai pelindung
  2. Penunjuk arah dan pemersatu:
  • memberikan alat untuk menetapkan harga sosial dari suatu kelompok
  • mengarahkan masy. Dlm berpikir dan bertingkahlaku
  • penentu terakhir manusia dlm memenuhi peranannya
  • sebagai alat solidaritas dikalangan anggota kelompok
  • sebagai pengontrol perilaku masyarakat.

     3. Motivator

   2. Norma Sosial

  • Pengertian Norma Sosial

Norma sosial merupakan ketentuan yang berisi perintah maupun larangan yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama. Menurut Robert M.Z.Lawang, norma adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok tertentu

  • Jenis-jenis Norma Sosial

Berdasarkan daya ikatnya, Soerjono Soekanto membedakan empat jenis pengertian norma sosial sebagai berikut.

  1. Cara (usage) – perbuatan yang menonjol dalam hubungan antarindividu
  2. Kebiasaan (folkways) – merupakan perbuatan yang diulang-ulang dalam bentuk yang sama
  3. Tata Kelakuan (mores) – cara berperilaku yang diakui oleh masyarakat.
  4. Adat Istiadat (custom) – merupakan pola perilaku yang diakui sebagai hal yang baik dan dijadikan hukum tidak tertulis dengan sanksi yang berat.
  • Norma-norma sosial yang ada dalam masyarakat dikelompokkan menjadi :
  1. Norma Agama – berasal dari Tuhan YME dan diajarkan kepada manusia melalui ajaran agama tertentu.
  2. Norma Kelaziman atau kebiasaan – tata aturan seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu kegiatan yang didasarkan atas tradisi dan kebiasaan. Pelanggaran terhadap norma ini dikenai sanksi berupa cacian atau celaan dari orang lain atau masyarakat.
  3. Norma Kesusilaan – salah satu aturan yang berkaitan erat dengan hati nurani dan keyakinan agama. Pelanggaran terhadap norma ini dikenai sanksi berupa gunjingan, sindiran, ejekan, atau dikucilkan.
  4. Norma Kesopanantata aturan yang memandu tingkah laku manusia agar sesuai dengan aturan di masyarakat. Pelanggaran terhadap norma ini dikenai sanksi berupa teguran.
  5. Norma Hukumtata aturan yang membatasi tingkah laku dan perbuatan seseorang untuk mengamankan kepentingan orang lain. Pelanggaran terhadap norma ini dikenai sanksi hukum.
  • Fungsi Norma Sosial
  1. Sebagai faktor perilaku yang memungkinkan seseorang untuk menentukan lebih dulu bagaimana tindakannya akan dinilai oleh orang lain
  2. sebagai aturan yang mendorong seseorang atau kelompok untuk mencapai nilai-nilai sosial sebagai unsur pengendali dalam hidup bermasyarakat.
  • Peranan Nilai & Norma Sosial Dalam Proses Sosialisasi

Memberi bekal pedoman kepada individu atau seseorang agar berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam masyarakat, sehingga individu dapat hidup dengan baik dalam masyarakat.

      Contoh soal :

  1. Lampu lalu lintas menyala merah sebagai tanda semua kendaraan harus berhenti, tetapi Ahmad tidak menghentikan sepeda motornya karena khawatir terlambat datang di sekolah. Tindakan Ahmad ini …

    A. Melanggar norma kesopanan.

    B. Melanggar norma kesusilaan.

    C. Melanggar norma hukum.

    D. Melanggar norma agam

  • Jawaban : C

    Pembahasan : 

Tindakan Ahmad yang tidak menghentikan sepeda motornya jelas melanggar UU Lalu Lintas dan hal ini merupakan bentuk pelanggaran terhadap norma hukum.  Norma hukum merujuk pada rangkaian aturan yang berisi perintah dan larangan yang dibuat oleh lembaga formal seperti pemerintah. Pelanggaran terhadap norma hukum dikenai sanksi berupa denda, penjara, atau hukuman mati.

INFO SMMPTN

INFO SMMPTN

Kata Pengantar

Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 60 Tahun 2018 Pasal 3 ayat 3 menegaskan bahwa penerimaan mahasiswa baru program sarjana (S1) pada Perguruan Tinggi Negeri, (PTN) selain dilakukan melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN, dapat juga dilakukan melalui Jalur Mandiri yang diselenggarakan oleh masing-masing Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, para Rektor dari 18 PTN yang tergabung dalam BKS PTN Wilayah Barat, dalam pertemuannya di Jakarta pada tanggal 7 Desember 2019, telah bersepakat untuk dapat melanjutkan menyelenggarakan program seleksi masuk perguruan tinggi jalur mandiri secara bersama tahun 2020 yang dinamakan program SMM PTN-BARAT 2020. Delapan belas PTN yang tergabung dalam penyelenggaraan SMM PTN-BARAT 2020 adalah:

Program SMM PTN-BARAT 2020, pada dasarnya merupakan jalur seleksi mandiri oleh masing-masing perguruan tinggi yang teknis pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama. SMM PTN-BARAT adalah seleksi berdasarkan hasil ujian tulis dalam bentuk cetak (UTBC) atau kombinasi hasil ujian tulis dan ujian keterampilan calon mahasiswa yang dilakukan secara bersama dibawah koordinasi panitia SMM PTN-BARAT.

Pembiayaan penyelenggaraan SMM PTN-BARAT 2020 sepenuhnya bersumber dari biaya registrasi dan seleksi para calon mahasiswa. Informasi lebih lanjut meliputi ketentuan dan persyaratan umum, tata cara pembayaran biaya registrasi dan seleksi, tata cara pendaftaran, jadwal pelaksanaan, dan pilihan PTN serta program studinya, secara rinci dapat dilihat pada laman www.smmptnbarat.id dan website masing-masing perguruan tinggi peserta SMM PTN-BARAT tahun 2020.

Ketentuan Umum dan Persyaratan

  1. Ketentuan Umum

SMM PTN-BARAT 2020 merupakan seleksi calon mahasiswa baru jalur mandiri yang penyelenggaraannya dilakukan secara bersama antar perguruan tinggi negeri yang tergabung dalam BKS-PTN Indonesia Wilayah Barat. Penyelenggaraan seleksinya berdasar hasil ujian tulis berbasis cetak (UTBC) atau kombinasi hasil ujian tulis dan ujian keterampilan dan ujian lainnya yang dilakukan secara bersama di bawah koordinasi panitia SMM PTN-BARAT.

  1. Persyaratan
  1. Pendaftaran
    1. Bagi lulusan SMA/SMK/MA atau sederajat dan Paket C, harus memiliki ijazah.
    2. Bagi lulusan SMA/SMK/MA atau sederajat dan Paket C tahun 2019, telah memiliki Surat Keterangan Lulus yang memuat sekurang-kurangnya informasi jati diri, pas foto yang bersangkutan, serta dibubuhi cap yang sah.
    3. Peserta seleksi dalam kondisi kesehatan yang memadai sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran pada program studinya.
    4. Ijazah adalah 3 tahun terakhir 2018, 2019, dan 2020 kecuali untuk beberapa universitas:
      • UMRAH, UNJA, UNSIKA, dan Unimal tahun ijazah 5 tahun terakhir (2016, 2017, 2018, 2019, dan 2020);
      • ISBI menerima tahun ijazah 10 tahun terakhir yaitu mulai ijazah dari tahun 2011 sampai dengan 2020 dan Paket C maksimal umur 25 tahun; dan
      • UPR 3 tahun terakhir (2018, 2019, dan 2020) untuk Fakultas Kedokteran dan 5 tahun terakhir (2016, 2017, 2018, 2019, dan 2020) untuk fakultas lainnya.
    5. Bagi yang mengambil Prodi Ekonomi Pembangunan, Menajemen, dan Akutansi Fakultas Ekonomi kampus utama, harus ikut ujian Berkemampuan Bahasa Inggris pada hari Sabtu tanggal 20 Juli 2020 di UPT Pusat Bahasa Unand dengan mengisi link http://ukb.smmptn.unand.ac.id
  2. Penerimaan

Peserta seleksi lulus pendidikan menengah, lulus SMM PTN-BARAT 2020, sehat, dan memenuhi persyaratan lain yang ditetapkan oleh masing-masing PTN penerima, termasuk besaran nilai UKT dan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) atau Biaya Pengembangan Institusi (BPI) yang besarnya dapat dilihat pada website perguruan tinggi masing-masing.

Prosedur Pendaftaran

  1. Pendaftaran SMM PTN-BARAT 2020 dilakukan secara online.
  2. Proses pendaftaran diawali dengan mengisi biodata singkat pada laman pendaftaran untuk mendapatkan Kode Pembayaran dan PIN yang dimulai sejak tanggal 2 Juni 2020 sampai dengan tanggal 10 Juli 2020 pukul 15.00 WIB. Setelah Kode Pembayaran diperoleh, proses pembayaran dapat dilakukan melalui bank mitra yaitu Mandiri, BNI, dan BTN. Tata cara pembayaran dapat dilihat di bawah.
  3. Pengisian borang (formulir) pendaftaran ujian tulis dan keterampilan dilakukan melalui website https://pendaftaran.smmptnbarat.id/ dengan cara memasukan seluruh data yang diperlukan secara benar.
  4. Pendaftaran dimulai sejak tanggal 2 Juni 2020 sampai dengan tanggal 12 Juli 2020 pukul 10.00 WIB.

Pada saat melakukan pendaftaran secara online, bagi peserta yang mengikuti SBMPTN 2020, diminta memasukkan nomor tes SBMPTN 2020 pada kolom yang disediakan.

Jenis Ujian

  1. Ujian Tulis (UTBC)

Materi Ujian Tulis terdiri atas:

  1. Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA).
  2. Tes Kemampuan Dasar Sains dan Teknologi (TKD Saintek) terdiri atas mata uji Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika.
  3. Tes Kemampuan Dasar Sosial dan Humaniora (TKD Soshum) terdiri atas mata uji Sosiologi, Sejarah, Geografi dan Ekonomi.
  1. Ujian Keterampilan

Ujian Keterampilan diperuntukkan bagi peserta yang memilih program studi bidang seni dan keolahragaan terdiri dari:

  1. Ujian keterampilan seni rupa dengan mata tes menggambar, tes pengetahuan dan wawasan seni rupa.
  2. Ujian keterampilan seni tari dengan mata tes tari bentuk, tes kreatifitas tari, tes imitasi gerak, serta tes pengetahuan dan wawasan seni tari (dalam bentuk wawancara).
  3. Ujian keterampilan seni musik dengan mata tes musikalitas, tes praktek instrumen, serta tes pengetahuan dan wawasan seni musik (dalam bentuk wawancara).
  4. Ujian keterampilan seni drama/teater dengan mata tes praktek monolog, tes praktek pantomim, serta tes pengetahuan dan wawasan seni drama/teater (dalam bentuk wawancara).
  5. Ujian keterampilan fotografi dengan mata tes memotret, pengetahuan seni, dan wawasan seni (dalam bentuk wawancara).
  6. Ujian keterampilan televisi dan film dengan mata tes membuat naskah, story board, pengambilan gambar, serta tes pengetahuan seni dan wawasan seni (dalam bentuk wawancara).
  7. Ujian keterampilan olah raga dengan mata tes kesehatan dan tes keterampilan motorik.
  8. Ujian berkemampuan Bahasa Inggris bagi peserta yang memilih Program Studi Ekonomi Pembangunan, Manajemen, Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Andalas dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 18 Juli 2020 Jam 07.00 WIB di Gedung Pusat Bahasa Universitas Andalas.

Kelompok Ujian

Kelompok ujian SMM PTN-BARAT 2020 terbagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

  1. Kelompok ujian Saintek dengan materi ujian TKPA, TKD Saintek.
  2. Kelompok Ujian Soshum dengan materi ujian TKPA, TKD Soshum.
  3. Kelompok Ujian Campuran dengan materi ujian TKPA, TKD Saintek, TKD Soshum.

Setiap peserta dapat mengikuti salah satu dari kelompok Saintek, Soshum, atau Campuran.

Kelompok Program Studi dan Jumlah dan Pilihan

  1. Peserta dapat memilih program studi sebanyak-banyaknya 3 (tiga) program studi dengan ketentuan sebagai berikut:
    1. Jika program studi yang dipilih semuanya dari kelompok Saintek, maka peserta mengikuti kelompok ujian Saintek.
    2. Jika program studi yang dipilih semuanya dari kelompok Soshum, maka peserta mengikuti kelompok ujian Soshum.
    3. Jika program studi yang dipilih terdiri dari kelompok Saintek dan Soshum, maka peserta mengikuti kelompok ujian Campuran.
  2. Peserta yang memilih prodi-prodi yang masuk pada kelompok Saintek atau Soshum saja dapat memilih sebanyak-banyak 3 prodi pada satu PTN atau lebih.
  3. Peserta yang memilih prodi-prodi yang masuk kelompok Campuran (Saintek dan Soshum) dapat memilih sebanyak-banyak 4 prodi pada satu PTN atau lebih.
  4. Urutan dalam pemilihan program studi menyatakan prioritas pilihan.
  5. Peserta diwajibkan untuk memilih prodi pada PTN tempat mengikuti ujian sebagai pilihan pertama.
  6. Bagi yang memilih prodi bidang keolahragaan dan seni diwajibkan mengikuti ujian keterampilan.

Biaya Register dan Seleksi Ujian Tulis dan Keterampilan

  1. Biaya registrasi dan seleksi bagi peserta yang masuk kelompok Saintek atau Soshum (tidak ada materi uji keterampilan) sebesar Rp 350.000,-
  2. Biaya registrasi dan seleksi bagi peserta yang masuk kelompok Campuran dan kelompok Saintek atau Soshum yang ada materi uji keterampilan dan/atau materi ujian berkemampuan Bahasa Inggris adalah sebesar Rp 500.000,-
  3. Biaya registrasi dan seleksi dapat dibayarkan pada waktu yang ditetapkan melalui Bank yang ditetapkan.
  4. Biaya registrasi dan seleksi yang telah dibayarkan TIDAK DAPAT ditarik kembali dengan alasan apa pun.

Jadwal Ujian

  • Ujian Tulis (UTBC) :

UTBC dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 16 Juli 2020 dengan jadwal sebagai berikut:

  • Ujian Keterampilan :

Ujian Keterampilan dilaksanakan pada hari Jumat s.d. Sabtu tanggal 17 s.d. 18 Juli 2020

Tempat dan Lokasi Ujian

  1. Tempat ujian peserta SMM PTN-BARAT 2020 adalah di PTN pilihan pertama.
  2. Lokasi ruang ujian tulis diatur dan ditetapkan oleh panitia pada masing-masing PTN peserta program seleksi SMM PTN-BARAT 2020.
  3. Lokasi ujian keterampilan dilakukan di PTN tempat ujian tulis, dan apabila tidak tersedia, maka dilakukan di PTN terdekat, dengan biaya transportasi atas tanggungan peserta.

Pengumuman Hasil Seleksi

Hasil seleksi SMMPTN 2020 akan diumumkan pada tanggal 25 Juli 2020 mulai pukul 10.00 WIB dan dapat diakses melalui laman http://pengumuman.smmptnbarat.id dan laman mirror sebagai berikut:

Daftar Kampus

TUJUAN DAN FUNGSI KITAB-KU

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                      TUJUAN DAN FUNGSI KITAB-KU

  1. Kedudukan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber pokok bagi ajaran Islam. Al-Qur’an juga merupakan sumber hukum yang utama dan pertama dalam Islam. Sebagai sumber pokok ajaran Islam, Al-Qur’an berisi ajaran-ajaran yang lengkap dan sempurna yang meliputi seluruh aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Sebagai sumber hukum, Al-Qur’an telah memberikan tata aturan yang lengkap, ada yang masih bersifat global (mujmal) dan ada pula yang bersifat detail (tafsil). Al-Qur’an mengatur dengan disertai konsekuensi-konsekuensi demi terciptanya tatanan kehidupan manusia yang teratur, harmonis, bahagia dan sejahtera, baik lahir maupun batin.

Agar manusia dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya, maka hendaknya manusia selalu berpegang teguh kepada prinsip dasar ajaran dan kaidah-kaidah hukum yang bersumber dari Al-Qur’an sebagai sumber utamanya. Hal ini sebagaimana tersirat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103.

 

Artinya:Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…” (QS. Ali-‘Imrwn  [3]:103).

Sebagian ulama’ menafsirkan lafazحَبْلِ الله dengan Al-Qur’an. Dengan demikian ayat tersebut mengisyaratkan agar manusia khususnya umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam QS. an-Nisa ayat 59, Allah Swt juga menegaskan:

 “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.An-Nisa [4]:59).

Ayat tersebut terdapat perintah untuk menaati Allah Swt. (اَطِيْعُوا اللهَ), maksudnya adalah menaati ajaran Allah Swt. yakni Al-Qur’an. Dalam ayat tersebut disiratkan bahwa Al-Qur’an menempati kedudukan sebagai sumber utama dan pertama dalam rangka menyelesaikan permasalahan umat Islam. Di samping Al-Qur’an, juga terkandung maksud untuk mendasarkan pada Hadis/Sunnah Rasulullah Saw. sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’an. Sikap yang harus dimiliki oleh setiap umat Islam adalah mengembalikan semua permasalahan kepada sumber pertamanya yaitu Al-Qur’an dan juga sumber keduanya yaitu Hadis/Sunnah Rasulullah Saw. Dengan demikian, maka akan tercapai kebahagiaan hidup di dunia sampai di akhirat kelak.

   B. Tujuan dan Fungsi Al-Qur’an

Allah telah menurunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran yang hakiki. Al-Qur’an memiliki beberapa fungsi dan tujuan bagi kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Di antara tujuan dan fungsi diturunkannya Al-Qur’an oleh Allah Swt. adalah:

  1. Al-Qur’an sebagai Petunjuk bagi Manusia

Al-Qur’an telah diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaraan malaikat Jibril as. sebagai petunjuk bagi manusia. Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an tersebut, manusia akan mempunyai arah dan tujuan hidup yang jelas dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Beberapa ayat di antaranya adalah sebagai berikut :

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah [2]:185).

Atau ayat lain yang lebih khusus menegaskan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia yang bertakwa.

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an)  ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. al-Baqarah [2]:2).

Atau ada pula ayat yang khusus menegaskan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia yang beriman.

Artinya: “Dan sekiranya Al-Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, ”Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, ”Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman…  (QS. Fussilat [41]: 44).

Dari beberapa penjelasan ayat tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu fungsi terpenting Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia. Petunjuk-petunjuk Al-Qur’an itu secara garis besar meliputi petunjuk tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah Swt., manusia dengan sesama manusia dan bahkan manusia dengan alam sekitarnya. Manusia yang mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an, niscaya akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

  1. Al-Qur’an sebagai Sumber Pokok Ajaran Islam

Salah satu fungsi penting Al-Qur’an lainnya adalah sebagai sumber pokok ajaran Islam. Dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Al-Qur’anlah yang mula-mula menjelaskan ajaran yang lengkap dan menyeluruh yang diberikan oleh Allah Swt. Ajaran-ajaran tersebut ada yang bersifat mujmal, yakni hanya memberikan prinsip-prinsip umumnya saja, dan ada juga yang bersifat tafsil yakni ajaran yang terperinci dan khusus.

Ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an mutlak kebenarannya dan ajaran yang paling sempurna. Ajaran Al-Qur’an di samping membenarkan ajaran-ajaran kitab suci sebelumnya, juga menyempurnakan ajaran kitab-kitab sebelumnya tersebut. Al-Qur’an berisi tentang pokok-pokok atau dasar-dasar ajaran Islam yang berkenaan dengan masalah ketauhidan, ibadah, akhlak, hukum, dan segala hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya.

Dalam sebuah ayat, Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran hakiki yang berfungsi sebagai dasar penetapan hukum yang harus dipegang teguh oleh Nabi Muhammad Saw., tidak boleh sedikitpun menyimpang dari Al-Qur’an. Dan tentunya hal ini juga harus dipegang teguh oleh umat Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. an-Nisw’ ayat 105.

Artinya:“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau   mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat,” (QS. an-Nisw’[4]: 105).

  1. Al-Qur’an sebagai Peringatan dan Pelajaran bagi Manusia

Sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia maksudnya adalah Al-Qur’an merupakan kitab suci dengan konsep ajaran yang salah satu ajarannya adalah berupa sejarah atau kisah umat terdahulu. Dalam kisah-kisah itu dijelaskan bahwa ada di antara umat manusia sebagian orang-orang yang beriman, taat dan shalih, namun ada pula sebagian yang lain orang-orang yang kafir, ma’siat dan tidak shalih. Kepada mereka yang salih, Allah Swt. menjanjikan kebaikan di dunia dan pahala (surga) di akhirat karena rida-Nya, sebaliknya kepada mereka yang kafir, durhaka dan tidak shalih, Allah Swt. mengancam dengan ancaman hukuman dan azab baik di dunia maupun di akhirat. Dan dalam banyak ayat, Allah Swt. membuktikan janji dan ancamannya tersebut.

Bagi kita, apa yang dijelaskan dalam kisah umat terdahulu tersebut, dapat kita ambil pelajaran dan sekaligus peringatan bagi kita untuk pandai mengambil pelajaran dan meneladani yang baik dan menjauhi yang buruk untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia sampai di akhirat kelak. Allah Swt. berfiman:

Artinya: “Dan ini (Al-Qur’an), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk)Ummul Qura (Mekah) dan orang-orangyang ada di sekitarnya. Orang-orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan mereka selalu memelihara salatnya. (QS. al-An’am [6]: 92).

Dalam ayat lain, Allah Swt. juga menegaskan tentang fungsi Al-Qur’an sebagai peringatan dan pelajaran terutama bagi orang-orang yang beriman.

Artinya: “(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf [7]:2).

Apabila manusia, terutama umat Islam telah memfungsikan Al-Qur’an dengan cara menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup, menerapkan dan melaksanakan segala ajaran Islam sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an, serta mengambil pelajaran yang baik dan positif dan meneladaninya dan meninggalkan yang negatif, niscaya keselamatan, kesuksesan dan kebahagiaanlah yang akan diperoleh baik di dunia maupun di akhirat. Itulah fungsi dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an.

   C. Perilaku Orang yang Memfungsikan Al-Qur’an

Perilaku taat kepada Allah Keimanan yang kuat terhadap kitab suci Al-Qur’an  akan mendorong seseorang untuk taat dan patuh terhadap segala perintah-perintah-Nya dan senatiasa menghindari apa yang dilarang-Nya, ketaatan itu muncul dari keyakinan bahwa segala yang dikandung dalam kitab al-Quran adalah benar dan harus dipatuhi oleh umat manusia. 

Selalu menghindari perbuatan maksiat maksiat artinya berbuat durhaka kepada Allah, baik dengan cara melanggar larangan-Nya maupun dengan tidak mau melakukan perintah-perintah-Nya. Tidak ada satupun ayat al-Quran yang menganjurkan manusia berbuat maksiat ataupun berbuat jahat baik kepada –Nya ataupun kepada sesama makhluk dan alam lingkungannya. Oleh sebab itu, setiap orang yang beriman kepada Al-Quran akan senatiasa menjag sikap perilaku dan perbuatannya dari hal-hal yang berbau maksiat.

Selalu Berbakti kepada orang tua. Dalam Al-Quran Allah selalu menjelaskan bahwa manusia mempunyai kewajiban untuk menghormati dan berbakti kepada ayah ibunya, karena mereka sangat besar jasanya bagi kelangsungan hidup seseorang, tanpa kebesaran jiwanya, kemuliaan hatinya, tidak mungkin seorang anak dapat bertahan hidup. Oleh sebab itu, seorang yang beriman kepada al-Quran dan memfungsikannya tidak mungkin berbuat durhaka dan menyakiti orangtuanya, dalam hati mereka terdapat keyakinan bahwa mengabaikan dan mendurhakai orangtua akan mendapatkan murka dari Allah Swt.

Sebagai bentuk  penerapan fungsi Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari  kita harus berusaha menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup, sebagai landasan hukum dan etika serta menjadikan Al-Quran sebagai tempat kembalinya segala persoalan.

CONTOH SOAL:

  1. Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang .…

   A. pertama

   B. kedua

   C. ketiga

   D. keempat

   E. kelima

   2. Berdasarkan QS. al-Baqarah ayat 2, al-Qur’an berfungsi sebagai….

   A. Peringatan 

   B. Pelajaran

   C. Petunjuk

   D. Penyelamat

   E. Pembeda

3.Petunjuk al-Qur’an ada yang masih bersifat mujmal ada juga yang bersifat tafsil. Mujmal maksudnya…

   A. Global

   B. Terperinci

   C. Tidak jelas maksudnya

   D. Tidak bias difahami

   E. Sudah jelas

   4. Dalam al-Qur’an banyak terkandung kisah-kisah umat masa lalu, tujuan utamanya untuk…

   A. Menakut-nakuti manusia

   B. Menambah pengetahuan

   C. Menghibur manusia

   D. Melengkapi isi al-Qur’an

   E. Menjadi ibrah dan peringatan

  1. Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik…

   A. Kisah Fir’aun

   B.Kisah Qarun

   C. Kisah Abu Lahab

   D. Kisah Qabil

   E. Kisah Luqman al-Hakim

  1. Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an kepada umat manusia adalah…

   A. Agar manusia selamat dan bahagia di dunia

   B. Agar manusia selamat dunia dan akhirat

   C. Agar manusia tahu cara mencari rezeki

   D. Agar manusia mau membacanya tiap hari

   E. Agar manusia bisa melihat dan menyaksikannya

Jawaban:

  1. A
  2. C
  3. A
  4. E
  5. E
  6. B

Al Quran dan Hadist

ALQURAN DAN HADIST

Ø Al-Quran

 


Pengertian Al Quran

 

Pengertian Al-Quran menurut bahasa adalah bacaan atau sesuatu yang dibaca secara berulang.

Sedangkan menurut terminologi, Al-Quran artinya firman Allah SWT yang diturunkan hanya kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sebuah mukjizat untuk kemudian disampaikan dengan jalan mutawattir dengan perantaraan malaikat Jibril.

Sedangkan menurut syariat Islam, membaca Al-Quran dinilai sebagai salah satu ibadah kepada Allah SWT.

 

Al-Qur’an menurut seorang ahli bernama Muhammad Ali ash-Shabuni adalah firman Allah SWT yang tidak ada tandingannya, firman Allah SWT ini diturunkan kepada Nabi Muhammad yang disampaikan melalui perantara yaitu malaikat Jibril AS. Al-Quran sendiri diawali dengan bacaan Surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surah An-Naas yang termasuk surat makkiyah.


Fungsi Al-quran

 

Keberadaan Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai firman Allah SWT tentunya mempunyai beberapa fungsi. Adapun beberapa fungsi dari Al-Qur’an adalah :

 

1. Petunjuk Bagi Manusia

Terkait hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah 2 : 185 dan Surah Al-Fusilat 41 : 44 yang menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk bagi umat manusia.

2. Sumber Pokok Dari Ajaran Agama Islam

Hal ini telah diyakini dan juga diakui kebenarannya oleh hukum Islam. Ajaran dalam Al-qur’an juga meliputi persoalan tentang kemanusiaan secara umum seperti halnya mengenai ibadah, hukum, ekonomi, poleksosbud, serta ilmu pengetahuan dan juga seni.

3. Peringatan dan Pelajaran Bagi Manusia

Dalam Al-Qur’an juga banyak diterangkan mengenai kisah para Nabi dan umat terdahulu baik itu umat yang melaksanakan perintah Allah SWT maupun umat yang menentang dan bahkan mengingkari ajaran Allah SWT. Kisah tersebut diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi kita sehingga kita dapat mengambil hikmah dari berbagai kisah yang tercantum dalam Al-qur’an tersebut.

4. Mukjizat Nabi Muhammad SAW

Turunnya Al-Qur’an merupakan mukjizat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW selain mukjizat lainnya. Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang fungsinya sebagai pedoman hidup setiap umat Muslim dan sebagai korektor serta penyempurna dari kitab-kitab Allah SWT yang telah diturunkan sebelumnya, bahkan Al-qur’an juga mempunyai nilai abadi karena selamanya tidak dapat diubah.


Nama-nama Al-quran

 

Menurut seorang ahli bernama As-Suyug, Al-Qur’an mempunyai 55 nama, dan bahkan dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar disebutkan ada setidaknya 78 nama bagi kitab suci Al-Quran.

Beberapa nama Al-Qur’an tersebut yang paling populer dan paling banyak digunakan di masyarakat adalah :

1. Al-Quran

Merupakan nama yang paling populer dan juga paling sering digunakan dalam kitab suci terkahir yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW ini.Al-Qur’an berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca. Salah satu ayat Al-Qur’an yang menyebutkan nama ini adalah Surah Al-Baqarah : 185.

2. Al-Kitab

Al-Qur’an juga seringkali disebut sebagai Kitabullah yang artinya Kitab Suci Allah SWT dan dapat juga diartikan sebagai sesuatu yang ditulis. Ayat Al-Qur’an yang menyebutkan nama ini adalah Surah Al-Baqarah : 2 dan Surah Ali’imran : 3.

3. Al-Furqan

Al-Furqan berarti pembeda yang mempunyai maksud bahwa mukjizat Nabi Muhammad SAW ini merupakan suatu pembeda bagi mana yang haq dan mana yang bathil atau mana yang baik dan mana yang buruk.Nama Al-Furqan sebagai salah satu nama Al-Qur’an termaktub dalam Surah Al-Furqan : 1.

4. Al-Zikr

Al-Zikr artinya adalah pemberi peringatan dimana Al-Qur’an dapat memberikan peringatan kepada manusia. Adapun ayat dalam Al-Qur’an yang mengandung nama ini terdapat dalam Surah Al-Hijr : 9.

5. At-Tanzil

Sedangkan At-Tanzil artinya yang diturunkan, maksudnya adalah Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara yaitu Malaikat Jibril AS untuk disampaikan kepada umat manusia secara mutawattir. At-Tanzil sebagai nama lain dari Al-Qur’an ini disebutkan dalam Surah Asy-Syu’ara : 192.



Kedudukan Al-qur’an Sebagai Sumber Hukum Islam

 

Al-Qur’an dalam Islam dijadikan sumber hukum umat Islam. Al-Qur’an merupakan sumber hukum dari semua hukum yang ada di bumi sebagaimana firman Allah yang tercantum dalam Surah An-Nisa’ ayat 59, yang artinya “

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri diantara kamu.Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.

Dari ayat yang telah disebutkan tadi, telah tercantum dengan jelas bahwa Al-Qur’an mempunyai kedudukan sebagai sumber hukum Islam yang paling utama dan dapat pula dijadikan pedoman hidup serta petunjuk bagi seluruh umat manusia.



Sejarah Singkat Turunnya Al Quran

Al Quran di turunkan melalui perantara malaikat Jibril yang menyampaikan langsung kepada Nabi Muhammad. Proses turunnya Al Quran berlangsung selama 22 tahun , 2 bulan dan 22 hari secara berangsur-angsur.

Wahyu pertama yang turun adalah Surat Al ‘Alaq ketika Nabi Muhammad berusia 40 tahun pada tanggal 17 Ramadhan di Gua Hira. Wahyu yang selanjutnya di turunkan jedanya selama 3 tahun.

Adapun urutan ayat dan surat yang ada di dalam Al Quran saat ini bukanlah berdasarkan diturunkannya ayat dan surat tersebut.

Adapun lokasi penurunannya di bagi menjadi dua, yaitu di Makkah dengan jumlah 86 surat yang diturunkan selama 13 tahun, dan digolongkan ke dalam surat Makiyyah. Serta di Madinah dengan jumlah 28 surat yang diturunkan selama 10 tahun dan di golongkan ke dalam surat Madaniyyah.



Periode Diturunkannya Al Quran

Periode Makkah pertama selama 4 sampai dengan 5 tahun. Pada masa ini, dakwah Islam masih terbatas pada ruang lingkup yang kecil, dan ayat yang diturunkan pun pada umumnya membahas tentang pelajaran bagi Rasulullah untuk membentuk kepribadiannya, pembahasan tentang dasar-dasar akhlak Islamiyah, pengetahuan tentang sifat Allah serta bantahan mengenai pandangan hidup di masyarakat Jahiliyah kala itu.

Periode Makkah kedua selama 4 sampai dengan 9 tahun. Pada masa ini dakwah Islam sudah mulaiterbuka. Masyarakat Makkah sudah mulai berfikir untuk menghalangi dakwah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa ini umumnya tentang kewajiban sebagai seorang muslim, pembaasan tentang ke esaan Allah, pembahasan tentang hari kiamat, serta ancaman dan kecaman kepada orang musyrik yang mempunyai prilaku buruk.

Periode Madinah selama 10 tahun. Rasulullah mulai hijrah dari Makkah ke Madinah, dan masyarakat sekitar mulai terbentuk keimanannya. Disana, masyarakat Yahudi dan Islam hidup berdampingan, namun seiring berjalannya waktu, kaum Yahudi pun mulai ikut menentang dakwah Nabi Muhammad SAW.



Tahap Turunnya Al Qur’an

Yang dimaksud dengan Tahap-tahap diturunkannya Al-Qur’an adalah tertib dari fase-fase disampaikannya kitab Suci Al-Qur’an, mulai dari sisi allah SWT sampai kepada nabi Muhammad SAW. Kitab Suci ini tidak seperti kitab-kitab Suci sebelumnya. Karena, Kitab Suci ini kebanyakan diturunkan secara bertahap, sehingga betu-betul menunjukkan kemu’jizatannya. Selain itu, penyampaian Kitab Suci tersebut sangat luar biasa, yang tidak dipunyai oleh kitab-kitab sebelumnya. Proses-proses diturunkannya Al-Qur’an ada tiga fase atau tahapan, seperti yang akan dijelaskan sebagai berikut:

·         Tahap Pertama

Tahapan Pertama, Al-qur’an diturunkan/ditempatkan ke Lauh Mahfudh. Lauh Mahfudh adalah suatu tempat dimana manusia tidak bisa mengetahuinya secara pasti. Dalil yang mengisyaratkan bahwa Al-qur’an itu diletakkan di Lauh mahfudh itu ialah terdapat dalam firman Allah swt: “Bahkan (Yang didustakan mereka) itu yaitu Al-Qur’an yang mulia yang tersimpan di lauh mahfudh.” (QS. Al Buruj: 21 – 22). Tetapi berkaitan sejak kapan Al-quran ditempatkan di Lauh mahfudh, dan bagaimana caranya merupakan hal-hal ghaib tidak ada yang mampu mengetahuinya selain Allah SWT.

·         Tahapan Kedua

Tahapan kedua, Al-Qur’an singgah dari Lauh Mahfudh ke Baitul izzah di Langit dunia. Sehinggai, setelah berada di Lauh Mahfudh, Kitab Al-Qur’an itu letakkan ke Baitul Izzah di Langit dunia atau langit terdekat dengan bumi ini. Banyak dalil yang menjelaskan penurunan Al-Qur’an tahapan keduanya ini, baik dari ayat Al-Qur’an ataupun dari Hadits Nabi Muhammad saw, diantaranya adalah seperti dibawah ini:

  1. Sesungguhnya Kami menurunkan-Nya (Al-qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. (QS. Ad-Dukhon: 3).
  2. Sesungguhnya Kami telah menurunkan-Nya (Al-qur’an) pada malam kemuliaan. (QS. Al-Qadri: 1).
  3. ” (Beberapa hari itu) ialah Bulan Ramadlan, bulan yang didalamnya diturunkan permulaan) Al-Qur’an”. (QS. Al-Baqarah: 185).

·         Tahapan Ketiga

Tahapan Ketiga, Al-Qur’an diturunkan dari Baitul Izzah dilangit dunia langsung kepada Nabi Muhammad saw. Artinya, baik melalui perantaraan Malaikat Jibril, atau pun secara langsung ke dalam hati sanubari Nabi Muhammad saw, ataupun dari balik tabir.

Firman Allah swt. Al-Qur’an dan Hadits-hadits Nabi, di antaranya sebagai berikut:

  1. ”Dan sesungguhnya Kami telah menyinggahkan kepadamu ayat-ayat yang jelas.” (QS. Al-Baqarah: 99).
  2. ”Dia-lah yang menyinggahkan urunkan Al-Qur’an kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah point-point isi Al-Qur’an, dan yang lain (ada ayat-ayat) yang mutasyabbihat.” (QS. Ali Imran: 7).
  3. ”Ia (Al-quran) itu dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibrl) ke dalam hatimu (Muhammad) supaya kamu menjadi salah seorang diantara orang–orang yang mengirim peringatan.” (QS. Asy – Syu’ara: 193 – 194).
  4. ”Sesungguhnya Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah SAW seraya berkata:” Wahai Rasulullah, bagaimanakah wahyu itu turun kepadamu? Maka Rasulullah SAW bersabda:” kadang-kadang datang kepadaku seperti gemurunnya bunyi lonceng, dan itu paling berat bagiku. Maka begitu berhenti bunyi itu dariku, aku telah merajai apa yang sudah diucapkannya. Dan kadang-kadang malaikat menyamar kepadaku sebagai laki-laki, lalu mengajak berbicara denganku. Maka aku kuasai apa yang diucapkannya.” Aisyah lalu berkata:” Saya pernah menyaksikan beliau wahyu pada hari yang sangat dingin, tetapi begitu selesai wahyu itu dari beliau, maka bercucurlah keringat dipelipis beliau.” (H.R. Al-Bukhari).

Awal Mula Dibukukannya Al Quran

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ayat-ayat Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur. Pada saat itu, kertas belum ada di Arab, meskipun sudah ditemukan di China.

Karena Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis, maka ketika menerima Wahyu, beliau langsung menyampaikannya kepada para sahabat. Para sahabat lalu menghafalkannya di luar kepala. Bagi yang bisa menulis, diminta untuk menuliskannya di atas kulit pohon, batu, kain, kulit hewan dan lain sebagainya.

Untuk menjaga kemurnian Al Quran, setiap tahun malaikat Jibril bersama Rasululah selalu mengulang hafalan Al Quran. Bahkan di tahun terakhir menjelang wafatnya, Nabi Muhammad bersama malaikat jibril mengulangi hafalannya sebanyak dua kali.

Pembukuan Al Quran pertama kali dilakukan pada masa Abu Bakar Ash Shiddiq atas usulan dari Umar bin Khaththab. Hal ini terjadi karena Umar khawatir atas kemurnian Al Quran karena tidak sedikit dari para penghafal yang mati Syahid karena ikut berperang.

Pembukuan itu dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang sudah pernah dituliskan oleh para sahabat di batu, kain, kulit pohon, kulit hewan dan lain sebagainya. Hasil dari hall tersebut adalah pembukuan resmi Al Quran yang pertama kalinya.

Al Quran yang sudah disatukan menjadi buku tersebut lalu disimpan oleh Abu Bakar sampai ia meninggal dunia. Setelahnya, di simpan oleh Umar sampai ia meninggal, dan diteruskan oleh anaknya yaitu Hafsah.

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Al Quran pertama kalinya di gandakan dan di distribusikan. Hal ini terjadi karena Islam sudah tersebar luas sampai ke Iran. Setelah itu, penggandaan dan pendistribusian Al Quran kembali dilanjutkan oleh Huzaifah bin Yaman.



Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap

Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Rasulullah saw. sekaligus satu kitab. Tapi secara berangsur-angsur, surat-persurat dan ayat-perayat. Sebagaimana yang kita ketahui segala sesuatu yang Allah kehendaki itu memiliki hikmah dan memiliki tujuan. Nah, begitu juga dengan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap. Diantara hikmah atau tujuannya dijelaskan sebagai berikut:

  • Untuk menguatkan hati Nabi Muhammad SAW.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqon ayat 32 yang artinya: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak disinggahkan kepadanya sekali singgah saja?” demikianlah agar kami perkuat hatimu dengannya dan kami melafaskannya dengan tartil (teratur dan benar)”.

Ayat diatas menerangkan bahwa Allah memang sengaja menyinggahkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur. Tidak singgah langsung berbentuk satu kitab dengan tujuan untuk meneguhkan hati Nabi Saw. Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap berdasarkan peristiwa, kondisi, serta situasi yang mengiringinya, tentu hal itu lebih sangat kuat menancap dan sangat terkesan di hati sang penerima wahyu tersebut, ialah Nabi Muhammad. Dengan itu turunnya malaikat kepada beliau juga lebih sering, yang tentunya dapat membawa dampak psikologis kepada beliau; terbaharui semangatnya dalam mengemban risalah dari sisi Allah. Beliau tentunya juga sangat senang dengan kegembiraan yang susah diungkapkan dengan kata-kata.

  • Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari al-Qur’an

Allah menantang orang-orang kafir agar membuat satu surat saja yang sebanding dengannya. Dan ternyata mereka tidak bisa membuat satu surat saja yang seperti al-Qur’an, apalagi membuat langsung satu kitab.

  • Supaya mudah dihafal dan dipahami

Dengan singgahnya al-Qur’an secara berangsur-angsur, sangatlah gampang bagi manusia untuk menghafal serta memahami maknanya. Lebih-lebih untuk orang-orang yang buta aksara (huruf) seperti orang-orang arab pada saat itu, Al-Qur’an turun secara bertahap tentu sangat menolong mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Memang ayat-ayat al-Qur’an begitu suratnya turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik, dipahami artinya, lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berbicara: “Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat-lima ayat. Sebab Jibril biasa singgah membawa Qur’an kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam lima ayat-lima ayat”. (Hadist Riwayat Baihaqi)

  • Supaya orang-orang mukmin bersemangat dalam menerima Qur’an dan giat mengamalkannya

Kaum muslimin pada masa itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Apalagi pada saat ada kejadian yang sangat menuntut penyelesaian wahyu seperti ayat-ayat berkaitan kabar bohong yang disebarkan oleh kaum munafik untuk memfitnah ummul mukminin Aisyah radiyallahu’anha, dan ayat-ayat tentang li’an.

  • Mengiringi peristiwa-peristiwa di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum.

Al-Qur’an singgah secara berangsur-angsur, yaitu dimulai dari masalah-masalah yang sangat penting kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Karena masalah yang sangat pokok dalam Islam ialah masalah Iman, maka pertama kali yang diprioritaskan oleh Al-Qur’an adalah tentang keimanan kepada Allah, malaikat, iman kepada kitab, iman kepada rasul, iman kepada hari akhir, kebangkitan dari kubur, surga dan neraka. Setelah akidah Islamiyah itu tumbuh serta mengakar di hati, baru Allah menyinggahkan ayat-ayat yang memerintah berakhlak mulia dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi kejahatan serta kerusakan sampai pada akarnya. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram pada makanan, minuman, harta benda, kehormatan serta hukum syari’ah lainnya. Begitulah peristiwa al-Qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum muslimin untuk memperjuangkan agama Allah di muka bumi. Dan ayat-ayat itu tak henti-henti memotivasi mereka dalam perjuangan ini.

 


Ø Hadits

 

Pengertian Hadits

Hadits menurut bahasa yaitu sesuatu yang baru, menunjukkan sesuatu yang dekat atau waktu yang singkat. Hadits juga berarti berita yaitu sesuatu yang diberitakan, diperbincangkan, dan dipindahkan dari seorang kepada orang lain.

Hadits menurut istilah syara’ ialah hal-hal yang datang dari Rasulullah SAW, baik itu ucapan, perbuatan, atau pengakuan (taqrir). Berikut ini adalah penjelasan mengenai ucapan, perbuatan, dan perkataan.

Hadits Qauliyah ( ucapan) yaitu hadits hadits Rasulullah SAW, yang diucapkannya dalam berbagai tujuan dan persuaian (situasi).

Hadits Fi’liyah yaitu perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad SAW, seperti  pekerjaan melakukan shalat lima waktu dengan tatacaranya dan rukun-rukunnya, pekerjaan menunaikan ibadah hajinya dan pekerjaannya mengadili dengan satu saksi dan sumpah dari pihak penuduh.

Hadits Taqririyah yaitu perbuatan sebagian para sahabat Nabi yang telah diikrarkan oleh Nabi SAW, baik perbuatan itu berbentuk ucapan atau perbuatan, sedangkan ikrar itu adakalanya dengan cara mendiamkannya, dan atau melahirkan anggapan baik terhadap perbuatan itu, sehingga dengan adanya ikrar dan persetujuan itu. Bila seseorang melakukan suatu perbuatan atau mengemukakan suatu ucapan dihadapan Nabi atau pada masa Nabi, Nabi mengetahui apa yang dilakukan orang itu dan mampu menyanggahnya, namun Nabi diam dan tidak menyanggahnya, maka hal itu merupakan pengakuan dari Nabi. Keadaan diamnya Nabi itu dapat dilakukan pada dua bentuk :

Pertama, Nabi mengetahui bahwa perbuatan itu pernah dibenci dan dilarang oleh Nabi. Dalam hal ini kadang-kadang Nabi mengetahui bahwa siapa pelaku berketerusan melakukan perbuatan yag pernah dibenci dan dilarang itu. Diamnya Nabi dalam bentuk ini tidaklah menunjukkan bahwa perbuatan tersebut boleh dilakukannya. Dalam bentuk lain, Nabi tidak mengetahui berketerusannya si pelaku itu melakukan perbuatan yang di benci dan dilarang itu. Diamnya Nabi dalam bentuk ini menunjukkan pencabutan larangan sebelumnya.

Kedua, Nabi belum pernah melarang perbuatan itu sebelumnya dan tidak diketahui pula haramnya. Diamnya Nabi dalam hal ini menunjukkan hukumnya adalah meniadakan keberatan untuk diperbuat. Karena seandainya perbuatan itu dilarang, tetapi Nabi mendiamkannya padahal ia mampu untuk mencegahnya, berarti Nabi berbuat kesaahan ; sedangkan Nabi terhindar bersifat terhindar dari kesalahan.

 Definisi Hadits Menurut Ahli

 

Menurut ahli hadits diantaranya adalah Al Hafidz dalam Syarh Al bukhary dan Al Hafizh dari Shakawu, hadits adalah segala ucapan, perbuatan, dan juga keadaan dari Nabi Muhammad SAW termasuk didalamnya segala macam keadaan beliau yang diriwayatkan dalam sejarah baik itu tentang kelahiran beliau, tempat tempat tertentu dan peristiwa peristiwa tertentu yang berkaitan dengan itu, baik sebelum dibangkitkan sebagai Rasulullah maupun setelahnya.

Kedudukan Hadits

Dalam kedudukannya sebagai penjelas, hadits kadang-kadang memperluas hukum dalam Al-Qur’an atau menetapkan sendiri hukum di luar apa yang ditentukan Allah dalam Al-Quran.

Kedudukan Hadits sebagai bayani atau menjalankan fungsi yang menjelaskan hukum Al-Quran, tidak diragukan lagi dan dapat di terima oleh semua pihak, karena memang untuk itulah Nabi di tugaskan Allah SWT. Namun dalam kedudukan hadits sebagai dalil yang berdiri sendiri dan sebagai sumber kedua setelah Al-Quran, menjadi bahan perbincangan dikalangan ulama. Perbincangan ini muncul di sebabkan oleh keterangan Allah sendiri yang menjelaskan bahwa Al-Quran atau ajaran Islam itu telah sempurna. Oleh karenanya tidak perlu lagi ditambah oleh sumber lain.

 

Penulisan Hadits

Para penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam semuanya sependapat menetapkan bahwa AI-Quranul Karim memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan para sahabatnya. Rasul mengharapkan para sahabatnya untuk menghapalkan AI-Quran dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, di batu-batu, dan sebagainya.

Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis, hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran.

Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasul sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI-Quran. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah SAW. Mereka mencatat sebagian hadis-hadis yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SA W.

Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatan-catatan hadis Rasulullah adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis, sahifah-sahifah yang dinamai As-Sadiqah. Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh Abdullah itu Mereka beralasan bahwa Rasulullah telah bersabda.

Artinya:
“Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. ” (HR. Muslim)
Dan mereka berkata kepadanya, “Kamu selalu menulis apa yang kamu dengar dari Nabi, padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syariat umum.” Mendengar ucapan mereka itu, Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai hal tersebut. Rasulullah kemudian bersabda:

Artinya:

“Tulislah apa yang kamu dengar dariku, demi Tuhan yang jiwaku di tangannya. tidak keluar dari mulutku. selain kebenaran “.

Menurut suatu riwayat, diterangkan bahwa Ali mempunyai sebuah sahifah dan Anas bin Malik mempunyai sebuah buku catatan. Abu Hurairah menyatakan: “Tidak ada dari seorang sahabat Nabi yang lebih banyak (lebih mengetahui) hadis Rasulullah daripadaku, selain Abdullah bin Amr bin As. Dia menuliskan apa yang dia dengar, sedangkan aku tidak menulisnya”. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa larangan menulis hadis dinasakh (dimansukh) dengan hadis yang memberi izin yang datang kemudian.

 Jenis – Jenis Hadits

Jenis – jenis hadits dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori, yaitu :

1.      Berdasarkan Keutuhan Rantai Sanad

Berdasarkan tingkat keutuhan rantai Sanadnya, hadits dapat digolongkan ke dalam 6 jenis, yaitu :

Hadits Mursal – Merupakan hadits yang penutur satunya tidak dijumpaik secara langsung.

Hadits Munqathi’ – Merupakan hadits yang putus pada salah satu atau pun dua penutur.

Hadits Mu’dlal – Merupakan hadits yang terputus pada dua generasi penutur secara berturut – turut.

Hadits Mu’allaq – Merupakan hadits yang terputus sebanyak 5 penutur, dimulai dari penutur pertama secara berturut – turut.

Hadits Mudallas – Merupakan hadits yang tidak tegas disampaikan secara langsung kepada penutur.

Hadits Musnad – Merupakan hadits yang penuturnya paling jelas dan tidak terpotong sama sekali.

2.      Berdasarkan Jumlah Penutur

 

Berdasarkan Jumlah penuturnya, hadits dapat dikelompokkan ke dalam 2 jenis hadits, yaitu :

Hadits Mutawatir – Merupakan hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang sudah sepakat untuk saling mempercayai.

Hadits Ahad – Merupakan hadits yang diriwayatkan oleh sekelompok orang yang belum mencapai tingkatan mutawatir. Hadits Ahad sendiri dapat dikelompokkan ke dalam tida macam hadits yaitu Gharib, Aziz, dan Mansyur.

3.      Berdasarkan Tingkat Keaslian Hadits

Berdasarkan tingkat keasliannya, hadits dapat dibagi menjadi 4 macam hadits, yaitu :

Hadits Sahih – Merupakan hadits yang sanadnya bersambung, paling diakui tingkat keasliannya dan paling banyak diterima oleh kelompok ulamah.

Hadits Hasan – Merupakan hadits yang sanadnya bersambung, namun diriwayatkan oleh rawi yang tidak sempurna ingatannya.

Hadits Dhaif – Merupakan hadits yang sanadnya tidak bersambung atau pun diriwayatkan oleh rawi yang tidak kuat ingatannya / tidak adil.

Hadits Maudlu’ – Merupakan hadits yang dicurigai palsu atau pun karangan manusia.

Hubungan Hadits dengan Al-Qur’an

Bila kita lihat dari fungsinya hubungan Hadits dengan Al-Qur’an sangatlah berkaitan. Karena pada dasarnya Hadits berfungsi menjelaskan hukum-hukum dalam Al-Qur’an dalam segala bentuknya sebagaimana disebutkan di atas. Allah SWT menetapkan hukum dalam Al-Qur’an adalah untuk diamalkan, karena dalam pengalaman itulah terletak tujuan yang digariskan. Tetapi pengalaman hukum Allah diberi penjelasan oleh Nabi. Dengan demikian bertujuan supaya hukum-hukum yang ditetapkan Allah dalam Al-Qur’an secara sempurna dapat dilaksanakan oleh umat.

Sebagaimana dalam uraian tentang Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa sebagian besar ayat hukum dalam Al-Qur’an adalah dalam bentuk garis besar yang secara amaliyah belum dapat dilaksanakan tanpa penjelasan dari hadits. Dengan demikian keterkaitan hadits dengan Al-Qur’an yang utama adalah berfungsi untuk menjelaskan Al-Qur’an. Dengan demikian bila Al-Qur’an disebut sebagai sumber asli bagi hukum fiqh, maka hadits disebut sebagai bayani. Dalam kedudukannya sebagai bayani maka dalam hubungannya dengan Al-Qur’an, Hadits menjalankan fungsi sebagai berikut :

  1. Menguatkan dan menegaskan hukum-hukum yang tersebut dalam Al-Qur’an atau disebut fungsi ta’kid dan taqrir. Dalam bentuk ini Hadits hanya seperti mengulangi apa-apa yang tersebut dalam Al-Qur’an.
  2. Memberikan penjelasan terhadap apa yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam hal :
  3. Menjelaskan arti yang masih samar dalam Al-Qur’an
  4. Merinci apa-apa yang dalam Al-Qur’an disebutkan secara garis besar
  5. Membatasi apa-apa yang dalam Al-Qur’an disebutkan secara umum
  6. Memperluas maksud dari suatu yang tersebut dalam Al-Qur’an

Faedah Mempelajari Ilmu Hadits

 

Tujuan mempelajari Ilmu hadis adalah untuk mengetahui (memilah) hadis-hadis yang shahih dari yang selainnya. Yakni mengetahui keadaan dari suatu hadis, apakah hadis tersebut shahih, hasan, atau bahkan dha’if (lemah, sehingga tidak dapat digunakan sebagai pegangan).









Source :  https://belajargiat.id/hadits/    ,https://pengertiandefinisi.com/pengertian-hadits-dan-jenis-jenis-hadits/ , https://belajargiat.id/quran/ , https://www.ayoksinau.com/pengertian-nuzulul-quran/ , https://sumbar.kemenag.go.id/v2/post/1952/pengertian-kedudukan-dan-fungsi-hadits.html

Bentuk Latihan & Hal yang diperhatikan dalam tes

Bentuk Latihan & Hal yang diperhatikan dalam tes

    Q. BENTUK LATIHAN KESAMAPTAAN JASMANI

Terdapat berbagai macam bentuk latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang dapat dilakukan sebagai bentuk pesiapan untuk menghadapi tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani. Latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang dimaksud adalah lari 12 menit, pull up, sit up, push up, shuttle run atau lari membentuk angka 8, dan berenang.

  1. LARI 12 MENIT

Lari 12 menit adalah berlari mengelilingi lintasan atletik yang berukuran 400 meter atau standar selama 12 menit. Lari 12 menit merupakan latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan otot (muscle endurance) serta daya tahan jantung, pernafasan, dan peredaran darah atau cardio respriratory. Metode ini dikenal dengan sebutan metode cooper atau cooper test karena dikenalkan pertama kali oleh Kenneth H. Cooper.

Menurut Pusat Pengembangan Kesegaran Jasmani (2003), prinsip-prinsip cooper test adalah sebagai berikut:

  1. Peserta harus berlari atau berjalan tanpa berhenti selama 12 menit untuk mencapai jarak semaksimal mungkin sesuai kemampuan masing-masing. Saat peserta merasa kelelahan, peserta dapat berjalan namun tidak boleh berhenti.
  2. Setelah sampai finish, jarak yang berhasil dicapai kemudian dihitung dan dicatat sebagai prestasi guna menentukan kategori tingkat kesiapsiagaan jasmani.
  3. Apabila waktu telah ditentukan, maka sesuai dengan golongan umur dan jenis kelamin, hasil akhir dapat dilihat menurut table Cooper.
  4. Cooper membagi tingkat kesiapsiagaan jasmani menjadi lima kategori Sangat Kurang, Kurang, Cukup, Baik, Baik Sekali. Berikut adalah tabel penilaian metode Cooper untuk pria dan wanita.

                            Tabel Penilaian Metode Cooper pada Pria

       Sumber : Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (2017)

                         Tabel Penilaian Metode Cooper pada Wanita

      Sumber : Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (2017)

Menurut LAN (2017), metode cooper memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Berat latihan yang dapat memberikan dampak yang baik tanpa ekses yang merugikan dapat diukur dengan pasti.
  • Mudah dilaksanakan, tidak memerlukan biaya dan fasilitas khusus serta pelaksanaannya tidak tergantung oleh waktu.
  • Peralatan dan fasilitas yang dibutuhkan sederhana dan mudah didapat, yaitu lapangan atau lintasan, penunjuk jarak dan stop watch.
  • Bersifat universal, tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, dan kedudukan sosial.

Karena itulah, latihan ini menjadi salah satu latihan yang harus dilakukan oleh mereka yang berkeinginan menjadi prajurit TNI/POLRI atau instansi terkait lainnya karena merupakan salah satu tahapan tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang memiliki nilai yang tinggi. 

Untuk pria yang akan mengikuti tes kesamaptaan jasmani “A” atau lari 12 menit, latihan yang diperlukan adalah berlari mengelilingi lintasan atletik sebanyak 6 (enam) kali atau sekitar 2400 meter selama 12 menit. Sedangkan untuk wanita yang akan mengikuti tes kesamaptaan, latihan yang diperlukan adalah berlari mengelilingi lintasan atletik sebanyak 5 (lima) kali atau 2000 meter selama 12 atau 14 menit.

Latihan ini bertujuan untuk melatih daya tahan jantung dan paru. Untuk memperleh hasil yang maksimal, latihan ini perlu dilakukan secara rutin agar kemampuan semakin meningkat dan dikondisikan dengan keadaan tes yang sebenarnya terkait dengan jarak yang ditempuh berdasarkan waktu yang telah ditetapkan. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengetahui perkembangan yang diperoleh sehingga pada saat menghadapi tes, hasil yang diperoleh dapat lebih maksimal.   

                           Gambar oleh Jonathan Chng dari Unsplash

Tes lari 12 menit biasanya dilaksanakan di stadion ataupun di Batalyon. Saat tes, biasanya ditampilkan timer atau pencatat waktu yang lumayan besar di pinggir lintasan, dengan metode hitung mundur selama 12 menit. Sebelum tes dimulai, peserta akan diberikan nomor punggung atau tanda pengenal.Sementara itu, panitia akan berada di pinggir lapangan dan menandai setiap keliling yang dicapai peserta.Ketika waktu telah habis maka para peserta wajib meletakkan nomor punggungnya di pinggir lapangan dimana posisi ketika waktu habis.

Menurut LAN (2017), metode cooper memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Berat latihan yang dapat memberikan dampak yang baik tanpa ekses yang merugikan dapat diukur dengan pasti.
  • Mudah dilaksanakan, tidak memerlukan biaya dan fasilitas khusus serta pelaksanaannya tidak tergantung oleh waktu.
  • Peralatan dan fasilitas yang dibutuhkan sederhana dan mudah didapat, yaitu lapangan atau lintasan, penunjuk jarak dan stop watch.
  • Bersifat universal, tidak terbatas pada usia, jenis kelamin, dan kedudukan sosial.
  1. PULL UP dan CHINNING UP

Latihan berikutnya yang harus dilakukan adalah pull up atau angkat tubuh untuk pria dan chinning up atau untuk wanita. Tujuan dilakukannya latihan pull up atau angkat tubuh dan chinning up adalah untuk mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan dan bahu.

Pull up atau angkat tubuh dilakukan dengan cara bergantung pada palang tunggal sehingga badan, kepala, dan tungkai dalam kondisi lurus. Kedua tangan dibuka selebar bahu dan keduanya dalam kondisi lurus. Kemudian, badan ditarik atau diangkat ke atas sampai dagu melewati palang itu dan kembali turun sampai tangan lurus seperti posisi awal.

Agar saat tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani meraih hasil yang maskimal, latihan pull up sebaiknya dilakukan sebanyak 10 hingga 18 kali selama 1 menit, dengan gerakan yang sempurna.  

                                                Gambar Latihan Pull Up

                           Sumber : polrespamekasansdm.wordpress.com

                                      Gambar Latihan Chinning Up

                                   Sumber : tarunaeducation.com

Sedangkan chinning up yang merupakan modifikasi pull up untuk wanita dilakukan dengan cara berdiri di tiang mendatar atau palang dengan kaki tetap menginjak tanah. Kemudian, badan ditarik ke depan dan kembali ke belakang. Latihan chinning up sebaiknya dilakukan secara berulang sebanyak 40 hingga 60 kali selama 1 menit secara sempurna. 

  1. PUSH UP

Untuk mengetahui daya tahan lengan bagian luar, latihan yang diperlukan adalah push up. Push up adalah gerakan naik turun dengan kedua tangan dan kaki sebagai tumpuannya. Terdapat perbedaan gerakan push up antara pria dan wanita. Pada pria, yang menjadi tumpuan adalah ujung kaki.  Sedangkan pada wanita, yang menjadi tumpuan adalah lutut.

                                         Gambar Gerakan Push Up Pria

                                        Gambar oleh Keifit dari Pixabay

Cara melakukan push up adalah menelungkupkan badan dengan kedua telapak tangan bertumpu di samping dada. Kemudian, menaikkan badan atau mendorong badan ke atas dengan posisi  kedua tangan lurus. Saat mendorong badan, tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki harus lurus.

                                        Gambar Gerakan Push Up Pria

                                       Gambar oleh Keifit dari Pixabay

Saat turun, tangan ditekuk dengan posisi badan tidak menyentuh tanah. Dengan melatih gerakan ini secara terus menerus dan sempurna sebanyak 35 kali untuk pria dan 30 kali untuk wanita selama 1 (satu) menit, hasil yang maksimal pun akan diperoleh dan peluang lolos tes pun semakin besar. 

                                    Gambar Gerakan Push Up Wanita

                                  Sumber : bidhumaspoldakalsel.com

  1. SIT UP

Sit up atau baring duduk adalah jenis latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang bertujuan untuk mengetahui daya tahan serta fleksibilitas otot perut dan dilakukan secara berpasangan. Cara sit up adalah berbaring di atas lantai, lutut ditekuk hingga membentuk sudut 90 derajat dengan posisi tangan dianyam di belakang kepala untuk pria dan lurus di samping tubuh untuk wanita.

                                       Gambar Gerakan Sit Up Pria

                             Sumber : sumintakgroup.wordpress.com

Kedua pergelangan kaki dipegang oleh peserta lain agar tidak ikut terangkat ketika badan ke posisi duduk. Saat mengangkat badan, sebaiknya diupayakan agar sampai mencium lutut kemudian kembali ke posisi semula. Agar memperoleh hasil yang maksimal saat tes, sebaiknya gerakan ini dilatih sebanyak minimal 35 kali untuk pria dan 30 kali untuk perempuan selama 1 (satu) menit. 

                                       Gambar Gerakan Sit Up Wanita

                                             Sumber : tni-au.mil.id

  1. SHUTTLE RUN

Shuttle run adalah salah satu jenis latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang bertujuan untuk mengetahui kelincahan dalam mengubah arah. Shuttle run dilakukan dengan cara berlari sambil membentuk angka 8 diantara 2 (dua) buah tiang yang berjarak 10 meter dan dilakukan sebanyak 3 kali sampai kembali ke tempat start semula.

                                           Gambar Gerakan Shuttle Run

                                      Sumber : bidhumaspoldakalsel.com

Dengan kata lain, lari dengan kecepatan penuh atau sprint melewati 2 (dua) patok besi yang berjarak kurang lebih 10 meter dengan titik awal sebelah kanan patok belakang. Setelah aba-aba start peluit muncul, peserta lari dari titik awal menuju sebelah kiri patok depan kemudian memutari patok itu sampai ia berada di sebelah kanan patok depan. Setelah itu, lari kembali ke patok belakang sebelah kiri, memutari patok itu sampai berada di sebelah kanan patok belakang kembali. Lari membentuk angka 8 itu dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali putaran dalam 20 detik dan dicatat waktu tercepatnya. Latihan ini juga harus dilakukan dengan dengan kecepatan penuh agar memperoleh nilai yang bagus.

  1. TES MULTISTAGE ATAU BLEEP TEST

Tes ini merupakan salah satu cara yang dipandang tepat untuk mengetahui VO max. Dibandingkan dengan tes lari 2400 meter, tes ini relatif lebih mudah dan tidak membutuhkan ruangan yang besar namun dapat dilakukan secara massal.

                               Gambar Tes Multistage atau Bleep Test

                                 Sumber gambar : topendsports.com

Menurut Budiwanto (2012), tes ini dimulai dengan langkah lari yang lambat. Namun, pada saat berikutnya, langkah lari semakin lama menjadi semakin cepat secara progresif. Hal ini mengakibatakan semakin meningkatnya usaha yang harus dilakukan untuk dapat mengikuti irama yang telah ditetapkan.

Jika seseorang tidak dapat mengikuti irama yang telah ditetapkan, maka orang tersebut dianggap tidak dapat mengikuti atau melanjutkan tes. Dan, usaha yang tercatat menggambarkan  VO max yang dimiliki orang tersebut. Tes ini memerlukan intesitas yang sangat keras dan karena itu jika seseorang yang sedang sakit atau memiliki kondisi tubuh yang kurang sehat atau kurang bugar lebih baik dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.    

  1. TES LARI 2400 METER

Tes lari 2400 meter merupakan bentuk tes yang kerap dilakukan untuk menentukan kebugaran kardiovaskular.  Tes ini didasarkan waktu yang dicapai dengan cara berlalri maupun berjalan sejauh 2400 meter atau 2,4 kilometer. Jumlah oksigen yang dihirup dihitung berdasarkan waktu yang ditempuh untuk menyelesaikan jarak 2400 meter tersebut.

Sebagaimana tes lari lainnya, tes lari 2400 meter juga menggunakan berbagai macam peralatan di antaranya stop watch, lintasan lari berukuran standar yakni 400 meter atau lintasan jalan datar yang berjarak 2400 meter, nomor dada, bendera start, dan ATK.

                                          Gambar Tes Lari 2400 Meter

                                    Gambar oleh mainathlet dari Pixabay

  1. BERENANG

Renang merupakan keterampilan yang wajib dimiliki oleh para prajurit sejak zaman dulu hingga kini. Latihan berenang diperlukan untuk menghadapi tes renang. Caranya adalah dengan berenang menempuh jarak 25 meter dalam waktu 1 menit. Hal ini diperlukan agar saat tes renang diperoleh hasil yang maksimal.

                                             Gambar Latihan Berenang

                                    Gambar oleh David Mark dari Pixabay

Berbagai macam latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani di atas merupakan latihan yang bertujuan untuk melatih kekuatan pada jantung dan paru-paru. Latihan-latihan kombinasi antara pull ups, push ups, sit ups, squat-thrush, shuttle run dan bila memungkinkan dengan latihan beban lainnya dapat meningkatkan kesegaran jasmani secara keseluruhan. Kombinasi latihan fisik yang proporsional dapat menghasilkan detak jantung yang normal, meningkatkan daya pompa jantung per menit,  meningkatkan kapasitas oksigen dari paru-paru yang diangkut, memicu pembentukan sel darah merah,  dan meningkatkan volume darah yang mengalir ke semua jaringan dan organ tubuh.

Selain latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan di atas, jenis-jenis latihan lainnya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani, diantaranya adalah senam, bersepeda, berjalan cepat, dan lari maraton.

Apabila latihan-latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan di atas dilakukan secara teratur dan benar serta dalam jangka waktu yang lama, maka dapat memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan level kesiapsiagaan jasmani seseorang. Tentunya hal ini akan sangat bermanfaat untuk memperbaiki, mempertahankan, meningkatkan kesiapsiagaan jasmani, dan menyebabkan perubahan pada (postur) fisik.

Menurut Sumosardjuno (1992) dalam LAN (2012), perubahan postur tubuh atau perubahan fisiologis yang timbul sebagai akibat aktivitas olahraga yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan antara lain sebagai berikut.

  1. Perubahan fisik yang bersifat temporer atau sesaat yaitu perubahan yang terjadi sebagai bentuk reaksi tubuh setelah melakukan kegiatan fisik yang cukup berat. Perubahan yang dimaksud adalah meningkatnya denyut nadi, meningkatnya suhu tubuh yang disertai dengan produksi keringat yang lebih banyak. Sesuai namanya, perubahan ini sifatnya hanya sementara. Dalam artian, setelah kegiatan fisik berakhir maka perubahan ini pun secara berangsur akan hilang.
  2. Perubahan fisik yang bersifat tetap umumnya berupa perubahan pada hal-hal berikut.
  • Otot rangka yakni berupa pembesaran otot rangka dan peningkatan jumlah mioglobin.
  • Sistem jantung dan paru yakni adanya pembesaran ukuran jantung dan disertai penurunan denyut jantung dan meningkatkan volume per menit.
  • Perubahan lainnya yang berupa semakin meningkatnya kekuatan serta menimbulkan perubahan pada tulang rawan di persendian. Perubahan ini bersifat menetap. Dalam artian, apabila perubahan ini dipertahankan maka tingkat kesiapsiagaan jasmani yang lebih baik akan terwujud.

Ketika akan melaksanakan latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani, hal penting yang harus dipertimbangkan adalah kemampuan yang dimiliki. Dalam arti, latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani yang akan dilakaukan oleh seseorang harus disesuaikan dengan tingkat kesegaran jasmani yang dimiliki oleh orang tersebut dan harus berlatih di zona yang cocok dengan denyut nadi maksimal.

Terdapat beberapa zona latihan seperti yang dikemukakan oleh Yasin (2003) yaitu sebagai berikut.

  1. Zona latihan dengan denyut nadi 70 persen dari denyut nadi maksimal diperuntukkan bagi mereka yang belum biasa melakukan latihan secara teratur.
  2. Zona latihan antara 70 persen hingga 77,5 persen dari denyut nadi maksimal diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan latihan secara teratur dengan nilai kesegaran di bawah 34 atau kategori rendah.
  3. Zona latihan antara 77,5 persen hingga 83 persen dari denyut nadi maksimal diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan latihan secara teratur dengan nilai kesegaran antara 35 – 45 atau kategori sedang.
  4. Zona latihan antara 83 persen hingga 90 persen dari denyut nadi maksimal diperuntukkan bagi mereka yang telah melakukan latihan secara teratur dengan nilai kesegaran 45 ke atas kategori baik.

     R. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN SAAT LATIHAN KESAMAPTAAN JASMANI

Saat melakukan latihan kesamaptaan jasmani, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Menurut Suharno (1985) dalam Budiwanto (2012), hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani antara lain volume latihan, intesitas latihan, frekuensi latihan, irama latihan, durasi latihan, dan recovery.  

  • Volume latihan

Volume latihan adalah isi beban latihan yang biasa dinyatakan dengan satuan jarak, total waktu, jumlah melakukan, berat beban, atau jumlah set.

  • Intesitas latihan

Intensitas latihan adalah takaran kesungguhan yang ditandai dengan pengeluaran tenaga dalam melakukan kegiatan jasmani. Latihan dengan intensitas/dosis yang terlalu ringan tidak akan membawa pengaruh terhadap peningkatan kesegaran jasmani. Yang perlu diperhatikan adalah jika timbul rasa aneh pada detak jantung seperti detak jantung berdebar berlebihan, merasa pusing, mendadak keluar keringat dingin, merasa akan pingsan, merasa mual atau muntah selama/sesudah latihan, merasa capai/lelah sekali sesudah latihan, susah tidur pada malam harinya. Gejala gejala tersebut menunjukkan bahwa latihan yang dilakukan terlalu berat atau belum sesuai dengan kondisi fisik, sehingga intensitas latihan sebaiknya dikurangi sampai lebih kurang 70% denyut dari denyut nadi maksimal.

  • Frekuensi latihan

Frekuensi latihan adalah jumlah latihan dalam seminggu. Frekuensi latihan erat kaitannya dengan intensitas dan durasi latihan, hal ini didasarkan atas beberapa penelitian yang dapat disimpulkan bahwa: 4x latihan per minggu lebih baik daripada 3x latihan, dan 5x latihan sama baiknya dengan 4x latihan. Bila melaksanakan latihan 3x perminggu maka sebaiknya duraso latihan ditambah 5 – 10 menit. Latihan 1-2x per minggu ternyata tidak efektif untuk melatih sistem kardiovaskular (sistem peredaran darah).

  • Irama latihan

Irama latihan adalah sifat latihan yang berkaitan dengan tinggi rendahnya tempo latihan atau berat ringannya suatu latihan dalam satu unit latihan, latihan mingguan, bulanan atau tahunan.

  • Durasi latihan

Durasi latihan adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan latihan, waktu total latihan dikurangi waktu istirahat. Lamanya waktu latihan sangat tergantung dari instensitas latihan. Jika intensitas latihan lebih berat, maka waktu latihan dapat lebih pendek dan sebaliknya jika intensitas latihan lebih ringan/kecil, maka waktu latihannya lebih lama sehingga diharapkan dengan memperhatikan hal tersebut maka hasil latihan dapat optimal. Agar bisa mendapatkan latihan yang bermanfaat bagi kesegaran jasmani, maka waktu latihan minimal berkisar 15 – 25 menit dalam zona latihan (training zone). Bila intensitas latihan berada pada batas bawah daerah latihan sebaiknya 20 – 25 menit. Sebaliknya bila intensitas latihan berada pada batas atas daerah latihan maka latihan sebaiknya antara 15 – 20 menit.

  • Recovery

Recovery atau pulih asal adalah waktu yang digunakan untuk pemulihan tenaga, waktu antara elemen latihan yang satu dengan yang lain. Tahap pemulihan ini perlu di dicantumkan dalam program latihan yang dibuat agar seseorang tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. Karena, apabila seseorang mengalami kelelahan yang luar biasa, maka penampilannya pun akan menurun atau tidak prima.   

    S. TAHAP-TAHAP LATIHAN KESAMAPTAAN JASMANI

Sebelum melakukan latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani, ada beberapa tahap yang harus dilalui, yaitu sebagai berikut.

  • Warm up selama 5 menit.

Tujuan dilakukannya pemanasan sebelum latihan adalah untuk menaikan denyut nadi secara perlahan-lahan sampai training zone.

                                                 Gambar Pemanasan

                                Gambar oleh Simona Robova dari Pixabay

  • Latihan selama 15 – 25 menit.

Denyut nadi dipertahankan dalam training zone sampai tercapai waktu latihan. Denyut nadi selalu diukur dan disesuaikan dengan intensitas latihan.

                                                    Gambar Latihan

                                          Sumber : realitasonline.com

  • Coolling down selama 5 menit.

Menurunkan denyut nadi sampai lebih kurang 60% dari denyut nadi maksimal.

                                                Gambar Cooling Down

                                     Sumber : pontianak.tribunnews.com

Tes Renang & Faktor yang perlu diperhatikan di tes kesapmataan

Tes Renang & Faktor yang perlu diperhatikan di tes kesapmataan

    N. TES RENANG

Beberapa instansi seperti TNI, POLRI, BASARNAS, BNN dan lain-lain kerap menyertakan tes renang sebagai bagian dari tes penerimaan pegawai. Di sini akan diambil contoh tes renang yang dilakukan oleh POLRI.

Tujuan dilakukannya tes renang dalam proses penerimaan CPNS pada POLRI adalah untuk mendapatkan pegawai yang mampu berenang dalam rangka mengikuti pendidikan pembentukan. Adapun komponen yang diukur adalah untuk mengukur ketangkasan atau kemampuan renang pada jarak tertentu. Cara penilaiannya adalah melihat hasil waktu dan jarak yang ditempuh oleh peserta kemudian disandingkan dengan tabel nilai yang telah ditetapkan.

Peserta yang dinyatakan lolos atau memenuhi syarat adalah mereka yang mampu menempuh jarak 25 meter. Adapun waktu yang ditempuh oleh peserta dengan Nilai Batas Lulus 41 adalah untuk pria di atas 55’’ dan wanita di atas 60’’. Sedangkan peserta yang dinyatakan tidak memenuhi syarat adalah peserta yang tidak mampu mencapai jarak 25 meter, mendapatkan nilai nol karena tidak mengikuti tes renang, dan mendapatkan nilai di bawah nilai batas lulus berdasarkan tabel renang yang telah ditetapkan yaitu 41.  

Berikut adalah tabel nilai renang untuk pria dan wanita.

Untuk lebih jelas, berikut adalah video tes renang yang merupakan salah satu item tes kesamaptaan pada TNI/POLRI (https://www.youtube.com/watch?v=p7NO2JU1RD8)

    O. FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tes kesamaptaan yaitu cuaca, kondisi kesehatan peserta, petugas kesehatan, serta pelaksanaan tes secara seksama, teliti, dan akurat

  1. Cuaca

Cuaca dapat mempengaruhi hasil pelaksanaan ujian. Misalnya, cuaca yang panas dapat mempengaruhi daya tahan tubuh dan dapat menurunkan kondisi fisik peserta. Apabila cuaca panas terik, ujian kesamaptaan jasmani sebaiknya tidak dilaksanakan (diatas pukul 10.00 – 14.00 waktu setempat). Sementara itu, cuaca hujan dapat berakibat pada kondisi lapangan yang becek dan licin sehingga mempengaruhi atau mengganggu kelancaran gerakan peserta.

  1. Kondisi kesehatan peserta

Tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani adalah tes yang memerlukan kesiapan fisik yang prima. Karena itu, kondisi kesehatan peserta harus benar-benar sehat yang dibuktikan dengan hasil pemerikasaan dokter.    

  1. Petugas kesehatan

Petugas kesehatan atau tim medis merupakan faktor yang wajib ada ketika tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani digelar. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya kemungkinan cidera ataupun gangguan kesehatan yang dialami oleh peserta. 

  1. Seksama, teliti, dan akurat

Tes penerimaan aparatur negara dituding tidak adil selama bertahun-tahun. Hal ini disebabkan masih tertanamnya pemikiran di benak masyarakat bahwa untuk bisa menjadi aparatur negara harus membayar sejumlah uang. Untuk itu, tes penerimaan calon aparatur negara dilakukan dengan sangat  ketat, seksama, teliti, dan akurat yang dibuktikan dengan adanya rangkaian tes yang harus diikuti oleh calon aparatur negara, termasuk di dalamnya tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani. Tujuannya adalah agar diperoleh hasil yang benar-benar obyektif dan akurat dan tidak menimbulkan kerugian bagi siapapun, baik peserta maupun penyelenggara.   

    P. TIPS LOLOS SELEKSI TES KESAMAPTAAN

Agar dapat meraih hasil yang maksimal dalam tes kesamaptaan, memperbanyak latihan secara rutin jauh-jauh hari sebelum tes kesamaptaan dilaksanaan adalah kuncinya. Yang dimaksud dengan latihan secara umum adalah proses memaksimalkan segala daya untuk meningkatkan kondisi fisik secara menyeluruh melalui proses yang sistematis, berulang, serta berkesinambungan sehingga terjadi peningkatan dalam hal jumlah beban, waktu, atau intensitasnya.

Adapun tujuan latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani adalah untuk meningkatkan volume oksigen atau VO₂ max di dalam tubuh serta mencapai tingkat kesegaran fisik atau physical fitness. Dengan berlatih kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani secara teratur, jumlah volume oksigen dalam tubuh dapat meningkat. Besarnya jumlah asupan oksigen yang masuk dalam tubuh dapat dijadikan sebagai stimulan bagi jantung dan paru-paru agar dapat bekerja secara efektif dan efisien.  Semakin banyak jumlah oksigen yang masuk dan beredar di dalam tubuh melalui peredaran darah maka akan semakin tinggi pula kinerja organ tubuh. Ketika kinerja organ tubuh meningkat, kesegaran fisik pun akan meningkat sehingga selalu siap dan siaga dalam melaksanakan setiap aktivitas sehari-hari.

Namun perlu dipahami pula bahwa untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain usia dan jenis kelamin. Karena itu, latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani perlu dikelompokkan berdasarkan umur dan jenis kelamin.  

Selain itu, tips lainnya agar lulus seleksi tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani menurut Saefudin dkk (2017) di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh

Tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani adalah tes yang membutuhkan kondisi fisik yang prima. Karena itu, menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh sangat diperlukan agar ketika tes tiba dapat memperoleh hasil yang maksimal. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh dapat dilakukan selain dengan melakukan berbagai macam bentuk latihan juga menerapkan pola makan yang sehat, pola hidup yang sehat, serta istirahat yang cukup.  

  1. Menjaga ketahanan tubuh

Menjaga ketahanan tubuh dapat dilakukan dengan cara olahraga secara teratur serta melakukan berbagai macam latihan yang menitikberatkan pada kekuatan otot tubuh dan pernafasan. Latihan-latihan ini dapat dilakukan dengan latihan-latihan kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani seperti lari 12 menit, push up, sit up, pull up, berenang, bersepeda, angkat beban, dan lain sebagainya. Berbagai macam latihan ini sebaiknya dilakukan jauh-jauh hari sebelum tes dilaksanakan secara teratur dan berkesinambungan agar memperoleh hasil yang maksimal saat tes kesamaptaan digelar.

  1. Melakukan gerakan-gerakan tes dengan benar

Kerapkali, setelah mengetahui gerakan-gerakan yang akan diuji, seseorang cenderung untuk tidak mempelajari dan melatihnya dengan benar sehingga gagal saat tes kesamaptaan digelar. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuannya tenang gerakan-gerakan tes yang benar dan sistem penilaiannya. Karena itu, mencari informasi yang benar dari sumber yang terpercaya dan dibarengi dengan latihan yang teratur maka saat tes nanti dapat melakukan gerakan-gerakan tes dengan benar. Misalnya, shuttle run dilakukan 3 kali dalam waktu 20 detik atau kurang dari itu.  

  1. Mematuhi aturan main

Mematuhi aturan main merupakan kunci lulus tes kesamaptaan. Aturan main umumnya terkait dengan gerakan-gerakan tes yang benar, pelengkapan perorangan yang digunakan, disiplin, dan lain-lain. Sedikit saja ada niat untuk melakukan kecurangan, maka akan mengalami pengurangan poin atau bahkan didiskualifikasi.   

Sistem Penilaian & Tabel Nilai Kesapmataan

Sistem Penilaian & Tabel Nilai Kesapmataan

    I. Sistem Penilaian

Mengacu pada Pedoman Seleksi Kesamaptaan Jasmani Calon Pegawai Negeri Sipil Kementerian Hukum dan HAM Tahun Anggaran 2017, cara penilaian tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani dilakukan melalui Nilai Gerakan (NG) dengan cara melihat Hasil Gerakan (HG) yang diperoleh dari gerakan atau waktu yang dicapai oleh peserta.

  1. Kesamaptaan “A” (lari 12 menit)

Hasil gerakan kesamaptaan “A” (HGA) dihitung berdasarkan jarak yang dicapai oleh peserta.

  1. Kesamaptaan “B” (pull up, sit up, push up, dan shuttle run)

Hasil gerakan kesamaptaan “B” (HGB) dihitung berdasarkan jumlah gerakan yang benar dari masing-masing item yakni pull up, sit up, push up (B1, B2, B3) selama 1 menit dan untuk  shuttle run (B4) berdasarkan waktu yang dicapai.

  1. Nilai Kesamaptaan Jasmani (NKJ) yang diperoleh peserta dengan menjumlahkan nilai gerakan kesamaptaan “A” (NGA) = nilai gerakan kesamaptaan “B” dibagi 2. Rumusnya adalah sebagai berikut.

                                                     NKJ  =

  1. Kategori Nilai Kesamaptaan Jasmani didasarkan pada Tabel Nilai Tes Kesamaptaan adalah sebagai berikut.

       a. Nilai Kesamaptaan Jasmani untuk Ujian Berkala

            Baik Sekali (BS)           : 81 – 100

            Baik (B)                         : 61 – 80

            Cukup ( C )                   : 41 – 60

            Kurang (K)                   : 31 – 40

            Kurang Sekali (KS)     : 0 -30

       b. Nilai Kesamaptaan Jasmani untuk Ujian Masuk Pendidikan

            Baik Sekali (BS)           : 82 – 100

            Baik (B)                         : 62 – 81

            Cukup ( C )                   : 44 – 62

            Kurang (K)                    : 41 – 43

            Kurang Sekali (KS)      : 0 – 40

      M. TABEL NILAI TES KESAMAPTAAN

Sebagai gambaran, berikut adalah tabel nilai kesamaptaan berdasarkan Keputusan Kapolri Nomor : Kep/698/XII/2011 tanggal 28 Desember 2011 tentang Pedoman Administrasi Ujian Kemampuan Jasmani dan Pemeriksaan Antrometrik untuk Penerimaan Pegawai Negeri pada POLRI yang menjadi rujukan beberapa lembaga atau kementerian dalam menentukan penilaian.

  1. Tabel Nilai Ujian Kesamaptaan Jasmani Calon Pegawai Negeri Sipil untuk Pria
  2. Tabel Nilai Ujian Kesamaptaan Jasmani Calon Pegawai Negeri Sipil untuk Wanita

Alat Tes,Persiapan,Urutan,& Pelaksanaan Tes Kesapmataan

Alat Tes,Persiapan,Urutan,& Pelaksanaan Tes Kesapmataan

    G. ALAT PERLENGKAPAN TES

Adapun alat perlengkapan tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan yang digunakan meliputi perlengkapan ujian, perlengkapan administrasi, dan perlengkapan perorangan.

  1. Perlengkapan ujian
  • Tes kesamaptaan jasmani A, meliputi
  1. Lapangan untuk lari dengan keliling lintasan minimal 400 meter
  2. Bendera kecil warna kuning atau papan kecil untuk patokan jarak setiap 20 meter dilengkapi tanda ukuran jarak
  3. Stop watch
  4. Pluit
  5. Nomor dada yang mudah dibaca oleh penilai atau dapat juga berupa rompi
  • Tes kesamaptaan jasmani B, meliputi
  1. Lapangan atau ruangan dengan luas secukupnya
  2. Mistar pull up atau mistar chinning up atau palang tempat bergantung yang terbuat dari pipa besi diameter 4 cm dan tinggi antara 2 s.d 2,25 meter (untuk pull up) dan diameter 3,5 cm dengan tinggi antara 1,1 s.d 1,3 meter (untuk chinning up)
  3. Stop watch
  4. Tiang-tiang untuk shuttle run
  5. Sound system atau megaphone
  • Papan nilai untuk mencatat rekapitulasi hasil penyeleksian kesamaptaan jasmani secara keseluruhan.
  1. Perlengkapan administrasi
  • Alat tulis/alat tulis kantor
  • Kartu/kertas formulir seleksi
  • Daftar/tabel nilai
  1. Perlengkapan perorangan
  • Perlengkapan peserta meliputi
  1. Pakaian olah raga (training pack, baju kaos)
  2. Sepatu olah raga (sepatu bola atau yang sejenisnya tidak dibenarkan)
  3. Nomor dada
  • Perlengkapan petugas meliputi
  1. Pakaian olah raga (training pack dan topi lapangan)
  2. Kursi dan meja untuk mencatat hasil
  3. Alat tulis dan hand board (map lapangan)

    H. PELAKSANAAN PERSIAPAN

Sebelum tes kesamaptaan dilaksanakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu melakukan pembagian peserta, membagi peserta ke dalam beberapa kelompok, dan pembagian kelompok penguji.  

  1. Pembagian peserta
  • Peserta seleksi kompetensi bidang (kesamaptaan) akan menjalani seleksi kesamaptaan jasmani “A” dan kesamaptaan jasmani “B”.
  • Setiap peserta akan menyelesaikan seleksi jasmani A dan B dalam hari yang sama
  • Pembagian hari bagi peserta untuk mengikuti seleksi kesamaptaan akan dilakukan oleh panitia pusat
  • Setelah diumumkan pembagian hari bagi peserta maka panitia daerah akan membagi peserta per hari ke dalam tiap-tiap kelompok yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin.
  1. Pembagian kelompok peserta
  • Untuk ujian kesamaptaan jasmani “A” peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Tiap gelombang maksimal 20 s.d 30 orang (disesuaikan dengan jumlah dan kemampuan penguji)
  • Untuk ujian kesamaptaan jasmani “B” peserta seleksi dikelompokkan berdasarkan nomor urut seleksi.
  1. Pembagian kelompok penguji

       A. Penguji untuk ujian kesamapataan jasmani “A” terdiri dari 1 orang ketua kelompok selaku pengendali dan membawahi :

  • 1 orang koordinator
  • 1 orang petugas untuk memimpin senam pemanasan
  • 1 orang petugas starter merangkap timer
  • 10 orang petugas pencatat skor keliling
  • 2 orang petugas pengawas lintasan / pencatat kelebihan jarak
  • 2 orang petugas rekap hasil
  • 2 orang petugas pencatat pada kertas nilai

       B. Ujian kesamaptaan jasmani “B” terdiri dari 1 orang ketua kelompok selaku pengendali dan membawahi :

  • 1 orang koordinator
  • 5 orang petugas pull up / chinning up terdiri dari 4 orang penghitung gerakan dan 1 orang pencatat skor setempat
  • 5 orang petugas sit up terdiri dari 4 orang petugas penghitung gerakan dan 1 orang petugas pencatat skor nilai setempat
  • 5 orang petugas push up terdiri dari 4 orang petugas penghitung gerakan dan 1 orang petugas pencatat skor nilai setempat
  • 5 petugas shuttle run terdiri dari 4 orang petugas timer dan 1 orang petugas pencatat nilai skor setempat
  • 1 orang petugas kurir hasil nilai.
  1. Tugas dan tanggung jawab

       A. Peserta

  • Peserta melaporkan kepada Ketua Panitia apabila mempunyai kelainan pada kesehatannya yang diperkuat dengan surat keterangan dokter (Hipertensi, Hepatitis dan lain-lain)
  • Peserta melakukan kegiatan sesuai dengan apa yang telah diinstruksikan oleh penguji
  • Peserta mentaati segala petunjuk dan peraturan yang telah ditentukan
  • Peserta wajib menandatangani atau paraf hasil Seleksi di setiap tahapan.

       B. Penguji

  • Mengecek, memeriksa data awal tentang kesehatan, data awal peserta ujian layak atau tidak mengikuti ujian dari hasil rikes
  • Memimpin senam pemanasan sebelum dimulainya ujian
  • Menguji dan menilai sesuai dengan pentahapan (urutan) dalam ujian kesamaptaan jasmani
  • Mengendalikan jalannya pelaksanaan ujian kesamaptaan jasmani
  • Mencatat / menulis hasil pada daftar nilai sesaat setelah masing-masing item selesai dilaksanakan sehingga setiap peserta dapat mengetahui hasil nilainya
  • Mempertangungjawabkan seluruh pelaksanaan kegiatan dan hasil ujian dalam bentuk laporan tertulis

    I. URUTAN PELAKSANAAN TES KESAMAPTAAN

Tes kesamaptaan merupakan satu rangkaian tes. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus dilakukan secara berurutan, terus-menerus, dan tidak terputus dengan memperhatikan kecepatan perpindahan dari satu tes ke tes berikutnya dalam 5 hingga 10 menit. Setiap tes dalam tes kesamaptaan bersifat baku dan tidak dapat ditukar pelaksanaannya.

Dengan demikian, urutan pelaksanaan tes kesamaptaan adalah sebagai berikut.

  • Pertama : lari 12 menit
  • Kedua : pull up atau chinning up (maksimal 1 menit)
  • Ketiga : sit up (maksimal 1 menit)
  • Keempat : push up (maksimal 1 menit)
  • Kelima : shuttle run (jarak ± 6 x 10 m)
  • Keenam : renang

    J. PERSIAPAN TES KESAMAPTAAN

Ketentuan tes kesamaptaan diperuntukkan bagi peserta maupun penguji atau petugas. 

  • Peserta
  1. Dalam kondisi sehat dan siap untuk melaksanakan tes.
  2. Diharapkan sudah makan maksmal 2 jam sebelum tes.
  3. Memakai sepatu dan pakaian olah raga.
  4. Melakukan pemanasan (warming up).
  5. Memahami tata cara pelaksanaan tes.
  6. Jika tidak dapat melaksanakan tes salah satu/lebih dari tes maka tidak mendapatkan nilai atau gagal.
  • Penguji atau petugas
  1. Mengarahkan peserta untuk melakukan pemanasan (warming up)
  2. Memberikan nomor dada yang jelas dan mudah dilihat petugas.
  3. Memberikan pengarahan kepada peserta tentang petunjuk pelaksanaan tes dan mengijinkan mereka ntuk mencoba gerakan-gerakan tersebut.
  4. Memperhatikan kecepatan perpindahan pelaksanaan butir tes ke butir tes berikutnya dengan tempo sesingkat mungkin dan tidak menunda waktu.
  5. Tidak memberikan nilai pada peserta yang tidak dapat melakukan satu butir tes atau lebih.
  6. Mencatat hasil tes dengan menggunakan formulir tes perorangan atau per butir tes.

    K. PELAKSANAAN TES KESAMAPTAAN

Tes kesamaptaan kerapkali menjadi penyebab gagalnya peserta lolos seleksi dalam penerimaan TNI/ POLRI karena mereka tidak mengerti bagaimana gerakan yang benar serta sistem penilaian dalam tes kesamaptaan. Hal ini tentunya berdampak pada hilangnya potensi jumlah poin yang dapat dikumpulkan oleh peserta. Karena itulah, bagi mereka yang benar-benar ingin menjadi prajurit TNI/POLRI ataupun PNS melalui seleksi penerimaan CPNS atau sekolah-sekolah kedinasan sebaiknya mengetahui dan memahami pelaksanaan tes kesamaptaan serta berlatih jauh-jauh hari sebelum penerimaan calon PNS ataupun TNI/POLRI dibuka.

Sebagai gambaran, berikut disajikan pelaksanaan tes kesamaptaan yang dilakukan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Menurut Pedoman Seleksi Kesamaptaan Jasmani Calon Pegawai Negeri Sipil Kementerian Hukum dan HAM Tahun Anggaran 2017 yang merujuk pada Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomr KEP/698/XI/2011 Tanggal 28 Desember 2011, tes kesamaptaan wajib dilakukan oleh peserta pria dan wanita. Meskipun bergitu, ada beberapa perbedan antara pria dan wanita terkait dengan pelaksanaan gerakan.    

 

  1. Pelaksanaan gerakan untuk peserta pria

Berikut adalah pelaksanaan gerakan tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani untuk peserta pria.

      A. Tes Kesamaptaan Jasmani “A” (lari 12 menit)

Tes kesamaptaan jasmani “A” atau lari 12 menit bertujuan untuk menguji daya tahan otot (muscle endurance) dan cardio respriratory (meliputi daya tahan jantung, pernafasan dan peredaran darah).

                                               Gambar Tes Lari 12 Menit

Pelaksanaan gerakan kesamaptaan untuk peserta pria adalah sebagai berikut.

  • Peserta dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan nomor urut Seleksi. Kelompok pertama setelah pemanasan siap berdiri di belakang garis start, kemudian kelompok berikutnya untuk persiapan dan melakukan pemanasan, demikian seterusnya.
  • Penguji mengecek masing-masing peserta dengan memanggil nomor peserta dan langsung dijawab peserta dengan mengatakan ‘Siap’.
  • Starter merangkap Timer (pemegang stop watch) memberi aba-aba “Bersedia, Siap, “Ya” dan langsung menghidupkan stopwatch.
  • Setelah aba-aba “Ya” peserta langsung lari mengelilingi lapangan dengan arah berlawanan jarum jam mengikuti garis lintasan selama 12 menit.
  • Petugas pencatat nilai hasil keliling mengawasi dan mencatat peserta yang merupakan tanggungjawab atas penilaiannya.
  • Starter merangkap timer pada menit ke-5,10 dan 11, mengumumkan melalui megaphone atau pengeras suara bahwa waktu telah berjalan 5, 10 dan 11 menit, serta pada saat 10 detik terakhir memberikan hitungan mundur 10, 9, 8 dan seterusnya sampai dengan hitungan 1 diakhiri dengan tanda peluit panjang.
  • Setelah timer meniup peluit panjang, timer mengumumkan bahwa waktu sudah habis, agar peserta berhenti dan berjalan di tempat melepaskan nomor dada dan meletakkan di tempat berdiri masing-masing selanjutnya berjalan berbalik arah menuju tempat istirahat.
  • Pengawas lintasan mengambil nomor dada dan mencatat kelebihan jarak pada putaran terakhir untuk diteruskan kepada pencatat rekap.
  • Pencatat rekap menghitung jarak yang ditempuh masing-masing peserta termasuk kelebihan jarak yang diterima dan pengawas lintasan. Setetah dihitung segera diserahkan kepada petugas pencatat skor hasil nilai.
  • Apabila peluit panjang tanda waktu 12 menit berakhir masih ada peserta yang berlari atau berjalan maka pengawas lintasan mencatat jarak terakhir dan nomor dada peserta tersebut dan melaporkannya kepada ketua kelompok.
  • Bagi peserta yang melakukan pelanggaran/kecurangan tersebut ketua kelompok dapat menegur atau dapat didiskualifikasi dengan terlebih dahulu dilakukan BAP.

      B. Tes Kesamaptaan Jasmani “B”

Tes kesamaptaan jasmani “B” dilakukan oleh peserta pria maupun wanita dengan beberapa perbedaan. Untuk pria, tes kesamaptaan jasmani “B” terdiri dari pull up, sit up, push up, dan shuttle run. Untuk wanita, tes kesamaptaan jasmani “B” terdiri dari chinning up (modifikasi pull up), sit up, modifikasi push up, dan shuttle run.

     a. Pull up

  • Sikap permulaan
  1. Peserta menggantung pada palang dengan telapak tangan menghadap ke depan, ibu jari di bawah palang dan kaki tidak menyentuh tanah.

                                        Gambar Cara Memegang Palang 

     2. Badan, kedua kaki lurus ke bawah. Perhatikan gambar berikut.

                                        Gambar Sikap Permulaan Pull Up

    3. Peserta yang tidak mampu melompat untuk memegang palang dapat diberikan bantuan dengan kursi atau diangkat oleh petugas.

  • Gerakan
  1. Peserta mengangkat badan dengan kekuatan kedua tangan sampai dagu melewati palang.

                                          Gambar Gerakan Pull Up Naik

    2. Gerakan selanjutnya turun mengantung seperti sikap permulaan.

                                         Gambar Sikap Permulaan Pull Up

    3. Kemudian kembali mengangkat badan dengan kedua tangan sampai dagu melewati palang (seperti gerakan di atas), demikian diulang terus menerus sebanyak mungkin selama 1 menit.

                                            Gambar Gerakan Pull Up Naik

    4. Gerakan dinyatakan salah dan berakhir apabila kaki yang bersangkutan menyentuh tanah dan tidak mampu mengangkat badan.

  • Gerakan yang salah (tidak dihitung)
  1. Peserta mengangkat badan untuk hitungan berikutnya pada waktu siku belum lurus.
  2. Pada saat mengangkat badan dagu tidak melewati palang.
  3. Kaki yang bersangkutan menyentuh tanah.
  • Ketentuan hitungan
  1. Satu hitungan adalah gerakan mengangkat badan sampai dengan dagu melewati palang
  2. Peserta mengangkat badan dengan posisi dihentakkan dan ayunan tetap dihitung dengan ketentuan lengan siku lurus dan dagu melewati palang
  3. Gerakan yang salah tidak mendapat hitungan.
  4. Lihat Video : https://www.youtube.com/watch?v=g_aZ9uz5RQI

     b. Sit up

  • Sikap permulaan
  1. Peserta seleksi berbaring telentang dengan lutut ditekuk sehingga kedua telapak kaki menempel di tanah, kedua paha dan betis membentuk sudut 90 derajat, jarak kedua lutut selebar bahu.                                    Gambar Sikap Permulaan Sit Up
  2. Kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dengan jari-jari terpegang (dianyam).
  3. Siku-siku tangan menyentuh tanah.
  4. Peserta berikutnya membantu memegang kedua kaki pada pergelangan/mata kaki peserta yang akan melakukan gerakan dengan posisi jongkok, lutut sebelah kanan/kiri menyentuh tanah sedangkan lutut kaki kiri/kanan berada di antara kedua telapak kaki peserta yang akan melakukan gerakan. Tidak dibenarkan untuk menduduki kaki peserta.
  • Gerakan
  1. Peserta ujian mengangkat badan dengan kedua telapak tangan di belakang kepala sampai pada posisi duduk 90 derajat, kemudian badan membungkuk, siku tangan kanan diarahkan sampai melewati di atas lutut sebelah kiri. Perhatikan gambar berikut.                             Gambar Posisi Bangun Duduk Pertama
  2. Kemudian dengan cepat turun berbaring terlentang seperti sikap permulaan.                               Gambar Kembali ke Posisi Semula
  3. Kemudian melakukan seperti gerakan pertama namun dengan posisi sebaliknya dengan siku tangan kiri diarahkan sampai melewati di atas lutut sebelah kanan.                                      Gambar Bangun Duduk Kedua
  4. Kembali ke posisi semula. Demikian gerakan dilakukan sebanyak mungkin selama maksimum 1 menit.                               Gambar Kembali ke Posisi Semula
  5. Gerakan berakhir apabila peserta tidak mampu lagi melakukan gerakan dan berhenti selama lebih dari 5 detik.
  • Gerakan yang salah (tidak dihitung)
  1. Posisi badan pada saat mengangkat badan tidak sampai 90 derajat.
  2. Siku kanan tidak melewati lutut kaki sebelah kiri atau sebaliknya.
  3. Pada waktu kembali ke sikap semula (sikap telentang), kedua siku tangan tidak menyentuh tanah.
  4. Apabila pegangan tangan terlepas, gerakan tersebut tidak dihitung dan peserta kembali ke posisi semula serta meneruskan gerakan untuk mendapatkan hitungan berikutnya dengan memulai gerakan dari sikap telentang.
  • Ketentuan hitungan
  1. Dihitung satu hitungan dari sikap telentang sampai siku tangan kanan melampaui lutut sebelah kiri atau sebaliknya;
  2. Gerakan yang salah tidak mendapatkan hitungan.

     c. Push up

  • Sikap permulaan
  1. Peserta tiarap seluruh tubuh menempel di tanah.                                 Gambar Sikap Permulaan Push Up
  2. Kedua telapak tangan boleh terbuka atau mengepal menempel di tanah di samping badan dengan jarak selebar tubuh.
  3. Kedua kaki rapat lurus ke belakang dengan jari-jari bertumpu di tanah.
  • Gerakan
  1. Peserta mengangkat badan dengan meluruskan tangan ke atas sehingga badan terangkat membentuk sudut 30 derajat dengan tanah dalam posisi kaki dan badan lurus.                                  Gambar Gerakan Push Up Naik
  2. Gerakan berikutnya menurunkan badan dengan membengkokkan lengan sehingga berat badan turun dalam posisi jarak satu kepal (+ 10 cm) antara dada dengan tanah. Posisi badan menjadi lurus horisontal dengan tanah.                                     Gambar Gerakan Push Up Turun
  3. Gerakan selanjutnya badan diangkat kembali dengan meluruskan lengan, posisi badan tetap lurus dan kembali membentuk sudut 30 derajat dengan tanah.                                    Gambar Gerakan Push Up Naik
  4. Demikian dilakukan berulang-ulang sebanyak mungkin dengan waktu maksimal 1 menit.
  5. Posisi peserta tangan dalam keadaan lurus (badan diangkat) apabila peserta tidak melakukan gerakan istirahat
  • Gerakan yang salah (tidak dihitung)
  1. Sebelum lengan lurus pada saat mengangkat badan sudah turun kembali.
  2. Gerakan dilakukan dengan tubuh tidak lurus (bergelombang).
  3. Bagian badan menyentuh tanah pada saat turun.
  • Ketentuan hitungan
  1. Dihitung satu hitungan mulai saat mengangkat badan dengan meluruskan lengan sampai lengan benar-benar lurus .
  2. Kemudian turun kembali dengan badan lurus sampai berjarak 1 kepal (+ 10 cm) dari tanah langsung mengangkat badan untuk hitungan berikutnya;
  3. Gerakan yang salah tidak mendapatkan hitungan.

    d. Shuttle run

  • Sikap permulaan
  1. Kelompok peserta yang terdiri dari 3-4 atau 4-6 orang mengambil posisi start berdiri di belakang garis start di sebelah kanan atau kiri masing-masing tonggak/ tiang.                              Gambar Sikap Permulaan Shuttle Run
  2. Dalam posisi ”siap” menunggu aba-aba dari penguji.
  • Gerakan
  1. Setelah ada aba-aba “Siap”, “Ya” peserta lari secepat mungkin menuju tonggak yang berada di depannya sampai melewati tiang langsung memutar berbalik kembali ke tempat semula menuju tonggak pertama.
  2. Apabila peserta start dari sebelah kanan tonggak maka yang bersangkutan berlari menuju ke sebelah kiri tonggak di depannya kemudian berbalik memutar melewati tiang menuju ke sebelah kanan tonggak pertama sehingga membentuk angka delapan.                                       Gambar Gerakan Shuttle Run
  3. Demikian pula apabila peserta start dari sebelah kiri tonggak berlari menuju ke sebelah kanan tonggak di depannya dan berbalik memutar melewati tonggak menuju ke sebelah kanan tonggak pertama.
  4. Saat posisi finis, apabila peserta mengambil posisi start di sebelah kanan tonggak pertama maka pada putaran ke 3 ketika berada di tonggak ke 2 berlari lurus ke depan menuju ke sebelah kanan tonggak pertama.(sesuai posisi pada waktu start). Demikian pula sebaliknya.
  5. Peserta tidak diperbolehkan memegang tiang tonggak pada waktu berlari.
  6. Gerakan dilakukan sebanyak 3 kali putaran bolak balik.
  • Gerakan yang salah (tidak dihitung)
  1. Start mendahului aba-aba “Ya”.
  2. Pada putaran pertama dan kedua tidak membuat angka delapan.
  3. Gerakan tidak dilakukan 3 kali bolak-balik.
  4. Pada putaran terakhir tidak berlari lurus menuju ke posisi waktu start.
  5. Peserta memegang tiang tonggak pada waktu berlari.
  • Ketentuan hitungan
  1. Hasil gerakan diambil dari catatan waktu yang ditempuh dalam jarak 6 x 10 m.
  2. Bila ada peserta yang mendahului start sebelu ada aba-aba ”Ya” maka pelaksanaan ujian untuk kelompok tersebut diulangi.
  3. Bila ada peserta yang melakukan gerakan yang salah maka peserta ujian dapat mengulangi setelah kelompok tersebut selesai.

    2. Pelaksanaan gerakan untuk peserta wanita

Berikut adalah pelaksanaan gerakan tes kesamaptaan untuk peserta wanita.

  1. Tes Kesamaptaan Jasmani “A” (lari 12 menit)

Pelaksanaan kesamaptaan ”A” lari 12 menit untuk peserta wanita diberlakukan sama dengan pria yaitu sebagai berikut.

  • Peserta dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan nomor urut Seleksi, kelompok pertama setelah pemanasan siap berdiri di belakang garis start, kemudian kelompok berikutnya untuk persiapan dan melakukan pemanasan, demikian seterusnya.
  • Penguji mengecek masing-masing peserta dengan memanggil nomor peserta dan langsung dijawab peserta dengan mengatakan ‘Siap’.
  • Starter merangkap Timer (pemegang stop watch) memberi aba-aba “Bersedia, Siap, “Ya” dan langsung menghidupkan stopwatch.
  • Setelah aba-aba “Ya” peserta langsung lari mengelilingi lapangan dengan arah berlawanan jarum jam mengikuti garis lintasan selama 12 menit.
  • Petugas pencatat nilai hasil keliling mengawasi dan mencatat peserta yang merupakan tanggungjawab atas penilaiannya.
  • Starter merangkap timer pada menit ke-5,10 dan 11, mengumumkan melalui megaphone atau pengeras suara bahwa waktu telah berjalan 5, 10 dan 11 menit, serta pada saat 10 detik terakhir memberikan hitungan mundur 10, 9, 8 dan seterusnya sampai dengan hitungan 1 diakhiri dengan tanda peluit panjang.
  • Setelah timer meniup peluit panjang, timer mengumumkan bahwa waktu sudah habis, agar peserta berhenti dan berjalan di tempat melepaskan nomor dada dan meletakkan di tempat berdiri masing-masing selanjutnya berjalan berbalik arah menuju tempat istirahat.
  • Pengawas lintasan mengambil nomor dada dan mencatat kelebihan jarak pada putaran terakhir untuk diteruskan kepada pencatat rekap.
  • Pencatat rekap menghitung jarak yang ditempuh masing-masing peserta termasuk kelebihan jarak yang diterima dan pengawas lintasan. Setetah dihitung segera diserahkan kepada petugas pencatat skor hasil nilai.
  • Apabila peluit panjang tanda waktu 12 menit berakhir masih ada peserta yang berlari atau berjalan maka pengawas lintasan mencatat jarak terakhir dan nomor dada peserta tersebut dan melaporkannya kepada ketua kelompok.
  • Bagi peserta yang melakukan pelanggaran/ kecurangan tersebut ketua kelompok dapat menegur atau dapat didiskualifikasi dengan terlebih dahulu dilakukan BAP.
  1. Tes Kesamaptaan jasmani “B”

        a. Chinning up

  • Sikap permulaan
  1. Dengan posisi palang setinggi dada peserta memegang palang, telapak tangan menghadap ke badan, kedua ibu jari berada atau menempel dibagian atas palang.                                Gambar Cara Memegang Palang                             Gambar Sikap Permulaan Chinning Up
  2. Kedua tangan lurus memegang palang, posisi kaki maju selangkah ke depan kurang lebih 30 cm, badan dan kaki direbahkan ke belakang membentuk sudut 45 derajat dengan tanah.
  • Gerakan
  1. Tarik badan ke arah palang dengan kedua kaki tetap lurus sampai dada bagian atas menyentuh palang, dagu harus melampaui palang.                             Gambar Gerakan Chinning Up Pertama                           Gambar Gerakan Kembali ke Posisi Awal
  2. Kemudian kembali ke sikap semula posisi lengan lurus.
  3. Gerakan dilakukan sebanyak mungkin selama 1 menit
  • Gerakan yang salah
  1. Tidak seluruh telapak kaki menempel di lantai atau mengangkat telapak kaki.
  2. Dada tidak menyentuh palang.
  3. Dagu tidak melampaui palang.
  4. Ketika melaksanakan gerakan pantat mengayun dan badan bergelombang.
  5. Pada saat kembali ke sikap semula kedua lengan atau siku belum lurus badan sudah ditarik kembali.
  • Ketentuan hitungan
  1. Satu hitungan adalah gerakan menarik badan sampai dengan lengan lurus, membengkokkan lengan sampai dada bagian atas menyentuh palang dan dagu melampaui palang.
  2. Gerakan yang salah tidak dihitung.

    b. Sit up

  • Sikap permulaan
  1. Peserta berbaring telentang dengan lutut ditekuk sehingga kedua telapak kaki menempel di tanah, kedua paha dan betis membentuk sudut 90 derajat.                                    Gambar Sikap Permulaan Sit Up
  2. Kedua lengan lurus ke depan menempel di samping kedua paha, telapak tangan terbuka, jari-jari rapat.
  3. Peserta dengan nomor berikutnya dengan sikap jongkok memegang dengan kuat kedua pergelangan kaki peserta.
  • Gerakan
  1. Peserta mengangkat badan ke posisi duduk dengan kedua lengan lurus membuka ke depan sampai posisi badan minimal 90 derajat dengan tanah.                           Gambar Gerakan Bangun Duduk Pertama
  2. Gerakan selanjutnya kembali ke posisi semula kedua lengan tetap lurus dan menempel di samping kedua paha, punggung menyentuh tanah.                         Gambar Gerakan Kembali ke Sikap Semula
  3. Gerakan dilakukan berulang-ulang secara langsung sebanyak mungkin selama maksimal 1 menit.
  • Gerakan yang salah
  1. Badan pada waktu diangkat di posisi duduk tidak sampai 90 derajat dengan tanah.
  2. Pada saat kembali ke posisi semula (berbarig telentang) punggung tidak menyentuh tanah.
  3. Pada saat mengangkat badan, tangan menekan ke tanah atau berpegangan pada lutut/paha.
  • Ketentuan hitungan
  1. Dihitung satu hitungan dari sikap berbaring terlentang kemudian mengangkat badan sampai sikap duduk minimal 90 derajat.
  2. Kemudian kembali ke posisi semula untuk hitungan berikutnya.
  3. Peserta tidak diperbolehkan istirahat atau berhenti melakukan gerakan pada posisi semula (berbaring terlentang) lebih dari 5 detik. Apabila terjadi maka gerakan dinyatakan selesai.
  4. Gerakan yang salah tidak mendapatkan hitungan.

    c. Push up

  • Sikap permulaan
  1. Peserta dalam posisi tiarap, kedua lengan di samping badan, telapak tangan menempel di tanah selebar bahu.                              Gambar Sikap Permulaan Push Up
  2. Badan menempel di tanah, lutut ditekuk ke atas posisi 90 derajat dengan tanah.
  • Gerakan
  1. Badan diangkat dengan meluruskan lengan sampai badan/paha membentuk sudut 30 derajat dengan tanah.
  2. Kedua lutut digunakan sebagai tumpuan untuk mengangkat badan.
  3. Pada waktu mengangkat badan ataupun ketika turun ke posisi semula, posisi badan harus lurus.                                    Gambar Gerakan Push Up Naik
  4. Gerakan berikutnya kembali ke posisi semula dengan menurunkan posisi badan sampai dada berjarak (+ 10 cm) dari tanah.                                 Gambar Gerakan Push Up Turun
  5. Gerakan dilakukan berulang-ulang secara langsung sebanyak mungkin dengan waktu maksimal 1 menit.
  • Gerakan yang salah
  1. Pada waktu mengangkat badan lengan belum lurus badan sudah turun kembali.
  2. Pada saat ke posisi semula, badan/dada menyentuh lantai.
  3. Pada saat mengangkat badan ataupun turun ke posisi semula, gerakan badan berkelompok.
  4. Pada saat mengangkat badan maupun turun ke posisi semula badan tidak lurus.
  • Ketentuan hitungan
  1. Satu hitungan dimulai dari gerakan mengangkat badan ke atas sampai lengan lurus, badan membentuk sudut ±30 derajat dengan tanah.
  2. Setelah turun ke posisi semula sampai badan berjarak ±10 cm dari tanah langsung mengangkat badan untuk hitungan berikutnya.
  3. Peserta tidak dibenarkan istirahat/berhenti melakukan gerakan selama lebih dari 5 detik. Apablia terjadi maka gerakan dinyatakan selesai.

    d. Shuttle run

  • Sikap permulaan
  1. Kelompok peserta yang terdiri dari 3-4 atau 4-6 orang mengambil posisi start berdiri di belakang garis start di sebelah kanan atau kiri masing-masing tonggak/ tiang.                             Gambar Sikap Permulaan Shuttle Run
  2. Dalam posisi ”siap” menunggu aba-aba dari penguji.
  • Gerakan
  1. Setelah ada aba-aba, “Ya” peserta lari secepat mungkin menuju tonggak yang berada di depannya sampai melewati tiang langsung memutar berbalik kembali ke tempat semula menuju tonggak pertama.
  2. Apabila peserta start dari sebelah kanan tonggak maka yang bersangkutan berlari menuju ke sebelah kiri tonggak di depannya kemudian berbalik memutar melewati tonggak menuju ke sebelah kanan tonggak pertama sehingga membentuk angka delapan.                                       Gambar Gerakan Shuttle Run
  3. Demikian pula apabila peserta start dari sebelah kiri tonggak berlari menuju ke sebelah kanan tonggak di depannya dan berbalik memutar melewati tonggak menuju ke sebelah kanan tonggak pertama.
  4. Apabila peserta mengambil posisi start di sebelah kanan tonggak pertama maka pada putaran ke 3 ketika berada di tonggak ke 2 berlari lurus kedepan menuju ke sebelah kanan tonggak pertama (sesuai posisi pada waktu start). Demikian pula sebaliknya.
  5. Peserta tidak diperbolehkan memegang tiang tonggak pada waktu berlari.
  6. Gerakan dilakukan sebanyak 3 kali putaran bolak balik.
  • Gerakan yang salah (tidak dihitung)
  1. Start mendahului aba-aba “Ya”.
  2. Pada putaran pertama dan kedua tidak membuat angka delapan.
  3. Gerakan tidak dilakukan bolak-balik.
  4. Pada putaran terakhir tidak berlari lurus menuju ke posisi waktu start.
  5. Peserta memegang tiang tonggak pada waktu berlari.
  • Ketentuan hitungan
  1. Hasil gerakan diambil dari catatan waktu yang ditempuh dalam jarak 6 x 10 m.
  2. Bila ada peserta yang mendahului start sebelu ada aba-aba ”Ya” maka pelaksanaan untuk kelompok tersebut diulangi.
  3. Bila ada peserta yang melakukan gerakan yang salah maka peserta tersebut dapat mengulangi setelah kelompok tersebut selesai.

Agar lebih jelas, berikut disajikan video Tes Kesamaptaan Kementerian Hukum dan HAM yang diunggah oleh Teuku Muhammad Firdhan (https://www.youtube.com/watch?v=Fu_Iuc2aUZo) dan video Dokumentasi Tes Kesamaptaan Tahun 2017 yang diunggah oleh Kanwil Kemenkumham Jabar (https://www.youtube.com/watch?v=8NqZkY8Il0Q)

Manfaat,Susunan,&Komponen Tes Kesapmataan

Manfaat,Susunan,& Komponen Tes Kesapmataan

    D. MANFAAT TES KESAMAPTAAN

Kegiatan samapta menjadi kebutuhan sebagian besar perusahaan atau institusi pemerintah bagi calon pegawai barunya. Calon pegaJJJJJJJJJwai tersebut selama periode tertentu akan mengikuti sekumpulan kegiatan semi militer yang telah disusun oleh institusi militer. Tujuan kegiatan tersebut yang diberikan kepada calon pegawai adalah untuk membentuk fisik dan mental calon pegawai agar menjadi pegawai yang siap menghadapi tantangan perusahaan atau institusi ke depan dan juga meningkatkan kebugaran dari calon pegawai sendiri. Pembentukan calon pegawai rata-rata dilakukan secara semi militer karena cara ini dinilai tepat untuk menghasilkan output pegawai yang memiliki integritas dan daya juang yang tinggi.

Kegiatan samapta memberikan berbagai manfaat bagi para peserta atau sering disebut sebagai serdik (peserta didik).

  1. Meningkatkan kedisiplinan

Berbagai cara dilakukan oleh penyelenggara samapta untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan seperti bangun pagi, senam pagi, jadwal acara yang tersusun rapi, on time pada setiap acara dan lain sebagainya. Peningkatan kedisiplinan akan memberikan dampak positif pada dunia kerja, dimana calon pegawai akan sangat menghargai waktu yang dimiliki sehingga akan tercipta efisiensi kerja pada setiap individu pegawai.

  1. Mengurangi sikap manja

Ketika kegiatan peserta hanya diberikan waktu sedikit untuk menghabiskan makanan, waktu yang sebentar untuk mandi, dijemur di teriknya sinar matahari, sehingga peserta akan menjadi manusia yang tidak terbiasa menuntut banyak atau menikmati hidup. Hal tersebut menjadikan calon pegawai akan lebih tahan banting terhadap kondisi lingkungan kerja yang akan dihadapi, misalnya saja bos yang memberikan jumlah pekerjaan yang banyak. Selain itu, pola pikir pegawai untuk lebih bersyukur juga lebih terbentuk. Apabila menemui hambatan atau kemalangan tidak merasa down atau rendah diri tetapi bersyukur bahwa ada yang lebih tidak beruntung daripada peserta.

  1. Menanamkan semangat juang yang tinggi.

Salah satunya diisi dengan yel-yel di setiap acara selama kegiatan samapta berlangsung. Berfungsi untuk menghilangkan rasa lelah yang diderita. Pelatih samapta sering mengecek apakah peserta masih mempunyai semangat dengan memperdengarkan yel-yel agar acara tetap diikuti secara baik dan menghasilkan output yang sesuai dengan rencana kegiatan samapta. Sama halnya dengan perusahaan atau institusi, calon pegawai diharapkan dapat mempertahankan semangat juang untuk menyelesaikan load kerja, sehingga halangan apapun yang terjadi di depan nanti tidak akan membuat putus asa atau sikap menyerah bagi calon pegawai.

    E. SUSUNAN TES KESAMAPTAAN

Menurut Pedoman Seleksi Kesamaptaan Jasmani Calon Pegawai Negeri Sipil Kementerian Hukum dan HAM Tahun Anggaran 2017 yang merujuk pada Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomr KEP/698/XI/2011 Tanggal 28 Desember 2011, tahapan dalam pelaksanaan tes kesamaptaan jasmani susunan seleksinya adalah sebagai berikut.

  1. Seleksi kesamaptaan jasmani untuk pria
  2. Seleksi kesamaptaan “A” lari 12 menit minimal jarak tempuh 1200 meter
  3. Seleksi kesamaptaan “B” terdiri dari rangkaian seleksi meliputi :
    • Pull up maksimal 1 menit
    • Sit up maksimal 1 menit
    • Push up maksimal 1 menit
    • Shuttle run jarak 6 x 10 meter
  1. Seleksi kesamaptaan jasmani untuk wanita
  2. Seleksi kesamaptaan “A” lari 14 menit minimal jarak tempuh 1200 meter
  3. Seleksi kesamaptaan “B” terdiri dari rangkaian seleksi meliputi :
    • Chinning up maksimal 1 menit
    • Sit up maksimal 1 menit
    • Push up maksimal 1 menit
    • Shuttle run jarak 6 x 10 meter

    F. KOMPONEN YANG DIUKUR

Terdapat beberapa komponen yang diukur dalam tes kesamaptaan atau kesiapsiagaan jasmani, yaitu sebagai berikut.

  1. Dalam kesamaptaan jasmani “A” (pria lari 12 menit dan wanita lari 14 menit) yang diukur adalah sebagai berikut.
  2. Daya tahan otot atau muscle endurance adalah kemampuan otot-otot untuk melakukan latihan dalam jangka waktu tertentu yang relative lama.
  3. Daya tahan jantung, pernafasan, dan peredaran darah atau cardio respiratory endurance
  4. Dalam kesamaptaan jasmani “B” yang diukur adalah sebagai berikut.
  5. Pull up dan chinning up mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan bagian dalam
  6. Sit up mengukur kekuatan dan daya tahan serta fleksibilitas otot perut
  7. Push up mengukur kekuatan dan daya tahan otot lengan bagian luar
  8. Shuttle run mengukur kecepatan, kelincahan, dan keseimbangan tubuh