TUJUAN DAN FUNGSI KITAB-KU

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                      TUJUAN DAN FUNGSI KITAB-KU

  1. Kedudukan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber pokok bagi ajaran Islam. Al-Qur’an juga merupakan sumber hukum yang utama dan pertama dalam Islam. Sebagai sumber pokok ajaran Islam, Al-Qur’an berisi ajaran-ajaran yang lengkap dan sempurna yang meliputi seluruh aspek yang dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Sebagai sumber hukum, Al-Qur’an telah memberikan tata aturan yang lengkap, ada yang masih bersifat global (mujmal) dan ada pula yang bersifat detail (tafsil). Al-Qur’an mengatur dengan disertai konsekuensi-konsekuensi demi terciptanya tatanan kehidupan manusia yang teratur, harmonis, bahagia dan sejahtera, baik lahir maupun batin.

Agar manusia dapat mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya, maka hendaknya manusia selalu berpegang teguh kepada prinsip dasar ajaran dan kaidah-kaidah hukum yang bersumber dari Al-Qur’an sebagai sumber utamanya. Hal ini sebagaimana tersirat dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103.

 

Artinya:Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,…” (QS. Ali-‘Imrwn  [3]:103).

Sebagian ulama’ menafsirkan lafazحَبْلِ الله dengan Al-Qur’an. Dengan demikian ayat tersebut mengisyaratkan agar manusia khususnya umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh kepada Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam.

Dalam QS. an-Nisa ayat 59, Allah Swt juga menegaskan:

 “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS.An-Nisa [4]:59).

Ayat tersebut terdapat perintah untuk menaati Allah Swt. (اَطِيْعُوا اللهَ), maksudnya adalah menaati ajaran Allah Swt. yakni Al-Qur’an. Dalam ayat tersebut disiratkan bahwa Al-Qur’an menempati kedudukan sebagai sumber utama dan pertama dalam rangka menyelesaikan permasalahan umat Islam. Di samping Al-Qur’an, juga terkandung maksud untuk mendasarkan pada Hadis/Sunnah Rasulullah Saw. sebagai sumber kedua setelah Al-Qur’an. Sikap yang harus dimiliki oleh setiap umat Islam adalah mengembalikan semua permasalahan kepada sumber pertamanya yaitu Al-Qur’an dan juga sumber keduanya yaitu Hadis/Sunnah Rasulullah Saw. Dengan demikian, maka akan tercapai kebahagiaan hidup di dunia sampai di akhirat kelak.

   B. Tujuan dan Fungsi Al-Qur’an

Allah telah menurunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran yang hakiki. Al-Qur’an memiliki beberapa fungsi dan tujuan bagi kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Di antara tujuan dan fungsi diturunkannya Al-Qur’an oleh Allah Swt. adalah:

  1. Al-Qur’an sebagai Petunjuk bagi Manusia

Al-Qur’an telah diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaraan malaikat Jibril as. sebagai petunjuk bagi manusia. Dengan mengikuti petunjuk Al-Qur’an tersebut, manusia akan mempunyai arah dan tujuan hidup yang jelas dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Banyak ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Beberapa ayat di antaranya adalah sebagai berikut :

Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)…” (QS. al-Baqarah [2]:185).

Atau ayat lain yang lebih khusus menegaskan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia yang bertakwa.

Artinya: “Kitab (Al-Qur’an)  ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,” (QS. al-Baqarah [2]:2).

Atau ada pula ayat yang khusus menegaskan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia yang beriman.

Artinya: “Dan sekiranya Al-Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, ”Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (rasul), orang Arab? Katakanlah, ”Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman…  (QS. Fussilat [41]: 44).

Dari beberapa penjelasan ayat tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu fungsi terpenting Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia. Petunjuk-petunjuk Al-Qur’an itu secara garis besar meliputi petunjuk tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah Swt., manusia dengan sesama manusia dan bahkan manusia dengan alam sekitarnya. Manusia yang mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an, niscaya akan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

  1. Al-Qur’an sebagai Sumber Pokok Ajaran Islam

Salah satu fungsi penting Al-Qur’an lainnya adalah sebagai sumber pokok ajaran Islam. Dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa Al-Qur’anlah yang mula-mula menjelaskan ajaran yang lengkap dan menyeluruh yang diberikan oleh Allah Swt. Ajaran-ajaran tersebut ada yang bersifat mujmal, yakni hanya memberikan prinsip-prinsip umumnya saja, dan ada juga yang bersifat tafsil yakni ajaran yang terperinci dan khusus.

Ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an mutlak kebenarannya dan ajaran yang paling sempurna. Ajaran Al-Qur’an di samping membenarkan ajaran-ajaran kitab suci sebelumnya, juga menyempurnakan ajaran kitab-kitab sebelumnya tersebut. Al-Qur’an berisi tentang pokok-pokok atau dasar-dasar ajaran Islam yang berkenaan dengan masalah ketauhidan, ibadah, akhlak, hukum, dan segala hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya.

Dalam sebuah ayat, Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan membawa kebenaran hakiki yang berfungsi sebagai dasar penetapan hukum yang harus dipegang teguh oleh Nabi Muhammad Saw., tidak boleh sedikitpun menyimpang dari Al-Qur’an. Dan tentunya hal ini juga harus dipegang teguh oleh umat Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. an-Nisw’ ayat 105.

Artinya:“Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau   mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat,” (QS. an-Nisw’[4]: 105).

  1. Al-Qur’an sebagai Peringatan dan Pelajaran bagi Manusia

Sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia maksudnya adalah Al-Qur’an merupakan kitab suci dengan konsep ajaran yang salah satu ajarannya adalah berupa sejarah atau kisah umat terdahulu. Dalam kisah-kisah itu dijelaskan bahwa ada di antara umat manusia sebagian orang-orang yang beriman, taat dan shalih, namun ada pula sebagian yang lain orang-orang yang kafir, ma’siat dan tidak shalih. Kepada mereka yang salih, Allah Swt. menjanjikan kebaikan di dunia dan pahala (surga) di akhirat karena rida-Nya, sebaliknya kepada mereka yang kafir, durhaka dan tidak shalih, Allah Swt. mengancam dengan ancaman hukuman dan azab baik di dunia maupun di akhirat. Dan dalam banyak ayat, Allah Swt. membuktikan janji dan ancamannya tersebut.

Bagi kita, apa yang dijelaskan dalam kisah umat terdahulu tersebut, dapat kita ambil pelajaran dan sekaligus peringatan bagi kita untuk pandai mengambil pelajaran dan meneladani yang baik dan menjauhi yang buruk untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia sampai di akhirat kelak. Allah Swt. berfiman:

Artinya: “Dan ini (Al-Qur’an), Kitab yang telah Kami turunkan dengan penuh berkah; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar engkau memberi peringatan kepada (penduduk)Ummul Qura (Mekah) dan orang-orangyang ada di sekitarnya. Orang-orang yang beriman kepada (kehidupan) akhirat tentu beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan mereka selalu memelihara salatnya. (QS. al-An’am [6]: 92).

Dalam ayat lain, Allah Swt. juga menegaskan tentang fungsi Al-Qur’an sebagai peringatan dan pelajaran terutama bagi orang-orang yang beriman.

Artinya: “(Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan (Kitab) itu dan menjadi pelajaran bagi orang yang beriman”. (QS. Al-A’raf [7]:2).

Apabila manusia, terutama umat Islam telah memfungsikan Al-Qur’an dengan cara menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup, menerapkan dan melaksanakan segala ajaran Islam sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an, serta mengambil pelajaran yang baik dan positif dan meneladaninya dan meninggalkan yang negatif, niscaya keselamatan, kesuksesan dan kebahagiaanlah yang akan diperoleh baik di dunia maupun di akhirat. Itulah fungsi dan tujuan diturunkannya Al-Qur’an.

   C. Perilaku Orang yang Memfungsikan Al-Qur’an

Perilaku taat kepada Allah Keimanan yang kuat terhadap kitab suci Al-Qur’an  akan mendorong seseorang untuk taat dan patuh terhadap segala perintah-perintah-Nya dan senatiasa menghindari apa yang dilarang-Nya, ketaatan itu muncul dari keyakinan bahwa segala yang dikandung dalam kitab al-Quran adalah benar dan harus dipatuhi oleh umat manusia. 

Selalu menghindari perbuatan maksiat maksiat artinya berbuat durhaka kepada Allah, baik dengan cara melanggar larangan-Nya maupun dengan tidak mau melakukan perintah-perintah-Nya. Tidak ada satupun ayat al-Quran yang menganjurkan manusia berbuat maksiat ataupun berbuat jahat baik kepada –Nya ataupun kepada sesama makhluk dan alam lingkungannya. Oleh sebab itu, setiap orang yang beriman kepada Al-Quran akan senatiasa menjag sikap perilaku dan perbuatannya dari hal-hal yang berbau maksiat.

Selalu Berbakti kepada orang tua. Dalam Al-Quran Allah selalu menjelaskan bahwa manusia mempunyai kewajiban untuk menghormati dan berbakti kepada ayah ibunya, karena mereka sangat besar jasanya bagi kelangsungan hidup seseorang, tanpa kebesaran jiwanya, kemuliaan hatinya, tidak mungkin seorang anak dapat bertahan hidup. Oleh sebab itu, seorang yang beriman kepada al-Quran dan memfungsikannya tidak mungkin berbuat durhaka dan menyakiti orangtuanya, dalam hati mereka terdapat keyakinan bahwa mengabaikan dan mendurhakai orangtua akan mendapatkan murka dari Allah Swt.

Sebagai bentuk  penerapan fungsi Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari  kita harus berusaha menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup, sebagai landasan hukum dan etika serta menjadikan Al-Quran sebagai tempat kembalinya segala persoalan.

CONTOH SOAL:

  1. Al-Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang .…

   A. pertama

   B. kedua

   C. ketiga

   D. keempat

   E. kelima

   2. Berdasarkan QS. al-Baqarah ayat 2, al-Qur’an berfungsi sebagai….

   A. Peringatan 

   B. Pelajaran

   C. Petunjuk

   D. Penyelamat

   E. Pembeda

3.Petunjuk al-Qur’an ada yang masih bersifat mujmal ada juga yang bersifat tafsil. Mujmal maksudnya…

   A. Global

   B. Terperinci

   C. Tidak jelas maksudnya

   D. Tidak bias difahami

   E. Sudah jelas

   4. Dalam al-Qur’an banyak terkandung kisah-kisah umat masa lalu, tujuan utamanya untuk…

   A. Menakut-nakuti manusia

   B. Menambah pengetahuan

   C. Menghibur manusia

   D. Melengkapi isi al-Qur’an

   E. Menjadi ibrah dan peringatan

  1. Salah satu tokoh dalam kisah umat masa lalu yang dapat dipetik pelajaran sebagai teladan yang baik…

   A. Kisah Fir’aun

   B.Kisah Qarun

   C. Kisah Abu Lahab

   D. Kisah Qabil

   E. Kisah Luqman al-Hakim

  1. Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an kepada umat manusia adalah…

   A. Agar manusia selamat dan bahagia di dunia

   B. Agar manusia selamat dunia dan akhirat

   C. Agar manusia tahu cara mencari rezeki

   D. Agar manusia mau membacanya tiap hari

   E. Agar manusia bisa melihat dan menyaksikannya

Jawaban:

  1. A
  2. C
  3. A
  4. E
  5. E
  6. B

MATERI TENTANG KEWAJIBAN BERDAKWAH

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                           MATERI TENTANG KEWAJIBAN BERDAKWAH

     A. KEWAJIBAN BERDAKWAH

Di bawah ini beberapa dalil Al-Qur’an dan Hadits mengenai kewajiban berdakwah diantaranya yaitu:

  1. S. An-Nahl : 125

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)

Dari segi etimologi kata dakwah berasal dari bahasa Arab yaitu da’aa-yad’uu-da’watan yang berarti ajakan, seruan, panggilan, undangan. Jadi yang dimaksud ilmu dakwah adalah  Suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara, tuntunan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk mengikuti, menyetujui suatu pendapat tertentu dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Alloh SWT. demi kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

     Kemudian yang disebut penerangan mempunyai suatu tujuan tertentu, memberikan pengertian terhadap orang lain mengenai sesuatu masalah, sehingga penerangan merupakan bagian dari dakwah.

Selain dari itu ada juga bagian lain dari dakwah misalnya penyiaran. Penyiaran bisa juga dipakai untuk memberikan penjelasan-penjelasan terhadap suatu masalah yang sudah ada pokok permasalahannya, sehingga penjelasannya datang kemudian.

Begitu pula tentang pendidikan dan pengajaran, juga menjadi bagian dari salah satu alat berdakwah. (DEPAG : 2002, hal 113)

Telah banyak perjalanan sejarah dakwah yang kita dengar bagaimana beratnya tantangan-tantangan yang dihadapi orang-orang yang menyampaikan dakwah dan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul Allah telah menunjukkan betapa tidak rataya jalan yang harus ditempuh pada saat menyampaikan risalahnya. Namun demikian mereka tidak pernah mundur barang setapakpun. Sebab bagi kaum muslimin dakwah adalah suatu tugas suci yang wajib dilaksanakan, tidak perlu cemas dengan adanya tantangan-tantangan tersebut melainkan tetap optimis tidak perlu ada keragu-raguan, sehingga tetap teguh keyakinan, teguh keimanan, dakwah tetap berkumandang cahaya dan syiar Islam tetap terpancar menyinari ke seluruh penjuru dunia.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar banyak menggunakan cara dalam menyampaikan misi dakwah  kerasulannya, hal tersebut harus dilakukan karena beragamnya corak masyarakat dari yang awam sampai yang terpelajar dan juga strata sosial yang berbeda hal tersebut tentunya juga akan dijumpai problem yang berbeda pula. (DEPAG: 2002, hal 122-125)

    a. Metode Dakwah

Menurut ayat 125 QS. An-Nahl, dipahami oleh sebagaian ulama’ yaitu menjelaskan prinsip umum metode dakwah Islamiyah yakni tiga metode dakwah dan selaras dengan sasaran atau objek dakwah. Ketiga metode itu disesuaikan dengan kemampuan intelektual masyarakat yang dihadapi, akan tetapi secara prinsip semua metode dapat digunakan kepada semua masyarakat.

  • Metode Hikmah

Menurut Syeh Musthafa Al-Maraghi dalam tafsir Al-Maraghi mengatakan bahwa hikmah adalah ungkapan yang jelas dan tegas disertai dengan dalil yang dapat mempertegas kebenaran apa yang dipaparkan, dan dapat menghilangkan keragu-raguan. Metode ini adalah berdakwah untuk kalangan intelektual, berilmu pengetahuan atau pendidikan tinggi.

  • Metode Mau’idzah Hasanah

Metode Mau’idzah Hasanah ini yaitu menggugah hati dan dapat mengena sasaran hati bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan pengalaman dan keteladanan dari yang menyampaikannya. Mau’idzah biasanya bertujuan mencegah sasaran dari suatu yang buruk yang dapat mengundang emosi baik yang menyampaikan, lebih-lebih yang menerimanya.

Beberapa ciri Mau’idzah Hasanah adalah nasihat yang berisi mencari keridlaan Allah SWT., nasihat dan pengajaran yag dapat melembutkan hati serta memberikan kesan yang mendalam dalam hati, metode ini mengandung unsur at-targhib (kabar gembira) dan at-tarhib (ancaman), menunjukkan contoh tauladan yang baik dan akhlaq yang terpuji sebagai contoh untuk diikuti.

  • Metode Mujadalah (Debat)

Metode ini yaitu mengajak berdebat dengan yang baik. Apa yang disampaikan tetap dalam kesopanan, dengan menggunakan argumen yang benar, dengan demikian lawan debat tidak merasa kalah dan yang mengajak debat walau menang tetapi juga jangan sampai merasa menang dan hebat, namun kembali pada tujuan dakwah yaitu Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

    b. Sasaran Dakwah

Mohammad Nasir, menyebutkan ada tiga golongan masyarakat yang bagi seorang pendakwah dituntut untuk memilih metode yang tepat bagi mereka :

  • Golongan cerdik cendekiawan yang cinta kebenaran dan dapat berfikir kritis, cepat menangkap arti persoalan. Bagi mereka harus metode yang relevan adalah hikmah, yakni hujjah (argumentasi) yang dapat diterima dengan kekuatan akal mereka.
  • Golongan awam, masyarakat yang belum dapat berfikir secara kritis, dan mendalam. Mereka ini dipanggil dengan mau’idzah hasanah, yakni keteladanan yang baik dari juru dakwahnya.
  • Golongan yang kemampuannya ditenganh antara kedua golongan tersebut, belum dapat dicapai dengan hikmah akan tetapi tidak sesuai pula bila dilayani seperti golongan awam. Golongan manusia seperti ini dipanggil dengan bertukar fikiran dengan cara yang lebih baik.

     c. Pedoman berdakwah

  • Dakwah lebih banyak berorientasi kepada materi yang diajarkan. Dakwah itu hendaknya ditujukan semata-mata karena Allah dan untuk memperoleh ridlo-Nya, bukanlah untuk orang yang berdakwah dan bukan juga untuk golongannya atau kaumnya. Rosulullah diperintahkan berdakwah agar membawa manusia menuju ke jalan Allah dan untuk agama semata.
  • Dakwah hendaklah dlakukan dengan Hikmah

Yang dimaksud dengan “Hikmah” di sini, hendaklah dakwah berisikan ilmu pengetahuan yang mampu mengunggkap faedahnya untuk kepentingan dan kesejahteraan manusia. Islam sangat menghargai kajian-kajian ilmiah, tidak seperti penganut agama selain Islam. Ilmuan sering kali menjadi korban hasil temuannya, seperti Galileo, Arius, Bruno Bauer, George van Paris, dll, yang bertentangan dengan pendapat gereja.

Untuk itu seorang da’i harus memilih materi yang sedang dihadapi oleh manusia pada zamannya. Kalau manusia modern sekarang yang dihadapi adalah bagaimana cara mengentaskan dampak negatif dari akibat industrialisasi, kemudian muncul polusi maka ia harus mampu memecahkan kesulitan yang dihadapi umatnya.

Industrialisasi maju tetapi pencemaran dapat ditekan sampai titik minimal. Demikian ini tidak gampang, oleh sebab itu dakwah harus disampaikan dengan metode yang tepat dan gaya yang pas, sehingga mereka tertarik dan tidak merasa berat menerima ajakannya, karena adanya dakwah tersebut mampu membuat solusi yang baik. Oleh sebab itu dakwah harusdilakukan oleh orang-orang yang profesioanal dibidangnya masing-masing.

  • Dakwah hendaklah dilakukan dengan Mau’idzah Hasanah, lemah lembut, dengan cara yang baik, dan tidak menimbulkan kegelisaan dan ketakutan karena meras dipaksa. Dalam tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa maksid Mau’idzah Hasanah adalah Uraian yang menyentuh hati yang mengantarkan kepada kebaikan. Berhasil atau tidaknya tujuan dakwah sangat banyak dipengaruhi oleh metode atau cara berdakwah. Namun boleh juga diselipkan materi pelajaran yang berisikan adzab-adzab dan hukuman yang diancamkan Tuhan kepada mereka yang sengaja berbuat dosa dan kemungkaran, dengan maksud merega menghindari perbuatan yang menimbulkan ancaman Tuhan tersebut.
  • Bila dalam dakwah terjadi perdebatan atau bantahan dengan kaum musyrikin atau Ahli Kitab, hendaklah menjawab bantahan mereka dengan bantahan yang baik. Perdebatan yang baik ialah perdebatan yang dapat menghambat timbulnya hal-hal yang negatif seperti sombong, gengsi, dll. Hal ini sangat penting diperhatikan, sebab dengan cara ini orang akan merasa dihargai dan dihormati, sehingga dalam diri mereka akan timbul rasa simpatik yang akhirnya mengikuti ajakan dan seruan para da’i.
  • Serahkanlah segala usaha dan perjuangan kepada Alloh, sebab hanya Dialah yang Maha Mengetahui siapa-siapa yang akan diberi petunjuk atau hidayah dan siapa-siapa yang tidak diberinya. Tugas da’i hanyalah menyampaikan ajaran agama dan bukan menentukan hasilnya.
  • Dakwah hendaklah dilakukan dengan cara berulang-ulang dan tidak boleh berhenti karena mengalami hambatan, gangguan ataupun rintangan.
  • Pemberian dakwah harus berwibawa jangan sampai ada anggapan bahwa dia sama saja dengan mereka.
  • Pemberian dakwah harus memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan ilmu yang luas, sehingga tidak membosankan bagi pendengarnya.
  • Pemberi dakwah harus mempunyai kesehatan fisik dan mental. (DEPAG, hal 113-116)
  1. Asy-Syu’ara : 214-216

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”.(QS. Asy-Syu’ara: 214-216)

      a. Penjelasan

Kata ‘Asyirota artinya anggota suku yang terdekat, kata tersebut berasal dari ‘Aasyaro yang artinya bergaul. Kata Janaakha  arti aslinya adalah sayap. Hal ini menggambarkan perilaku seseorang disamakan dengan burung yang merendahkan sayapnya apabila hendak mendekati lawan jenisnya atau melindungi anaknya. Kata attaba’a artinya mengikuti namun menurut mufassir Ibnu Asyur ia menerjemahkan dengan Beriman.

Dalam suatu hadits dari Abu Hurairah menyatakan : “Tatkala ayat ini turun, Rosululloh memanggil orang-orang Quraisy berkumpul di bukit Shafa. Di antara mereka adayang datang secara langsung dan ada yang mengirimkan wakilnya. Setelah mereka berkumpul, kemudian Rosululloh berkhobah: “Wahai kaum Quraisy, selamatkan dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak bisa memberi mudlarat dan tidak pula memberi manfaat kepadamu. Ketahuilah bahwasanya aku hanya dapat menghubungi karibku di dunia ini saja”. Dalam riwayat lain oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas, dijelaskan bahwa setelah Rosululloh menyeru kepada kaumnya itu lalu Abu Lahab, paman beliau berkata: “Celakalah engkau wahai Muhammad hari ini, apakah engkau panggil hanya untuk ini? Maka Allah menurunkan ayat : Tabbat yadaa Abii lahabin”

Setelah itu, ayat ini menegaskan bahwa mula-mula dakwah Nabi ditujukan kepada keluarga atau kerabat dekatnya, kemudian secara berangsur-angsul menyeru masyarakat sekitarnya dan akhirnya kepada manusia seluruhnya. Mula-mula dakwah secara sembunyi-sembunyi, kemudian setelah pengikutnya kuat dilakukan secara terang-terangan. Inilah awal perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk memulai dakwah menyiarkan agama Allah agar manusia  mentauhidkan kepada-Nya dan beramal shaleh.

Secara global (Ijmali) ketiga ayat di atas menjelaskan kepada kita umat Islam bahwa Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar menyampaikan dakwahnya kepada keluarga atau kerabat terdekat seperti istrinya, anak-anaknya dan perintah bersikap lemah lembut dan penuh kasih  sayang kepada orang-orang yang mengikuti ajakannya dan memberi peringatan dan ancaman akan adzab yang pedih kepada yang mendurhakain dakwahnya. Isi dakwahnya untuk menyakini dan mempercayai bahwa tiada Tuhan selain Allah Tuhan yang Maha Esa.

Pada ayat 125 ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berkalu dan bersikap rendah hati, lemah lembut, memperdulikan orang lain dan tidak sombong kepada orang-orang yang mengikuti seruannya, sehingga hati mereka lebih tertarik dan menyenangi agama yang baru dianut; dapat terjalin hubungan kasihsayang, mencintai dan menolong serta menbela sesama mukmin.

Dalam ayat 216 ini Allah SWT. memberikan petunjuk kepada Nabi Muhammad dalam menjalankan dakwahnya, yaitu apabila kerabat karib, keluarga dekat tidak mengindahkan seruannya, maka katakanlah kepada mereka bahwa engkau tidak bertanggungjawab  atas keingkaran dan kedurhakaan mereka, bahwa Allah mengancam dengan adzab-Nya yang sangat keras sebagai balasan terhadap sikap dan perbuatan mereka, takseorang pun mampu melepaskan diri dari adzab itu. Hanya orang-orang beriman dan beramal shaleh yang dapat terhindar dari adzab Allah di akhirat nanti.

b.Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Ada tiga metode yang digunakan untuk berdakwah yaitu Al-Hikmah, Al-Mau’idzah Hasanah dan Al-Mujadalah.
  • Dalam menggunakan metode dakwah, seorang Muballigh harus memperhatikan objek dakwahnya
  • Hendaklah dakwah dilaksanakan semata-mata karena Allah dan mengharap ridlonya.
  • Hendaklah dakwah dilakukan dengan hikmah dengan cara baik dan lemah lembut.
  • Bila terjadi perdebatan, hendaklah dijawab dengan perdebatan yang baik.
  • Berhasil tidaknya usaha dakwah hendaklah dikembalikan kepada Allah. Tugas para da’i hanyalah menyampaikan agama Allah, berhasil atau tidak terserah kepada keputusan-Nya.
  • Mula-mula Rosululloh melakukan dakwahnya kepada kerabat dan keluarga terdekat, kemudian kerabat yang jauh dan akhirnya kepada seluruh manusia.
  • Rosululloh diperintahkan oleh Allah agar bersikap lemah lembut dan berlaku hormat serta rendah hati, mengasihi dan mencintai kepada orang-orang mukmin. Selanjutnya perintah ini juga ditujukan kepada kita ummat Nabi Muhammad.
  • Apabila orang-orang yang diseru mengikuti ajaran Allah tidak menghiraukannya, tidak mengikuti ajakan tersebut dan mendurhakainya, maka beritahukan tentang ancaman berupa azdab Allah yang akan ditimpahkan kepada mereka. Tidak ada seorang pun yang terhindar dari adzab-Nya kecuali orang-orang yang beriman danberamal sholeh.
  1. Al-Hijr : 94-96

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِين إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari kejahatan orang-orang yang memperolok-olokkan kamu, yaitu orang-orang yang menganggap adanya tuhan yang lain di samping Allah, maka mereka kelak akan mengetahui akibat-akibatnya.”(QS. Al-Hijr: 94-96)

      a. Penjelasan

Ayat 94 ini memerintahkan kepada kaum Nabi Muhammad saw., agar menyampaikan ajaran agama Allah secara terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyi, tantanglah orang musyrik itu, jangan memperdulikan apa yang mereka katakan dan janganlah kamu takut kepada mereka.

Sebagai seorang ahli tafsir mengintepretasikan وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِين dengan tidak memperdulikan segala tingkah laku orang-orang musyrik yang telah mendustakan, memperolok-olok dan menentang kamu, tindakan mereka yang menghalang-halangimu jangan dijadikan kendala untuk menyiarkan agama. Dia (Allah) menjagamu dari gangguan mereka.

Ayat 95-96 ini menegaskan kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang mukmin bahwa Allah akan menjaga dan memelihara Nabi dan pengikutnya dari orang-orang musyrik Makkah yang meremehkan, menghina dan memperolok-olok Nabi serta mengotori kesucian Al-Qur’an,

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa orang-orang musyrik Makkah yang sangat meremehkan ajaran Al-Qur’an  di antaranya adalah Al-Walid bin Mughirah, Al-Ash bin Wa’il, Al-Haris bin Qais, Aswad bin Abdul Jaghut dan Aswad bin Muththalib. Dalam sejarah dikenal bahwa penyebab kematian mereka dikarenakan sikap mereka memperolok-olok dan mendustakan ajaran Allah.

Allah mengetahui bahwa Nabi Muhammad prihatin dan sedih melihat sikap dan tingkah laku orang-orang musyrik Makkah. Untuk mengobati hati yang sakit ini, Nabi memperbanyak tasbih, dzikir, tahmid, takbir, sembahyang dan melakukan ibadah-ibadah lainnya serta menahan hawa nafsu. sifatNabi ini hendaknya dijadikan contoh teladan oleh orang-orang mukmin dalam menghadapi permasalahan. Serahkanlah segalanya kepadaAllah niscaya Dia akan memberikanjalan keluar dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi.

Di zaman Rosulullah belum ada media massa seperti sekarang ini, belum ada media cetak, elektronika, surat kabar, radio, film, dan televisi sehingga dakwa hanya dilakukan dengan lisan. Kemudian setelah beliau menerima tuntunan atas pedoman dari Allah dengan datangnya ayat pertama, beliau lalu memberikan dakwahnya kepada istrinya, keluarganya, teman-teman dekat. Mula-mula dengan sembunyi-sembunyi karena khawatir terhadap fitnah kaum Quraisy yang belum mau melepaskan tradisi mereka. Akhirnya dakwah yang diberikan diarahkan untuk memberikan dasar-dasar keyakinan sekaligus membentuk kepribadian masyarakat supaya kuat dantahan uji dan penuh ketabahan serta kesabaran.

Setelah keyakinan dianggap kuat dengan ikatan kemasyarakatan walaupun masih terbatas, tetapi telah dianggap mampu menerima tantangan. Setelah itu barulah Allah memerintahkan melakukan dakwah secara terang-terangan.

Dengan sikap maju terus tanpa mundur disertai keyakinan, sikap bijaksana, tutur bahasa yang baik dan benar di dalam berdakwah serta pemaaf dan lemah lembut, maka Islam mendapat sambutan dimana-mana. Namun demikian walaupun awal mulanya Rosululloh selalu mendapat rintangan, tantangan, hinaan tetapi hari demi hari pengikut Islam semakin bertambah banyak bahkan persatuan dan kesatuan pengikutnya menjadi kokoh dan kuat, lebih-lebih setelah masuk Islamnya dua pemuda perkasa, Hamzah bin Abdul Mutholib dan Umar bin Khattab kemenangannya semakin nampak karena pemuda tersebut sangatkeras membela agama Islam, menjadi pembela kebenaran dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan. Akhirnya syiar Islam semakin menyebar di Semenanjung Arabia. (DEPAG, hal 126-128)

       b. Kesimpulan

    • Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan ajaran Allah secara terang-terangan kepada kaum musyrikin Makkah
    • Allah memerintahkan agar Nabi dan pengikutnya tidak gentar dan takut terhadap sikap dan tingkah laku orang-orang musyrikin Makkah yang selalu memusuhi dan menghina Nabi dan ajaran yang didakwahkannya sebab Allah menjamin akan memelihara dan menjaga Nabi dan pengikutnya dari malapetaka yang menimpa mereka.
    • Allah juga memberikan penjelasan kepada Nabi bahwa pada akhirnya nanti orang-orang musyrikin Makkah akan mengetahui akibat-akibat yangakan ditimpa kepada mereka
    • orang-orang yang unggul dan berkualitas akan menjadi pemenang dalam memperebutkan dunia ini.
  1. Hadits-hadits tentang Kewajiban Berdakwah

      a. HR. Bukhari

Artinya : “Dari Abdullah ibnu Umar, Bahwa Nabi saw. bersabda : “Sampaikan dariku walaupun satu ayatdan ceritakan tentang kaum bani Isra’il karena yang demikian itu tiada dosa, Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiaplah tempatnya di Neraka.” (HR. Bukhari no. 3202)

Hadits diatas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. memerintahkan untuk menyampaikan apa yang bisa ditangkap dari beliau, hadits ini tidak mensyari’atkan bahwa untuk menyampaikan dakwah harus mempunyai bekal ilmu yang memadai dulu baru bisa untuk mengajak orang lain, namun dalam berdakwah bisa dilakukan walau pada saat itu baru satu atau dua ayat yang dipahami. Hal demikian dapat dipahami dari ungkapan (Walau ayah) dan dakwah tidak selalu harus berbentuk ceramah, pidato, atau debat. Hemat penulis dakwah dapat juga bisadilakukan dengan memberi contoh yang baik  dan istiqomah dari hasil mengkaji ayat-ayat Allah dan Hadits Rosululloh. Sehingga orang lain akan melihat dan akhirnya tertarik dan mengikuti.

        b. Abu Daud, Ahmad Nasa’i, Turmudzi dan Ibnu Majah

Artinya : “Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rosululloh saw. bersabda :”Barang siapa yang hendak mengajak kepada kebaikan maka dia akan memperoleh pahala atas perbuatan baiknya itu serta pahala orang yang mengikuti serta melaksanakan dengan tanpa dikurangi sedikit pun. Sebaliknya bagi siapa saja yang mengajak kesesatan atau kemungkaran, maka dia mendapat dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Abu Daud, Ahmad Nasa’i, Turmudzi dan Ibnu Majah)

 

 

Nabi Muhammad saw. menjelaskan kepada kita bahwa pahala orang berdakwah itu besar bukan saja pahala yang diberikan Allah atas perbuatan baiknya yang dilakukan sendiri, tetapi juga akan diberikan pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikuti perbuatan baik yang dianjurkan. Pahala ini diberikan oleh Alloh hingga hari akhir tanpa dikurangi sedikitpun. Hal ini menunjukkan sifat Rahman dan Rahim-Nya yang dikaruniakan kepada orang-orang yang dikehendaki.

Sebaliknya, orang yang melakukan kejahatan dan kemudian dia menganjurkan atau mengajak orang lain untuk melakukan seperti yang dia lakukan, maka orang tersebut mendapatkan dosa atas perbuatannya, maka orang tersebut mendapat dosa atas perbuatan yang dilakukan dan ditambah dosa sebanyak dosanya orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun sampai hari kiamat.

      c. HR. Bukhari Muslim

Artinya: “Dari Annas ra. Nabi saw. , beliau bersabda: “Permudalah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menakut-nakuti”. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits dia atas memerinthkan kepada umat Islam agardalam menjalankan dakwahnya supaya dilakukan dengan sikap lemah lembut. Tutur kata yang baik, fleksibel, metode yang baik, menggunakan bahasa yang mudah difahami sehingga orang yang diseru tertarik, mengikuti ajakan serta senang terhadap yang didakwahkan. Peringatan dengancaralemah lembut dan bijaksana lebih menyentuh hati dan dapat mengenai sasaran dabanding dengan peringatan yang keras dan kasar.

Janganlah dakwah itu dilakukan dengan kasar, menakut-nakuti, memaksa atau memberi ancaman, karena cara-cara dakwah seperti itu tidak menyebabkan orang yang diseru senang dan mendekat tetapi menjauhi, tidak mengikuti ajakan bahkan memusuhi dan bisa menghalang-halangi. Janganlah mengungkit-ungkit kesalahan yang mereka lakukan tanpa di sadari atau disengaja.

Prilaku baik dan lemah lembut yang ditampilkan Rosululloh terhadap umatnya yangmencaci maki, membenci, memusuhi, dan menghina kepada beliau patut kita jadikan suri tauladan. Karena cara dakwah seperti itu dapat mengubah ummat yang jahiliyah menjadi bertauhid, menghargaidan menghormati orang lain. Pada akhirnya mereka disegani, dihormati dan ditakuti oleh musuh.

Kemudian perintah Alloh untu berdakwah dengan lemah lembut sepertidiatas tidak kemudian diartikan kita boleh bersikap masa bodoh terhadapkemungkaran dan kemaksiatan, tetapiperintahtersebut dimaksudkan agar dalam melaksanakan dakwah dilakukan dengan cara yang terbaik. Berdakwah diperbolehkan menggunakan cara-cara keras danbahkan memaksa apabila seorang Da’i mempunyai kemampuan baik kekuatan pangkat, jabatan maupun harta dan ia yakin hanya dengan metode tersebut kemungkaran dan kemaksiatan dapat terhenti.

        d. HR. Muslim

Artinya: “Dari Abi Sa’id Al-Khudry ra. Berkata : Aku mendengar Rosululloh saw. bersabda: “Siapapun diantara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan atau kekuasaannya. Apabila tidak mampu dengan cara ini, hendaklah menggunkan lisannya, apabila dengan cara itu tidak mampu maka hendaklah dengan hatinya. Demikian itu (cara yang terakhir) adalah termasuk selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

        e. Kesimpulan

    • 1) Hendaknya dakwah dijalankan dengan cara yang baik, lemah lembut dan membuat orang yang diseru tertarik dan menyenangi yang diserukan kepada mereka.
    • 2) Dakwah tidak boleh dijalankan dengan cara-cara yang kasar, keras, memaksa atau yang membuat orang menjauhi ajakannya. Namun apabila dalam keadaan terpaksa tidak ada jalan lain dan tidak menimbulkan mudlarat, maka cara-cara dakwah seperti ini diperbolehkan sehingga kemaksiatan dan kemungkaran dapat dihentikan.
    • 3) Apabila seseorang melakukan perbuatan baik dan mengajak orang lain berbuat baik, maka dia akan memperolehpahala dua kali lipat. Yaitu pahala atas kebaikan dirinya dan orang yang dianjurkannya. Namun apabila ia menganjurkan perbuatan baik kepada orang lain akan tetapi ia sendiri tidak bisa melakukannya maka ia akan mendapatpahala satu yaitu dari seorang yang mengikuti anjurannya saja.
    • 4) Apabila seseorang mengajak akan kejahatan maka ia akan mendapat dua dosa yaitu dosa atas perbuatannya dan dosa atas perbuatan orang lain atasa jakannya.

CONTOH SOAL:

  1. Seorang da’i mengajak jama’ah untuk melakukan sweeping tempat-tempat hiburan (seperti tempat pesta miras, mesum) dengan melaksanakan aksi kekerasan dan pengrusakan dengan mengutip hadis

Bagaimanakah penilaian saudara terhadap penggunaan dalil hadis tersebut …

      A. Setuju, karena ajakan da’I tersebut sesuai dengan kalimat faghayyirhu biyadih, bahwa semua orang harus turut serta memberantas kejahatan

  B. Setuju, karena sesuai dengan lafaz faghayyirhu biyadihI yang ditempatkan pada urutan pertama

    C. Tidak setuju, karena faghayyirhu biyadih bukan berarti harus mencega kemungkaran dengan kekerasan dan pengrusakan

    D. Tidak setuju, karena hadis tersebut hanya diperuntukkan bagi penegak hokum

Jawaban: C

  • Bunyi hadits di atas lengkapnya sebagai berikut: Dari Abi Sa`id al-Khudry r.a. berkata: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: “barang siapa yang melihat kemunkaran, maka hendaklah dia merubah dengan tangannya, maka apabila tidak bisa hendaklah dia merubah dengan lisannya,maka apabila tidak bisa, maka hendaklah dia merubah dengan hatinya, dan yang demikian itu tanda selemah-lemah iman”

Hadits Abu Sa`id ini berbicara tentang metode dakwah dalam merubah kemunkaran, dan tidak berbicara tentang keutamaan metode yang satu dibanding metode yang lain karena masing-masing metode dilakukan disesuaikan dengan kemampuan pelaku dakwah itu. Menurut hadits tersebut terdapat tiga cara yang bisa ditempuh dalam rangka merubah kemunkaran, diantaranya  merubah kemunkaran dengan tangan. Dalam menafsirkan kata biyadihi, sebagian ulama pun berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa itu artinya kekuatan. Maka menurut pandangan ini, apabila terjadi kemunkaran, maka orang-orang yang mengetahuinya wajib merubahnya dengan tangannya. Imam Ahmad menggarisbawahi, dengan tangannya bukan dengan pedang dan senjatanya.

Sebagian yang lain mengatakan bahwa biyadihi (بِيَدِهِ ) adalah kekuasaan, dalam hal ini adalah pemerintah. Artinya bahwa ketika seseorang melihat kemunkaran dan ingin menghilangkan kemunkaran tersebut, maka harus berkoordinasi dengan pemerintah sehingga dampak dari kemunkaran itu bisa diminimalisir.

  • soal  ini membahas bab menggembirakan gerakan dakwah amar ma`ruf nahi munkar

MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH DAN KHALIFAH DI BUMI

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

           MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH DAN KHALIFAH DI BUMI

   A. Proses Penciptaan Manusia

1. Al Quran Surat al-Mu’minun [23] ayat 12-14

  • Terjemah ayat:

     12. Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.

     13. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

    14. Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.(QS. al-Mu’minyn [23] : 12-14.

  • Penjelasan Ayat

al-Mu’minun ini menerangkan tentang proses penciptaan manusia yang sangat unik. Proses penciptaan manusia diuraikan mulai unsur pertamanya, proses perkembangan dan pertumbuhannya di dalam rahim, sehingga menjadi makhluk yang sempurna dan siap lahir menjadi seorang anak manusia.

Pada ayat 12, Allah SWT. menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari sari pati yang berasal dari tanah (سُلاَلَةٍ مِنْ طِيْنٍ). Selanjutnya, pada ayat 13, dengan kekuasaan-Nya saripati yang berasal dari tanah itu dijadikan-Nya menjadi nuhfah (air mani). Dalam istilah biologi, air mani seorang laki-laki disebut sel sperma dan air mani wanita disebut sel telur (ovum). Ketika keduanya bertemu dalam proses konsepsi atau pembuahan, maka kemudian tersimpan dalam tempat yang kokoh yaitu rahim seorang wanita.

Selanjutnya, pada ayat 14 dijelaskan ketika berada di dalam rahim seorang wanita tersebut, selama kurun waktu tertentu (40 hari) nuhfah tersebut berkembang menjadi ’alaqah (segumpal darah), kemudian dalam kurun waktu tertentu pula (40 hari) ’alaqah berubah menjadi muigah (segumpal daging), lalu selama kurun waktu tertentu (40 hari) berubah menjadi tulang-belulang yang terbungkus daging, dan akhirnya tumbuh dan berkembang menjadi anak manusia, sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut (”kemudian Kami menjadikan dia makhluk yang berbentuk lain”).

Dalam teori biologi, dijelaskan bahwa manusia berasal dari pertemuan antara sperma seorang laki-laki dengan sel telur (ovum) seorang wanita yang berlangsung di dalam saluran oviduc pada saat ovulasi pada tubuh seorang wanita yang kemudian disebut dengan pembuahan. Kemudian  akan dihasilkan zygot yang bergerak ke dalam rahim lalu menempel pada dinding rahim. Di dalam rahim, zygot akan berkembang menjadi embrio kemudian menjadi janin. Dalam perkembangan berikutnya, janin siap lahir setelah melalui masa tertentu. Selama di dalam rahim sampai lahir, asupan makanan diperoleh melalui saluran yang menempel pada dinding rahim yang disebut plasenta. Gambaran yang demikian telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut.

Sebagai penguatan terhadap penjelasan tersebut, Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadis beliau menjelaskan :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا يَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ وَالْأَجَلُ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ (رواه البخاري)             

Dari Anas bin Malik dari Nabi Saw, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu Malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah!, Ya Rabb, segumpal daging! ‘ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, Malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya? ‘ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (HR. Bukhari)

Yang menjadi sangat menakjubkan adalah bahwa ketika Al-Qur’an diturunkan, pemahaman manusia terhadap proses kejadian manusia masih belum sampai pada penggambaran yang sangat detail seperti yang digambarkan ayat-ayat tersebut. Namun, Al-Qur’an menggambarkannya dengan sedemikian detail dan gamblang. Bahkan Rasulullah Saw. yang dikenal sebagai seorang Nabi yang ummi, justru bisa menjelaskan dalam hadis di atas. Dan dalam era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, semua yang digambarkan dalam ayat Al-Qur’an dan kemudian dijelaskan lebih detail lagi oleh Nabi Muhammad Saw. ternyata semuanya terbukti benar. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah Swt. Apa yang dikandung di dalamnya adalah kebenaran hakiki dan bersifat mutlak (absolut).

  1. Al Quran Surat al-Nahl [16]:78

a. Terjemah ayat

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.( QS. An-Nahl [16]: 78)

b.  Penjelasan Ayat

Ayat 78 surah an-Nahl ini masih erat kaitannya dengan surah al-Mu’minun ayat 12-14 sebagaimana dijelaskan di atas. Pada ayat ini, Allah Swt. menegaskan bahwa ketika seorang anak manusia dilahirkan ke dunia, dia tidak tahu apa-apa. Dengan kekuasaan dan kasih sayang-Nya, Allah Swt. membekalinya dengan atribut pelengkap yang nantinya dapat berfungsi untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diketahui. Atribut-atribut tersebut ialah berupa tiga unsur penting dalam proses pembelajaran bagi manusia, yakni: pendengaran, penglihatan dan hati/akal pikiran.

Yang menarik untuk ditelaah, bahwa ternyata pendengaran adalah unsur penting yang pertama kali digunakan bagi orang yang belajar guna memahami segala sesuatu. Menurut sebuah teori penemuan modern, bayi yang masih dalam kandungan bisa menangkap pesan yang disampaikan dari luar dan ia sangat peka. Maka ada ahli yang menyarankan agar anak nantinya berkembang dengan kecerdasan tinggi dan kehalusan budi, hendaknya selama di dalam kandungan ia sering diperdengarkan musik klasik dan irama-irama yang lembut. Atau kalau dalam konteks Islam, hendaknya bayi dalam kandungan sering diperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an, kalimah-kalimah thayyibah. Karena diyakini bahwa sang bayi dapat menangkap pesan menlalui pendengaran itu.

Dalam proses memahami dan mempelajari segala sesuatu, manusia menangkapnya dengan pendengaran, diperkuat dengan penglihatan dan akhirnya disimpan dalam hati sebagai ilmu pengetahuan.

Akhirnya setelah manusia menyadari bahwa dahulu ketika lahir tidak satupun yang bisa diketahui, kemudian atas kemurahan Allah Swt. yang telah memberikan pendengaran, penglihatan dan hati/akal pikiran, manusia bisa mengetahui segala sesuatu dalam hidupnya. Puncaknya, kesadaran tersebut sudah seharusnya mendorong rasa bersyukur yang teramat besar kepada yang telah berkuasa memberikan itu semua. Oleh karena itu, pada akhir ayat, Allah Swt. menegaskan bahwa itu semua diberikan kepada manusia agar manusia mau bersyukur kepada-Nya. Rasa syukur itu kemudian harus diwujudkan dengan pengakuan, ketundukan, ketaatan, kepatuhan yang diekspresikan dalam bentuk keimanan dan direalisasikan dalam bentuk beribadah kepada-Nya. Dia-lah Allah Swt. jat yang Maha Pencipta, jat yang Maha Pemurah, jat yang Maha Kuasa, jat yang Maha Besar dan jat yang berhak disembah oleh sekalian makhluk.

 

3. Al Quran Surat al-Baqarah [2]: 30 -32

a. Terjemah ayat

    30. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu danmenyucikan nama-Mu?” Dia berfirman,Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

   31. Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”

   32. Mereka menjawab, Mahasuci Engkau, tidakada yang kami  ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30-32)

b.  Penjelasan Ayat

Dalam ayat 30 surah al-Baqarah ini, disampaikan informasi bahwa sebelum Allah Swt. menciptakan manusia pertama yakni Adam as. hal tersebut sudah disampaikan kepada para malaikat. Diilustrasikan dalam ayat tersebut, terjadi dialog antara Allah Swt. dengan malaikat. Allah Swt. menyampaikan kepada para malaikat bahwa Allah Swt. hendak menjadikan khalifah di muka bumi yaitu manusia. Apakah yang dimaksud khalifah itu? Khalifah berarti pengganti, yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang. Ulama’ ada yang mengartikan bahwa khalifah ialah yang menggantikan Allah Swt. dalam menegakkan hukum-hukum-Nya di muka bumi. Allah Swt. menunjuk manusia sebagai khalifah merupakan penghormatan kepadanya karena kelebihannya dibandingkan makhluk selain manusia, tidak terkecuali malaikat. Dengan menunjuk manusia sebagai khalifah, Allah Swt. juga bermaksud mengujinya sejauh mana manusia bisa melaksanakan amanah sebagai khalifah Allah Swt. di muka bumi. 

Ketika Allah Swt. menyampaikan rencana tersebut, malaikat menyampaikan ”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”  Bila dikaji dengan baik, pernyataan malaikat tersebut bukan pertanda keberatan atas rencana Allah Swt. tersebut. Perlu diingat bahwa malaikat adalah makhluk yang sangat taat dan patuh terhadap Allah Swt., tidak mungkin malaikat menentang dan mendurhakai-Nya, termasuk terhadap rencana menjadikan khalifah di muka bumi ini. Namun demikian, pertanyaan malaikat tersebut dapat diasumsikan beberapa hal. Pertama, bisa jadi hal itu berdasarkan pengalaman mereka sebelum terciptanya manusia dimana ada makhluk yang berlaku merusak dan menumpahkan darah. Kedua, atau bisa juga malaikat menduga bahwa karena yang akan ditugaskan menjadi khalifah bukan malaikat, maka tentunya makhluk ini berbeda dengan mereka yang senantiasa bertasbih dan memuji Allah Swt. Ketiga, bisa juga karena dari penamaan Allah Swt. terhadap makhluk yang akan diciptakan dengan sebutan khalifah. Kata khalifah ini mengisyaratkan pelerai perselisihan dan penegak hukum, sehingga dengan demikian pasti ada diantara mereka yang berbuat kerusakan, perselisihan dan pertumpahan darah. Wallahu a’lam. Tetapi, apapun latar belakang pertanyaan malaikat tersebut, yang pasti malaikat hanya bertanya kepada Allah Swt. bukan menunjukkan keberatan terhadap rencana Allah Swt.

Kemudian dalam ayat tersebut, diketahui bahwa pertanyaan malaikat itu dijawab singkat oleh Allah Swt.: ”Sesungguhnya Aku (Allah) mengetahui apa yang kamu tidak ketahui”. Jawaban Allah Swt. tersebut juga diperkuat bahwa manusia memang layak ditugasi sebagai khalifah di muka bumi karena kelebihan manusia jika dibandingkan makhluk lain termasuk malaikat. Kelebihan yang sangat nyata adalah kelengkapan unsur penciptaan manusia, yaitu jasad fisik, ruh termasuk di dalamnya nafsu, dan yang terpenting kelebihan akal pikiran yang dikaruniakan Allah Swt. kepada manusia.

Dalam ayat selanjutnya, ayat 31-32, Allah Swt. menyatakan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya.

4. Al Quran Surat al jariyat [51]: 56

a. Terjemah ayat

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. ak-jariyat[51]: 56)

b.  Penjelasan Ayat

Allah menegaskan dalam QS. ak-jariyat ayat 56 bahwa tujuan diciptakannya jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya. Beribadah dalam arti menyembah, mengabdi, menghamba, tunduk, tata dan patuh terhadap segala yang dikehendaki-Nya. Ketundukan, ketaatan dan kepatuhan dalam kerangka ibadah tersebut harus menyeluruh dan total, baik lahir maupun batin. Tujuan ibadah adalah untuk mencari riia Allah Swt.

Secara garis besar, ibadah dapat dibedakan menjadi dua yaitu: ibadah mahiah yakni ibadah yang telah ditetapkan ketentuan pelaksanaannya, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji; dan ibadah ghairumahiah yakni ibadah yang belum ditetapkan ketentuan secara khusus dalam pelaksanaannya. Sebagai contoh, ibadah melalui menyantuni fakir miskin, berbuat baik, dan hal-hal lain dalam bentuk mu’amalah.

Ibadah merupakan bukti rasa syukur manusia kepada Allah Swt. yang telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan yang dengan kemurahan-Nya Allah Swt. memberikan fasilitas hidup. Sikap tersebut sudah seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, apabila manusia mempunyai kesadaran akan hak itu. Lain halnya apabila manusia tidak mempunyai kesadaran untuk mensyukuri segala yang telah diberikan oleh Allah Swt., maka ia akan menjadi manusia yang tidak mau tunduk, tidak mau taat dan mengingkari Allah Swt. dengan tidak mau beribadah kepada-Nya.

Rasulullah Saw. sebagai teladan kita telah mengajarkan bahwa ibadah bukan saja kewajiban tetapi kebutuhan kita untuk berteima kasih ataupun bersyukur kepada Allah Swt. Dalam sebuah hadis beliau bersabda :

سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُإِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ أَوْ سَاقَاهُ فَيُقَالُ لَهُ فَيَقُولُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا (رواه البخاري)

Aku mendengar Al Mughirah ra. berkata; “Ketika Nabi Saw bangun untuk mendirikan shalat (malam) hingga tampak bengkak pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya. Maka Beliau menjawab: “Apakah memang tidak sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur?” (HR.Bukhari)

   B. Perilaku sebagai Hamba Allah dan Khalifah di Bumi

Sebelum kalian menerapkan perilaku sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi sebagai implementasi QS al- Mu’minun [23]:12-14; QS al-Nahl [16]:78; QS al-Baqarah [2]:30-32; dan QS aljariyat [51]: 56, terlebih dahulu kalian harus membiasakan membaca Al-Qur’an setiap hari.

Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai pengahayatan dan pengamalan QS al- Mu’minyn [23]:12-14 sebagai berikut.

     12. Selalu sadar diri bahwa kita diciptakan dari sesuatu yang hina.

     13. Senatiasa mengakui kemahakuasaan Allah yang telah menjadikan kita dari sesuatu yang hina tersebut.

    14. Senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan kita sebaik-baik bentuk

Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai pengahayatan dan pengamalan QS al-Nahl [16]:78 sebagai berikut.

  1. Senantiasa mengakui kebesaran Allah yang telah menganugerahi kita pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.
  2. Selalu bersyukur kepada Allah atas kenikmatan yang telah diberikan kepada kita berupa pendengaran, penglihatan, dan hati nurani.

Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai pengahayatan dan pengamalan QS al-Baqarah [2]:30-32 sebagai berikut.

  1. Senantiasa mendiskusikan segala sesuatu dengan yang lain sebelum diputuskan untuk melakukannya.
  2. Senantiasa menerima dengan lapang dada kelebihan yang lain atas dirinya. 

Sikap dan perilaku yang dapat diterapkan sebagai pengahayatan dan pengamalan QS aljariyat [51]: 56 sebagai berikut.

  1. Selalu beribadah hanya kepada Allah baik dalam artian sempit maupun luas.
  2. Senantiasa mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita yang dimanifestasikan dengan beribadah kepada-Nya.

   C. PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN HORMAT DAN PATUH

Orang tua merupakan orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Bagaimana cara membalas kebaikan orang tua? Salah satu cara membalas kebaikan orang tua yaitu bersikap patuh kepada orang tua. Selain kepada orang tua, kita harus bersikap patuh kepada guru dan sesama anggota keluarga. Berikut pengertian mengenai hormat dan patuh.

Hormat berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada orang lain, baik orang tua, guru sesama anggota keluarga. Dalam hubungan dengan orang tua, perilaku hormat ditujukan dengan berbakti kepada orang tua. Berbakti merupakan kewajiban anak kepada orang tua. Berbakti Kepada orang tua merupakan salah satu amal saleh yang mulia. Perintah berbakti kepada orang tua terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an diantaranya QS.Al Baqarah ayat : 83 yang artinya :

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.

      2. CONTOH PERILAKU HORMAT DAN PATUH

Perilaku hormat dan patuh kepada orang lain sangat baik dilakukan oleh seorang muslim. Oleh karena itu, perilaku hormat dan patuh ini harus diterapkan kepada siapa saja. Berikut adalah contoh perilaku hormat dan patuh kepada orang tua, guru dan anggota keluarga.

  1. Hormat dan patuh kepada orang tua.

  Kita hendaknya patuh dan taat terhadap nasihat dan perintah orang tua selama tidak untuk maksiat atau berbuat musyrik. Bila kita diperintahkan untuk berbuat maksiat atau kemusyrikan, kita harus menolak dengan cara yang sopan. Dalam keadaan apapun kita harus tetap menjalin hubungan yang baik dengan orang tua.

  • Senantiasa  berbuat baik dan bersikap hormat baik dalam tingkah laku maupun tutur kata terhadap kedua orang tua
  • Mengikuti keinginan dan saran orang tua selama keinginan dan saran-saran itu tidak melanggar ajaran agama
  • Membantu kedua orang tua sesuai kemampuan
  • Mendoakan orang tua semoga diberi umur panjang oleh Allah SWT
  • Menjaga dan merawat orang tua ketika orang tua sakit
  • Setelah orang tua meninggal dunia, kita menghormati orang tua dengan mendoakannya

        2. Hormat dan patuh kepada guru

Guru merupakan pengganti orang tua. Guru juga berhak mendapatkan bakti siswa nya. Hal ini karena guru telah memberikan ilmu kepada siswa nya dengan tulus dan ikhlas. Berikut beberapa contoh perilaku hormat dan patuh kepada orang tua:

  • Memuliakan dan tidak menghina kepada guru
  • Mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat
  • Memperhatikan guru yang sedang menjelaskan pelajaran
  • Bertanya kepada guru apabila ada sesuatu yang belum dimengerti dengan sikap sopan
  • Menggunakan cara bahasa yang baik pada saat berbicara dengan guru
  • Berpakaian rapi dan sopan ketika belajar

         3. Hormat dan patuh kepada anggota keluarga

  • Menghormati dan menghargai nasihat keluarga, selama tidak untuk berbuat maksiat atau berbuat musyrik
  • Senantiasa berbuat baik dan bersikap hormat terhadap anggota keluarga.
  • Mendoakan anggota keluarga semoga diberi kesehatan oleh Allah swt
  • Membantu anggota keluarga yang kesulitan.
  • Memohonkan ampun kepada Allah swt atas kesalahan anggota keluarga
  • Menghormati hak dan kewajiban anggota keluarga yang lain.

     3. DALIL TENTANG HORMAT DAN PATUH KEPADA KEDUA ORANG TUA

Pentingnya hormat dan patuh kepada orang tua, termasuk guru sangatlah ditekankan dalam Islam. Banyak sekali ayat di dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa segenap mukmin harus berbuat baik dan menghormati orang tua. Selain menyeru untuk beribadah kepada Allah Swt. semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, al-Qur’an juga menegaskan kepada umat Islam untuk hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya.

Muslim yang baik tentu memiliki kewajiban untuk berbakti kepada orang tua, baik ibu maupun ayah. Agama Islam mengajarkan dan mewajibkan kita sebagai anak untuk berbakti dan taat kepada ibu dan ayah. Taat dan berbakti kepada kedua orang tua adalah sikap dan perbuatan yang terpuji. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Allah Swt. memerintahkan kepada umat manusia untuk menghormati orang tua. Dalil-dalil tentang perintah Allah Swt. tersebut antara lain pada Surah Al-Isra’:

Artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (Q.S. al-Isra’/17: 23-24)

 عَنْ اَ بْنِ عُمَرَ رَ ضِيَ ا للهُ عَنْهُمَا اَ نَّ ا لنَّبِيَّ صَلَى ا للهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ اِ نَّ اَ بَرَّ ا لْبِرَّ اَ نْ يَصِلَ ا لرَّ جُلُ وُ دَّ اَبِيْهِ

Artinya :

Bahwa rasulullah  bersabda: sesungguhnya kebaikan yang paling utama adalah seseorang memelihara hubungan baik dengan orang tuanya. (HR Muslim)

Seorang anak selayaknya meminta doa restu dari kedua orang tuanya pada setiap keinginan dan kegiatannya, hal itu karena restu Allah Swt. disebabkan restu orang tua. Anak yang berbakti kepada orang tua doanya akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah Swt.

Apalagi seorang anak akan melakukan atau menginginkan sesuatu. misalnya mencari ilmu, mencari pekerjaan, dan lain lain, yang paling penting adalah meminta restu kedua orang tuanya. Dalam sebuah hadis disebutkan: Artinya: “Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR. Baihaqi)

Dalam hadis lain : “Aku bertanya kepada Nabi saw., “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah Swt.?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” Aku berkata, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Kemudian jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

Kaitan dengan pentingnya hormat dan patuh kepada orang tua, perlu ditegaskan kembali, bahwa  berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain), tidak hanya sekadar berbuat ihsan (baik) saja. Akan tetapi, birrul walidain memiliki ‘bakti’. Bakti itu pun bukanlah merupakan balasan yang setara jika dibandingkan dengan kebaikan yang telah diberikan orang tua. Namun setidaknya, berbakti sudah dapat menggolongkan pelakunya sebagai orang yang bersyukur. Imam An-Nawaawi menjelaskan, “Arti birrul walidain, yaitu berbuat baik kepada kedua orang tua, bersikap baik kepada keduanya, melakukan berbagai hal yang menggembirakan mereka, serta berbuat baik kepada teman-teman mereka.”

Tentu saja, kewajiban kita untuk berbakti kepada kedua orang tua dan guru bukanlah tanpa alasan. Penjelasan di atas merupakan alasan betapa pentingnya kita berbakti kepada kedua orang tua dan guru. 

      4. KISAH TELADAN HORMAT DAN PATUH KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN GURU

    • Kisah anak saleh

Dahulu dimasa Bani Isra’ il ada seorang shaleh yang mempunyai anak kecil dan pedet ( anak lembu ). Kemudian pedet itu dibawanya ke hutan sembari berdo’ a; “Ya Allah saya titipkan lembu ini kepada- Mu untuk putraku hingga ia besar.

          Kemudian orang tersebut meninggal, sedangkan lembu itu hidup sendiri di dalam hutan tanpa penggembala, bahkan bila melihat orang akan segera lari seperti seakan- akan liar.

Singkat cerita, anak dari orang shaleh itu telah dewasa. Ia sangatlah berbakti kepada ibunya, sehingga ia membagi waktu malam menjadi tiga bagian:

  1. Sepertiga untuk sembahyang
  2. Sepertiga untuk tidur
  3. Sepertiga untuk menjaga ibunya

Dan apabila pagi telah tiba, ia akan pergi untuk mencari kayu, kemudian dibawa kepasar untuk dijual. Hasil dari penjualannya pun dibagi menjadi tiga bagian:

  1. Sepertiga untuk sedekah
  2. Sepertiga untuk makan
  3. Sepertiga untuk ibunya

Pada suatu hari ibunya berkata, “Ayahmu telah mewariskan untukmu seekor lembu yang dititipkan kepada Allah di hutan, maka pergilah engkau ke sana dan berdo’ alah pada Tuhannya Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq dan Yaqub semoga mengembalikannya kepadamu. Tanda lembu itu adalah kulitnya berwarna kuning berkilauan bagaikan emas, terutama jika terkena oleh sinar matahari”

Kemudian pergilah ia ke hutan, dan ketika telah melihat lembu seperti yang dimaksudkan ibunya ia berdo’ a,

“Aku panggil engkau demi Tuhan- nya Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq, dan Yaqub. Segeralah datang kemari.”

Maka larilah lembu itu sehingga berdiri tegak di depannya. Lalu ia pegang lembu itu untuk dituntun menuju rumahnya, namun tiba- tiba lembu itu berkata,

“Wahai pemuda yang taat kepada ibunya, naiklah ke atas punggungku untuk memudahkanmu”

Jawab pemuda, “Ibuku tidak menyuruhku demikian, tetapi ia berpesan agar aku memegang lehermu dan menuntunmu pulang”

Lembu itu kemudian berkata, “Demi Tuhannya Bani Isra’ il, jika engkau tidak dapat mengendaraiku maka berjalanlah. Hai Pemuda sekiranya Anda perintahkan kepada bukit untuk berpindah tempat pasti akan benar- benar berpindah semua bukit itu karena ketaatan dan baktimu terhadap ibumu.”

Setelah sampai di rumahnya, diserahkanlah lembu itu kepada ibunya. Ibunya kemudian erkata, “Hai anakku, engkau miskin dan tidak berkecukupan. Dan tentu sangat berat bagimu mencari kayu di waktu siang dan bangun ketika malam, karena itu lebih baik kamu jual saja lembu ini”

Ia kemudian bertanya kepada ibunya, “Harus kujual dengan harga berapakah, Ibu?”

“Tiga dinar”, jawab ibunya, “Dan jangan dijual terlebih dahulu sebelum bermusyawarah denganku”

Pada masa itu harga lembu memang sebesar tiga dinar. Lalu dibawalah lembu itu kepasar, dan tanpa sepengetahuannya Allah telah mengutus seorang Malaikat untuk menguji ketaatan pemuda itu terhadap ibunya. Kemudian datanglah Malaikat ( yang menjelma menjadi seorang manusia ) menemui pemuda tersebut dan bertanya kepadanya,

“Dengan harga berapakah Anda akan menjual lembu ini?”

“Tiga dinar dengan rela ibuku”, jawab pemuda itu.

“Bagaimana jika saya beli dengan enam dinar dengan syarat tanpamemberitahu ibumu?”

Jawab pemuda, “Andaikan Anda memberi padaku seberat lembu ini uang emas, maka aku tetap tidak akan menerimanya jika tanpa ridha dari ibuku”

Kemudian ia pulang untuk memberitahu apa yang terjadi kepada ibunya. Ibunya berkata, “Kini engkau boleh menjualnya sebesar enam dinar dengar ridhaku”

Maka kembalilah ia ke pasar dan berkata kepada Malaikat yang telah menjelma menjadi manusia itu, “Ibuku telah ridha apabila aku menjualnya dengan harga enam dinar, dan tolong jangan dikurangi dari harga itu”

Jawab Malaikat, “Kini akan saya bayar kepadamu sebesar duabelas dinar dengan syarat tanpa memberitahu kepada ibumu”

Maka kembali lagilah ia kepada ibunya untuk memberitahukan akan hal itu. Lalu ibunya berkata, “Yang datang kepadamu itu adalah seorang Malaikat yang akan mengujimu. Maka bila ia datang kembali tanyakanlah kepadanya ‘apakah lembu ini boleh dijual atau tidak?’”

Kemudian ia kembali lagi ke pasar dan menanyakan hal yang sama seperti yang diperintahkan ibunya. Ketika ditanyakan hal itu, Malaikat tersebut berkata, “Pulanglah Anda dan katakan kepada ibumu agar mempertahankan dahulu lembu ini sebab Nabi Musa bin Imran a.s. yang akan datang untuk membeli lembu ini. Maka jangan dijual kecuali jika dengan harga uang emas seberat lembu ini.”

Maka ditahanlah terlebih dahulu lembu itu sehingga terjadi perintah dari Allah kepada Bani Isra’ il untuk menyembelih lembu. Dan ketika dicari lembu yang memenuhi syarat, maka tidak ada yang lain kecuali lembu milik pemuda itu. Kemudian akhirnya dibelilah lembu itu dengan harga uang emas seberat badan lembu tersebut.

Ini sebagai karunia dan rahmat dari Allah swt. Karena ketaatan dan baktinya pemuda itu terhadap ibunya.

  • Kisah Imam Syafi’i Hormat kepada Gurunya

Dikisahkan, Imam Syafi’i yang sedang mengajar para santrinya di kelas, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan seseorang berpakaian lusuh, kumal dan kotor. Akan tetapi Imam Syafi’i langsung mendekati dan memeluknya. Para santri kaget dan heran melihat perilaku gurunya itu. Mereka bertanya: “Siapa dia wahai Guru, sampai engkau memeluknya erat-erat. Padahal ia seorang kumuh, kotor, dan menjijikkan?” Imam Syafi’i menjawab: “Ia adalah guruku. Ia yang telah mengajariku tentang perbedaan antara anjing yang cukup umur dengan anjing yang masih kecil. Pengetahuan itulah yang membuatku bisa menulis buku fiqh ini.” Sungguh mulia akhlak Imam Syafi’i. Beliau menghormati semua guru-gurunya, meskipun dari masyarakat biasa.

   5. HIKMAH PATUH DAN HORMAT KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN GURU

Kita telah membahas arti pentingnya hormat dan patuh kepada orang tua, Adapun hikmah yang bisa diambil dari berbakti kepada kedua orang tua dan guru, antara lain seperti berikut.

  1. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan amalan yang paling utama.
  2. Apabila kedua orang tua kita ridha atas apa yang kita perbuat, Allah Swt. pun ridha.
  3. Berbakti kepada orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami, yaitu dengan cara bertawasul dengan amal saleh tersebut.
  4. Berbakti kepada kedua kedua orang tua akan diluaskan rezeki dan dipanjangkan umur.
  • Berbakti kepada kedua orang tua dapat memasukkan kita ke jannah (surga) oleh Allah Swt.

CONTOH SOAL:

  1. Islam melarang durhaka kepada orang tua. Tidak hanya di dalam al-Qur’an, di dalam hadis juga ditemukan larangan tersebut, salah satunya adalah hadis di bawah ini

Hadis di atas menjelaskan ada empat golongan manusia yang bener-benar Allah tidak akan memasukkan mereka ke dalam surga dan tidak akan dapat merasakan kenikmatannya, yaitu:

        A. Orang yang membiasakan diri minum-minuman keras (khamar), orang yang makan harta ribs, orang yang mengambil harta orang lain tanpa hak, dan orang yang durhaka kepada orang tuanya.

        B. Orang yang membiasakan diri minum-minuman keras (khamar), orang yang makan menyakiti anak yatim, orang yang mengambil harta orang lain tanpa hak, dan orang yang durhaka kepada orang tuanya.

      C. Orang yang membiasakan diri minum-minuman keras (khamar), orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang kejam, orang yang menyakiti tetangga, dan orang yang durhaka kepada orang tuanya.

      D. Orang yang membiasaksn diri minum-minuman keras (khamar), orang yang makan harta riba, orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang kejam, dan orang yang durhaka kepada orang tuanya

        Jawaban: D

Hormat berarti menghargai, takzim dan khidmat kepada orang lain, baik orang tua, guru sesama anggota keluarga. Dalam hubungan dengan orang tua, perilaku hormat ditujukan dengan berbakti kepada orang tua. Berbakti merupakan kewajiban anak kepada orang tua. Berbakti Kepada orang tua merupakan salah satu amal saleh yang mulia. Perintah berbakti kepada orang tua terdapat dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Soal ini membahas bab Perilaku sebagai Hamba Allah dan Khalifah di Bumi

  1. Setiap orang tua selalu mengharapkan anak-anaknya patuh dan berbakti kepadanya. Berbagai cara dan nasehat dilakukan agar anaknya mau mengerjakan shalat, puasa, bersekolah, belajar yang sungguh sungguh dan perilaku mulia lainya. Akan tetapi tidak semua orang tua dapat mewujudkan harapannya. Banyak ditemui anak-anak yang membangkang dan melawan keinginan orang Mereka bolos sekolah, minum.minuman keras, dan perilaku tidak terpuji lainnya. Perilaku anak tersebut dilarang agama karena bertentangan dengan ayat…

          A.  

          B.

         C. 

         D. 

             Jawaban: B

  • Tunduk dan patuh pada orangtua adalah kewajiban setiap anak. Ridho Allah terletak pada ridho orangtua.
  • Soal ini membahas bab Perilaku sebagai Hamba Allah dan Khalifah di Bumi
  1. Manusia ditugaskan sebagai khalifah, maksudnya …

    A. Wakil

    B. Melaksanakan tugas

    C. Pemimpin di muka bumi

    D. Penegak hukum di antara manusia

    E. Merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Jawaban : E

4.Dalam QS. al-Baqarah ayat 30, malaikat menyatakan bahwa setelah manusia berada di muka bumi, ia akan …

      A. Berbuat aniaya

      B. Melestarikan alam

      C. Membuat kerusakan

      D. Melaksanakan ibadah

      E. Suka Memberi pertolongan

Jawaban: C

  1. Secara bahasa, ibadah berarti …

       A. Ikhtiar

      B. Kanaah

      C. Tawakal

     D. Istikamah

     E. Tunduk dan patuh

   Jawaban: E

     6. Menurut riwayat Ali bin Abu Thalib, beribadah berarti …

          A. Menyendiri

         B. Koreksi diri

         C. Merenung diri

         D. Mencari jati diri

         E. Mengakui diri sebagai hamba Allah

    Jawaban: A

POKOK-POKOK ISI KITAB-KU

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                     POKOK-POKOK ISI KITAB-KU

Isi kandungan Al-Qur’an itu selanjutnya dapat digali dan dikembangkan menjadi berbagai bidang. Dalam bab ini akan diuraikan isi kandungan Al-Qur’an secara garis besar yaitu meliputi :

  1. Akidah

Secara etimologi akidah berarti kepercayaan atau keyakinan. Bentuk jamak Akidah (‘Aqidah) adalah aqa’id. Akidah juga disebut dengan istilah keimanan. Orang yang berakidah berarti orang yang beriman (mukmin). Akidah secara terminologi didefinisikan sebagai suatu kepercayaan yang harus diyakini dengan sepenuh hati, dinyatakan dengan lisan dan dimanifestasikan dalam bentuk amal perbuatan.  Akidah Islam adalah keyakinan berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Seorang yang menyatakan diri berakidah Islam tidak hanya cukup mempercayai dan meyakini keyakinan dalam hatinya, tetapi harus menyatakannya dengan lisan dan harus mewujudkannya dalam bentuk amal perbuatan (amal shalih)dalam kehidupannya sehari-hari.

Inti pokok ajaran akidah adalah masalah tauhid, yakni keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Setiap muslim wajib meyakini ke-Maha Esa-an Allah. Orang yang tidak meyakini ke-Maha Esa-an Allah berarti ia kafir, dan apabila meyakini adanya Tuhan selain Allah dinamakan musyrik. Dalam akidah Islam, di samping kewajiban untuk meyakini bahwa Allah itu Esa, juga ada kewajiban untuk meyakini rukun-rukun iman yang lain. Tidak dibenarkan apabila seseorang yang mengaku berakidah/beriman apabila dia hanya mengimani Allah saja, atau meyakini sebagian dari rukun iman saja. Rukun iman yang wajib diyakini tersebut adalah: iman kepada Allah Swt, iman kepada malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada rasul-rasul Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qaia’ dan qadar.

Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang pokok-pokok ajaran akidah yang terkandung di dalamnya, di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. (QS. al-Ikhlas [112]: 1-4):
  • Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa
  • Allah tempat meminta segala sesuatu.
  • (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
  • Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” 

     2. (QS. al-Baqarah [2]: 163)

Artinya: “Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

    3. (QS. al-Baqarah [2]: 285)

Artinya: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apayang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), ”Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, ”Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.

  1. Ibadah dan Muamalah

Ibadah berasal dari kataعِبَادَةً /عَبَدَ – يَعْبُدُ – عَبْدًا  artinya mengabdi atau menyembah. Yang dimaksud ibadah adalah menyembah atau mengabdi sepenuhnya kepada Allah Swt. dengan tunduk, taat dan patuh kepada-Nya. Ibadah merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan yang ditimbulkan oleh perasaan yakin terhadap kebesaran Allah Swt., sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Karena keyakinan bahwa Allah Swt. mempunyai kekuasaan mutlak.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Firman Allah Swt:

Artinya:“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.(QS. ak- jwriywt [51] : 56)

Manusia harus menyadari bahwa dirinya ada karena diciptakan oleh Allah Swt., oleh sebab itu manusia harus sadar bahwa dia membutuhkan Allah Swt. Dan kebutuhan terhadap Allah itu diwujudkan dengan bentuk beribadah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya manusia menyembah dan meminta pertolongan. Sebagaimana firman Allah:

Artinya:“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”(QS. al-Fwtihah [1]: 5)

Ibadah dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : ibadah mahiah dan ghairu mahiah. Ibadah mahiah artinya ibadah khusus yang tata caranya sudah ditentukan, seperti: shalat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahiah artinya ibadah yang bersifat umum, tata caranya tidak ditentukan secara khusus, yang bertujuan untuk mencari ridha Allah Swt., misalnya: silaturrahim, bekerja mencari rizki yang halal diniati ibadah, belajar untuk menuntut ilmu, dan sebagainya.

Selain beribadah kepada Allah Swt. karena kesadaran manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt., manusia juga memiliki kecenderungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama manusia lainnya. Maka Al-Qur’an tidak hanya memberikan ajaran tentang ibadah sebagai wujud kebutuhan manusia terhadap Allah Swt. (حَبْلٌ مِنَ اللهِ), tetapi juga mengatur bagaimana memenuhi kebutuhan dalam hubungannya dengan manusia lain (حَبْلٌ مِنَ النَّاسِ). Misalnya: sillaturrahim, jual beli, hutang piutang, sewa menyewa, dan kegiatan lain dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan dalam hubungan antar manusia ini disebut dengan mu’amalah.

Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ajaran tentang tata cara bermu’amalah, antara lain:

Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.…” (QS. al-Baqarah [2]: 282)

  1. Akhlak

Akhlak (اَخْلاَقٌ) ditinjau dari segi etimologi merupakan bentuk jama’ dari kata (خُلُق) yang berarti perangai, tingkah laku, tabiat, atau budi pekerti. Dalam pengertian terminologis, akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang muncul spontan dalam tingkah laku hidup sehari-hari.

Dalam konsep bahasa Indonesia, akhlak semakna dengan istilah etika atau moral. Akhlak merupakan satu fundamen penting dalam ajaran Islam, sehingga Rasulullah Saw. menegaskan dalam sebuah hadis bahwa tujuan diutusnya beliau adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak mulia.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ )رواه احمد(

“Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah Saw. bersabda: “Bahwasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. (HR.  Ahmad)

      Nabi Muhammad Saw. adalah model dan suri tauladan bagi umat dalam bertingkah laku dengan akhlak mulia (karimah). Al-Qur’an merupakan sumber ajaran tentang akhlak mulia itu. Dan beliau merupakan manusia yang dapat menerapkan ajaran akhlak dari Al-Qur’an tersebut menjadi kepribadian beliau. Sehingga wajarlah ketika Aisyah Ra. ditanya oleh seorang sahabat tentang akhlak beliau, lalu Aisyah ra. menjawab dengan menyatakan كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْءَانُ(akhlak beliau adalah Al-Qur’an).

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyatakan tentang ajaran akhlak Nabi Muhammad Saw. antara lain adalah :

  1. Atinya:Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.(QS. al-Qalam [68]: 4).
  2. Artinya:“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.(QS. al-Ahzab [33]: 21)

   4. Hukum

Hukum sebagai salah satu isi pokok ajaran Al-Qur’an berisi kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan dasar dan menyeluruh bagi umat manusia. Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman kepada umat manusia agar kehidupannya menjadi adil, aman, tenteram, teratur, sejahtera, bahagia, dan selamat di dunia maupun di akhirat kelak.

Sebagai sumber hukum ajaran Islam, Al-Qur’an banyak memberikan ketentuan-ketentuan hukum yang harus dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum baik secara global (mujmal) maupun terperinci (tafsil). Beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi ketentuan hukum antara lain adalah :

  1. Artinya: “Sungguh, Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau   mengadili antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang berkhianat” (QS. an-Nisa’ [4]: 105)
  2. Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. al-Mwidah [5]: 90)

Ketentuan-ketentuan hukum lain yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an adalah meliputi :

  • Hukum perkawinan, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah: 221; QS. al-Maidah: 5; QS.an-Nisw’: 22-24; QS.an-Nur: 2; QS. al-Mumtahanah:10-11.
  • Hukum waris, antara lain dijelaskan dalam QS. an-Nisw’: 7-12 dan 176, QS. al-Baqarah:180; QS. al-Mwidah:106
  • Hukum perjanjian, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah: 279, 280 dan 282; QS. al-Anfal: 56 dan 58; QS. at-Taubah: 4
  • Hukum pidana, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah: 178; QS. an-Nisw’: 92 dan 93; QS. al-Mwidah: 38; QS. Yynus: 27; QS. al-Isrw’: 33; QS. asy-Syu’ara: 40
  • Hukum perang, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Baqarah: 190-193; QS. al-Anfal: 39 dan 41; QS. at-Taubah: 5,29 dan 123, QS. al-Hajj: 39 dan 40
  • Hukum antarbangsa, antara lain dijelaskan dalam QS. al-Hujurwt: 13
  1. Sejarah / Kisah Umat Masa Lalu

Al-Qur’an sebagai kitab suci bagi umat Islam banyak menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat pada masa lalu. Sejarah atau kisah-kisah tersebut bukan hanya sekedar cerita atau dongeng semata, tetapi dimaksudkan untuk menjadi ‘ibrah (pelajaran) bagi umat Islam. Ibrah tersebut kemudian dapat dijadikan dapat menjadi petunjuk untuk dapat menjalani kehidupan agar senantiasa sesuai dengan petunjuk dan keridhaan Allah Swt.

Artinya: Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yusuf [12]: 111).

Al-Qur’an telah banyak menggambarkan umat-umat terdahulu baik yang iman dan taat kepada Allah Swt. maupun yang ingkar dan ma’siat kepada-Nya. Diharapkan dengan memperhatikan kisah umat terdahulu, umat Islam bisa mencontoh umat-umat yang taat kepada Allah Swt. dan menghindari perbuatan ma’siat kepada-Nya. Bagi umat yang beriman dan taat kepada Allah Swt., Allah Swt. telah memberikan kebaikan dan keberkahan dalam hidup mereka, sebaliknya bagi yang ingkar dan ma’siat kepada-Nya, Allah Swt telah memberikan azab-Nya.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sejarah atau kisah umat terdahulu antara lain :

Artinya:

  1. “Dan (telah Kami binasakan) kaum Nuh ketika mereka mendustakan para rasul. Kami tenggelamkam mereka dan Kami jadikan (cerita) mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim azab yang pedih;
  2. dan (telah Kami binasakan) kaum ‘Ad dan Samūd dan penduduk Rass serta banyak (lagi) generasi di antara (kaum-kaum) itu.
  3. Dan masing-masing telah Kami jadikan perumpamaan dan masing-masing telah Kami hancurkan sehancur-hancurnya.”(QS. al-Furqan [25]: 37-39)

    6. Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (Sains) Dan Teknologi

Al-Qur’an adalah kitab suci ilmiah. Banyak ayat yang memberikan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi yang bersifat potensial untuk kemudian dapat dikembangkan guna kemaslahatan dan kesejahteraan hidup manusia. Allah Swt. yang Maha memberi ilmu telah mengajarkan kepada umat manusia untuk dapat menjalani hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan baik. Al-Qur’an menekankan betapa pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu diisyaratkan pada saat ayat Al-Qur’an untuk pertama kalinya diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. yaitu QS. al-‘Alaq: 1-5 :

Artinya:

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan pena.
  5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. al-‘Alaq [96]: 1-5)

Ayat yang pertama kali diturunkan tersebut diawali dengan perintah untuk membaca. Membaca adalah satu faktor terpenting dalam proses belajar untuk menguasai suatu ilmu pengetahuan. Ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an menekankan betapa pentingnya membaca dalam upaya mencari dan menguasai ilmu pengetahuan.

Ayat lain yang berisi dorongan untuk menguasai ilmu pengetahuan juga dijelaskan dalam QS. al-Mujwdilah ayat 11.

Artinya: “….niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan..” (QS. al-Mujwdilah/58: 11).

Al-Qur’an banyak mendorong umat manusia untuk menggali, meneliti dan mengembangkan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan dan kesejahteraan hidupnya. Isyarat-isyarat ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut diantara berkenaan dengan ilmu kedokteran, farmasi, pertanian, matematika, fisika, kimia, biologi, ilmu anatomi tubuh, teknologi perkepalan, teknologi pesawat terbang, dan lain sebagainya.

Hal penting untuk diingat bahwa dalam kurun waktu sejarah umat manusia, Islam telah melahirkan banyak cendekiawan muslim yang telah berhasil menemukan berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi berkat ketelitian mereka dalam menggali isyarat ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an. Di antara cendekiawan-cendekiawan muslim tersebut ialah: Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, Al-Khawarizmi, dan lain-lain. Bahkan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan telah banyak mengilhami bangsa barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berkembang hingga saat ini.

  1. Perilaku Orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari.

Al-Qur`an adalah wahyu Allah terakhir kepada umat manusia. Kitab suci ini mengandung semua kunci untuk membuka pengetahuan Allah yang tidak terbatas (Q.S. Al-Kahfi [18]:109). Al-Qur`an adalah petunjuk Allah bagi orang yang bertakwa dan tidak ada keraguan di dalamnya. (QS. Al-Baqarah [2]: 2).

Orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidupnya selalu mempelajari Al-Qur’an. Dengan mempelajari Al-Quran, seseorang akan terlepas dari kebodohan dan kesesatan dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan Al-Quran, hati akan lembut dan terhindar dari penyakit-penyakit hati atau ruhani. Dada akan senantiasa lapang dan luas dalam menerima petunjuk-petunjuk dan titah-titah ketuhanan. Akal pikiran menjadi cerdas dan terbebas dari kesesatan berpikir picik dan dangkal. Perilaku akan terhindar dari gerak jiwa yang dapat mendatangkan petaka dan kerugian bagi diri, orang lain maupun linkungannya. Seluruh aktivitas diri akan senantiasa terarah dari dan menuju kebenaran. Rasulullah Saw. bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah siapa yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain”. (H.R. Bukhari dari Usman ibn `Affan Ra).

Al-Qur’an merupakan jaring yang ditebarkan oleh Yang Maha Tunggal untuk menarik kaum pria dan wanita yang tersesat di dalam dunia ini agar kembali kepada sumber Ilahi mereka. Al-Qur`an adalah peta dan petunjuk kehidupan. Hidup dalam sinaran petunjuk Al-Qur’an dan mematuhi ketentuan-ketentuannya merupakan kunci untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Untuk bisa hidup dalam sinaran petunjuk Al-Quran, manusia haruslah melakukan iqra’. Iqra` terambil dari akar kata qara`a yang berarti “menghimpun”,  sehingga tidak harus selalu diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu”.  Dari “menghimpun” lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu , dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.

Melakukan iqra` terhadap Al-Quran berarti kita melakukan aktivitas membaca, menelaah, menganalisa, memahami, mendalami, menyelami, mengamalkan dan mengambil hikmah dalam kehidupan. Aktivitas ini merupakan perpaduan antara kinerja qalbu (hati) dan akal.

Membaca teks Al-Quran adalah aktivitas awal dan fondasi awal dalam melakukan iqra`. Aktivitas ini meliputi mengenal huruf Al-Qur’an dan cara mengucapkannya; cara membacanya, memanjangkan yang seharusnya dibaca panjang dan memendekkan yang seharusnya dibaca pendek (tajwid Al-Qur’an).

Aktivitas membaca teks yang sudah benar mengantarkan pembacanya untuk tahapan selanjutnya yaitu menelaah, memahami, menganalisa, dan mendalami Al-Quran. Aktivitas ini dimulai dengan mempelajari makna kata-kata Al-Quran, atau apa yang biasa disebut dengan belajar tarjamah Al-Quran. Setelah mengerti makna tiap-tiap kata dari ayat Al-Quran, maka langkah selanjutnya adalah mencoba menafsirkankan dengan bantuan atau rujukan kepada kitab-kitab tafsir yang ada sebagai upaya dari proses “menelaah, memahami, menganalisa, dan mendalami” Al-Qur’an.

Setelah proses pertama dan kedua selesai, maka proses ketiga adalah mengamalkan dan menjadikannya akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini sering disebut sebagai upaya untuk “membumikan” Al-Quran. Al-Quran tidak lagi hanya kumpulan teks atau firman Tuhan yang terdiri dari 30 Juz dan 114 Surah, tetapi merupakan sumber inspirasi dan pedoman hidup manusia dalam mengarungi kehidupan mereka. Al-Quran tidak lagi hanya sebagai ajaran yang melangit tetapi sudah membumi lewat umat Islam yang akhlak dan perilakunya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an.

Contoh Soal

Pilihlah jawaban yang paling benar (A, B, C, atau D) dari soal-soal berikut!

  1. Para ulama sepakat bahwa salah satu fungsi al Qur’an adalah sebagai sumber hukum. Banyak hukum yang diputuskan dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qu’an, seperti sholat dan sebagainya. Perhatikan dua ayat di bawah ini, kemudian pilihlah pernyataan yang menjelaskan hubungan kedua ayat tersebut …

 

 

 

       A. Al Nisa: 103 menjelaskan bahwa Sholat Fardlu memiliki waktu-waktu tertentu, sedangkan Qs. Al Isro: 78 menjelaskan waktu pelaksanaan sholat fardhu yaitu duluk al-syams (waktu shalat dhuhur dan Asar), ghasaq al-lail (maghrib dan isya) dan qur’an al-fajr (sholat subuh).

     B. Al Nisa: 103 menjelaskan bahwa Sholat Fardlu memiliki waktu-waktu tertentu, sedangkan Qs. Al Isro: 78 menjelaskan waktu pelaksanaan sholat fardhu yaitu duluk al-syams (waktu shalat dhuhur), ghasaq al-lail (maghrib) dan qur’an al-fajr (sholat subuh).

     C. Al Nisa: 103 menjelaskan bahwa Sholat Fardlu memiliki waktu-waktu tertentu, sedangkan Qs. Al Isro: 78 menjelaskan waktu pelaksanaan sholat fardhu yaitu duluk al-syams (waktu Asar), ghasaq al-lail (isya) dan qur’an al-fajr (sholat subuh).

      D. Al Nisa: 103 menjelaskan bahwa Sholat Fardlu memiliki waktu-waktu tertentu, sedangkan Qs. Al Isro: 78 menjelaskan waktu pelaksanaan sholat fardhu yaitu duluk al-syams (waktu sholat maghrib dan isya’), ghasaq al-lail (dzuhur dan asar) dan qur’an al-fajr (sholat subuh).

          Jawaban : A

Q.S. An Nisaa ayat 103: “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

            Q.S. Al Isra ayat 78: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)

Kaitan kedua ayat di atas menjelaskan shalat fardhu ditentukan waktunya, yaitu sesudah tergelincir matahari hingga malam dan subuh.

  • Soal ini membahas bab IV pokok-pokok isi kitabku
  1. Al Qur’an memerintahkan kepada umat Islam untuk menutup aurat. Perhatikan dua ayat di bawah ini, kemudian pilihlah pernyataan yang menjelaskan hubungan kedua ayat tersebut …

    A. Al Ahzab: 59 menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat (termasuk perhiasan) ketika bersama laki-laki yang bukan muhramnya, Qs. Al Nur: 31 menjelaskan bentuk atau model pakaian bagi wanita

    B. Al Ahzab: 59 menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat (termasuk perhiasan) ketika bersama laki-laki yang bukan muhramnya, Qs. Al Nur: 31 menjelaskan kebolehan wanita tidak berkerudung dan kebolehan menampakkan perhiasan dihadapan mahram

    C. Al Nur: 31 menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat (termasuk perhiasan) ketika bersama laki-laki yang bukan muhramnya, Qs. Al Ahzab: 59 menjelaskan bentuk atau model pakaian bagi wanita 

    D. Al Ahzab: 59 menjelaskan kebolehan wanita menampakkan perhiasan dihadapan mahram, QS. Al Nur: 31 menjelaskan tentang kewajiban menutup aurat (termasuk perhiasan) ketika bersama laki-laki yang bukan muhramnya.

          Jawaban : D

  • S. Al Ahzab 59: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Q.S. Annur 31: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”.

Kedua ayat di atas merupakan perintah untuk  menutup aurat yaitu ke seluruh tubuh dan kain kudung menutup dada. Pembahasan Kewajiban menutup aurat bagi wanita kecuali muka dan telapak tangan.

  • Soal ini membahas Bab IV pokok-pokok isi kitabku
  1. Perhatikan dua ayat di bawah ini, kemudian pilihlah pernyataan yang tepat yang menjelaskan perbandingan kedua ayat tersebut …

      A. Al Maidah: 6 menjelaskan tiga tata cara thaharah;wudlu, mandi, tayammum sedangkan QS. Al Nisa: 43 menjelaskan dua tata cara thaharah; mandi dan tayammum

     B. Al Maidah: 6 menjelaskan dua tata cara thaharah wudlu dan tayammum sedangkan QS. Al Nisa: 43 menjelaskan tiga tata cara thaharah; wudlu, mandi dan tayammum

        C. Al Maidah: 6 dan QS. Al Nisa: 43 menjelaskan dua tata cara thaharah mandi dan tayammum

     D. Al Maidah: 6 QS. Al Nisa: 43 menjelaskan dua tata cara thaharah; mandi dan tayammum

 

Jawaban : A

Q.S. Al Maidah ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.

 

Q.S. Annisa ayat 43:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.

 

Kedua ayat di atas menjelaskan tata cara bersuci yaitu pada ayat pertama: wudhu, mandi dan tayamum, sedangkan pada ayat kedua: tayamum.

Bersuci merupakan salah satu syarat sah sholat. Bersuci dapat menggunakan air atau tayamum.

BETAPA OTENTIKNYA KITAB-KU

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                          BETAPA OTENTIKNYA KITAB-KU

   A. Al-Qur’an Merupakan Mu’jizat

Secara etimologi kata Mu’jizat berbentuk isim fa’il yang berasal dari kata:

عْجَزَ – يُعْجِزُ – اِعْجَازً – مُعْجِزٌ / مُعْجِزَةٌyang berarti melemahkan atau mengalahkan lawan.  Mu’jizat juga diartikan sebagai sesuatu yang menyalahi tradisi atau kebiasaan (sesuatu yang luar biasa).

Secara terminologi, Manna’ Qahhan mendefinisikan mu’jizat sebagai berikut:

لْمُعْجِزَةُ هِيَ اَمْرٌ خَارِقٌ لِلْعَـادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِّى سَالِمٌ عَنِ الْمُعَارَضَةِ

Artinya: Mu’jizat adalah sesuatu yang menyalahi kebiasaan disertai dengan tantangan dan selamat dari perlawanan.

 Mu’jizat hanya diberikan oleh Allah Swt. kepada para Nabi dan Rasul-Nya dalam menyampaikan Risalah Ilahi terutama untuk menghadapi umatnya yang menolak atau tidak mengakui kerasulan mereka. Mu’jizat berfungsi sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulan mereka, bahwa mereka adalah benar-benar para Nabi dan Rasul (utusan) Allah yang membawa risalah kebenaran dari Allah Swt. Adapun tujuan diberikannya mu’jizat adalah agar para Nabi dan Rasul mampu melemahkan dan mengalahkan orang-orang kafir yang menentang dan tidak mengakui atas kebenaran kenabian dan kerasulan mereka.

Secara umum mu’jizat para Nabi dan Rasul itu berkaitan dengan masalah yang dianggap mempunyai nilai tinggi dan diakui sebagai suatu keunggulan oleh masing-masing umatnya pada masa itu. Misalnya, zaman Nabi Musa as. adalah zaman keunggulan tukang-tukang sihir, maka mu’jizat utamanya adalah untuk mengalahkan tukang-tukang sihir tersebut. Zaman Nabi Isa as. adalah zaman kemajuan ilmu kedokteran, maka mu’jizat utamanya adalah mampu menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan pengobatan biasa, yaitu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan dan orang yang berpenyakit sopak atau kusta, serta menghidupkan orang yang sudah mati. Dan zaman Nabi Muhammad Saw. adalah zaman keemasan kesusastraan Arab, maka mu’jizat utamanya adalah Al-Qur’an, kitab suci yang ayat-ayatnya mengandung nilai sastra yang amat tinggi, sehingga tidak ada seorang manusiapun dapat membuat serupa dengan Al-Qur’an.

   B. Syarat-syarat Mu’jizat

Suatu kejadian atau peristiwa dikatakan sebagai mu’jizat apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

  1. Mu’jizat adalah sesuatu yang tidak sanggup dilakukan oleh siapapun selain Allah Swt.
  2. Mu’jizat adalah sesuatu yang menyalahi kebiasaan atau tidak sesuai dengan kebiasaan dan berlawanan dengan hukum alam.
  3. Mu’jizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seseorang yang mengaku membawa risalah Ilahi sebagai bukti atas kebenaran pengakuannya.
  4. Mu’jizat terjadi bertepatan dengan pengakuan Nabi yang mengajak bertanding menggunakan mu’jizat tersebut.
  5. Tidak ada seorang manusiapun, bahkan jin sekalipun yang dapat membuktikan dan membandingkan dalam pertandingan tersebut.

Kelima syarat tersebut di atas bila terpenuhi, maka suatu hal yang timbul di luar kebiasaan adalah merupakan mu’jizat yang menyatakan atas kenabian atau kerasulan orang yang mengemukakannya dan mu’jizat akan muncul dari tangannya.

   C. Macam-macam Mu’jizat

Mu’jizat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Mu’jizat pissi, ialah mu’jizat yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, diraba oleh tangan, dan atau dirasa oleh lidah, tegasnya dapat dicapai dan ditangkap oleh pancaindera.

Mu’jizat ini sengaja ditunjukkan atau diperlihatkan manusia biasa, yakni mereka yang tidak biasa menggunakan kecerdasan akal fikirannya, yang tidak cakap padangan mata hatinya dan yang rendah budi dan perasaanya. Karena bisa dicapai dengan panca indera, maka mu’jizat ini bisa juga disebut mu’jizat inderawi.

Mu’jizat pissi ini dibatasi oleh ruang dan waktu, artinya hanya diperlihatkan kepada umat tertentu dan di masa tertentu.

  1. Mu’jizat ma’nawi ialah mu’jizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca indera, tetapi harus dicapai dengan kekuatan “’aqli” atau dengan kecerdasan pikiran. Karena orang tidak akan mungkin mengenal mu’jizat ma’nawi ini melainkan orang yang berpikir sehat, cerdas, bermata hati, berbudi luhur dan yang suka mempergunakan kecerdasan fikirannya dengan jernih serta jujur. Karena harus menggunakan akal fikiran untuk mencapainya, maka bisa disebut juga mu’jizat ‘aqli atau mu’jizat rasional.

Berbeda dengan mu’jizat pissi, mu’jizat ma’nawi bersifat universal dan eternal (abadi), yakni berlaku untuk semua umat manusia sampai akhir zaman.

   D. Pengertian I’jazul Qur’an

Jika kata mu’jizat dilekatkan dengan kitab suci Al-Qur’an, ia bisa memiliki dua konotasi. Pertama, lemahnya manusia untuk merumuskan suatu ungkapan atau kalimat yang dapat menandingi ayat-ayat Al-Qur’an, baik secara individual maupun secara kolektif. Kedua, ia mempunyai sifat menantang manusia dan jin untuk membuat semacam Al-Qur’an, sampai munculnya kesadaran mereka untuk mengakui kelemahan diri sendiri ketika berhadapan dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud i’jazul Qur’an adalah menetapkan kelemahan manusia dan jin baik secara individual maupun kolektif untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an.

Mu’jizat Al-Qur’an bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran pada manusia bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah Swt. dan sekaligus merupakan bukti kerasulan Muhammad Saw.

Dalam hal ini Imam al-Suyuti, sebagaimana dikutip oleh Dr. Syahrin Harahap, MA., mengungkapkan bahwa :

“Adanya i’jaz Al-Qur’an itu ada kaitannya dengan persepsi yang salah dari pihak orang Arab terhadapnya. Sehingga Al-Qur’an memberi jawaban terhadap persepsi mereka yang keliru itu, dengan cara nenawarkan agar mereka menunjukkan kekuatan argumentasi dan kebenarannya. Akan tetapi orang Arab sama sekali tidak dapat membuktikan kebenaran mereka, sementara Al-Qur’an secara meyakinkan menunjukkan kebenarannya. Di sinilah letak i’jaz (kemu’jizatan) Al-Qur’an itu.”

   E. Aspek-aspek Kemu’jizatan Al-Qur’an

I’jaz Al-Qur’an sesungguhnya terdapat dalam dirinya sendiri. Tegasnya kemu’jizatan Al-Qur’an ada dalam kandungannya, bukan di luarnya. Jadi, kitab suci ini tidak membutuhkan keterangan lain di luar dirinya untuk membuktikan bahwa ia adalah mu’jizat terbesar Nabi Muhammad Saw.

Secara garis besar ada dua aspek kemu’jizatan Al-Qur’an yaitu:

  1. Gaya Bahasa (Uslub)

Al-Qur’an mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru para sastrawan Arab sekalipun, karena susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan dalam bahasa Arab. Mereka melihat Al-Qur’an memakai bahasa dan lafaz mereka, tetapi ia bukan puisi, prosa atau syair dan mereka tidak mampu membuat seperti itu (meniru Al-Qur’an). Mereka tidak pernah mampu untuk menandinginya dan putus asa lalu merenungkannya, kemudian merasa kagum dan menerimanya, lalu sebagian masuk Islam. Contoh dalam sejarah diterangkan bahwa Umar bin Khattab ra. menyatakan diri masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat pertama surat Thwha, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah bukti kemu’jizatan Al-Qur’an dari segi bahasanya.

Uslub Al-Qur’an sangatlah indah. Keindahan uslub Al-Qur’an benar-benar telah membuat orang-orang Arab dan atau luar Arab kagum dan terpesona. Di dalam Al-Qur’an terkandung nilai-nilai istimewa di mana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia menyamai isi yang terkandung di dalamnya.

Al-Qur’an dalam uslubnya yang menakjubkan mempunyai beberapa keistimewaan-keistimewaan, di antaranya :

  1. Kelembutan Al-Qur’an secara lafziah yang terdapat dalam susunan suara dan keindahan bahasanya.
  2. Keserasian Al-Qur’an baik untuk awam maupun kaum cendekiawan, dalam arti bahwa semua orang dapat merasakan keagungan dan keindahan Al-Qur’an
  3. Sesuai dengan akal dan perasaan, di mana Al-Qur’an memberikan doktrin pada akal dan hati, serta merangkum kebenaran dan keindahan sekaligus
  4. Keindahan dalam kalimat serta beraneka ragam bentuknya, yaitu satu makna diungkapkan dalam beberapa lafaz dan susunan yang bermacam-macam yang semuanya indah dan halus
  5. Al-Qur’an mencakup dan memenuhi persyaratan antara bentuk global (ijmal) dan bentuk yang terperinci (tafsil)
  6. Dapat dimengerti sekaligus dengan melihat segi yang tersurat (yang dikemukakan)  

  Disamping itu, hal lain yang dapat dicatat dari kemu’jizatan Al-Qur’an dari aspek bahasa adalah ketelitian, kerapihan dan keseimbangan kata-kata yang digunakannya. Hal itu dapat dilihat pada bukti-bukti sebagai berikut:

  • Ketelitian dalam pengungkapan kata-kata

Suatu surat yang diawali dengan huruf-huruf tertentu, di dalamnya selalu terdapat bahwa huruf-huruf itu, dalam jumlah rata-rata, lebih banyak dan berulang jika dibandingkan dengan huruf-huruf lainnya. Misalnya :

  • Dalam surat Qaf, dapat ditemukan huruf qaf (ق)berulang-ulang dalam jumlah rata-rata lebih banyak dari jumlah huruf lainnya. Jumlah rata-rata huruf qaf (ق)yang terbanyak di dalam surat Qaf itu ternyata juga merupakan jumlah huruf qaf (ق)yang terbanyak pula dibandingkan dengan jumlah huruf qaf(ق)yang terdapat di dalam surah-surah lainnya dalam Al-Qur’an.

Demikian pula dengan huruf alif (ا), lam(ل) dan mim (م)yang mengawali surahal-Baqarah. Jumlah masing-masing huruf tersebut ternyata lebih banyak daripada huruf-huruf yang lain. Hal ini dapat dilihat sebagai berikut :

  • Huruf alif ( ا )berulang sebanyak  4.592 kali
  • Huruf lam ( ل )berulang sebanyak 3.204 kali
  • Huruf mim( م )berulang sebanyak 2.195 kali

Demikian halnya huruf alif(ا), lam (ل)dan mim(م)yang mengawali surah Ali ‘imrwn:

  • Huruf alif ( ا ) berulang sebanyak  2.578 kali
  • Huruf lam ( ل ) berulang sebanyak 1.885 kali
  • Huruf mim ( م )berulang sebanyak 1.251 kali

Demikian halnya huruf alif(ا), lam (ل)dan mim(م)yang mengawali surah al-‘Ankabut :

  • Huruf alif ( ا )berulang sebanyak   784 kali
  • Huruf lam ( ل )berulang sebanyak  554 kali
  • Huruf mim( م )berulang sebanyak  344 kali

Dan masih banyak bukti lainnya dalam surah-surah yang lain di dalam Al-Qur’an.

    2. Keseimbangan penggunaan kata-kata

Dalam Al-Qur’an terlihat pula keseimbangan kata-kata yang digunakan  secara simetris, misalnya  :

  • Kata اَلْحَيَاةُ berjumlah 145 kali, sama dengan kata اَلْمَوْتُ  yang berjumlah 145 kali
  • Kata اَلدُّنْيَا berjumlah 115 kali, sama dengan kata  اَلأَخِرَةُ yang berjumlah 115 kali
  • Kata مَلاَئِكَةٌ berjumlah 88 kali, sama dengan kata شَيْطَانٌ yang berjumlah 88 kali
  • Kata نَصَائِبُ berjumlah 75 kali, sama dengan kata شُكُوْرٌ yang berjumlah 75 kali
  • Kata  زَكَاةٌ berjumlah 32 kali, sama dengan kata بَرَكَةٌ yang berjumlah 32 kali            

    3. Misteri angka 19

Pada sisi lain dapat dilihat pula kerapihan penyusunan kata-kata itu pada angka 19, yakni jumlah huruf yang terdapat pada kalimat basmalah. Kalimatبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ  terdiri dari 19 huruf dan setiap katanya terulang 19 kali dalam surah-surah Al-Qur’an, atau beberapa kali kelipatan angka 19, dengan penjelasan sebagai berikut:

  • Kata اِسْم berulang 19 kali di dalam Al-Qur’an
  • Kata اللهِ berulang 2698 kali, itu berarti = 19 x 142
  • Kata الرَّحْمَنِ berulang 57 kali, itu berarti =  19 x 3
  • Kata الرَّحِيْمِ berulang 144 kali, itu berarti = 19 x 6

Disamping itu semua huruf terpisah yang mengawali surah-surah (fawatihus-suwar) berulang dalam hasil jumlah kali lipat angka 19. Perhatikan contoh-contoh berikut ini :

  • Huruf qaf ( ق )dalam surah Qaf berulang 57 kali, berarti = 19 x 3
  • Huruf kaf( ك ), ha’( ه ), ya’( ي ), ‘ain( ع ), dan shad (ص)yang mengawali surah Maryam, berulang sebanyak 789 kali, berarti = 19 x 42
  • Huruf nun ( ن )dalam surah al-Qalam berulang sebanyak 133 kali, berarti = 19 x 7
  • Huruf ya ( ي )dan sin ( س )yang mengawali surah yasin, dalam surah tersebut berulang sebanyak 285 kali, berarti = 19 x 15, dan sebagainya.

Ini membuktikan bahwa sedemikian rapi, teliti dan seimbangnya huruf dan kata yang digunakan dalam Al-Qur’an.

  1. Isi Kandungannya

Dilihat dari isi kandungannya, kemu’jizatan Al-Qur’an dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu :

  1. Al-Qur’an mengungkapkan berita-berita yang bersifat gaib.

Hal-hal yang bersifat ghaib yang diungkap dalam Al-Qur’an dapat dipilah menjadi 2 (dua) yaitu :

Pertama, berita menyangkut masa lalu. Sebagai contohnya: kisah Nabi Adam as., Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as, Nabi Musa as. dan kisah lain di masa lalu. Salah satu contoh lainnya sebagaimana diungkapkan dalam QS. Yunus[10]: 92

فَٱلۡيَوۡمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنۡ خَلۡفَكَ ءَايَةٗۚ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ عَنۡ ءَايَٰتِنَا لَغَٰفِلُونَ ٩٢

Artinya:

Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmuagar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak mengindahkan tanda-tanda (kekuasaan) Kami.”. (QS. Yunus [10] : 92)

Ayat tersebut menceritakan tentang Fir’aun yang diawetkan dengan cara dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang. Hal itu bersifat ghaib, karena tidak ada orang yang mengenalnya. Akan tetapi berita Al-Qur’an itu ternyata terbukti kebenarannya kemudian.

Kedua, berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi baik di dunia maupun di akhirat, misalnya: 

الٓمٓ ١  غُلِبَتِ ٱلرُّومُ ٢  فِيٓ أَدۡنَى ٱلۡأَرۡضِ وَهُم مِّنۢ بَعۡدِ غَلَبِهِمۡ سَيَغۡلِبُونَ ٣

Artinya:

“Alif Lām Mim. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang.” (QS. ar- Ar-Rūm [30]: 1-3)

Ayat tersebut menceritakan tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Padahal ketika ayat ini diturunkan, belum terjadi peperangan yang dimaksudkan ayat tersebut. Akan tetapi kebenaran berita itu terbukti sembilan tahun kemudian.

Berita ghaib menyangkut masa yang akan terjadi lainnya, misalnya berita tentang kemenangan umat Islam dalam perang Badar dijelaskan dalam QS. Al-Qamar [54]: 45, peristiwa Fathu Makkah dijelaskan dalam QS. Al-Fath [48]: 27, dan sebagainya.

  1. I’jazul ‘ilmi, yakni kemu’jizatan ilmu pengetahuan.

Al-Qur’an mengungkapkan isyarat-isyarat rumit terhadap ilmu pengetahuan sebelum pengetahuan itu sendiri sanggup menemukannya. Kemudian terbukti bahwa Al-Qur’an sama sekali tidak bertentangan dengan penemuan-penemuan baru yang didasarkan pada penelitian ilmiah.

Hal ini seperti difirmankan Allah Swt.:

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ٥٣

Artinya:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fussilat [41]:53)

Banyak ayat Al-Qur’an yang mengungkapkan isyarat tentang ilmu pengetahuan, seperti: terjadinya perkawinan dalam tiap-tiap benda, perbedaan sidik jari manusia, berkurangnya oksigen di angkasa, khasiat madu, asal kejadian alam semesta, penyerbukan dengan angin, dan masih banyak lagi isyarat-isyarat ilmu pengetahuan yang bersifat potensial, yang kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan modern.

Salah satu isyarat ilmu pengetahuan tersebut adalah mengenai perbedaan sidik jari manusia, firman Allah:

 أَيَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَلَّن نَّجۡمَعَ عِظَامَهُۥ ٣  بَلَىٰ قَٰدِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ ٤

Artinya:

  1. Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
  2. (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jarijemarinya dengan sempurna.(QS. Al-Qiyamah [75] : 3-4)

 

  1. Al-Qur’an memberikan aturan hukum atau undang-undang yang bersifat universal, mencakup segala urusan hidup dan kehidupan manusia.

Secara lebih rinci, Prof. Dr. H. Said Husin al-Munawar, MA. memberikan rumusan mengenai aspek-aspek kemu’jizatan Al-Qur’an sebagai berikut :

  • Susunan bahasa yang sangat indah, berbeda dengan setiap susunan bahasa yang ada dalam bahasa orang-orang Arab
  • Adanya uslub yang luar biasa,  berbeda dengan semua uslub-uslub bahasa Arab
  • Sifat agung yang tidak mungkin lagi seorang makhluk untuk mendatangkan hal yang seperti Al-Qur’an
  • Bentuk undang-undang yang detail dan sempurna yang melebihi setiap undang-undang buatan manusia
  • Mengabarkan hal-hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu
  • Tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang dipastikan kebenarannya
  • Menepati janji dan ancaman yang telah dikabarkan di dalamnya
  • Memenuhi segala kebutuhan manusia
  • Berpengaruh kepada hati pengikut dan musuh (orang yang menentangnya)

   F. Perbedaan Bentuk Mu’jizat Nabi Muhammad SAW. dengan Mu’jizat Nabi-Nabi Terdahulu

Dilihat dari aspek kemu’jizatannya, Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. merupakan mu’jizat ma’nawi, dimana untuk memahami dan mencapai kemu’jizatan Al-Qur’an harus dengan menggunakan akal fikiran yang rasional dan kecerdasan hati. Al-Qur’an adalah merupakan satu-satunya mu’jizat ma’nawi yang hanya diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. yang tidak dimiliki oleh para Nabi dan Rasul sebelum beliau. Al-Qur’an adalah mu’jizat yang terbesar bagi Nabi Muhammad Saw. yang berlaku kekal sampai akhir zaman kelak.

Di samping mu’jizat Al-Qur’an yang bersifat ma’nawi, sebenarnya Nabi Muhammad Saw. juga diberi mu’jizat pissi. Misalnya: jari-jari beliau bisa mengeluarkan air pada saat sahabat-sahabat beliau kehausan, beliau bisa membelah bulan menjadi dua hanya dengan menggunakan jari yang ditunjukkan ke bulan untuk memenuhi tantangan orang kafir, dan masih ada beberapa mu’jizat pissi lainnya yang diberikan Allah Swt. kepada beliau Saw.

Berbeda halnya dengan Nabi Muhammad Saw. yang mendapat mu’jizat pissi dan ma’nawi, para Nabi dan Rasul sebelum beliau umumnya mendapat mu’jizat pissi saja. Di dalam Al-Qur’an banyak digambarkan mengenai mu’jizat-mu’jizat yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul terdahulu tersebut. Di antaranya adalah :

  1. Mu’jizat Nabi Nuh as. berupa kemampuan untuk membuat kapal yang sangat besar untuk menampung dan menyelamatkan  kaum yang beriman dari banjir besar, padahal saat itu sama sekali belum dikenal cara pembuatan kapal. Allah Swt. berfirman:
  • Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.
  • Dan mulailah dia (Nuh) membuat kapal. Setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewatinya, mereka mengejeknya. Dia (Nuh) berkata, Jika kamu mengejek kami, maka kami (pun) akan mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami).(QS. Hyd [11]: 37-38)
  1. Mu’jizat Nabi Ibrahim as. berupa keistimewaan tidak hangus dibakar dalam api oleh raja Namruk. Hal ini digambarkan dalam QS. al-Anbiya’[21]: 68-69 sebagai berikut:
  • Mereka berkata, ”Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.”
  • Kami (Allah) berfirman, Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!”(QS. al-Anbiyw’[21]: 68-69)        
  1. Mu’jizat Nabi Musa as. yaitu berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular besar untuk mengalahkan tukang-tukang sihir Fir’aun yang menyihir tali menjadi ular-ular kecil. Di samping itu tongkat beliau tersebut juga bisa menimbulkan 12 sumber mata air yang memancar ketika dipukulkan kepada sebuah batu pada saat beliau memohon air minum untuk kaumnya sebanyak 12 suku. Sebagaimana digambarkan dalam QS. al-A’rwf [7]: 107 dan QS. al-Baqarah [2]: 60
  • Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya.(QS. al-A’rwf [7]: 107)
  1. Mu’jizat Nabi Dawud as. berupa kemampuan untuk melunakkan besi dengan tangan beliau, sehingga bisa dibentuk sedemikian rupa menjadi baju besi dan senjata untuk dapat mengalahkan raja Jalut. Hal ini dijelaskan dalam QS. Sabw’ [34]:10-11.
  • Dan sungguh, Telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ”Wahai gunung-gunung danburung-burung! Bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud,” dan Kami telah melunakkan besi untuknya,
  • (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Sabw’[34]:10-11)
  1. Mu’jizat Nabi Sulaiman as. berupa kemampuan untuk mendengar dan memahami bahasa binatang, seperti burung hud-hud dan semut. Sebagaimana digambarkan dalam QS.an-Naml [27]: 16-18.
  • Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud, dan dia (Sulaiman) berkata, ”Wahai manusia! Kami telah diajari bahasa burung dan kami diberi segala sesuatu. Sungguh, (semua) ini benar-benar karunia yang nyata.”
  • Dan untuk Sulaiman dikumpulkan bala tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka berbaris dengan tertib.
  • Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, ”Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. an-Naml [27]:16-18)
  1. Mu’jizat Nabi Isa as. berupa kemampuan untuk membuat burung dari tanah, menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penyakit sopak atau kusta, dan dapat menghidupkan orang yang sudah mati atas izin Allah Swt. Seperti yang digambarkan dalam QS. Ali ‘Imrwn [3]: 49
  • Dan sebagai Rasul kepada Bani Israil (dia berkata), ”Aku telah datang kepada kamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit kusta. Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.” (QS.Ali ‘Imrwn [3]: 49)

Demikian beberapa ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang mu’jizat para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad Saw. yang kesemuanya berbentuk mu’jizat pissi.

   G. Keotentikan Al-Qur’an

Allah SWT. menegaskan akan senantiasa menjaga atau memelihara kesucian, kemurniaan dan keotentikan kitab suci Al-Qur’an. Hal ini dapat telah dijelaskan dalam QS.al-Hijr ayat 9.

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.(QS. al-Hijr [15]: 9

Sejak diturunkan hingga akhir zaman kelak kemurnian dan kautentikan Al-Qur’an akan senantiasa terjaga. Hal ini disebabkan karena kemu’jizatan yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu sendiri, baik dari aspek bahasa dan uslubnya maupun dari aspek isi kandungannya yang memang terbukti tak satupun manusia yang dapat meniru atau mendatang semisal-nya.

Dalam hal terjaganya kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an ini, Al-Qur’an mengajukan tantangan terutama kepada orang-orang kafir dan siapapun yang meragukan kebenarannya. Mereka menuduh bahwa Al-Qur’an hanyalah sejenis mantera-mantera tukang tenung dan kumpulan syair-syair. Mereka mengira bahwa Al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad Saw.  Tantangan Al-Qur’an diberikan secara bertahap yakni sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran Al-Qur’an untuk mendatangkan semisalnya secara keseluruhan. Hal ini terkandung dalam QS. at-gyr [52] ayat 33-34.
  2. Ataukah mereka berkata, ”Dia (Muhammad) mereka-rekanya.” Tidak! Merekalah yang tidak beriman.
  3. Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur’an) jika mereka orang-orang yang benar. (QS. at- gyr [52]: 33-34)

Pada ayat lain ditegaskan bahwa manusia (dan jin) tidak akan pernah mampu untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an secara keseluruhan. Sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Isra’ [17]: 88.

Katakanlah, ”Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.. (QS.Al- Isrw’[17]: 88)

  1. Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran Al-Qur’an untuk mendatangkan 10 surah semisalnya. Hal ini terkandung dalam QS. Hyd [11] ayat 13

Artinya: Bahkan mereka mengatakan, Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur’an itu.” Katakanlah, (Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur’an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Hyd [11] ayat 13

  1. Al-Qur’an menantang siapapun yang meragukan kebenaran Al-Qur’an untuk mendatangkan satu surah saja semisal Al-Qur’an. Hal ini terkandung dalam QS. al-Baqarah [2] ayat 23.

Artinya: “Dan jika kamu meragukan (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.(QS.al-Baqarah [2]: 23).

Dari ketiga tantangan tersebut terbukti bahwa ternyata tidak ada yang dapat mendatangkan atau membuat yang serupa dengan Al-Qur’an, karena memang Al-Qur’an bukan buatan manusia, Al-Qur’an adalah wahyu Allah Swt.

Dari informasi sejarah juga telah terbukti bahwa Al-Qur’an terjaga kemurniannya. Al-Qur’an tidak dapat dipalsukan. Hal ini disebabkan karena banyak diantara umat Islam yang menjaganya dengan kekuatan hafalan mereka. Dan ternyata kekuatan hafalan ini pulalah yang menjadi jaminan penguat dalam menjaga kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an tersebut.

Al-Qur’an diturunkan selama lebih kurang 23 tahun secara berangsur-angur. Kala itu banyak sahabat Nabi Saw. yang menghafal Al-Qur’an, di samping juga setiap kali turun ayat, maka ayat tersebut ditulis dalam media yang sangat sederhana, seperti: tulang, batu, pelepah daun kurma, kulit binatang, dan lain-lain. Sehingga pada masa khalifah Usman bin ‘Affan ra. Al-Qur’an dikodifikasi dalam bentuk mushaf, kekuatan hafalanlah yang menjadi satu unsur terpenting dalam menjaga kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an. Singkatnya, kemurnian dan keotentikan Al-Qur’an terletak pada kemu’jizatan Al-Qur’an yang tidak bisa ditiru oleh siapapun, dan adanya kekuatan hafalan orang-orang Islam yang juga berperan dalam menjaga keotentikannya. Sejarahpun telah membuktikannya.

CONTOH SOAL:

  1. Arti mu’jizat secara etimologi adalah ….

            A. Menakjubkan

            B. Menandingi

            C. Melemahkan

            D. Melawan

            E. Memusuhi

   2. Fungsi pokok mu’jizat bagi Nabi dan Rasul adalah ….

   A. Sebagai bukti bahwa kenabian/kerasulan

   B. Sebagai alat untuk menyombongkan diri

   C. Sebagai bukti kekuatan fisiknya

   D. Sebagai alat untuk menakuti musuhnya

   E. Sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit

   3. Mu’jizat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu mu’jizat pissi dan

    ma’nawi. Mu’jizat Hissi maksudnya…

   A. Mu’jizat yang hanya dapat ditangkap dengan akal fikiran

   B. Mu’jizat yang hanya dapat ditangkap dengan penglihatan

   C. Mu’jizat yang hanya dapat ditangkap dengan membaca

   D. Mu’jizat yang dapat ditangkap dengan panca indera dan akal

   E. Mu’jizat yang hanya dapat ditangkap dengan panca indera

   4. Salah satu contoh mu’jizat Nabi Isa As. adalah….

   A. Dapat membelah bulan dengan menunjukkan jari telunjuk kepadanya

   B. Dari jari-jari keluar air sehingga dapat diminum kaumnya yang kehausan

   C. Tongkat yang bisa berubah menjadi ular besar untuk mengalahkan Sihir

   D. Dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir sehingga dapat melihat

   E. Tidak hangus terbakar dalam kobaran api yang menjilat-jilat

   5. Al-Qur’an merupakan mu’jizat terbesar bagi Nabi Muhammad Saw. Di

    bawah ini adalah bukti bahwa al-Qur’an sebagai mu’jizat yang terbesar

    adalah…

   A. Al-Qur’an berlaku kekal sepanjang masa

   B. Kitab yang berisi ajar yang paling sempurna

   C. Diberikan kepada nabi dan rasul yang terakhir

   D. Isinya sangat rumit, sehingga sulit dipahami

   E. Hanya orang cerdas yang dapat memahami

6. Berikut bukan merupakan aspek kemu’jizatan al-Qur’an dilihat dari aspek bahasa yang digunakannya….

   A. Berisi berita tentang hal-hal yang bersifat ghaib

   B. Mengandung isyarat-isyarat ilmiah

   C. Bahasa dan susunan kalimatnya sangat indah

   D. Bahasanya sulit dimengerti oleh orang awam

   7. Mu’jizat Nabi Ibrahim As. Adalah ….

   A. mampu membuat kapal

   B. Tidak hangus dibakar dalam api

   C. Mengubah tongkat menjadi ular

   D. Mampu memahami bahasa binatang

   E. Menghidupkan orang yang sudah mati

Jawaban:

  1. C
  2. A
  3. E
  4. D
  5. A
  6. D
  7. B

AL-QUR’AN KITAB-KU

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                            AL-QUR’AN KITAB-KU

A. Pengertian Al-Qur’an

Para ulama’ dan pakar/ahli dalam bidang ilmu Al-Qur’an telah mendefinisikan Al-Qur’an menurut pemahaman mereka masing-masing, baik secara etimologi maupun terminologi.

Secara etimologi, para ulama’ berbeda pendapat dalam mendefinisikan Al-Qur’an. Berikut adalah beberapa pendapat tersebut.

  1. Menurut Al-Lihyany (w. 215 H) dan segolongan ulama lain

Kata Qur’an adalah bentuk masdar dari kata kerja (fi’il), قَرَأَ artinya membaca, dengan perubahan bentuk kata/tasrif (قَرَأَ-يَقْرَأُ-قُرْءَانًا). Dari tasrif tersebut, kata قُرْءَانًا artinya bacaan yang bermakna isim maf’ul (مَقْرُوْءٌ) artinya yang dibaca. Karena Al-Qur’an itu dibaca maka dinamailah Al-Qur’an. Kata tersebut selanjutnya digunakan untuk kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw.  Pendapat ini berdasarkan firman Allah SWT sebagaimana yang termaksud dalam QS. al-Qiyamah ayat 17-18:

 

إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ١٧  فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ١٨

Artinya:

  1. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya
  2. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu

   2. Menurut Al-Asy’ari (w. 324 H) dan beberapa golongan lain

Kata Qur’an berasal dari lafaz  قَرَنَ yang berarti menggabungkan sesuatu dengan yang lain. Kemudian kata tersebut dijadikan sebagai nama Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, mengingat bahwa surat-suratnya, ayat-ayatnya dan huruf-hurufnya beriring-iringan dan yang satu digabungkan kepada yang lain.

  1. Menurut Al-Farra’ (w. 207 H)

Kata Qur’an berasal dari lafak قَرَائِنٌ merupakan bentuk jama’ dari kata قَرِيْنَةٌ yang berarti petunjuk atau indikator, mengingat bahwa ayat-ayat Al-Qur’an satu sama lain saling membenarkan. Dan kemudian dijadikan nama bagi Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

  1. Menurut Az-Zujaj (w. 331 H)

Kata Qur’an itu kata sifat dari اَلْقَرْءُ yang sewazan (seimbang) dengan kata فُعْلاَنٌ  yang artinya  الْجَمْعُ (kumpulan). Selanjutnya kata tersebut digunakan sebagai salah satu nama bagi kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., karena Al-Qur’an terdiri dari sekumpulan surah dan ayat, memuat kisah-kisah, perintah dan larangan, dan mengumpulkan inti sari dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.

  1. Menurut Asy-Syafi’i (w. 204 H)

Kata Al-Qur’an adalah isim ’alam, bukan kata bentukan (isytiqwq) dari kata apapun dan sejak awal memang digunakan sebagai nama khusus bagi kitab suci yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. sebagaimana halnya dengan nama-nama kitab suci sebelumnya yang memang merupakan nama khusus yang diberikan oleh Allah SWT. sama halnya nama kitab suci sebelumnya, yaitu Zabur (Nabi Dawud as.), Taurat (Nabi Musa as.) dan Injil (Nabi Isa as.). Menurut Abu Syuhbah dalam kitabnya yang berjudul al-Madkhal li Dirasah Al-Qur’an al-Karrm, dari kelima pendapat tersebut diatas, pendapat pertamalah yang paling tepat yakni menurut Al-Lihyany yang menyatakan bahwa kata Al-Qur’an merupakan kata bentukan (isytiqaq) dari kata (قَرَأَ ) dan pendapat inilah yang paling masyhur.

Ditinjau dari pengertian secara terminologi, para ulama’ juga berbeda-beda pendapat dalam mendefinisikan Al-Qur’an. Perbedaan itu terjadi disebabkan oleh adanya perbedaan sudut pandang dan perbedaan dalam menyebutkan unsur-unsur, sifat-sifat atau aspek-aspek yang terkandung di dalam Al-Qur’an itu sendiri yang memang sangat luas dan komprehensif. Semakin banyak unsur dan sifat dalam mendefinisikan Al-Qur’an, maka semakin panjang redaksinya. Namun demikian, perbedaan tersebut bukanlah sesuatu yang bersifat prinsipil, justru perbedaan pendapat tersebut bisa saling melengkapi satu sama lain, sehingga jika pendapat-pendapat itu digabungkan, maka pemahaman terhadap pengertian Al-Qur’an akan lebih luas dan komprehensif.Beberapa pendapat ulama’ mengenai definisi Al-Qur’an secara terminologi di antaranya adalah:

  1. Syeikh Muhammad Khuiari Beik

Dalam kitab Tarikh at-Tasyri’ al-Islam, Syeikh Muhammad Khuiari Beik mengemukakan definisi Al-Qur’an sebagai berikut:

اَلْقُرْءَانُ هُوَ اللَّفْظُ الْعَرَبِيُّ الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلتَّدَبُّرِ وَالتَّذَكُّرِ الْمَنْقُوْلُ مُتَوَاتِرًا وَهُوَ مَا دَفَّـتَيْنِ الْمَبْدُوْءُ بِسُوْرَةِ الْفَـاتِحَةِ وَالْمَخْتُوْمُ بِسُوْرَةِ النَّـاسِ

Artinya:

“Al-Qur’an ialah lafaz (firman Allah) yang berbahasa Arab, yang diturunkan kepada Muhammad SAW., untuk dipahami isinya dan selalu diingat, yang disampaikan dengan cara mutawatir, yang ditulis dalam mushaf, yang dimulai dengan surat al-Fwtihah dan diakhiri dengan surat an-Nas”.

  1. Subkhi aalih

Subkhi aalih mengemukakan definisi Al-Qur’an sebagai berikut :

اَلْقُرْءَانُ هُوَ الْكِتَابُ الْمُعْجِزُ الْمُنَزَّلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِ الْمَنْقُوْلُ عَلَيْهِ بِالتَّوَاتُرِ الْمُتَعَبَّدُ بِتِلاَوَتِهِ

Artinya:

Al-Qur’an adalah kitab (Allah) yang mengandung mu’jizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., yang ditulis dalam mushaf-mushaf, yang disampaikan secara mutawatir, dan bernilai ibadah membacanya.

  1. Syeikh Muhammad Abduh

Sedangkan Syeikh Muhammad Abduh mendefinisikan Al-Qur’an dengan pengertian sebagai berikut :

اَلْكِتَابُ هُوَ الْقُرْءَانُ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِالْمَحْفُوْظُ فِيْ صُدُوْرِ مَنْ عَنَى بِحِفْظِهِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya:

Kitab (Al-Qur’an) adalah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf, yang terpelihara di dalam dada orang yang menjaga(nya) dengan menghafalnya (yakni) orang-orang Islam.

Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan beberapa unsur dalam pengertian Al-Qur’an sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an adalah firman atau kalam Allah SWT.
  2. Al-Qur’an terdiri dari lafaz berbahasa Arab
  3. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
  4. Al-Qur’an merupakan kitab Allah SWT yang mengandung mu’jizat bagi Nabi Muhammad SAW yang diturunkan dengan perantara malaikat Jibril.
  5. Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawatir (berkesinambungan).
  6. Al-Qur’an merupakan bacaan mulia dan membacanya merupakan ibadah.
  7. Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf, yang diawali dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Nas
  8. Al-Qur’an senantiasa terjaga/terpelihara kemurniannya dengan adanya sebagian orang Islam yang menjaganya dengan menghafal Al-Qur’an.

   B. Nama-nama Al-Qur’an

Nama Al-Qur’an bukanlah satu-satunya nama yang diberikan Allah Swt. terhadap kitab suci yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. Menurut Az-Zarkasyi dan As-Suyuhy dalam kitab Al-Itqwn menyebutkan bahwa Al-Qur’an mempunyai 55 nama. Bahkan dalam Ensiklopedi Islam untuk Pelajar, disebutkan ada 78 nama-nama bagi kitab suci Al-Qur’an. Namun, jika diperhatikan dan dicermati lebih lanjut berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an secara redaksional, maka akan didapatkan beberapa nama saja, yang lainnya bukanlah nama melainkan hanya sifat, fungsi atau indikator Al-Qur’an. Beberapa nama Al-Qur’an tersebut adalah:

  1. Al-Qur’an (اَلْقُرْءَانُ)

Al-Qur’an merupakan nama yang paling populer dan paling sering dilekatkan pada kitab suci terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Sebagaimana telah dijelaskan di muka, Al-Qur’an artinya bacaan atau yang dibaca. Adapun beberapa ayat yang di dalamnya terdapat istilah Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  • (QS. al-Baqarah [2]: 185)

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهۡرَ فَلۡيَصُمۡهُۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٨٥

Artinya :

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). …..”

  • (QS. al-A’raf [7]: 204)

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ٢٠٤

Artinya :

Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.

  • (QS. Thwha/20: 2) Artinya : Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah

Di samping nama Al-Qur’an yang telah disebut dalam ayat-ayat di atas, masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat nama Al-Qur’an, seperti : QS. Yunus [10]: 37, QS. al-Hijr [15]: 87, QS. an-Nahl [16]: 97, QS. al-Hijr [17]: 9, QS. al-Hasyr [59]: 21, dan QS. al-Buruj [85]: 21.

  1. Al-Kitab (اَلْكِتَابُ)

Al-Qur’an sering disebut sebagai Kitabullah artinya kitab suci Allah. Al-Kitab juga bisa diartikan yang ditulis.

  1. Al-Furqon (اَلْفُرْقَان)

Al-Furqwn artinya pembeda, maksudnya yang membedakan antara yang haq dan yang batil. Al-Furqan merupakan salah satu nama Al-Qur’an.

  1. Adzdzikr (اَلذكْر)

Adzdzikr berarti pemberi peringatan, maksudnya yang memberi peringatan kepada manusia.

  1. At-Tanzil (اَلتَّنْزِيْلُ)

At-Tanzil artinya yang diturunkan, maksudnya Al-Qur’an diturunkan oleh Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaan malaikat Jibril as. untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.

   C. Perilaku Orang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber ajaran Islam yang pertama. Setiap muslim berkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi manusia yang taat kepada Allah Swt, yaitu mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangnannya.

Al Qur’an memuat berbagai pedoman dasar bagi kehidupan umat manusia. Kita sebagai seorang muslim harus meyakini tuntunan yang berkaitan dengan keimanan/akidah, yaitu ketetapan yang berkaitan dengan iman kepada Allah Swt, malaikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qadha dan qadar.

Sebagai seseorang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an kita harus memiliki budi pekerti yang luhur karena Al-Qur’an berisikan tuntunan yang berkaitan dengan akhlak, yaitu ajaran agar orang muslim memilki budi pekerti yang baik serta etika kehidupan.

Sebagai seorang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an kita harus melaksanakan ibadah karena Al-Qur’an berisikan tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat dan haji.

Sebagai seorang yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an kita harus bergaul dengan sesama dengan baik sebab Al-Qur’an berisi tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam masyarakat.

CONTOH SOAL:

  1. Al-Lihyaniy berpendapat bahwa al-Qur’an secara etimologi memiliki arti

….

           A. Pedoman

           B. Bacaan

           C. Kumpulan

           D. Menghimpun

           E. Petunjuk

  1. Al-Qur’an adalah bacaan yang tertulis dalam mushaf-mushaf yang

     terjaga dalam hati orang yang menghafalnya di antara orang-orang Islam. Pendapat ini dikemukakan oleh….

         A. Muhammad Khudhary Beik

         B. Subkhi Shalih

         C. Muhammad Abduh

         D. Manna’ Qaththan

         E. Imam Asy-Syafi’i

  1. Nama lain al-Qur’an ada beberapa. Di bawah yang tidak termasuk nama al-Qur’an adalah….

         A. Al-Huda

        B. AlKitab

       C. AlFurqan

       D. AtTanzil

       E. AdzDzikr

  1. Kata al-Qur’an adalah isim ‘alam, bukan bentukan dari kata apapun

     sebagaimana nama-nama kitab sebelumnya, adalah pernyataan dari ….

   A. Muhammad Khudhary Beik

   B. Subkhi Shalih

   C. Muhammad Abduh

   D. Manna’ Qaththan

   E. Imam Asy-Syafi’i

   5. Menurut Imam az-Zarkasyi dan as-Suyuti dalam kitabnya al-Itqan

    menyebutkan bahwa al-Qur’an memiliki … nama.

        A. 54

        B. 55

        C. 78

        D. 87

        E. 5

   6. Nama lain al-Qur’an adalah al-Furqan artinya adalah ….

   A. yang ditulis

   B. yang dibaca

   C. pembeda

   D. pemberi peringatan

   E. yang diturunkan

   7. Nama lain al-Qur’an yang berarti “pemberi peringatan” adalah ….

   A. At-Tanzil

   B. Akjikr

   C. Al-Furqan

   D. Al-Kitab

   E. al-Qur’an

Jawaban:

  1. B
  2. C
  3. A
  4. E
  5. B
  6. C
  7. B

Al-Qur’an Hadits

We Transform Your Vision into Creative Results

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

AL-QUR’AN KITAB-KU

A. AL-QUR’AN KITAB-KU

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing

BETAPA OTENTIKNYA KITAB-KU

B. BETAPA OTENTIKNYA KITAB-KU

There are many variations of passages of Lorem Ipsum

TUJUAN DAN FUNGSI KITAB – KU

C. TUJUAN DAN FUNGSI KITAB – KU

Where does it come from? Contrary to popular belief

POKOK – POKOK ISI KITABKU

D. POKOK – POKOK ISI KITABKU

Here are many variations of passages of Lorem Ipsum

Untuk mengurus, mengelola, memanfaatkan, dan memelihara karunia Allah sebagai sumber penghasilan, dunia usaha, dan untuk kemaslahatan bersama, maka IPTEK, keahlian dan ketrampilan merupakan persyaratan yg harus dimiliki.

E. MANUSIA SEBGAI HAMBA ALLAH DAN KHALIFAH DI BUMI

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing

MATERI TENTANG KEWAJIBAN BERDAKWAH

F. MATERI TENTANG KEWAJIBAN BERDAKWAH

There are many variations of passages of Lorem Ipsum

Where does it come from? Contrary to popular belief

Here are many variations of passages of Lorem Ipsum

Digital Solutions
Boost your Success

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar

Themes
Users
Active Installs

Our Team

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.