ASMAUL HUSNA

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                                   ASMAUL HUSNA

   A. AL-GHAFFAR (الغفار)

  1. Pengertian al- Gaffār

Al-Gaffar berasal dari kata gafara yang berarti menutup. Ada juga yang berpendapat bahwa ia diambil dari kata al-Gafaru yang artinya tumbuhan yang digunakan untuk mengobati luka. Jika diambil pendapat yang pertama Allah Swt melalui asmaNya al-Gaffar menampakkan kebaikanNya dengan menutupi keburukan manusia di dunia dengan anugerahNya. Sementara pendapat yang kedua berarti Allah Swt memberikan anugerah penyesalan atas dosa bagi hambaNya yang akhirnya penyesalan ini sebagai obat yang menyembuhkan dan terhapusnya dosa.

Di dalam al Qur’an kata al-Gaffar disebutkan sebanyak lima kali dua ayat disebutkan dengan terpisah yang identik dengan pengampunan dosa seperti di dalam firman Allah Swt:

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya     Dia adalah Maha Pengampun (QS. Al- Nuh (71)-10)

Sementara tiga ayat lainnya disandingkan dengan sifat ‘Aziz. Hal yang terakhir ini tidak menunjukkan pengampunan dosa melainkan Allah Swt dengan al-Gaffarnya menutupi dosa serta kesalahan dan banyak hal lainnya dari diri manusia. Hal ini diantaranya terdapat dalam al Quran :

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS. Shad(38):66)

  1. Meneladani Allah dengan sifat al-Gaffār

Imam al-Ghazali mengartikan al-Gaffar Allah sebagai Dzat Yang menampakkan keindahan dan menutupi keburukan. Dosa yang dilakukan oleh seseorang adalah bagian keburukan yang ditutupi oleh Allah sehingga tidak terlihat oleh orang lain di dunia dan dikesampingkan kelak di akhirat. Di antara hal yang ditutupi oleh Allah Swt pada manusia:

  1. Pertama, tubuh bagian dalam manusia dengan dengan bentuk lahiriah yang indah.
  2. Kedua, bisikan dan kehendak hati manusia yang buruk.
  3. Ketiga, dosa dan kesalahan manusia yang semestinya diketahui oleh khalayak umum.

Dengan demikian makna al-Gaffar demikian luas karena mencakup berbagai hal dan bukan hanya semata-mata tertuju kepada seluruh manusia di muka bumi ini.

Kita dapat meneladani Allah melalui sifat al-Gaffar ini dengan cara memilki sifat-sifat berikut :

  1. Senantiasa memaafkan kesalahan orang lain

Memaafkan atau al ‘afwu dalam bahasa Arab berarti pembebasan dari tuntutan, kesalahan atau kekeliruan pada seseorang. Di dalam al Qur’an terdapat tiga puluh tujuh kata al ‘afwu dengan berbagai kata perubahannya. Di dalam al Quran misalnya dinyatakan:

“Dan pema’afan kamu itu lebih dekat kepada takwa”(QS. Al Baqarah(2):237)

Di dalam hadits dari Abu Hurairah Rasulullah Saw bersabda:

“Berilah kasih sayang dan berikan maaf, niscaya Allah Swt mengampuni kalian (HR. Ibnu Majah)

   2. Menutupi kesalahan orang lain dengan tidak membeberkannya

Menutupi kesalahan orang lain dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw menjanjikan bagi orang yang menutupi aib atau kesalahan orang lain, maka kelak Allah Swt akan menutupi aibnya juga di akhirat. Rasulullah Saw bersabda:

Siapa saja yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat”(HR. Ibnu Majah)

   3. Menampakkan kelebihan orang lain dengan tidak menampilkan kekurangannya

Menampakkan kebaikan atau kelebihan orang lain juga merupakan pengamalan dari al-Gaffar. Dengan melakukan hal ini berarti seseorang benar – benar mencintai saudaranya dengan sebenar-benarnya.

   B. AL-RAZZAQ ( الرزاق)

  1. Pengertian al-Razzaq

Al-Razzaq diambil dari kata razaqa atau rizq, yakni rezeki. Hanya saja makna Rezeki mengalami pengembangan makna sehingga ia juga dapat berarti adanya pangan, terpenuhinya kebutuhan, honor seseorang, ketenangan ataupun hujan serta makna – makna lainnya. Dengan demikian rezeki berarti segala pemberian dari Allah Swt yang dapat dimanfaatkan baik berupa fisik, maupun non fisik.

Dalam al Quran kata al-Razzaq hanya disebutkan satu kali di dalam firman Allah Swt:

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”(QS. Al-Dzariyat(51):58)

Hanya saja banyak ayat yang lain yang menggunakan akar kata al- Razzaq ini yang tersebar di dalam al Quran.

Al-Razzaq berarti Allah Swt secara berulang-ulang dan terus-menerus memberikan banyak rezeki kepada makhlukNya. Dalam hal ini Imam Ghazali berkata:”Allah Swt yang menciptakan rezeki dan Ia pula yang menciptakan pencari rezeki sekaligus Yang mengantarkannya serta menciptakan hukum kausalitas sehingga manusia dapat menikmatinya”

   2. Meneladani Allah dengan sifat al-Razzāq

  • Setiap orang sudah dijamin rezekinya.

Sesungguhnya seluruh makhluk Allah sudah dijamin rezekinya. Manusia yang mendapatkan rezeki dengan cara-cara yang haram sekalipun sesungguhnya oleh Allah Swt sudah disediakan rezeki yang halal, tetapi sosok yang bersangkutan enggan mengambilnya atau kurang puas dengan perolehannya sehingga ia memilih rezeki yang haram. Allah Swt berfirman:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya (QS. Hud(11):6)

Agama menganjurkan manusia dalam rangka memperoleh rezeki untuk berusaha semaksimal mungkin dan apabila terhalangi, maka ia dianjurkan untuk berhijrah.

  • Berusaha secara maksimal dan qona’ah

Harus dipahami bahwa jaminan rezeki yang diberikan oleh Allah Swt disertai dengan usaha. Selain itu kita juga harus menyadari bahwa yang memberikan jaminan rezeki tersebut adalah Allah Swt Dzat yang menciptakan makhluk dan hukum alam yang mengatur kehidupannya. Dengan demikian kehendak, perasaan selera dan instink manusia merupakan rezeki dan dengan hal-hal tersebut tercipta dorongan manusia untuk berusaha. Setelah manusia berusaha dan mendapatkan hasil, maka harus diiringi dengan sifat qana’ah atau merasa puas dengan apa yang diperoleh. Hanya saja jangan salah dalam memahami qana’ah sebab kepuasaan tersebut harus melalui tiga hal:

  1. Pertama, Usaha maksimal yang halal.
  2. Kedua, keberhasilan memiliki hasil atau rezeki dari usaha yang maksimal itu sendiri.
  3. Ketiga, Dengan hati yang lapang mnyerahkan apa yang telah dihasilkan karena sudah merasa puas dengan penghasilan sebelumnya. Oleh karena itu usaha yang maksimal yang tidak disertai dengan keberhasilan atau kepemilikan hasil usaha, maka ia belum dikatakan qana’ah apalagi jika seseorang menyerahkan apa yang ia peroleh tidak dengan hati yang lapang.

   3. Mengantarkan rezeki kepada orang lain

Dalam rangka meneladani asma Allah al- Razzaq sudah sepatutnya manusia menjadi penyebab sampainya rezeki yang ia terima kepada orang lain. Semakin banyak orang memberikan rezeki yang ia peroleh kepada orang lain, maka ia semakin meledani sifat al- Razzaq Allah Swt. Meskipun demikian al-Quran tidak menganjurkan seseorang untuk memberikan seluruh rezeki yang diperolehnya yang bersifat materi kepada orang lain. Dalam hal ini Allah Swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu (QS. Al- Baqarah(2):254)

Ayat di atas juga mengisyaratkan bahwa hendaklah sebagian rezeki yang kita peroleh untuk ditabung untuk biaya-biaya yang tidak terduga. Adapun untuk rezeki yang bersifat non fisik seperti ilmu pengetahuan, maka tidak ada kewajiban menyimpannya. Karena ilmu pengetahuan semakin diberikan, maka semakin bettambah bukan berkurang.

   C. AL-MALIK (  الماك)

  1. Pengertian al-Malik

Al-Malik secara umum diartikan dengan kata raja atau penguasa. Kata al-Malik terdiri dari huruf Mim Lam Kaf yang rangkaiannya mengandung makna kekuatan dan Keshahihan. Kata al-Malik di dalam al-Qur’an terulang sebanyak lima kali dan biasanya diartikan dengan arti raja. Dua dari ayat tersebut disandingkan kepada kata al- Haq yang berarti pasti dan sempurna. Hal ini karena kerajaan Allah Swt abadi dan sempurna tidak seperti kerajaan

Imam al-Ghazali menyatakan kata al-Malik menunjukkan bahwa Allah Swt tidak membutuhkan kepada segala sesuatu melainkan segala sesuatu membutuhkan diriNya. Tidak hanya itu bahkan segala wujud yang ada di muka bumi ini bersumber darinya dan ia menjadi pemilik bagi seluruh wujud tersebut. Dengan demikian Allah Swt adalah raja sekaligus pemilik. Kepemilikan Allah Swt sangat berbeda dengan kepemilikan manusia. Kepemilikan manusia terbatas sementara kepemilikan Allah Swt tidak terbatas. Sebagai misal bisa saja manusia memiliki mobil hanya saja dengan kepemilikannya tersebut ia memiliki keterbatasan. Tidak mungkin seseorang dengan senagaja menabrakan mobilnya. Sebab apabila ia melakukan hal ini, minimal kecaman akan ia peroleh karena manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara ini tidak berlaku bagi Allah Swt karena Allah Swt tidak dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatanNya. Allah Swt juga sebagai raja. Raja berarti Dzat yang memiliki hak mengatur terhadap diriNya maupun sosok lain dengan kekuatan dan kekuasaannya. Manusia bisa saja menjadi raja tetapi tidak dapat menjadi raja yang mutlak karena hal tersebut hanya milik Allah Swt.

   2. Meneladani Allah dengan sifat al-Malik

  • Manusia memiliki keterbatasan kepemilikan terhadap sesuatu.

Dengan asma Allah Swt al-Malik ini seharusnya manusia sadar bahwa dirinya terbatas. Bukan hanya itu harta benda yang mereka miliki juga terbatas, baik terbatas jumlahnya atau terbatas pemakaiannya. Manusia hanya bisa memakai harta yang ia milikidi dunia saja. Demikian pula kepemilikan yang ia miliki juga terbatas. Seseorang bisa saja memiliki karyawan tetapi ia hanya dapat menguasai sisi lahiriah dari karyawannya tersebut. Ia tidak dapat menguasai sisi bathinnya.

  • Pengendalian nafsu

Dengan mengerti dan memahami sifat al-Malik dengan baik, seseorang dapat menguasai hawa nafsunya. Godaan yang paling besar bagi manusia adalah godaan hawa nafsu. Dalam sejarah, umat Islam pernah mengalami kekalahan perang, yaitu dalam perang Uhud. Kekalahan tersebut terjadi karena sebagian dari pasukan umat Islam tergoda dengan harta ghanimah atau harta rampasan perang sehingga Allah Swt mengurangi kekuatan mereka dan akhirnya mereka kalah di dalam perang. Saat itu seandainya umat Islam tidak tergoda dengan harta rampasan perang yang ada dan menyakini bahwa Allah Swt adalah Pemilik semuanya, niscaya pasukan umat Islam akan menang.

  • Bersyukur terhadap nikmat Allah.

Mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kapada manusia merupakan bentuk pengamalan dari penghayatan seseorang terhadap asama Allah Swt al-Malik. Seseorang akan sadar bahwa pemilik sebenarnya bagi segala sesuatu adalah Allah Swt. Oleh karena itu ketika seseorang sudah berusaha dengan maksimal lalu ia memperoleh rezeki, maka ia akan mensyukuri rezeki itu. Ia tidak akan mengumpat atau mencaci orang lain karena ia sadar bahwa Allah Swt adalah pemilik sejatinya.

D. AL-HASIB ( الحاسب)

  1. Pengertian al-Hasib

Al-Hasib secara etimologi berasal dari kata hasiba dengan tiga huruf Arab ha, sin dan ba. Setidaknya terdapat empat kata dalam bahasa Arab, yaitu menghitung, mencukupkan, bantal kecil dan penyakit yang menimpa kulit sehingga kulit menjadi putih. Hanya saja makna ketiga dan keempat dari kata al-Hasib tidak mungkin dilekatkan kepada Allah Swt. Dalam al Quran kata al-Hasib disebutkan empat kali. Tiga terkait dengan Allah Swt dan satu terkait dengan manusia. Dua ayat yang terkait dengan Allah Swt dapat diartikan dengan Dzat yang memberi kecukupan. Di antaranya terdapat dalam firman Allah Swt:

“Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan”(QS. Al- Ahzab(33):39)

Imam al-Ghazali mengartikan al-Hasib dengan Dia yang mencukupi siapa saja yang mengandalkan diriNya. Sifat ini hanya milik Allah karena tidak ada satu makhlukpun di dunia ini yang dapat mencukupi kebutuhan orang lain. Menurut al-Ghazali rezeki yang diberikan oleh Allah Swt kepada bayi sesungguhnya karena Al- Hasibnya Allah Swt. Allahlah yang mencukupi kebutuhan bayi dengan menciptakan ibu yang menyusui, air susunya dan instink serta keinginan untuk menyusui.

Al-Hasib dapat diartikan juga dengan menghitung. Jika kata Al-Hasib dikaitkan dengan makna menghitung, maka Allah adalah Dzat yang melakukan perhitungan, baik menghitung amal baik dan buruk seorang manusia dengan cermat dan teliti sehingga tidak ada yang terlepas sedikitpun. Terkadang kata al-Hasib juga dapat diartikan sebagai pemberi perhitungan

  1. Meneladani Allah dengan sifat al-Hasib
  • Tenang dan tentram bersama dengan Allah Swt.

Seseorang yang memaknai al-Hasib sebagai Dzat yang memberi kecukupan, maka ia akan nyaman dan tentram. Ia tidak akan terganggu oleh bujuk rayu setan lalu menjadi sekutunya dan ia tidak akan sedih saat harus kehilangan sesuatu, baik berupa materi atau kesmpatan karena ia yakin dirinya sudah merasa cukup dengan adanya Allah Swt. Allah Swt berfirman:

“Dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”.(QS. Ali Imran(3):173)

  • Melakukan amal shalih semata-mata karena Allah.

Seseorang yang memaknai al-Hasib dengan makna perhitungan, maka ia akan meyakini sesungguhnya Allah Swt akan menghitung amal shalih setiap manusia. Bagi yang meneladaninya, maka terlebih dahulu ia akan sepenuhnya menyadari bahwa hanya Allah Swt yang memberinya kecukupan. Dengan demikian segala yang ia lakukan ditujukan semata-mata karena Allah Swt. Selain itu segala kehendak yang ia lakukan pasti harus sesuai dengan kehendakNya. Hal ini dilakukan karena ia yakin Allah Swt telah mencukupkan kebutuhannya.

  • Melakukan introspeksi diri secara terus-menerus

Seandainya makna al-Hasib diartikan sebagai Dzat yang memberi perhitungan, maka yang meneladaninya sudah pasti akan senantiasa melakukan introspeksi diri. Hal tersebut dilakukan karena ia menyadari sepenuhnya kelak Allah Swt akan melakukan perhitungan terhadap dirinya dengan amat cermat dan teliti. Selain itu, dalam hal apapun yang diminta atas dasar kewajiban agama seperti menunaikan zakat mal misalnya, maka ia akan segera menghitung hartanya dengan cermat dan penuh ketelitian sehingga tidak ada yang keliru.

E. AL-HADI  ( الهادى)

  1. Pengertian al-Hadi

Secara etimologi kata al-Hadi diambil dari akar kata hadaya, yaitu huruf ha, dal dan ya. Ia dapat diartikan dengan penunjuk jalan karena ia selalu berada di depan memberi petunjuk. Tongkat bagi orang-orang tertentu misalnya orang buta dapat dikatakan sebagai al-Hadi karena ia digunakan mendahului kakinya sebagai petunjuk ke mana kaki harus melangkah. Selain itu al-Hadi juga dapat berarti menyampaikan dengan lemah lembut. Dari makna ini terlahir istilah hadiah karena hadiah biasanya disampaikan dengan kelembutan sebagai bentuk simpatik seseorang pada orang lain. Dari kata tersebut juga terlahir kata al-hadyu yang berarti binatang yang disembelih di baitullah sebagai persembahan. Dalam al-Qur’an kata al-Hadi yang diserta dengan alif dan lam tidak ada. Kata yang ada Hadi tanpa alif dan lam sebanyak tiga kali seperti firman Allah Swt:

Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”(QS. Al- Haj(22):54)

Allah Swt sebagai Al Hadi berarti Allah Swt yang menganugerahkan petunjuk. Petunjuk Allah Swt kepada manusia bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan manusia itu sendiri.

  1. Meneladani Allah dengan sifat al-Hadi
  • Meyakini bahwa petunjuk Allah Swt banyak sekali
  • Di dalam kehidupan di dunia, manusia sangat membutuhkan petunjuk. Petunjuk yang dibutuhkan sangat banyak dan ia harus yakin bahwa Allah Swt memiliki petunjuk-petunjuk itu. Agama mensyariatkan shalat hajat dan istikharah karena semata-mata manusia memerlukan eksistensi petunjukNya. Dengan demikian ketika seseorang melaksanakan shalat hajat atau istikharah, maka secara tidak langsung ia meminta petunjuk kepada Allah Swt Dzat yang memiliki petunjukpetunjuk tersebut.
  • Meyakini bahwa agama merupakan petunjuk atau hidayah tertinggi.
  • Allah Swt memberikan banyak hidayah atau petunjuk kepada hambanya. Setidaknya ada empat petunjuk yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia.
  • Pertama, Naluri. Hal pertama yang diberikan oleh Allah Swt adalah naluri. Naluri merupakan dorongan yang diciptkan oleh Allah Swt kepada manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Seorang bayi yang terlahir ke dunia misalnya, dengan nalurinya langsung mencari air susu ibunya.
  • Kedua, panca indera. Allah Swt memberikan panca indera kepada manusia agar dengan panca indera mereka dapat eksis di muka bumi ini. Hanya saja banyak orang tertipu dengan panca inderanya, misalnya ketika seseorang di malam hari melihat bintang-bintang yang kecil sekali padahal dalam realitasnya ia besar.
  • Ketiga, Akal. Akal diberikan oleh Allah Swt untuk meluruskan petunjuk panca indera. Dengan akal manusia mampu menyaring dan menyimpulkan seluruh informasi yang diberikan oleh panca indera.
  • Keempat, Agama. Meskipun akal berfungsi menyaring informasi tetapi kemampuan akal terbatas karena akal hanya bisa menelaah alam fisik saja. Dengan demikian diperlukan agama untuk menelaah bidang yang tidak adapat dijangkau oleh akal.
  • Memberikan petunjuk kepada orang lain dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih.

Bagi yang meneladani asma Allah al-Hadi, maka ia akan memberikan petunjuk kepada orang lain dengan sungguh-sungguh dan tanpa pamrih. Hal ini harus dilakukan karena Allah Swt dalam memberikan petunjuknya kepada manusia tanpa didasari pamrih. Dengan demikian orang yang memiliki ilmu berkewajiban menyampaikan ilmunya sebagai petunjuk untuk membawa orang dari kegelapan menuju cahaya Allah Swt.

   F. AL-KHALIQ ( الخالق)

  1. Pengertian al-Khaliq

Al-Khaliq secara etimologi berasal dari kata khalq atau khalaqa yang berarti mengukur atau menghapus. Kemudian makna ini berkembang dengan arti menciptakan dari tiada, menciptakan tanpa suatu contoh terlebih dahulu, mengatur dan membuat. Kata Al Khaliq ditemukan delapan kali di dalam al Qur’an dan merujuk kepada Allah Swt. Semenatra kata khalq dengan berbagai bentuknya terulang 150 kali dan secara umum mempertegas kehebatan dan kebesaran Allah Swt dalam ciptaanNya. Menurut al-Ghazali meskipun kata Al-Khaliq sama dengan Al-Bari’ yang berarti pencipta, tetapi keduanya memiliki makna masing-masing. Al-Khaliq berarti Allah Swt mewujudkan sesuatu dengan ukuran yang ditetapkan. Sementara Al-Bari’ mewujudkan dari tidak ada menjadi ada saja. Sedangkan Al- Mushawwir Dzat yang memberi rupa.

  1. Meneladani Allah dengan sifat Al-Khaliq
  • Menciptakan hal-hal baru yang lebih inovatif.
  • Orang yang meneladani asma Allah Swt al-Khaliq dituntut untuk menciptakan hal-hal baru yang inovatif. Hal ini diperlukan karena proses terciptanya sesuatu memerlukan pengetahuan dan kemampuan. Pengetahuan dan kemampuan inilah yang harus diberdayakan dalam rangka menghasilkan produk-produk yang baru yang inovatif. Dengan demikian umat Islam yang dijuluki oleh al-Quran sebagai sebaik-baiknya umat akan senantiasa dinamis mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sepanjang masa.
  • Menyakini bahwa Allah Swt pencipta hakiki
  • Di dalam al-Qur’an terkadang ditemukan kata khalaqna(Kami menciptakan) yang berarti kami menciptakan. Di sini tentu saja dapat dimaknai ada keterlibatan pihak lain dalam penciptaan. Sementara ayat al-Qur’an yang menggunakan redaksi khalaqtu(Aku menciptakan) berarti mutlak kuasa dan wewenang Allah Swt. Meskipun manusia memiliki peran dalam penciptaan tetapi peran hakiki tetap milik Allah Swt. Dalam dunia industri misalnya Allah Swt yang menciptakan bahan mentah dan Allah Swt juga yang memberikan ilham sehinggga manusia dengan keinginan kerasnya dapat menciptakan sesuatu.

   G. AL-HAKIM  ( الحكم)

  1. Pengertian al-Hakim

Al-Hakim berasal dari akar kata hakama yang terdiri dari huruf ha, kaf dan mim yang maknanya secara umum berarti menghalangi. Seperti kata hukum yang biasanya digunakan untuk menghalangi penganiayaan seseorang pada orang lain. Selain itu tali kendali yang digunakan untuk mengendalikan hewan. Di dalam bahasa Arab disebut dengan hakamah karena seseorang yang mengendalikan hewan dapat menghalangi hewan yang bersangkutan untuk menuju arah yang diinginkan. Demikian pula kata istilah hikmah yang digunakan untuk sesuatu yang bijaksana yang apabila diperhatikan insya Allah seseorang akan selamat. Di dalam al Qur’an kata Al-Hakim terulang 97 kali dan semuanya mengacu kepada sifat Allah. Al-Hakim dipahami oleh mayoritas ulama Allah Swt sebagai Dzat yang memiliki hikmah. Sementara hikmah berarti mengetahui hal yang paling asasi, baik dari sisi pengetahuan atau perbuatan. Selain itu hikmah juga bisa diartikan sesuatu yang apabila digunakan pelakunya tidak akan tertimpa malapetaka, melainkan ia akan mendapatkan kebajikan yang besar. Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang mendapatkan hikmah. Allah Swt berfirman:

“Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, maka benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak”. (QS. Al-Baqarah(2): 269)

Imam al-Ghazali memahami kata hakim sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama dan Allah adalah hakim yang hakiki.

  1. Meneladani Allah dengan sifat al-Hakim
  • Memperdalam ilmu pengetahuan

Salah satu dari pengertian al-Hakim adalah orang yang memiliki hikmah. Salah satu makna hikmah adalah ketika ia digunakan, maka seseorang akan selamat. Untuk selamat pasti orang akan memilih jalan yang terbaik dan jalan yang terbaik hanya dapat ditempuh oleh orang-orang yang berilmu. Di sini terlihat keutmaan orang yang berilmu dan hal tersebut juga diapresiasi oleh al-Qur’an. Allah Swt berfirman:

Niscaya Allâh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat (QS. Al-Mujadilah(58): 11),

Bertindak profesional dalam hal apapun

  • Seorang muslim yang meneladani Allah Swt sebagai al-Hakim bukan hanya sekedar memiliki ilmu sekedarnya saja, melainkan ia harus memiliki keahlian dan profesionalaitas khususnya pada bidang-bidang tertentu sehingga ketika ia mengukuhkan sesuatu tidak dilakukan dengan coba-coba. Selain itu langkahlangkah yang akan dilakukan sudah tergambar dan menimbulkan kemaslahatan umum. Ketika ia memberikan ceramah akan terlihat ceramah yang bermutu, efektif dan efisien.
  • Bersikap bijaksana

 

  • Contoh soal Asmaul Husna:
  1. Fenomena syirik tanpa disadari sering dilakukan oleh seorang Muslim seperti meminta pertolongan kepada orang yang sudah meninggal, dengan mempersem­bahkan sesaji di kuburan pohon besar, mendatangi dukun, paranormal dan sejenisnya, mempercayai mereka bisa memberi manfaat dan melepaskan kesulitan, memberi keturunan dan memberi rezeki, dst. Tidak hanya dalam tlndakan, melalui perkataan atau pemyataan sering terlontar Kata-kata yang menjadikannya musyrik.

Pernyataan yang secara tersirat mengandung pengakuan ada yang kuasa disamping Allah Swt. Adalah….

   A. Seandainya bukan karena helm itu,

        maka kepalaku akan pecah dan mati dalam keceiakaan itu.

   B. Seandainya aku tidak mengikuti ajaran para ulama,

        maka pasti aku akan tersesat.

   C. Seandainya aku mengikuti anjuran dokter, maka aku akan bisa sembuh.

   D. Seandainya aku mau belajar dengan keras maka aku akan lulus ujian

        Jawaban: A

 Syirik adalah perbuatan, anggapan atau itikad menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain, seakan-akan ada yang maha kuasa di samping Allah Swt.

  •     Soal  ini membahas bab  seharusnya kita menghindari kemusyrikan

   2. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (237) : وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Seorang muslim tidak hanya diwajibkan beriman tapi juga harus berakhlak mulia. Banyak jenis akhlak mulia yang harus dimiliki dan ditunjukkan oleh seorang muslim salah satunya adalah sifat memaafkan. Kandungan ayat di atas, sifat memaafkan dikaitkan dengan sifat ketakwaan berarti …

     A. Memaafkan harus dilandasi ketakwaan

     B. Memaafkan adalah syarat untuk bertakwa

     C. Memaafkan berarti takwa kepada Tuhan

     D. Memaafkan sangat dekat dengan nilai-nilai ketakwaan

          Jawaban:  D

Pokok pembahasan adalah akhlak mulia yaitu memaafkan. Sebagai seorang muslim wajib meneladani sifa-sifat Allah pada Asmaul Husna yaitu Ya Gaffar

  • Soal  membahas  bab menjadi hamba Allah yang berakhlak

   3. Nama-nama yang baik dan Maha Indah yang merupakan sifat-sifat Allahdisebut……..

   A. sifatullah

   B. asmaullah

   C. asmaul husna

   D. qudratullah

   E. iradatullah

     Jawaban: c. asmaul husna

  1. Menurut hadits Nabi jumlah asmaul husna adalah…..

        A. 25

        B. 50

        C. 75

        D. 99

        E. 100

      Jawaban: d. 99

  1. Arti dari Asmaul Husna al-Mu’min, adalah….

        A. Maha Kuat

        B. Maha Mulia

        C. Maha Adil

        D. Maha Memberi Keamanan

         Jawaban: d. Maha Memberi Keamanan

  1. Arti dari asmaul husna al-Matin, adalah….

         A. Maha Kuat dan Kokoh

         B. Maha Akhir

         C. Maha Adil

         D. Maha Memberi Keamanan

       Jawaban: Yang Maha Kokoh

AKIDAH

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                                          AKIDAH

  1. PENGERTIAN AKIDAH

Menurut Bahasa: عقد ـ يعقد ـ عقيدة yang berarti : Simpul, ikatan atau perjanjian yang kukuh. Setelah berbentuk ‘AQIDAH berarti KEYAKINAN. Relevansi antara ‘aqada dengan ‘aqidah adalah : Keyakinan yang tersimpul kukuh dalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian.

Menurut sumber lain, kata akidah berasal dari bahasa Arab yg berarti YANG DIPERCAYAI HATI. Kata al-’aqidu  seakar dengan kata ‘aqidah  yang berarti PENYATUAN DARI SEMUA UJUNG BENDA. Alasan digunakan kata aqidah untuk mengungkapkan makna kepercayaan atau keyakinan. Kepercayaan adalah pangkal dan sekaligus tujuan dari segala perbuatan mukallaf.

    Pengertian AKIDAH menurut Istilah :

  1. Hasan Al-Banna dalam kitab majmu’ah ar.rasa’il  => Akidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa dan menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikit pun dengan keragu-raguan.
  2. Abu Bakar Jabir al-Jazairy dalam kitab Aqidah al-Mu’min => Akidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah.
  3. Mahmud Syaltut => Akidah Islam adalah sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa dan sebelum melakukan apa-apa tanpa keraguan sedikit pun dan tanpa ada unsur yang mengganggu kebersihan keyakinan.

Sesuatu yang harus diyakini sebelum apa-apa adalah keyakinan akan keberadaan Allah dengan segala fungsinya. Semua itu tercakup dalam rukun iman sebagai ikrar bagi setiap muslim dalam menyatakan ke-Islam-annya sejak lahir dan merupakan landasan hidup. Dengan demikian dapat dismpulkan bahwa Akidah adalah keyakinan yang dikaitkan dengan rukun iman dan merupakan azas dari seluruh ajaran Islam. 

Setiap manusia memiliki fitrah mengakui kebenaran, Misalnya :

~ Indra untuk mencari kebenaran

~ Akal untuk menguji kebenaran

~ Wahyu pedoman dalam menentukan baik dan buruk.

Dalam berakidah instrumen itu harus ditempatkan  fungsinya masing-masing dalam posisi yang benar.

Tingkat keyakinan seseorang akan ditentukan oleh tingkat pemahamannya terhadap dalil, karena itu keyakinan yang tidak berdasarkan dalil akan mudah tergoyahkan oleh berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi. Al-Qur’an menyatakan bahwa setiap manusia sudah menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt. sejak zaman azali yang kemudian dikenal dengan SYAHADAT.

Firman Allah :

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

Artinya :

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku Tuhanmu?” mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami bersaksi”. (Q.S.al-A’raf : 172)

Ikatan akidah yang dinyatakan di alam azali itu tetap dipelihara hingga akhir hayat. Itu sebabnya setiap manusia yang lahir ke dunia dianjurkan untuk dikumandangkan azan pada telinga kanan dan ikamah di telinga kiri yang pada intinya untuk mengingatkan manusia pada ikatan akidahnya. Sesuai dengan konsep dan proses kejadian manusia yang secara umum terbagi tiga (pradunia, dunia dan pascadunia), ada bagian yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra serta imajinasi manusia dan hanya bisa dipercayai dan diyakini kebenarannya dengan hati.

Masalah akidah terutama yang berkaitan dengan iman kepada malaikat, alam gaib (surga/neraka) yang kesemuanya itu harus diyakini tanpa harus dibuktikan dengan rekayasa teknologi. Jadi, objek keyakinan hati atau keimanan itu pada umumnya adalah sesuatu yang gaib, sesuatu yang ada, tetapi keberadaannya tidak dapat dijangkau serta diidentifikasi oleh pancaindra dan imajinasi manusia kecuali unsur-unsur yang tampak, seperti Rasul dan Kitab yang dibawanya. “YANG ADA ITU TIDAK ADA, YANG TIDAK ADA ITULAH YANG ADA”

Penekanan kepercayaan bukan pada aspek ada atau tidaknya, tetapi segi sikap menerima segala fungsi dan peranannya dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu semua informasi tentang ajaran akidah Islam, baik tentang wujud Allah beserta atribut-Nya, tentang kerasulan, para malaikat beserta fungsi-fungsinya, kitab suci, kehidupan akhirat berupa surga dan neraka berikut prosedur hisabnya, tentang qada dan qadar disampaikan lewat wahyu. Tanpa informasi serta penegasan Allah umat manusia tidak akan mengetahui apa-apa tentang ajaran dan tidak akan menerimanya dengan suatu keyakinan dan kebenaran.

   2. PRINSIP-PRINSIP AKIDAH

Islam mengajarkan setiap manusia wajib menyembah hanya kepada Allah   dengan tidak memakai perantara apa dan siapa pun.

Firman Allah dalam surat Ali ‘Imran : 64 menyatakan :

قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۢ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ ٦٤

Artinya :

Katakanlah (Muhammad) “Wahai Ahli Kitab!! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka) “Saksikanlah bahwa kami adalah orang Muslim”

Ayat ini menegaskan bahwa, dalam peribadatan Islam hanya Allah semata dan menunjukkan kemurnian dalam menegaskan mengesakan Allah. Apapun bentuk ibadah di dalam Islam hanya ditujukan kepada Allah, baik shalat, zakat, puasa, haji ataupun perkataan dan perbuatan yang ada hubungannya dengan sesama manusia atau dengan alam serta lingkungan sekitarnya. Hakikat ibadah itu adalah menundukkan jiwa dan raga kepada Allah dengan perasaan cinta kepada-Nya dan patuh serta taat akan kebesaran-Nya. Oleh karena itu segala macam ibadah bila tanpa didasari dengan ketundukkan jiwa dan rasa cinta yang tulus kepada Allah, belum bisa dinamakan dengan ibadah.

Menurut Syekh Ali Tantawi dalam Kitab Ta’rif ‘am bi Dinil Islam, fasal Qawa’idul ‘Aqa’id“Fitrah dan akal manusia berperan penting dalam masalah akidah yang diyakini seseorang”. Yang maksudnya adalah :

  1. Apa yang saya dapat dengan indra, saya yakini adanya, kecuali apabila akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu.
  2. Keyakinan di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung juga bisa berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita. Banyak hal yang memang tidak atau belum kita saksikan sendiri, tetapi kita yakini adanya.
  3. Kemampuan alat indra memang sangat terbatas. Namun kita tidak dapat dan tidak berhak memungkiri wujud sesuatu hanya karena kita tidak bisa menjangkaunya dengan indra mata.
  4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh indranya dan tidak mampu menghayalkan apa yang belum pernah dilihatnya.
  5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu, akal tidak akan bisa menjelaskan kapan terjadinya suatu peristiwa, jika peristiwa itu tidak terjadi lebih dahulu, sekarang dan tidak pula pada masa akan datang
  6. Setiap manusia yang hidup di dunia memiliki fitrah mengimani adaya pencipta dan pengatur kehidupan, tetapi fitrah itu hanya merupakan potensi dasar yang harus dikembangkan dan dipelihara, karena fitrah itu bisa tertutup oleh berbagai hal yang menjadi daya tarik dalam kehidupan.
  7. Manusia tidak akan puas dengan materi yang berhasil diraihnya, karena memang materi itu sangat terbatas di dunia ini. Oleh sebab itu manusia butuh alam lain sesudah dunia ini untuk mendapatkan kepuasan yang hakiki.
  8. Keyakinan tentang hari akhir merupakan konsekwensi dari keyakinan tentang adanya Allah. Beriman kepada Allah menuntut adanya sikap penerimaan terhadap sifat-sifat yang dimiliki Allah, termasuk sifat adil.  Jika tidak ada kehidupan lain di akhirat, bisakah keadilan Allah itu terlaksana? Oleh karena itu iman kepada Allah memberikan konsekwensi keimanan adanya alam akhirat setelah berakhirnya kehidupan di alam dunia, sebagai pertanggungjawaban kehidupan manusia dan membuktikan kebenaran janji serta kekuasaan Allah sebagai al-malik al-yaumud-din.

 

Sebagai Kesimpulan Prinsip-prinsip aqidah Islam itu adalah :

  1. Tidak ada Agama yang BENAR selain ISLAM. Agama Islam datang untuk menyempurnakan dan menggantikan agama-agama sebelumnya beserta syari’at-syari’atnya. Firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 85 :

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

Artinya:

 “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi”

  1. Kitab Al-Qur’an adalah Kitab yang Terakhir diturunkan oleh Allah. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi akhir zaman, yaitu Nabi Muhammad Saw, sebagai peyempurnakan kitab-kitab sebelumnya dalam segala hal, terutama ajarannya dan berfungsi sebagai petunjuk dan pegangan hidup umat manusia. Siapa yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an hidupnya dijamin akan bahagia di dunia dan di akhirat. Allah telah menyempurnakan agama Islam dan telah meredainya sebagai agama yang membawa keselamatan. Allah berfiman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلَامَ دِيْنًا

Artinya:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama mu untuk mu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi mu, dan telah Aku redhai Islam sebagai agama mu” (Q.S.

  1. Nabi Muhammad Saw. Merupakan Penutup seluruh Nabi dan Rasul. Jika ada yang mengaku sebagai rasul setelah Nabi Muhammad Saw dan mempunyai kitab suci berarti semua itu palsu. Firman Allah :

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَااَحَدٍ من رِّجالكم ولكنَّ رّسول اللهِ وخاتم النبين

Artinya:

“Muhammad itu bukanlah bapak salah seorang diantara kamu, tetapi adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S.       ayat      )

  1. Meyakini bahwa Orang yang Tidak Memeluk Agama Islam itu Kafir. Orang yang tidak mempercayai dan tidak mengamalkan ajaran Islam merupakan orang kafir.

Firman Allah :

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِيْنَ حَتَّى تَأْتِيْهِمُ اْلبَيِّنَةُ

Artinya:

“Orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan (agama mereka) sampai datang kepada mereka bukti yang nyata” (Q.S.  Al Bayinah    ayat 1)

Bukti yang dimaksud dalam ayat di atas adalah bukti nyata yang akan terlihat setelah datang hari pembalasan. Pada saat itulah orang-orang kafir sadar dan mempercayai bahwa agama Islam itu benar, Akan tetapi kesadarsan itu sia-sia karena semuanya sudah terlambat. Orang-orang kafir tempatnya di neraka Jahannam dan mereka kekal di dalamnya, sebagai akibat tidak mempercayai bahwa agama Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul itu benar adanya.

Allah Berfirman :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا.

 أُولَئِكَ هُمُ شَرُّاْلبَرِيَّةِ

Artinya:

“Sungguh, orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itulah sejahat-jahat  makhluk” (Q.S. Al Bayinah  ayat  6 )

   3. RUANG LINGKUP AKIDAH

Hasan al-Banna mengatakan bahwa ruang lingkup pembahasan akidah Islam sebagai berikut :

  1. Ilahiyah => Pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, seperti wujud, nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan Allah.
  2. Nubuwwah => Pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan rasul, termasuk pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, mukjizat dan keramat.
  3. Ruhaniyah => Pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan alam metafisika, seperti malaikat, jin, iblis, setan dan roh.
  4. Sam’iyah => Pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sama’i. Maksudnya, melalui dalil naqli yang berupa al-Qur’an dan as-Sunnah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga dan neraka.

Di samping itu, ruang lingkup pembahasan akidah Islam juga bisa mengikuti sistematika arkaanul iman (rukun iman).

   4. METODE PENINGKATAN AKIDAH

Muhammad al-Gazali mengatakan “Inilah akidah yang kuat, akidah yang sebenarnya”. Bila keyakininan semacam ini dipegang san dilaksanakan, berarti hidup sudah punya prinsip yang benar dan kukuh. Seorang mukmin senantiasa berkomunikasi dengan penuh tanggung jawab dan waspada dalam segala urusan. Bila bertindak dengan dasar kebenaran, maka akan bisa pula bekerja sama dengan orang-orang yang berperilaku benar pula, kalau dia melihat ada yang menyimpang dari jalan yang benar, maka dia akan mengambil jalan sendiri, sesuai dengan akidah yang benar. 

Rasulullah Saw. bersabda :

لاَ تَكُوْ نُوْا اِمَّعَةً تَقُوْلُوْن اِنْ اَحْسَنَ النّاسُ اَحْسَنَّا  وَاِنْ ظَلَمُوْا ظَلَمْنَا وَلَاكِنْ وَطِّنُوْ اَنْفُسَكُمْ اِنْ اَحْسَنَ النّاسُ اَنْ تُحْسِنُوْا وَاِنْ اَسَاءُوْا فَلَا تَظْلِمُوْا 

–رواه الترمذى

Artinya :

Janganlah ada di antara kamu menjadi orang yang tidak mempunyai pendirian, ia berkata : “Saya ikut bersama-sama orang. Kalau orang berbuat baik, saya juga berbuat baik dan kalau orang berbuat jahat, saya juga berbuat jahat” Akan tetapi teguhkanlah pendirianmu, apabila orang berbuat baik, hendaklah kamu juga berbuat baik dan jika mereka berbuat jahat, hendaknya kamu jauhi perbuatan jahat itu. (HR.at-Tirmidzi).

Iman merupakan suatu hal yang sangat fundamental dalam Islam dan menjadi pengendali perilaku dalam kehidupan. Ibarat sebuah mobil yang bergerak ke suatu tujuan, maka diperlukan mesin untuk sebagai penggeraknya agar bisa mencapai tujuan. Imam Gazali menggambarkan, manusia hidup di dunia ini tak ubahnya bagai seseorang yang mengarungi lautan.  Di waktu badai mengamuk, dia menghadapi gelombang yang bergulung-gulung.  Jantungnya berdebar-debar, dia diliputi rasa cemas, takut kalau-kalau tenggelam dan terkubur ke dasar laut. Dalam situasi ini segala usaha akan dilakukan untuk menyelamatkan diri. Apabila badai telah surut, maka ia dapat berlayar seperti orang yang berjalan santai atau sambil bersiul-siul. Pasang naik dan pasang surut dalam kehidupan lautan adalah sunnatullah yang harus ditemui dan tidak dapat dielakkan.

Maksud gambaran Imam Gazali di atas adalah manusia dalam kehidupan ini tidak terlepas dari berbagai macam masalah. Jalan yang ditempuh kadang-kadang datar, kadang menurun atau mendaki. Manusia akan bertemu dengan nikmat dan juga bencana, bahagia dan juga sengsara. Dalam mengarungi gelombang kehidupan yang demikian manusia harus mempunyai landasan berpijak dan mempunyai tali untuk berpegang.

Landasan berpijak itu adalah IMAN, yaitu keyakinan yang bulat dan utuh bahwa manusia itu hanyalah menrencanakan. Kewajibannya ialah berusaha, berjuang sesuai dengan martabat dan kedudukannya. Kemantapan iman dapat diperoleh dengan menanamkan TAUHID لا اله الا الله  (tiada Tuhan selain Allah). Tiada yang dapat menolong, memberi nikmat, kecuali Allah. Kebahagiaan di segenap lapangan hanya diperoleh dengan jalan berakhlak mulia. Apabila iman kuat, jiwa akan selalu tenang, tidak goncang menghadapi segala sesuatu, sebab dalam jiwa akan hidup rasa persaudaraan, persamaan dan kemanusiaan. Iman yang subur dan sehat menghilangkan sifat dengki dan cemburu.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa iman itu tergambar dari amal atau dari sifat dan tingkah laku seseorang. Kadang Allah menyebutkan amal pada urutan pertama, sedang iman pada urutan kedua, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa amal merupakan syarat kebenaran iman seseorang.

Firman Allah dalah surah Thaha : 112 :

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْماً وَلَا هَضْماً

Artinya :

Dan barangsiapa mengerjakan kebajikan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya.

   5. KUALITAS AKIDAH DALAM KEHIDUPAN

Apabila iman sudah tertanam dalam jiwa. Akan menimbulkan pendorong semangat untuk beribadah dan pengabdian yang terus-menerus dalam memikul rasa tanggung jawab dan menanggulangi segala kesulitan atau bahaya yang dihadapi dalam kehidupan sampai menemui ajal. Orang mukmin sejati adalah orang yang mempunyai harga diri, tidak mau melakukan perbuatan yang pantas di hadapan sesama manusia apalagi di hadapan Sang Pencipta. Apabila iman sudah tertanam dalam jiwa, akan menimbulkan pendorong semangat untuk beribadah dan pengabdian yang terus-menerus dalam memikul rasa tanggung jawab dan menanggulangi segala kesulitan atau bahaya yang dihadapi dalam kehidupan sampai menemui ajal. Pengaruh terpenting dari keimanan adalah membuat manusia menjadi taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah.

Seseorang yang beriman meyakini bahwa Allah mengetahui segalanya, baik yang nyata maupun yang tersembunyi dari pandangan manusia. Manusia dapat menyembunyikan sesuatu dari orang lain, tetapi tidak dapat menyembunyikannya di hadapan Allah. Semakin kukuh keyakinan seseorang, semakin patuh dia terhadap perintah-perintah Allah. Dia akan menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, walaupun dalam keadaan sendiri. Keimanan memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu keimanan menjadi aspek yang pertama dan terpenting untuk menjadi seseorang muslim sejati.

Muslim berarti kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Kepatuhan itu tidak mungkin tumbuh dalam diri seseorang jika ia tidak mempunyai keyakinan dan keimanan terhadap kalimat tauhid, artinya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Di samping memberikan dampak positif terhadap kehidupan seorang muslim itu sendiri, iman juga dapat memberikan kenikmatan bagi orang lain dan lingkungannya. Dalam sebuah perumpamaan Allah Swt. Berfirman :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء.  تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ. وَمَثلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِن فَوْقِ الأَرْضِ مَا لَهَا مِن قَرَارٍ. يُثَبِّتُ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللّهُ مَا يَشَاءُ

 Artinya :

Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah Membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhan-nya. Dan Allah Membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat; dan Allah Menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah Berbuat apa yang Dia Kehendaki. “ (Q.S. Ibrahim : 24-27).

Yang termasuk dalam Kalimat yang baik ialah kalimat tauhid, segala Ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran serta perbuatan yang baik. kalimat tauhid seperti Laa ilaa ha illallaah. Yang termasuk dalam Kalimat yang buruk ialah kalimat kufur, syirik, segala perkataan yang tidak benar dan perbuatan yang tidak baik. Yang dimaksud ucapan-ucapan yang teguh di sini ialah kalimatun thayyibah yang disebut dalam ayat 24 di atas. Allah menjanjikan bagi orang yang beriman dengan teguh kepada keimanannya, akan menghapuskan rasa takut dan sedih serta di akhirat dia akan ditempatkan dalam surga.

Firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ              

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Q.S. Fushilat: 30)

   6. PEMBAHASAN

Sistem ajaran Islam dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu bagian aqidah (keyakinan), bagian syari’ah (aturan-aturan hukum tentang ibadah dan muamalah), dan bagian akhlak (karakter). Ketiga bagian ini tidak bisa dipisahkan, tetapi harus menjadi satu kesatuan yang utuh yang saling mempengaruhi. Aqidah merupakan fondasi yang menjadi tumpuan untuk terwujudnya syari’ah dan akhlak. Sementara itu, syari’ah merupakan bentuk bangunan yang hanya bisa terwujud bila dilandasi oleh aqidah yang benar dan akan mengarah pada pencapaian akhlak (karakter) yang seutuhnya. Dengan demikian, akhlak (karakter) sebenarnya merupakan hasil atau akibat terwujudnya bangunan syari’ah yang benar yang dilandasi oleh fondasi aqidah yang kokoh. Tanpa aqidah dan syari’ah, mustahil akan terwujud akhlak (karakter) yang sebenarnya.

      Dalam perspektif Islam, karakter atau akhlak mulia merupakan buah yang dihasilkan dari proses penerapan syariah (ibadah dan muamalah) yang dilandasi oleh fondasi aqidah yang kokoh. Ibarat bangunan, karakter/akhlak merupakan kesempurnaan dari bangunan tersebut setelah fondasi dan bangunannya kuat. Jadi, tidak mungkin karakter mulia akan terwujud pada diri seseorang jika ia tidak memiliki aqidah dan syariah yang benar.

      Seorang Muslim yang memiliki aqidah atau iman yang benar pasti akan terwujud pada sikap dan perilaku sehari-hari yang didasari oleh imannya. Sebagai contoh, orang yang memiliki iman yang benar kepada Allah ia akan selalu mengikuti seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-larangan-Nya. Dengan demikian, ia akan selalu berbuat yang baik dan menjauhi hal-hal yang dilarang (buruk). Iman kepada yang lain (malaikat, kitab, dan seterusnya) akan menjadikan sikap dan perilakunya terarah dan terkendali, sehingga akan mewujudkan akhlak atau karakter mulia.

      Hal yang sama juga terjadi dalam hal pelaksanaan syariah. Semua ketentuan syariah Islam bermuara pada terwujudnya akhlak atau karakter mulia. Seorang yang melaksanakan shalat yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, misalnya, pastilah akan membawanya untuk selalu berbuat yang benar dan terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Hal ini dipertegas oleh Allah dalam al-Quran (QS. al-Ankabut [29]: 45). Demikianlah hikmah pelaksanaan syariah dalam hal shalat yang juga terjadi pada ketentuan-ketentuan syariah lainnya seperti zakat, puasa, haji, dan lainnya. Hal yang sama juga terjadi dalam pelaksanaan muamalah, seperti perkawinan, perekonomian, pemerintahan, dan lain sebagainya. Kepatuhan akan aturan muamalah akan membawa pada sikap dan perilaku seseorang yang mulia dalam segala aspek kehidupannya.

 

  • CONTOH SOAL AKIDAH

 

Pilihlah jawaban yang paling benar (A, B, C, atau D) dari soal-soal berikut!

 

  1. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (237) : وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Seorang muslim tidak hanya diwajibkan beriman tapi juga harus berakhlak mulia. Banyak jenis akhlak mulia yang harus dimiliki dan ditunjukkan oleh seorang muslim salah satunya adalah sifat memaafkan. Kandungan ayat di atas, sifat memaafkan dikaitkan dengan sifat ketakwaan berarti …

       A. Memaafkan harus dilandasi ketakwaan

       B. Memaafkan adalah syarat untuk bertakwa

       C. Memaafkan berarti takwa kepada Tuhan

       D. Memaafkan sangat dekat dengan nilai-nilai ketakwaan

        Jawaban:  D

Pokok pembahasan adalah akhlak mulia yaitu memaafkan. Sebagai seorang muslim wajib meneladani sifa-sifat Allah pada Asmaul Husna yaitu Ya Gaffar

  1. Seorang teman mahasiswa dikabarkan gemar keluar malam dengan sesama mahasiswa. Mereka seringkali meninggalkan tempat tinggal menjelang maghrib dan baru pulang menjelang subuh. Konon mereka tidak salat, tidak puasa, dan gemar meminum minuman keras serta bergaul dengan pemuda-pemuda nakal. Perilaku mereka disebut Akhlaq Mazmumah dan dilarang dalam Islam karena dapat membahayakan diri. Hal itu sesuai dengan salah satu ayat (terjemahan) berikut ini:

     A. “Sesungguhnya kami (Allah) jadikan malam untuk istirhat dan siang untuk bekerja”

       B. “Dan janganlah engkau lempar dirimu dalam kehancuran”

       C. “Dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat”

      D. “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan rasa sombong dan congkak”

       Jawaban: B

Pokok bahasan adalah akhlak tercela yaitu merusak diri sendiri sebagaimana dikemukakan dalam  Quran Surat  Al Baqarah 195.

Soal ini  membahas bab  menghindari Akhlak Tercela

  1. Kerusakan lingkungan di berbagai belahan dunia sudah sedemikian meresahkan. Berbagai Negara turut merasakan dampak negatif dari kerusakan ini mulai dari bencana banjir, angin topan, hingga perubahan iklim dan cuaca.

Perbuatan merusak lingkungan bertentangan dengan ayat …

         A     

          B. 

          C. 

          D.   

          Jawaban : D

Merusak lingkungan adalah perbuatan tidak terpuji yang berdampak negative pada diri sendiri maupun lingkungan

  • Soal  ini membahas bab menghindari akhlak tercela
  1. Di beberapa tempat di Negara kita, masih sering terjadi perselisihan dan pertengkaran antar sesama. Kadang pertengkaran itu terjadi karena faktor kesukuan, ekonomi, sosial bahkan agama. Dalam islam, pertengkaran itu dilarang. Islam adalah agama Rahmtan lil Alamin adalah …

  A. Menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan di tengah masyarakat

    B. Mendorong toleransi dan kesepahaman antar sesama umat beragama

    C. Mendukung terciptanya masyarakat madani dalam sebuah bangsa

   D. Mengusung dan mengajarkan nilai-nilai kasih sayang bagi seru sekalian alam

      Jawaban: D

Rahmatan lil alamin adalah menebar kasih sayang untuk seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan suku agama dan ras.

  • Soal ini membahas Bab Menghindari akhlak tercela (diskriminasi)
  1. Perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah suatu hal yang biasa dalam Islam bahkan dihargai. Sejarah ummat Islam yang panjang sarat dengan ikhtilaf. Dalam sebuah hadits, Ikhtilaf umat adalah sebagai rahmat, karena …

              A. Dapat mendorong perkembangan ilmu

              B. Mempersempit sikap dan cara berpikir

              C. Membuat manusia lebih dinamis dalam kehidupannya

              D. Mempercepat proses dakwah

                   Jawaban : A

Ikhtilaf merupakan perbedaan pandangan pada hal-hal yang tidak prinsip adalah diperbolehkan. Hal ini menjadi rahmat karena menimbulkan berbagai pandangan dan beragam pemikiran.

  • Soal ini membahas bab memahami induk-induk  akhlak terpuji
  1. Umar bin Abdul Azis adalah seorang khalifah yang sangat sederhana. Ia menjadi contoh bagi banyak orang yang mendambakan sosok pemimpin ideal. Dalam bahasa agama, pemimpin harus menjadi Uswah Hasanah atau contoh yang baik bagi yang lain salah satunya melalui sikap sederhana. Jika Anda seorang da’i dan sedang bicara mengenai kepemimpinan, hadits mana yang akan Anda gunakan …

             A.   

             B. 

             C.   

             D.   

Jawaban: C

Uswatun hasanah adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas akhlak. Setiap orang/pemimpin penting untuk meningkatkan kualitas akhlak. 

  • Soal   ini membahas bab  menjadi hamba Allah yang berakhlak
  1. Beberapa kecelakaan tragis terjadi karena pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas. Menaati aturan dalam berkendaraan merupakan kewajiban kita semua agar selamat dari kecelakaan tersebut. Dalam agama, menaati aturan dan rambu-rambu termasuk dalam ranah …

            A. Syariat

            B. Hakekat

            C. Tarekat

            D. Makrifat

              Jawaban: A

Syariat adalah Norma keagamaan yang mengajarkan akhlak kepada manusia dengan mengambil tuntunan Al Quran dan Hadits sebagai rambu-rambunya.

  • Soal  ini membahas menjadi hamba Allah yang berakhlak
  1. Tidak sedikit anak muda yang enggan mendengarkan nasihat orang tua atau menuruti perintahnya. Kenakalan remaja berupa tawuran bisa jadi marak karena mereka tidak lagi patuh kepada orang tua. Al-Qur’an tegas memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada orang tua. Dalam Islam berbuat baik kepada orang tua disebut …

           A. Al-birru wa al-takwa

           B. Al-barru wa al-bahru

           C. Al-abrar

           D. Birr al-walidain

        Jawaban : D

Birrul walidain adalah berbuat baik terhadap orangtua.  Orang tua adalah dua sosok yang banyak mencurahkan kasih sayangnya sejak kita belum lahir dalam kandungan hingga kita dewasa dan mandiri. Bahkan tidak jarang pula sampai dewasapun kita juga tetap membutuhkan mereka untuk membimbing kita.

  • Soal  ini membahas  bab Ayo Kita Hormati Orangtua dan Guru Kita
  1. Narkoba telah mengancam kehidupan bangsa kita. Tidak sedikit anak-anak muda usia produktif yang kehilangan masa depan karena ketergantungannya pada obat terlarang ini. Jika bahaya narkoba tidak segera dihentikan, bukan mustahil bangsa kita akan lumpuh dan hancur. Al-Qur’an melarang mendekati shalat bagi pemabuk akibat narkoba, sebagaimana firman Allah …

           A.   

           B.     

           C.   

           D. 

            Jawaban : D

Sholat harus dilakukan dalam keadaan sadar dan bersuci. Orang yang sedang mabuk dilarang mendekati sholat hingga dia sadar.

  • Soal   ini membahas bab menghindari akhlak tercela
  1. Munculnya kelompok Negara Islam di Suriah dan Irak (ISIS) menjadi isu tersendiri di hampir seluruh pelosok dunia. Kelompok ini mengusung ideologi yang radikal. Secara mendasar, ideologi kelompok ini tidak sejalan dengan ajaran Islam yang mengedepankan moderasi. Makna “moderasi” di antara nya adalah …

     A. Memaknai ulang hukum dan norma agama agar sesuai dengan pola dan gaya kehidupan modern

      B. Mendorong ilmu pengetahuan agar dapat mengikuti kemajuan zaman modern

     C. Membiarkan tradisi dan budaya Barat modern untuk masuk ke dalam masyarakat muslim

     D. Menyajikan “pandangan tengah” yang damai dan teduh, tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri

          Jawaban: D

Moderasi merupakan pemikiran yang lurus pada ajaran Islam yang Kaffah, tidak ke golongan kiri ataupun golongan kanan.

  • Soal ini membahas bab Memahami Aqidah Islam.

 

AKHLAK

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                                       AKHLAK

   A. PENGERTIAN AKHLAK

Akhlak Karimah (mahmudah) adalah segala tingkah laku yang terpuji (yang baik) yang biasa juga dinamakan “fadilah” (kelebihan). Akhlak mahmudah yang dimiliki seseorang misalnya jujur, bersikap baik terhadap tetangga dan tamu itu di nyatakan sebagai gerak jiwa dan gambaran batin seseorang secara tidak langsung menjadi akhlaknya. Jujur adalah tanda keimanan dan kesucian jiwa. Kejujuran akan membawa kepada kemaslahatan jiwa dan harta. Dengan jujur menunjukan sifat dan moral pemiliknya. Kita hidup bermasyarakat dan bertetangga maka kita harus bisa menjaga tali silaturahmi, bertamu contohnya dengan bertamu kita bisa dikatakan telah menjalin silaturahmi. Seperti sabda Rasulullah yang telah dijelaskan di atas ketika kita beriman kepada Allah dan hari kiamat janganlah menyakiti tetangga. Dengan begitu kita sebagai umat muslim harus bisa terutama bersifat jujur dan baik hati, serta dalam bermasyarakat kita harus menjaga perasaan satu sama lain. Dengan begitu insyaallah hidup kita akan lebih bermanfaat baik di dunia dan akhirat.

Akhlak menyentuh berbagai aspek kehidupan, menyentuh hubungan bersifat vertikal kepada Allah dan horizontal sesama manusia. Maka ruang lingkup akhlak mencakup akhlak dalam kehidupan perorangan, berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara bahkan akhlak dalam kehidupan beragama. Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orangtua pada anaknya. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang sangat penting sesudah keluarga. Dengan akhlak, guru akan mendidik dan mengajar dengan kasih sayang dan perhatian yang maksimal kepada siswa. Dengan akhlak yang baik siswa akan menghargai dan menghormati guru baik di kelas maupun di luar kelas.

   B. MENGHINDARI AHKLAK TERCELA

  1. Mabuk-mabukan

   a).Pengertian perilaku mabuk-mabukan.

Perilaku mabuk-mabukan dapat dimengerti sebagai kegiatan menonsumsi minuman keras sehingga melalaikan tanggung jawab kemanusiaan sebagai wakil Allah di bumi. Dalam pandangan Islam tindakan di atas diistilahkan dengan khamr yang secara kebahasaan berarti menghalangi, menutupi. Dinamakan demikian karena menyelubungi dan menghalangi akal. Arti lain dari kata khamr adalah minuman yang memabuk kan. Disebut khamr karena minuman keras memunyai pengaruh negatif yang dapat menutup Akidah Akhlak  atau melenyap kan akal pikiran. Dengan demikian dapat dikatakan perilaku mabuk-mabukan diakibatkan oleh khamr yang berarti minuman keras.

   b).Jenis minuman yang memabukkan.

Beberapa jenis minuman yang mengandung alkohol tingkat tinggi dan disinyalir sebagai mempunyai dampak buruk bagi akal dan kriminalitas di masyarakat, antara lain: Bir, Brendy, dan Vodka.

   c). Nilai negatif perilaku mabuk-mabukan

  • Melanggar larangan agama
  • Terlarang melaksanakan ibadah
  • Menghias diri dengan kekotoran dan kekejian
  • Menimbulkan Gangguan Mental Organik
  • Menimbulkan kejahatan di masyarakat

   d). Menghindari perilaku mabuk-mabukan

  • Meningkatkan ketaatan dengan ibadah dan amal saleh
  • Meningkatkan kualitas ahlak
  • Meningkatkan wawasan keilmuan dan kreatiϐitas diri
  • Menghindar dari lingkungan yang tidak baik
  1. Judi

   a). Pengertian perilaku judi.

Dalam Ensiklopedia Indonesia judi diartikan sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya. Pengertian judi yang dalam bahasa syar’i disebut maysir yakni transaksi yang dilakukan oleh dua belah untuk pemilikan suatu barang atau jasa yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain dengan cara mengaitkan transaksi tersebut dengan suatu aksi atau peristiwa.

   b). Unsur-unsur judi :

    • Permainan
    • Untung-untungan.
    • Ada taruhan

  c). Bentuk-bentuk perilaku judi Dalam PP No. 9 tahun 1981 tentang Pelaksanaan Penertiban Perjudian, perjudian dikategorikan menjadi tiga.

  1. Perjudian di kasino yang terdiri dari Roulette, Blackjack, Baccarat, Creps, Keno, Tombola, Super Ping-pong, Lotto Fair, Satan, Paykyu, Slot Machine (jackpot), Ji Si Kie, Big Six Wheel, Chuc a Luck, Pachinko, Poker, Twenty One, Hwa Hwe serta Kiu-Kiu.
  2. Perjudian di tempat keramaian yang terdiri dari lempar paser/ bulu ayam pada sasaran atau papan yang berputar (paseran), lempar gelang, lempar uang (coin), kim, pancingan, menembak sasaran yang tidak berputar, lempar bola, adu ayam, adu sapi, adu kerbau, adu domba/kambing, pacu kuda, karapan sapi, pacu anjing, kailai, mayong/macak dan erek-erek.
  3. Perjudian yang dikaitkan dengan kebiasaan yang terdiri dari adu ayam, adu sapi, adu kerbau, pacu kuda, karapan sapi, adu domba/kambing.

   d). Nilai negatif perilaku judi

  • Judi perbuatan di atas dengan rijs yang berarti kotoran manusia , bau busuk dan menjijikkan.
  • Judi adalah perbuatan setan
  • Judi adalah cara perolehan harta secara spekulatif
  • Merusak ukhuwwah di antara muslim dengan timbulnya permusuhan dan kebencian sesama mereka lantaran perjudian, yang pada gilirannya akan menghilangkan iman dari dada mereka, karena kita belum dikatakan beriman sebelum saling mencintai dan berukhuwah karena Allah.
  • Sarana syaitaniyyah ini melupakan kita untuk zikrullah dan shalat, padahal ini adalah inti kekuatan, kelezatan dan kebahagiaan ruhani dan jasmani.

   e). Menghindari perilaku judi

  1. Senantiasa beramar ma’ruf nahi mungkar di setiap saat
  2. Pemerintah hendaknya menyosialisasikan dengan jelas ,dan menindak secara tegas para  pelaku perjudian.
  3. Setiap orang berusaha menghindari pergaulan dengan penjudi
  4. Lebih banyak bergaul dengan orang yang jelas-jelas baik
  5. Setiap pelaku perjudian harus sadar perbuatan dengan segera bertobat dan memperbaiki diri dengan amal sholih
  6. Berusaha mencari rizki yang halal dan qona’ah akan pemberian Allah.
  7. Senantiasa beristighfar dan mohon ampunan serta perlindngan dari Allah agar tidak terjerumus perjudian
  8. Senantiasa berjuang untuk menunaikan kewajiban secara istiqomah baik terhadap keluarga, lingkungan dan kepada Pencipta
    1. Hikmah larangan perilaku judi
  9. Orang akan dapat istiqomah menjalankan tanggung jawab yang diemban dalam kaitannya dengan Allah ataupun sesama manusia.
  10. Perekonomian keluarga akan dapat distabilkan dengan berbagai usaha yang nyata-nyata halal dan menghasilkan rizqi yang barokah
  11. Melatih diri untuk sabar dan tenang dalam menghadapi berbagai tipuan dunia d. Mantap dan khusyu’ dalam berdzikir dan beribadah kepada Allah

 

   C. Zina

   a). Pengertian perilaku zina.

      Zina adalah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa nikah yang sah mengikut hukum syara’ (bukan pasangan suamiisteri).    

   b). Macam-macam zina

  • Zina muhshan Zina muhshan adalah zina yang dilakukan oleh orang laki-laki/ perempuan yang pernah melakukan persetubuhan dalam ikatan pernikahan yang sah atau masih dalam ikatan pernikahan dengan orang lain.
  • Hukuman bagi pelaku zina muhshan di dalam hukum Islam adalah rajam. Rajam adalah sanksi hukum berupa pembunuhan terhadap pelaku zina dengan cara menenggelamkan sebagian tubuh yang bersangkutan ke dalam tanah, lalu setiap orang yang lewat diminta melemparinya dengan batu-batu sedang sampai yang bersangkutan meninggal dunia.
  • Zina ghairu muhshan Zina ghairu muhshan adalah zina yang dilakukan oleh orang laki-laki/perempuan yang belum pernah melakukan ikatan pernikahan. Hukumannya adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun, seperti diterangkan Allah dalam QS. An Nur [24]: 2. 3.

   c). Nilai negatif perilaku zina

  • Merusak ikatan keluarga dan masyarakat
  • Merusak identitas keturunan
  • Menimbulkan penyakit
  • Mendapat sanksi 1) Sanksi agama 2) Sanksi sosial 3) Sanksi hukum

   d). Menghindari perilaku zina

  • Baik laki-laki atau wanita diwajibkan menutup auratnya, wanita menutupkan kain kerudung kedadanya dan tidak boleh menampakkan daripadanya perhiasannya kecuali kepada muhrimnya yang biasa nampak daripadanya.
  • Tidak berduaan antara lawan jenis yang bukan muhrim karena pasti pihak ketiganya adalah syaitan
  • Tidak bersentuhan anggota badan baik secara langsung (menyentuh kulit) maupun tidak langsung (menyentuh baju), juga termasuk tidak diperbolehkannya bersalaman antara lawan jenis yang bukan muhrim.
  • Tidak mendatangi tempat-tempat maksiat yang disinyalir akan merangsang sahwat/ birahi yang pada giliranya akan berkeinginan untuk melakukan perilaku zina.
  • Menggunakan sarana informasi sebagai tempat untuk mengembangkan wawasan keilmuan. Misalnya, para pengguna internet seharusnya menghindari untuk mengunjungi situs yang menyediakan konten sex bebas, prostitusi dan sebaginya.

   e). Hikmah larangan perilaku zina

  • Setiap perbuatan yang dinilai buruk oleh Al Qur’an pasti membawa akibat bagi manusia, baik menyangkut pribadi maupun masyarakat.
  • Zina merupakan perbuatan yang sangat terlarang karena oleh karenya setiap muslim hendaknya menghindari dan menjauhinya.
  • Tuduhan yang berkaitan dengan masalah zina hendaknya dilakukan secara hatihati dengan melibatkan saksi yang dapat dipercaya sehingga tuduhan tersebut tidak mengakibatkan keburukan terhadap tertuduh, karena jika tidak terbukti yang menuduh akan mendapat sanksi yang sama dengan apa yang dituduhkan tersebut.

   f). Sanksi berat yang diterapkan terhadap pelaku zina bertujuan:

  1. Terbebasnya masyarakat dari kekacauan keturunan/nasab, karena berakibat terhadap penerapan hukum islam yang lain.
  2. Membebaskan pelaku dari dosa yang telah dilakukan.
  3. Menjaga ketertiban hukum dalam masyarakat.
  4. Memberi efek jera bagi pelaku.
  5. Menghindarkan diri dari perilaku yang dilarang oleh Allah.

 

   D. Mencuri/Korupsi

   a). Pengertian perilaku mencuri.

 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mencuri diartikan sebagai mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi. Termasuk dalam kategori mencuriadalah melakukan korupsi.

   b). Nilai negatif perilaku mencuri

  1. Bahaya bagi si pelaku pencurian
  • Ketidak tenangan dalam hidup, kekhawatiran serta ketakutan karena selalu dibayang-bayangi oleh dosanya, atau minimal khawatir tertangkap.
  • Akan semakin jauh dari petunjuk Allah swt, karena setiap dosa yang dilakukan akan membekas di hatinya dan bila ia tidak menghentikan maka akan semakin terjerumus pada pelanggaran lainnya.
  • Ditolak semua amal ibadahnya, karena Allah swt tidak menerima amal seseorang yang isi perutnya serta pakaiannya berasal dari barang haram.

    2. Bahaya terhadap masyarakat

  • Menimbulkan keresahan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
  • Ketenangan dan kebahagiaan hidup masyarakat sangat terganggu karena adanya ancaman pencurian dan perampokan bahkan pembunuhan.

   3. Hikmah larangan perilaku mencuri

  • Seseorang tidak mudah dengan begitu saja mengambil barang milik orang lain, karena berakibat buruk bagi dirinya. Sanksi moral bagi dirinya adalah rasa malu, sedangkan sanksi yang merupakan hak adam adalah Hak milik seseorang benar-benar dilindungi oleh hukum Islam. Karunia Allah tidak terbatas bilangannya akan tetapi apabila seseorang telah memilikinya dengan cara perolehan yang halal, maka haknya dilindungi.
  • Menghindari sifat malas yang cenderung memperbanyak pengangguran. Mencuri adalah cara singkat untuk memperoleh sesuatu dan memilikinya secara tidak sah. Perbuatan seperti ini disamping tidak terpuji karena membuat orang lain tidak aman, juga cenderung pada sikap malas tidak mau berjuang. Sifat ini bertentangan dengan ajaran Islam.
  • Pencuri menjadi jera dan terdorong untuk mencari rizki secara halal. Memperoleh rizki dan karunia Allah merupakan kebutuhan setiap manusia. Akan tetapi cara memperolehnya itu diatur oleh syariat sehingga keamanan dan ketentraman bathin setiap orang terpelihara pencurian dilarang, sedangkan usaha lain seperti berdagang dan pertanian diperintahkan.

. E.  Mengkonsumsi Narkoba

   a). Pengertian perilaku mengkonsumsi narkoba.

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya. Menurut UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika, pengertian Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Dan bahan adiktif Akidah Akhlak Kurikulum 2013 43 lainnya adalah zat atau bahan lain bukan narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak dan dapat menimbulkan ketergantungan.

   b). Jenis-jenis narkoba.

Heroin Ganja Ekstasi Sabu-Sabu Amfetamin Inhalen 3. Nilai negatif perilaku mengkonsumsi narkoba Narkoba memiliki 3 sifat jahat yang dapat membelenggu pemakainya untuk menjadi budak setia. Sehingga tidak dapat meninggalkannya, selalu membutuhkannya dan mencintainya melebihi siapapun. tiga sifat khas yang sangat berbahaya:

  • Habitualis adalah sifat pada narkoba yang membuat pemakainya akan selalu teringat, terkenang dan terbayang sehingga cenderung untuk mencari dan rindu. sifat ini lah yang membuat pemakai narkoba yang sudah sembuh dapat kambuh kembali.
  • Adiktif adalah sikap yang membuat pemakainya terpaksa memakai terus dan tidak dapat menghentikan, penghentian atau pengurangan pemakaian narkoba akan menimbulkan efek putus zat yaitu perasaan sakit yang luar biasa.
  • Dengan narkoba dan menyesuaikan diri dengan narkoba itu sehingga menuntut dosis yang lebih tinggi. Bila dosis tidak dinaikkan narkoba itu tidak akan bereaksi, tetapi malah membuat pemakainya mengalami sakaw (badan gemetaran, keringat dingin mengucur, sekujur tubuh mengejang).

   3). Dampak Negatif Narkoba

Bagi pemakai dampak yang ditimbulkan terbagi atas 3 :

  • Dampak psikis
  1. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
  2. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
  3. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
  4. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
  • Dampak sosial
  1. Gangguan mental, anti sosial, dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
  2. Merepotkan dan menjadi beban keluarga
  3. Pendidikan terganggu masa depan suram
  • Dampak fisik
  1. Gangguan pada sistem syaraf : kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran
  2. Gangguan pada jantung dan pembulu darah: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah
  3. Gangguan pada kulit : penanahan, alergi
  4. Gangguan pada paru-paru : penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernapas, pengerasan jaringan paru.
  5. Sering sakit kepala, mual dan muntah, pengecilan hati dan sulit tidur.
  6. Akan berakibat fatal apabila terjadi Over Dosis yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya. Over Dosis dapat menyebabkan kematian

   4). Menghindari perilaku mengkonsumsi narkoba

    • Kuatkan iman dan ketakwaan kapada Tuhan yang Maha Esa
    • Dapatkan dahulu informasi mengenai ketegantungan tentang bahaya narkoba kepada ahlinya atau melalui media seperti koran, majalah, seminar- seminar dan lain-lain.
    • Persiapan diri untuk menolak apabila ditawari.
    • Belajar berkata tidak untuk narkoba.
    • Memiliki cita-cita dalam hidup untuk masa depan.

   5). Penanggulangan perilaku mengkonsumsi narkoba

  • Promotif ( pembinaan) Ditujukan kepada masyarakat yang belum mengunakan narkoba.
  • Preventif (program pencegahan) Program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang belum mengenal narkoba agar mengetahui seluk beluk narkoba.
  • Kuratif (pengobatan) Ditujukan kepada para penguna narkoba. tujuannya adalah untuk mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit.
  • Rehabilitatif Upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada pemakai narkoba yang sudah menjalanin program kuratif. Tujuanya agar ia tidak memakai lagi dan bebas dari penyakit ikutan yang disebabkan oleh bekas pemakai narkoba.
  • Represif Program penindakan terhadap produsen, bandar, pengedar, dan pemakai berdasarkan hukum.

   6). Hikmah larangan perilaku mengkonsumsi narkoba

  • Masyarakat terhindar dari kejahatan yang dilakukan seseorang yang diakibatkan pengaruh narkotika.
  • Menjaga kesehatan jasmani dan rohani dari penyakit yang disebabkan pengaruh nakotika.
  • Masyarakat terhindar dari sikap kebencian dan permusuhan akibat pengaruh nakotika.
  • Menjaga hati agar tetap taqorrub kepada Allah dan mengerjakan sholat sehingga selalu memperoleh cahaya hikmat.

   C. MEMBIASAKAN AHKLAK TERPUJI

   a). Akhlak Berpakaian

  • Pengertian Pakaian Pakaian.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah barang apa yang dipakai (baju, celana dan sebagainya). Istilah pakaian kemudian dipersamakan dengan busana. Istilah busana berasal dari bahasa sanskerta yaitu bhusana yang mempunyai konotasi pakaian yang bagus atau indah yaitu pakaian yang serasi, harmonis, selaras, enak di pandang, nyaman melihatnya, cocok dengan pemakai serta sesuai dengan kesempatan. Pakaian merupakan busana pokok yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian tubuh.

   b). Fungsi Pakaian

  • Penutup Aurat Kata ‘aurat, terambil dari kata ‘ar yang berarti onar, aib, tercela. Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk. Dalam konteks hukum agama, aurat dipahami sebagai anggota badan tertentu yang tidak boleh dilihat kecuali oleh orang-orang tertentu.
  • Perhiasan Sebagian pakar menjelaskan bahwa sesuatu yang elok adalah yang menghasilkan kebebasan dan keserasian. Berhias adalah naluri manusia. Seorang sahabat Nabi pernah bertanya kepada Nabi, “Seseorang yang senang pakaiannya indah dan alas kakinya indah (Apakah termasuk keangkuhan?)” Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allah indah, senang kepada keindahan, keangkuhan adalah menolak kebenaran dan menghina orang lain.
  • Melindungi dari Bencana Ditemukan dalam Al Qur’an ayat yang menjelaskan fungsi pakaian, yakni fungsi pemeliharaan terhadap bencana, dan dari sengatan panas dan dingin, QS. An Nahl [16]: 81. d. Penunjuk Identitas Identitas/ kepribadian sesuatu adalah yang menggambarkan eksistensinya sekaligus membedakannya dari yang lain.

   c).Batas Aurat

  • Batas Aurat Laki-laki Imam Malik, Syaϐi’i, dan Abu Hanifah berpendapat bahwa lelaki wajib menutup seluruh badannya dari pusar hingga lututnya, meskipun ada juga yang berpendapat bahwa yang wajib ditutup dari anggota tubuh lelaki hanya yang terdapat antara pusat dan lutut yaitu alat kelamin dan pantat.
  • Batas Aurat Perempuan Menurut sebagian besar ulama berkewajiban menutup seluruh angggota tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya, sedangkan Abu Hanifah sedikit lebih longgar, karena menambahkan bahwa selain muka dan telapak tangan, kaki wanita juga boleh terbuka. Tetapi Abu Bakar bin Abdurrahman dan Imam Ahmad berpendapat bahwa seluruh anggota badan perempuan harus ditutup.

   d). Adab Berpakaian

  • Disunnatkan memakai pakaian baru, bagus dan bersih.
  • Rasulullah bersabda kepada salah seorang shahabatnya di saat beliau melihatnya Akidah Akhlak Kurikulum 2013 59 mengenakan pakaian jelek: “Apabila Allah mengaruniakan kepadamu harta, maka tampakkanlah bekas ni`mat dan kemurahan-Nya itu pada dirimu. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Albani).
  • Pakaian harus menutup aurat, yaitu longgar tidak membentuk lekuk tubuh dan tebal tidak memperlihatkan apa yang ada di baliknya.
  • Pakaian laki-laki tidak boleh menyerupai pakaian perempuan atau sebaliknya. Pakaian tidak merupakan pakaian untuk ketenaran
  • Pakaian tidak boleh ada gambar makhluk yang bernyawa atau gambar salib.
  • Pakaian laki-laki tidak boleh panjang melebihi kedua mata kaki g. Disunnatkan mendahulukan bagian yang kanan di dalam berpakaian atau lainnya
  • Disunnatkan berdo’a ketika mengenakan pakaian baru
  • Disunnatkan memakai pakaian berwarna putih

Membiasakan Akhlak Berpakaian Islam memiliki etika berbusana yang telah diatur oleh Allah SWT didalam AlQur’an dan Hadis. Didalam Islam, kita sebagai umat Allah tidak diperbolehkan memakai pakaian yang melanggar aturan Islam, tetap harus mengikuti aturan tersebut. Jika kita melanggar, dan tidak mau mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Allah, maka sama saja kita orang munaϐiq. Busana Muslimah haruslah mempunyai kriteria sebagai berikut:

  1. Tidak jarang dan Ketat
  2. Tidak menyerupai laki-laki
  3. Tidak menyerupai busana khusus non-muslim
  4. Pantas dan sederhana

   e). Hikmah Akhlak Berpakaian

  1. Menjaga Identitas Muslim
  2. Menjaga Kebersihan dan Kesehatan
  • Akhlak Berhias

Pengertian Berhias Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berhias diartikan sebagai usaha memperelok diri dengan pakaian ataupun lainnya yang indah, berdandan dengan dandanan yang indah dan menarik.

Macam-macam Berhias Dalam Islam diperintahkan untuk berhias yang baik, Dalam Islam diperintahkan untuk berhias yang baik, bagus, dan indah sesuai dengan kemampuan masing-masing.

  • Tatto Rasulullah bersabda: “Allah melaknat (mengutuk) wanita pemasang tato dan yang minta ditatoi, wanita yang menipiskan bulu alisnya dan yang meminta ditipiskan dan wanita yang meruncingkan giginya supaya kelihatan cantik, (mereka) mengubah ciptaan Allah”. Dan di dalam riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya”. (Muttafaq’Alaih).
  • Menyambung Rambut Berhias dengan menyambung rambut dinamakan Nabi sebagai suatu bentuk kepalsuan, supaya tampak anggun dan lain senagainya. Karena itu terlarang bagi kaum wanita, dan dianggap sebagai tipu muslihat.

 

  • Ahlak Berhias Jika kita ingin berhias terdapat rambu-rambu, agar tidak melanggar Syari’at yang sudah ditetapkan oleh Allah:

1) Niat yang lurus, berhias hanya untuk beribadah yang diorientasikan sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

2) Dalam berhias tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan yang dilarang agama

3) Tidak boleh menggunakan hiasan yang menggunakan simbol non muslim

4) Tidak berlebih-lebihan

5) Tidak Boleh berhias seperti orang jahiliah

6) Berhias menurut kelaziman dan kepatutan dengan memperhatikan jenis kelamin

7) Berhias bukan untuk berfoya-foya

  • Hikmah Ahlak Berhias Berhias dapat menunjukkan kepribadian kita tanpa meninggalkan syari’at islam. Berhias memberikan pengaruh positif dalam berbagai aspek kehidupan, karena  berhias diniatkan untuk beribadah, maka perbuatan itu pasti direstui Allah. Namun sebaliknya apabila berhias hanya untuk menarik perhatian orang lain untuk tergoda dan memuji muji kita agar kita senang sendiri, maka itu menjadi alat yang sesat. Lupa akan Allah, dan hanya ingin dijadikan alat pemuas diri kita. Maka yang demikian itu adalah haram.
  1. Akhlak Bertamu

   a). Pengertian

Bertamu adalah berkunjung ke rumah orang lain dalam rangka mempererat silahturrahim.

   b). Etika Bertamu

  • Meminta izin masuk maksimal sebanyak tiga kali
  • Berpakaian yang rapi dan pantas
  • Memberi isyarat dan salam ketika datang
  • Jangan mengintip ke dalam rumah
  • Memperkenalkan diri sebelum masuk
  • Tamu lelaki yang bukan mahram dilarang masuk ke dalam rumah apabila tuan rumah hanya seorang wanita
  • Masuk dan duduk dengan sopan
  • Menerima jamuan tuan rumah dengan senang hati

   c). Membiasakan akhlak bertamu Bertamu merupakan kebiaaan positif dalam kehidupan bermasyarakat dari zaman tradisional sampai zaman modern. Dengan melestarikan kebiasaan kunjung mengunjungi, maka segala persoalan mudah dilestarikan, segala urusan mudah dibereskan dan segala masalah mudah diatasi.

   d). Hikmah akhlak bertamu

  • Bertamu secara baik dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap orang lain dan menjauhkan sikap pakaian, tekanan, dan intimidasi. Islam tidak mengenal tindakan kekerasan. Bukan saja dalam usaha meyakinkan orang lain terhadap tujuan dan maksud baik kedatangan, tetapi juga dalam tindak laku dan pergaulan dengan sesama manuia harus terhindar cara-cara pakaan dan kekerasan.
  • Dengan bertamu seorang akan mempertemukan persamaan ataupun kesesuaian sehingga akan terjalin persahabatan dan kerjasama dalam menjalin kehidupan. Dengan bertamu, seorang akan melakukan diskusi yang baik, sikap yang sportif, dan elegan terhadap sesamanya

   d). Akhlak Menerima Tamu

  • Pengertian Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, menerima tamu (ketamuan) diartikan; kedatangan orang yang bertamu, melawat atau berkunjung. Secara istilah menerima tamu dimaknai menyambut tamu dengan berbagai cara penyambutan yang lazim (wajar) dilakukan menurut adat ataupun agama dengan meksud yang menyenangkan atau memuliakan tamu, atas dasar keyakinan untuk mendapatkan rahmat dan rida dari Allah.
  • Etika menerima tamu
    1. Berpakaian yang pantas
    2. Menerima tamu dengan sikap yang baik
    3. Menjamu tamu sesuai kemampuan dan tidak perlu mengada-adakan
    4. Waktu bertamu tidak terlalu lama.
    5. Antarkan sampai ke pintu halaman jika tamu pulang
    6. Wanita yang sendirian di rumah dilarang menerima tamu laki-laki masuk ke dalam rumahnya tanpa izin suaminya

3) Membiasakan berakhlak menerima tamu Setiap muslim wajib memuliakan tamu, tanpa membeda-bedakan status sosial ataupun maksud dan tujuan bertamu.

4)  Hikmah berakhlak menerima tamu

  1. Setiap muslim telah diikat oleh suatu tata aturan supaya hidup bertetangga dan bersahabat dengan orang lain, sekalipun berbeda agama atau suku. hak mereka tidak boleh dikurangi dan tidak boleh dilanggar undang-undang perjanjian yang mengikat di antara sesame manusia.
  2. Menerima tamu sebagai perwujudan keimanan, artinya semakin kuat iman seseorang, maka semakin ramah dan antun dalam menyambut tamunya karena orang yang beriman meyakini bahwa menyambut tamu bagian dari perintah Allah.

C. MENELADANI KISAH FATIMATUZZAHRO DAN UWAIS AL-QARNI

  1. Fatimatuzzahrah

   A. Riwayat hidup singkat Fatimatuzzahra adalah putri Nabi Muhammad Saw dan Khadijah. Fatimah dilahirkan di Makkah pada tanggal 20 Jumadil Akhir, 18 tahun sebelum Nabi Saw. hjirah (tahun ke-5 dari kerasulan). Dia adalah putri bungsu Rasulullah Saw. setelah berturut-turut Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kulsum. Saudara laki-lakinya yang tertua, Qasim dan Abdullah, meninggal dunia pada usia muda.

   B. Teladan yang bisa diambil Kehidupan rumah tangga Fatimah sangatlah sederhana. Bahkan sering juga kekurangan, sehingga beberapa kali harus menggadaikan berang-barang keperluan rumah tangga mereka untuk membeli makanan. Fatimah adalah seorang wanita yang agung, seorang ahli hukum Islam. Dari Fatimah inilah banyak diriwayatkan hadis Nabi Saw. Dialah tokoh perempuan dalam bidang kemasyarakatan. Orangnya sangat sabar dan bersahaja, akhlaknya sangat mulia.

  1. Uwais al-Qarni

   A. Riwayat hidup singkat Uwais al-Qarni adalah salah seorang penduduk Yaman, daerah Qarn dari kabilah Murad. Ayahnya sudah tiada dan dia hidup bersama ibunya dan sangat berbakti kepadanya. Uwais al-Qarni pernah mengidap penyakit kusta, lau berdoa kepada Allah swt lalu diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Menurut keterangan, Nabi Muhammad saw mengataka bahwa Uwais al-Qarni adalah pemimpin para tabi’in.

   B.Teladan yang bisa diambil Uwais al-Qarni sosok pribadi yang sangat sederhana. Hidupnya tidak bergelimang engan harta. Ujian hidup yang dialami diterima dengan ikhlas dengan tetap tidak meninggalkan usaha dan kerja keras untuk keluar dari ujian itu. Termasuk ketika diuji penyakit kusta oleh Allah swt. Uwais al-Qarni juga ϐigur yang sangat hormat dan taat kepada ibunya. Sebagian hidupnya digunakan untuk merawat dan mendampingi ibu yang sangat disayangi.

CONTOH SOAL AKHLAK:

  1. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (237) : وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Seorang muslim tidak hanya diwajibkan beriman tapi juga harus berakhlak mulia. Banyak jenis akhlak mulia yang harus dimiliki dan ditunjukkan oleh seorang muslim salah satunya adalah sifat memaafkan. Kandungan ayat di atas, sifat memaafkan dikaitkan dengan sifat ketakwaan berarti …

       A. Memaafkan harus dilandasi ketakwaan

       B. Memaafkan adalah syarat untuk bertakwa

       C. Memaafkan berarti takwa kepada Tuhan

       D. Memaafkan sangat dekat dengan nilai-nilai ketakwaan

    Jawaban:  D

Pokok pembahasan adalah akhlak mulia yaitu memaafkan. Sebagai seorang muslim wajib meneladani sifa-sifat Allah pada Asmaul Husna yaitu Ya Gaffar

  • Soal  membahas  bab menjadi hamba Allah yang berakhlak

 

  1. Seorang teman mahasiswa dikabarkan gemar keluar malam dengan sesama mahasiswa. Mereka seringkali meninggalkan tempat tinggal menjelang maghrib dan baru pulang menjelang subuh. Konon mereka tidak salat, tidak puasa, dan gemar meminum minuman keras serta bergaul dengan pemuda-pemuda nakal. Perilaku mereka disebut Akhlaq Mazmumah dan dilarang dalam Islam karena dapat membahayakan diri. Hal itu sesuai dengan salah satu ayat (terjemahan) berikut ini:

        A. “Sesungguhnya kami (Allah) jadikan malam untuk istirhat dan siang untuk bekerja”

          B. “Dan janganlah engkau lempar dirimu dalam kehancuran”

          C. “Dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat”

        D. “Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan rasa sombong dan congkak”

     Jawaban: B

Pokok bahasan adalah akhlak tercela yaitu merusak diri sendiri sebagaimana dikemukakan dalam  Quran Surat  Al Baqarah 195.

  • Soal ini  membahas bab  menghindari Akhlak Tercela
  1. Kerusakan lingkungan di berbagai belahan dunia sudah sedemikian meresahkan. Berbagai Negara turut merasakan dampak negatif dari kerusakan ini mulai dari bencana banjir, angin topan, hingga perubahan iklim dan cuaca.

Perbuatan merusak lingkungan bertentangan dengan ayat …

       A.

       B.   

       C. 

       D. 

Jawaban : D

Merusak lingkungan adalah perbuatan tidak terpuji yang berdampak negative pada diri sendiri maupun lingkungan

  • Soal  ini membahas bab menghindari akhlak tercela
  1. Di beberapa tempat di Negara kita, masih sering terjadi perselisihan dan pertengkaran antar sesama. Kadang pertengkaran itu terjadi karena faktor kesukuan, ekonomi, sosial bahkan agama. Dalam islam, pertengkaran itu dilarang. Islam adalah agama Rahmtan lil Alamin adalah …

  A. Menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan di tengah masyarakat

    B. Mendorong toleransi dan kesepahaman antar sesama umat beragama

    C. Mendukung terciptanya masyarakat madani dalam sebuah bangsa

   D. Mengusung dan mengajarkan nilai-nilai kasih sayang bagi seru sekalian alam

       Jawaban: D

Rahmatan lil alamin adalah menebar kasih sayang untuk seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan suku agama dan ras.

  • Soal ini membahas Bab Menghindari akhlak tercela (diskriminasi)

   5. Perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah suatu hal yang biasa dalam Islam bahkan dihargai. Sejarah ummat Islam yang panjang sarat dengan ikhtilaf. Dalam sebuah hadits, Ikhtilaf umat adalah sebagai rahmat, karena …

   A. Dapat mendorong perkembangan ilmu

   B. Mempersempit sikap dan cara berpikir

   C. Membuat manusia lebih dinamis dalam kehidupannya

   D. Mempercepat proses dakwah

        Jawaban : A

Ikhtilaf merupakan perbedaan pandangan pada hal-hal yang tidak prinsip adalah diperbolehkan. Hal ini menjadi rahmat karena menimbulkan berbagai pandangan dan beragam pemikiran.

  • Soal inimembahas bab memahami induk-induk  akhlak terpuji

   6. Umar bin Abdul Azis adalah seorang khalifah yang sangat sederhana. Ia menjadi contoh bagi banyak orang yang mendambakan sosok pemimpin ideal. Dalam bahasa agama, pemimpin harus menjadi Uswah Hasanah atau contoh yang baik bagi yang lain salah satunya melalui sikap sederhana. Jika Anda seorang da’i dan sedang bicara mengenai kepemimpinan, hadits mana yang akan Anda gunakan …

    A. 

    B. 

    C. 

    D. 

        Jawaban: C

Uswatun hasanah adalah salah satu cara untuk meningkatkan kualitas akhlak. Setiap orang/pemimpin penting untuk meningkatkan kualitas akhlak. 

  • Soal   ini membahas bab  menjadi hamba Allah yang berakhlak

   7. Beberapa kecelakaan tragis terjadi karena pelanggaran terhadap rambu-rambu lalu lintas. Menaati aturan dalam berkendaraan merupakan kewajiban kita semua agar selamat dari kecelakaan tersebut. Dalam agama, menaati aturan dan rambu-rambu termasuk dalam ranah …

      A. Syariat

      B. Hakekat

      C. Tarekat

      D. Makrifat

         Jawaban: A

Syariat adalah Norma keagamaan yang mengajarkan akhlak kepada manusia dengan mengambil tuntunan Al Quran dan Hadits sebagai rambu-rambunya.

  • Soal  ini membahas menjadi hamba Allah yang berakhlak

8. Tidak sedikit anak muda yang enggan mendengarkan nasihat orang tua atau menuruti perintahnya. Kenakalan remaja berupa tawuran bisa jadi marak karena mereka tidak lagi patuh kepada orang tua. Al-Qur’an tegas memerintahkan anak untuk berbuat baik kepada orang tua. Dalam Islam berbuat baik kepada orang tua disebut …

       A. Al-birru wa al-takwa

       B. Al-barru wa al-bahru

       C. Al-abrar

       D. Birr al-walidain

        Jawaban : D

Birrul walidain adalah berbuat baik terhadap orangtua.  Orang tua adalah dua sosok yang banyak mencurahkan kasih sayangnya sejak kita belum lahir dalam kandungan hingga kita dewasa dan mandiri. Bahkan tidak jarang pula sampai dewasapun kita juga tetap membutuhkan mereka untuk membimbing kita.

  • Soal  ini membahas  bab Ayo Kita Hormati Orangtua dan Guru Kita

   9. Narkoba telah mengancam kehidupan bangsa kita. Tidak sedikit anak-anak muda usia produktif yang kehilangan masa depan karena ketergantungannya pada obat terlarang ini. Jika bahaya narkoba tidak segera dihentikan, bukan mustahil bangsa kita akan lumpuh dan hancur.

Al-Qur’an melarang mendekati shalat bagi pemabuk akibat narkoba, sebagaimana firman Allah …

         A.

         B.

         C.

         D.

  • Jawaban : D

Sholat harus dilakukan dalam keadaan sadar dan bersuci. Orang yang sedang mabuk dilarang mendekati sholat hingga dia sadar.

  • Soal   ini membahas bab menghindari akhlak tercela

Aqidah

AQIDAH

Akidah dalam istilah Islam yang berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah.

Akaid : beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan (Hasan al-Bana – Majam’ al-Rasail) Akidah : sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fithrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu (Abu Bakar al-Jazairi –Akidah al-Mukmin)

A. PENGERTIAN AKIDAH

Akidah dalam istilah Islam yang berarti iman. Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu akidah.

Dalam bahasa Indonesia kata akhlak dapat diartikan sebagai sikap yang melahirkan perbuatan/tingkah laku.

B. AKHLAK

berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik

asmaulhusna-131101035455-phpapp01-thumbnail-4

C. ASMAUL HUSNA

nama-nama Allah, Tuhan dalam Islam, yang indah dan baik.

Digital Solutions
Boost your Success

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar

Themes
Users
Active Installs

Our Team

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.