DINASTI UMAYYAH

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                                DINASTI UMAYYAH

   A. Latar Belakang Berdirinya Dinasti Bani Umayah

Pengertian kata Bani menurut bahasa berarti anak, anak cucu atau keturunan. Dengan demikian yang dimaksud Bani Umayah adalah anak, anak cucu atau keturunan Bani Umayah bin Abdu Syams dari satu keluarga. Kata Dinasti berarti keturunan raja-raja yang memerintah dan semuanya berasal dari satu keturunan. Dengan demikian, Dinasti Umayah adalah keturunan raja-raja yang memerintah yang berasal dari Bani Umayah.

Adapun istilah lain yang sering digunakan adalah kata Daulah, yang berarti kekuasaan, pemerintahan, atau negara. Dengan kata lain, Daulah Bani Umayah adalah negara yang diperintah oleh Dinasti Umayah yang raja-rajanya berasal dari Bani Umayah.

 Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 41H/661 M di Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/750 M. Muawiyah bin Abu Shofyan adalah seorang politisi handal di mana pengalaman politiknya sebagai Gubernur Syam pada zaman Khalifah Ustman bin Affan cukup mengantarkan dirinya mampu mengambil alih kekusaan dari genggaman keluarga Ali Bin Abi Thalib. Tepatnya setelah Hasan bin Ali menyerahkan kursi kekhalifahan secara resmi kepada Muawiyah bin Abu Sofyan dalam peristiwa Ammul Jama’ah. Peristiwa penyerahan kekuasaan dari Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin Abu Sufyan itu terkenal dengan sebutan Amul Jama’ah atau tahun penyatuan . Peristiwa itu terjadi pada tahun 661 M. Sejak itu, secara resmi pemerintahan Islam dipegang oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Ia kemudian memindahkan pusat kekuasaan dari Madinah ke Damaskus ( Suriah ).

Oleh karena itu Muawiyah bin Abu Sofyan dinyatakan sebagai pendiri Dinasti Bani Umayah. Dilihat dari sejarahnya Bani Umayah memang begitu kental dengan kekuasaannya, terutama pada masa zaman jahiliyah. Dalam setiap persaingan, ternyata Bani Umayah selalu lebih unggul dibandingkan keluarga Bani Hasyim. Hal ini disebabkan Bani Umayah memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Umayah berasal dari keturunan keluarga bangsawan
  2. Umayah memiliki harta yang cukup
  3. Umayah memiliki 10 anak yang terhormat dan menjadi pemimpin di masyarakat, di antaranya Harb, Sufyan, dan Abu Sufyan.

Sebagaimana yang disebut-sebut dalam sejarah, bahwa Abu Sofyan merupakan pemimpin pasukan Quraisy melawan Nabi Muhammad SAW pada Perang Badar Kubra.

Keluarga Bani Umayah masuk Islam ketika terjadi Fathul Makkah pada tahun ke-8 H. Abu Sofyan diberi kehormatan untuk mengumumkan pengamanan Nabi SAW, yang salah satunya adalah barang siapa masuk ke dalam rumahnya maka amanlah dia, masuk kedalam Masjidil Haram dan rumahnya Nabi SAW maka dia juga akan merasa aman. Dengan ini banyak kaum dari kalangan Bani Umayah yang berduyun-duyun untuk masuk Islam dan menyebarkan Islam keberbagai wilayah.

Keturunan Umayah memegang kekuasaan Islam selama 90 tahun, kemudian dikenal dengan Dinasti Umayah. Selama kurun waktu tersebut pemerintahan dipegang oleh 14 orang. Khalifah-Khalifah itu adalah sebagai berikut:

  1. Muawiyah bin Abu Sufyan ( Muawiyah I )           661-680 M
  2. Yazid bin Muawiyah ( Yazid II )                             680-683 M
  3. Muawiyah bin Yazid                                                683-684 M
  4. Marwan bin Hakam (Marwan I)                            684-685 M
  5. Abdul Malik bin Marwan                                        685-705 M
  6. Al Walid bin Abdul Malik ( Al Walid II )                 705-715 M
  7. Sulaiman bin Abdul Malik                                      715-717 M
  8. Umar bin Abdul Aziz ( Umar II )                            717-720 M
  9. Yazid bin Abdul Malik ( Yazid II )                           720-724 M        
  10. Hisyam bin Abdul Malik                                          724-743 M
  11. Al-Walid bi Yazid ( Al Walid II )                               743-744 M
  12. Yazid bin al Walid ( Yazid III )                                 744 M
  13. Ibrahim bin al Walid                                                744 M
  14. Marwan bin Muhammad ( Marwan III )               744-750 M

Pada masa awal, kebijakan pemerintah Dinasti Umayah lebih banyak ditujukan untuk memperluas wilayah Islam dengan kekuatan militer. Namun pada periode berikutnya, dinasti ini berhasil menata pemerintahannya diberbagai bidang. Hal ini  tercapai berkat jasa dari empat orang Khalifah , yaitu :

  1. Abdul Malik bin Marwan
  2. Walid bin Abdul Malik
  3. Umar bin Abdul Aziz
  4. Hisyam bin Abdul Malik

Pada masa pemerintahan merekalah tercapai kemakmuran dan kemajuan yang tidak hanya dinikmati oleh rakyat yang beragama Islam saja, namun kemajuan dan kemakmuran tersebut dapat dinikmati oleh kalangan non muslim. karena pada saat itu kas negara sangat banyak dan melimpah bahkan sulit untuk mencari seseorang yang mau menerima zakat.

  1. Perkembangan Organisasi Negara dan Susunan Pemerintahan Pada Masa Dinasti Umayyah

Organisasi Negara pada masa Daulah Umayah masih seperti pada masa permulaan Islam, yaitu terdiri dari lima badan:

  1. An Nidhamus Siyasi (organisasi politik)

Bidang organisasi politik ini, telah mengalami beberapa perubahan  dengan masa permulaan islam, terutama telah terjadi perubahan yang sangat prinsip di antaranya :

  • Khilafah

Kekuasaan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan telah mengakibatkan terjadinya perubahan dalam peraturan Syura yang menjadi dasarnya pemilihan Khulafaur Rasyidin. Dengan demikian jabatan khilafah beralih ke tangan raja satu keluarga, yang memerintah dengan kekuatan pedang, politik dan diplomasi. Penyelewengan semakin jauh setelah Muawiyah mengangkat anaknya Yazid menjadi putra mahkota (waliyul ahdi).

  • Al-Kitabah

Seperti halnya pada masa permulaan islam, maka dalam masa daulah Umayah dibentuk semacam dewan sekretariat negara (Diwaanul kitabah) untuk mengurus berbagai urusan pemerintahan. karena dalam masa ini urusan pemerintahan telah menjadi lebih banyak, maka ditetapkan 5 orang sekretaris yaitu :

  1. Katib Ar-Rasail         (sekretaris urusan persuratan)
  2. Katib al-Kharraj        (sekretaris urusan kuangan / pajak)
  3. Katib al-Jund            (sekretaris urusan ketentaraan)
  4. Katib asy-Syurthah   (sekretasis urusan kepolisian)
  5. Katib al-Qadhi           (sekretasis urusan kehakiman)
  • Al-Hijabah

Dalam masa daulah Umayah diadakan satu jabatan baru yang bernama a-lhijabah, yaitu urusan pengawalan keselamatan khilafah. mungkin karena khawatir akan terulang peristiwa pembunuhan terhadap Ali dan percobaan pembunuhan terhadap Muawiyah danAmr bin Ash, maka diadakanlah penjagaan yang ketat sekali, sehingga siapapun tidak dapat menghadap sebelum mendapat ijin dari pengawal (hujjab)

  1. An Nidhamul Idari (organisasi tata usaha Negara)

Seperti telah diterangkan, bahwa organisasi tata usaha negara pada permulaan islam sangat sederhana, tidak diadakan pembidangan usaha yang khusus, demikian juga pada masa dinasti Umayah. organisasi tata usaha negara pada masa ini terdiri dari :

  • Ad Dawaawin

Untuk mengurus tata usaha pemerintahan, maka Daulah Umayah mengadakan empat buah dewan yaitu : Diwanul Kharraj, Diwanur Rasail, Diwanul Musytaghilat al-Mutanauwi’ah dan Diwanul Khatim

  • Al-Imarah Alal Buldan

Daulah Umayah membagi daerah Mamlakah Islamiyah kepada lima wilayah besar, yaitu :

  1. Hijaz, yaman, Nejed (pedalaman Jzairah Arab)
  2. Irak, Persia, Aman, Khurasan
  3. Mesir, Sudan
  4. Armenia, Azerbaijan, dan Asia kecil
  5. Afrika Utara, Libya, Andalusia, Sicilia

Untuk tiap wilayah besar ini, diangkat seorang Amirul Umara (Gubernur Jenderal), yang dibawahnya ada beberapa orang Amir (gubernur) yang mengepalai satu wilayah.

  • Barid

Organisasi pos diadakan dalam tata usaha negara islam semenjak Muawiyah memegang jabatan khalifah. Setelah khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa maka diadakan perbaikan dalam organisasi pos.

  • Syurthah

Organisasi syurthah (kepolisian) dilanjutkan terus pada masa dinasti Umayah bahkan disempurnakan. Pada mulanya organisasi kepolisian menjadi bagian dari organisasi kehakiman yang bertugas melaksanakan perintah hakim dan keputusan-keputusan pengadilan, dan kepalanya sebagai pelaksana al-hudud. tak lama kemudian organisasi kepolisian terpisah dari kehakiman dan berdiri sendiri dengan tugas mengawasi kejahatan.

  1. An Nidhamul Mali (organisasi keuangan atau ekonomi)

Sumber uang masuk pada masa daulah Umayah umumnya sama seperti di zaman permulaan islam, di antaranya : Al-Dharaaib merupakan kewajiban yang harus dibayar oleh warga negara. Masharif Baitil Mal

  1. An Nidhamul Harbi (organisasi pertahanan)

Oganisasi pertahanan pada masa daulah umayah sama seperti pada masa khalifah Umar, hanya lebih disempurnakan. bedanya kalau pada masa khulafaur Rasyidin tentara Islam adalah tentara sukarela, maka pada masa daulah umayah orang masuk tentara kebanyakan dengan paksa atau setengah paksa, yang dinamakan nidhamut tajnidil ijbary (seperti undang-undang wajib militer)

  • Angkatan laut

Pada masa khalifah Usman telah dimulai dibangun angkatan laut islam tetapi sangat sederhana. setelah muawiyah memegang kendali negara Islam, maka dibangunlah armada islam yang kuat dengan tujuan : (1) untuk mempertahankan daerah-daerah islam dari serangan armada Romawi dan (2) untuk memperluas dakwah islamiyah. Membentuk  armada musim panas dan armada musim dingin

  1. An Nidhamul Qadhai (organisasi kehakiman)

Di zaman Daulah Umayah, kekuasaan pengadilan telah dipisahkan dari kekuasaan politik. Kehakiman pada zaman ini mempunyai ciri :

  • Bahwa seorang qadhi (hakim) memutuskan perkara dengan ijtihadnya karena pada waktu itu belum ada lagi madzhab empat ataupun madzhab-madzhab lainnya. Pada masa itu, para qadli menggali hukum sendiri dari al-kitab dan as-sunah dengan berijtihad.

Kehakiman belum terpengaruh dengan politik, karena para qadli bebas merdeka dengan hukumnya, tidak terpengaruh dengan kehendak para pembesar yang berkuasa.

  • Para hakim pada zaman Umayah adalah manusia pilihan, yang bertakwa kepada Allah dan melaksanakan hukum dengan adil, sementara para khalifah mengawasi gerak-gerik dan perilaku mereka sehingga kalau ada yang menyeleweng terus dipecat.

Kekuasaan kehakiman di zaman ini dibagi ke dalam tiga badan :

  1. Al-Qadla’ : tugasnya menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan agama.
  2. Al-Hisbah : tugas al-Muhasib (kepala hisbah) biasanya menyelesaikan perkara-perkara umum dan soaial pidana yang memerlukan tindakan cepat.
  3. An-Nadhar fil-Madhalim, yaitu mahkamah tertinggi atau mahkamah banding.

   3. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Pusat kegiatan ilmiah pada masa Dinasti Umayah adalah Kota Basrah dan Kufah di Irak. Perkembangan ilmu pengetahuan itu ditandai dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan muslim dalam berbagai bidang. Khalid binZayid bin Mu’awiyah adalah orang pertama yang menerjemahkan buku tentang astronomi, kedokteran dan kimia. Disamping itu, Khalid bin Yazid merupakan seorang penyair dan orator yang terkenal.

Pada masa pemerintahannya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz , sering mengundang para ulama dan fuqaha untuk mengkaji ilmu dalam berbagai  majlis. Ulama-ulama lain yang muncul pada waktu itu adalah Hasan al Basri, Ibnu Shihab az Zuhri dan Wasil bin Ata.

Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Bahasa Arab digunakan sebagai bahasa administrasi  negara. Penggunaan bahasa arab yang makin luas membutuhkan suatu panduan kebahasaan yang dapat dipergunakan oleh semua golongan. Hal itu mendorong lahirnya seorang bahasawan yang bernama Sibawaihi. Ia mengarang sebuah buku yang berisi pokok-pokok kaidah bahasa Arab yang berjudul al-kitab.  Buku tersebut bahkan termashur hingga saat ini.

Bidang kesusastraan juga mengalami kemajuan.Hal itu ditandai dengan munculnya sastrawan-sastrawan berikut ini :

  1. Qays bin Mulawwah , termasyhur dengan sebutan Laila Majnun ( wafat 699 M)
  2. Jamil al-Uzri ( wafat 701 M ).
  3. al Akhtal ( wafat 710 M )
  4. Umar bin Abi Eabi’ah ( wafat 719 )
  5. al Farazdaq ( wafat 732 M )
  6. Ibnu al Muqaffa ( wafat 756 M )
  7. Jarir ( wafat 792 M ).

Pada masa dinasti Umayah, pembangunan fisik juga mendapat perhatian besar. Dengan berpindahnya pusat kekuasaan keluaar dari Jazirah Arab, pembangunan fisik juga tidak terpusat di Jazirah Arab saja. Usaha yang dilakukan oleh Dinasti Umayah dalam kaitannya dengan keberadaan bangsawan bersejarah adalah :

  1. Mengubah Katedral St.John di Damaskus menjadi Masjid
  2. Menggunakan Katedral Hims sebagai Masjid
  3. Merenovasi Masjid Nabawi
  4. Membangun Istana Qusyr Amrah dan Istana al Musatta yang digunakan sebagai tempat peristirahatan di padang pasir.

Bukti-bukti peninggalan tersebut menunjukkan  bahwa pada masa Dinasti Umayah umat Islam sudah mencapai tingkat peradaban yang tinggi.

4. Sekilas tokoh-tokoh bani umayyah

  1. Muawiyah bin Abi Sofyan

  A. Biografi Muawiyah bin Abi Sofyan

        Muawiyah bin Abi Sofyan dilahirkan sekitar 15 tahun sebelum Nabi Muhammad dan Pengikutnya hijrah ke Madinah. Muawiyah merupakan pendiri sekaligus khalifah pertama pada bani Umayyah.

Ciri-ciri beliau berkulit Putih, berbadan tegap, tampan, berwibawa, bersikap ibarat raja, suka bergaya hidup mewah, makanan yang lezat dan suka akan kebersihan.Beliau masuk Islam pada hari penaklukan kota Mekah bersama penduduk kota Mekah lainnya. Setelah masuk Islam Rasulullah Saw., berusaha membuat agar Muawiyah lebih akrab dengan beliau. Dam ternyata Muawiyah memiliki sifat-sifat sabar, cerdik, toleran, pandai mengendalikan diri, serta pemberi maaf. Dari sifat-sifat itu Rasulullah Saw., mengangkat Muawiyah menjadi anggota dari sidang penulis wahyu. Sikap optimis selalu memandang ke depan membuat Muawiyah tidak pernah mengalami kegagalan dalam urusan yang diinginkan, baik ketika menjabat khalifah selama 20 tahun. Kegagalan yang pernah dialami Khalifah Muawiyah adalah ketika menaklukan kota Konstanti Nopel. Khalifah Muawiyah juga dikenal sebagai tokoh yang pandai dalam menarik perhatian musuh-musuhnya dan para penantangnya, yaitu dengan kesabaran dan kewibawaan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad kepada orang-orang yang baru masuk Islam. Dalam diri Khalifah Muawiyah terdapat semboyan,” Aku tidak akan menggunakan pedangku selama cambukku masih cukup, aku tidak akan menggunakan cambukku selama lidahku masih bisa mengatasi”.             

 

    B. Usaha-usaha Mu’awiyah bin Abi Sofyan

        Beberapa Usaha di dalam pemerintahan dalam rangka mempertahankan kekuasaan Mu’awiyah adalah memperluas wilayah kekuasaan dan mempersiapkan putra mahkota sebagai pengganti khalifah berikutnya.

 

  • Perluasan Wilayah

                Mu’awiyah menerapkan politik perluasan wilayah kekuasaan dalam rangka dakwah Islam, sehingga ketika ia memerintah kaum muslimin mampu menaklukan daerah-daerah yang potensial, misalnya Turki, dan Armenia yang merupakan daerah kekuasaan Bizantium. Kemudian didukung kemampuan pasukan maritim yang tangguh dan merupakan pasukan yang paling hebat ketika itu, Mu’awiyah mampu menguasai Laut Tengah.Selain itu, berkat kekuatan pasukan angkatan laut Mu’awiyah tersebut, akhirnya pulau Kreta masuk dalam kekuasaan kaum Muslimin. Demikian pula Pulau Arkabi yang berada di antara Yunani dan Turki. Setelah mengadakan penyerangan kedua pulau itu, Armada pasukan Mu’awiyah melanjutkan invansi ke arah barat untuk menguasai daratan Afrika Utara.Pasukan Mu’awiyah juga berjaya di wilayah timur dengan keberhasilannya menaklukan Thakhanistan, Sajistan, dan Quhistan di daratan Asia Tengah, serta Sirt, Mogadishu, Tarablis, dan Qawairuwan di daerah Afrika.

 

  • Pengangkatan Putra mahkota

Segera setelah menjadi khalifah. Mu’awiyah telah mempersiapkan putranya yang bernama Yazid untuk menjadi putra mahkota yang kelak akan menjadi khalifah setelah dia turun tahta. Setrategi yang diterapkannya adalah melakukan lobi politik kepada tokoh-tokoh yang berpengaruh, misalnya para pemuka masyarakat dari berbagai kalangan.Meski demikian upaya itu masih ditentang oleh beberapa pihak yang kurang sependapat dengan rencana itu. Penentang itu berasal dari para pemuka agama, misalnya Abdullah bin Umar, Abdurrahman bin Abu Bakar, Husen bin Ali, Abdullah bin Zubair, dan Abdullah bin Abbas.

Para pemuka agama itu tidak menghendaki pengangkatan khalifah dilakukan dengan cara tunjukan atau turun-temurun, tetapi harus dilaksanakan dengan cara musyawarah, sehingga tidak menyimpang dari pergantian pimpinan yang telah dilaksanakan oleh Khulafaur Rasyidin. Pertimbangan para sahabat dekatnya itu disebabkan karakter Yazid kurang mendukung bila ditetapkan sebagai putra mahkota. Sifat Yazid yang menjadi kelemahannya adalah tidak pernah serius terhadap segala sesuatu dan meremehkan segala urusan. Adapun sifat yang tidak sesuai dengan syarat sebagai pemimpin adalah akhlak Yazid sangat tidak terpuji, sering bermabuk-mabukan, tidak istiqamah dalam beribadah, zalim, dan pemboros.

 

  C. Jasa-jasa Mu’awiyah bin Abi Sofyan

        Jasa-jasa Mu’awiyah selam hidupnya, dalam rangka mengangkat hakikat dan martabat kaum muslim cukup banyak. Selama kepemimpinannya, umat Islam mampu disatukan dalam menjaga keamanan Negara. Bukti keberhasilannya itu antara lain bahwa selama dia berkuasa, tidak pernah terjadi pemberontakan yang cukup berarti, kecuali penentang yang dilakukan oleh golongan Khawarij. Selama 19 tahun berkuasa, Mu’awiyah mampu menciptakan suasana yang aman dan terkendali. Suasana kondusif itu sebagai hasil dari kemampuannya meredam pihak-pihak yang berusaha melawan kekuasaannya. Upaya-upaya gangguan dan ancaman yang dilancarkan oleh para penentangnya dapat dipatahkan dengan mudah. Dengan keamanan dalam negeri itu maka Mu’awiyah berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam.Jasa-jasa yang ditorehkan oleh Mu’awiyah antara lain membentuk dinas pos, membangun istana, serta membentuk lembaga Pendidikan, lembaga kementrian dan lembaga keuangan Negara. Dalam sejarah pemerintahan secara umum, Mu’awiyah diakui sebagai pembaharu sistem pertahanan kekuasaan Islam.

 

  1. Meneladani Kepribadian Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz merupakan Khalifah Dinasti Umayyah yang membawa Daulah Umayyah mencapai puncak kejayaan. Menurut para ahli sejarah, gaya kepemimpinannyamirip dengan gaya kepemimpinan khulafaur Rasyidin. Dialah satu-satunya khalifah Bani Umayyah yang tidak dicela oleh para khalifah Bani Umayyah pada masa selanjutnya.

     A. Biografi Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah pada tahun 63H/683M dan wafat di Dair Sym’an, Syuriah pada tahun 101H/720M. Nama lengkapnya adalah Abu Hafes Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin As bin Umayyah bin Abd Syams. Ia adalah keturunan Umar bin Khattab melalui ibunya yang bernama, Laila Ummu Asim binti Asim bin Umar bin Khattab. Ia lahir ketika ayahnya Abdul Aziz menjadi Gubernur di Mesir.

Umar menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah hingga ayahnya wafat tahun 85H/704M. Kemudian pamanya yang bernama Abdul Malik bin Marwan membawanya ke Damaskus dan menikahkanya dengan putrinya, Fatimah. Umar bin Abdul Aziz memperoleh pendidikan di Madinah, yang pada waktu itu merupakan pusat ilmu pengetahuan dan gudang para ulama Hadist dan Tafsir. Pendidikan yang diperolehnya sangat mempengaruhi kehidupan pribadinya dalam melaksanakan tugas yang diamanatkan kepadanya.

Pada masa pemerintahan Alwalid bin Abdul Malik, Umar bin abdul Aziz diangkat menjadi Gubernur Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Ketika itu ia baru berusia 24 tahun. Ketika Masjid Nabawi dibongkar atas perintah Alwalid bin Abdul Malik untuk diganti dengan bangunan baru yang lebih indah, Umar bin Abdul Aziz dipercaya sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan itu.

Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai gubernur yang adil, bijaksana, mengutamakan dan memperhatikan kepentingan rakyat, serta mau mendiskusikan berbagai masalah penting yang berkaitan dengan Agama, urusan rakyat, dan pemerintahan. Umar bin Abdul Aziz berdasarkan wasiat Khalifah dinasti Umayyah sebelumnya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Setelah menjadi khalifah, beliau meninggalkan cara hidup bermewah-mewahan dan melakukan cara hidup yang sederhana. Umar bin Abdul Aziz mengembalikan semua harta yang ada pada dirinya ke Baitul Mal. Beliau mengharamkan atas dirinya untuk mengambil apapun dari Baitul Mal.

     B. Usaha-usaha Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Pada saat Khalifah Umar bin abdul Aziz menjadi khalifah, beliau melakukan beberapa usaha antara lain

  • Bidang Agama

Pada bidang ini usaha yang dilakukan adalah

  1. Menghidupkan kembali ajaran Al Qur’an dan Sunah Nabi
  2. Menerapkan hukum Syari’ah Islam secara serius dan sistematis
  3. Mengadakan kerja sama dengan ulama-ulama besar seperti, Hasan Al Basri dan Sulaiman bin Umar
  4. Memerintahkan kepada Imam Muhammad bin Muslim Bin Syihab Az-Zuhri mengumpulkan hadist-hadist untuk ditulis
  • Bidang Pengetahuan

Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adalah memindahkan sekolah kedokteran yang ada di Iskandariah (Mesir) ke Antakya (Turki) dan Harran (Turki).

  • Bidang Sosial Politik

Dalam bidang ini usaha yang dilakukan adalah Menerapkan prinsip politik yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan yang lebih utama dari segalanya.

  1. Melihat secara langsung cara kerja para gubernur dengan cara mengirim utusan ke berbagai negeri.
  2. Memecat gubernur yang tidak taat menjalankan agama dan bertindak dzolim terhadap rakyat.
  • Bidang Ekonomi

Usaha yang dilakukan dalam bidang ekonomi adalah

  1. Mengurangi beban pajak yang dipungut dari kaun nasrani
  2. Menghentikan Jizyah (pajak) dari umat islam
  3. Membuat aturan mengenai timbangan dan takaran
  4. Membasmi kerja paksa
  5. Memperbaiki tanah pertanian, irigasi, penggalian sumur-sumur dan pembangunan jalan.
  6. Menyediakan tempat penginapan bagi musyafir
  7. Menyantuni fakir miskin
  • Bidang Dakwah dan Perluasan wilayah

Khalifah Umar bin abdul Aziz melakukan perluasan wilayah melalui dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar, dengan cara yang bijak dan lemah lembut. Umar bin Abdul Aziz mengganti kebiasaan mencela nama Ali bin Abi Thalib dalam Khutbah Jum’at dan mengganti dengan pembacaan firman Allah SWT. dalam Surat An Nahl:90 yang artinya “sesungguhnya Allah SWT. menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah SWT. melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar dapat kamu mengambil pelajaran”.

     C. Jasa-jasa Khalifah Umar bin Abdul Aziz

    • Menciptakan perdamaian yang dilandasi ajaran Islam
    • Meningkatkan kesejahteraan rakyat
    • Melindungi hak asasi manusia
    • Menyusun undang-undang tentang pertahanan
    • Membangun tanah pertanian lengkap dengan pengairan
    • Membangun masjid-masjid sebagai syiar Islam
    • Menyediakan dana khusus untuk menolong orang-orang miskin
    • Melakukan pembukuan terhadap hadis-hadis Nabi Muhammad Saw.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz memerintah selama dua setengah tahun. Waktu yang relatif lama ia gunakan untuk membuat kebijaksanaan di berbagai bidang. Dalam melaksanakan kebijaksanaannya, ia tidak memanfaatkan kebijaksanaan itu untuk memperkaya diri. Ia bahkan menerapkan pola hidup sederhana.

CONTOH SOAL:

  1. Dinasti Umayyah Timur didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 661 M dan berkuasa selama Sembilan dekade sebelum akhirnya runtuh pada tahun 750 M. Diantara latar belakang jatuhnya dinasti ini, kecuali …

       A. Berpindah ibukota kerajaan dari Madinah ke Damaskus

       B. Kebiasaan hidup mewah dan praktik korupsi di istana kerajaan

       C. Konflik dan pertentangan sosial yang melemahkan kerajaan

       D. Solidnya kekuatan oposisi yang bersekutu menentang kerajaan

     Jawaban: C

  • Setelah pemerintahan Khulafaur Rasyidin berakhir, pemerintahan Islam berada di bawah kekuasaan Bani Umayyah. Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah ini, daerah kekuasaan Islam bertambah luas. Wilayah yang luas ini menyebabkan Islam tersebar dengan cepat dan luas. Bahasa Arab menjadi bahasa dunia, masjid dibangun di setiap kota besar, dan pengembangan ilmu pengetahuan sangat semarak. Wilayah atau daerah kekuasaan yang luas ini merupakan salah satu kesuksesan pemerintahan Bani Umayyah. Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, kekuatan militer sangat kuat. Kaum militer terdiri atas orang-orang yang sederhana dan taat beribadah. Mereka berjuang bukan untuk khalifah, melainkan demi tersiarnya Islam di seluruh penjuru dunia.
  1. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari orang-orang Arab, Barbar (umat islam yang berasal dari Afrika Utara), Yahudi, Kristani, serta penduduk pribumi. Hal ini menunjukkan …

     A. Tingginya tingkat kerukunan antar umat beragama di wilayah kerajaan

  B. Lemahnya komitmen kerajaan untuk membela kepentingan kaum muslimin

  C. Kuatnya lobi masyarakat non-muslim untuk menggiring kebijakan kerajaan

   D. Rendahnya pamor kerajaan islam karena bertetangga dengan non-muslim

     Jawaban: A

  • Ekspansi yang dilakukan Bani Umayyah menembus hingga wilayah Spanyol. Ekspansi tersebut dipimpin oleh Tariq bin Ziyad. Keberangkatan pasukan Islam ke

Spanyol ini atas permintaan rakyat setempat. Mereka merasa tertindas oleh Raja Roderick. Pasukan Islam dengan bantuan rakyat setempat berhasil menaklukkan Spanyol. Seiring itu pula agama Islam mulai diterima dan tersebar di Spanyol. Bidang sosial, politik, seni,  budaya, dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan pesat. Di antara  erkembangan yang paling mengesankan saat itu adalah bertambahnya jumlah pemeluk Islam dengan cepat. Meningkatnya jumlah kaum muslimin ini terkait dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Islam. Ketika suatu daerah berhasil ditaklukkan, tanpa paksaan para penduduk memeluk Islam. Pemerintah tidak pernah memaksa penduduk daerah taklukan memeluk Islam, tetapi dengan kesadaran dan kesungguhan hati mereka menyatakan diri masuk Islam.

Pendidikan agama Islam semakin luas. Masjid dan tempat tinggal ulama merupakan tempat utama untuk menuntut ilmu. Bidang seni juga tidak mau ketinggalan. Seni kaligrafi, sastra, bangunan, dan ukir berkembang cukup pesat.

 

JIHAD DALAM ISLAM

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                              JIHAD DALAM ISLAM

   A. Pengertian Jihad

Kata jihad berasal dari kata jâhada yujâhidu jihâdan wa mujâhadatan. Asal katanya adalah jahada yajhadu jahdan/juhdan yang berarti kekuatan (al-thâqah) dan upaya jerih payah (al-masyaqqah). Secara bahasa jihad berarti mengerahkan segala kekuatan dan kemampuan untuk membela diri dan mengalahkan musuh. sedangkan menurut istilah ulama fikih, jihad adalah perjuangan melawan orang-orang kafir untuk tegaknya agama Islam. Jihad juga dapat berarti mencurahkan segenap upaya dan kemampuan untuk menghadapi segala sesuatu yang berhubungan dengan kesulitan dan penderitaan. Sehingga, jâhada berarti mencurahkan segala kemampuan dalam membela dan memperoleh kemenangan. Dikaitkan dengan musuh, maka jâhada al‘aduww berarti membunuh musuh, mencurahkan segenap tenaga untuk memeranginya, dan mengeluarkan segenap kesungguhan dalam membela diri darinya.

Pelaku jihad disebut mujâhid. Dari akar kata yang sama lahir kata ijtihâd yang berarti upaya sungguh-sungguh dengan mengerahkan segala kemampuan untuk mengambil kesimpulan atau keputusan sebuah hukum dari teks-teks keagamaan

   B. Dasar-dasar Jihad dalam Al Qur’an dan Hadis

  1. Al-Qur’an
  • Lukman(31): 15

Melawan segala bentuk pemaksaan membutuhkan keberanian untuk menolaknya. Apalagi pemaksaan yang terkait dengan masalah keyakinan. Meskipun demikian, kita tetap harus menjaga hubungan baik dengan mereka dalam pergaulan sehari-hari. Allah berfirman :

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

  1. Hadits

Jihad merupakan sikap dan tindakan tegas dalam memegang keyakinan terhadap keesaan Allah hingga tak ada celah sedikitpun untuk bersikap yang berpotensi merusak keimanan itu. Bahkan dalam konteks tertentu kita dilarang untuk menyerupai merekayang tidak beriman akan keesaan Allah. Rasulullah bersabda :

Dari Ibn ‘Umar, Rasulullah saw bersabda, “Saya diutus dengan pedang, hingga Allah disembah tiada serikat bagi-Nya, dan rezkiku dijadikan di bawah naungan tombak, kehinaan bagi siapa yang menyalahi perintahku, dan siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kepada kaum tersebut.” (HR. Ahmad)

   C. Macam-Macam Jihad

  1. Jihad melawan hawa nafsu

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang” (QS. Yusuf (12): 53

Jihad melawan hawa nafsu dapat dilakukan dengan:

  • Mempelajari petunjuk-petunjuk agama yang dapat mengantarkan jiwa kepada keberuntungan dan kebahagiaan
  • Mengamalkan apa yang ia telah ketahui
  • Mengajak orang lain untuk mengikuti petunjuk agama. Dengan berilmu, beramal dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain seseorang dapat mencapai tingkatan yang disebut dengan rabbaniyy.
  • Bersabar dan menahan diri dari berbagai cobaan dalam menjalankan dakwah.

    2. Jihad melawan setan

Jihad melawan setan, berupa upaya menolak segala bentuk keraguan yang menerpa keimanan seseorang dan menolak segala bentuk keinginan dan dorongan hawa nafsu. Keduanya dapat dilakukan dengan berbekal pada keyakinan yang teguh dan kesabaran. Allah berfirman QS. As Sajadah (32): 24,

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.”

  1. Jihad melawan orang-orang kafir dan orang munafik

Selain jihad melawan hawa nafsu dan setan, jihad lain yang yang secara tegas disebut obyeknya dalam Qur’an adalah Jihad melawan orang-orang kafir. Allah berfirman :

” Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. tempat mereka adalah Jahannam dan itu adalah seburukburuknya tempat kembali. (QS. Al-Tahrim:9)

   4. Tujuan Jihad

Tujuan jihad dalam Islam untuk mempertahankan dan membela serta meninggikan agama Islam. Itulah tujuan pokok perang dalam Islam. Disamping itu tujuan perang dalam Islam ini dapat disebutkan lebih rinci sebagai berikut:

  1. Mempertahankan hak-hak umat Islam dari perampasan pihak lain.
  2. Memberantas segala macam fitnah
  3. Memberantas kemusyrikan, demi meluruskan tauhid
  4. Melindungi manusia dari segala bentuk kezaliman dan ketidakadilan.

   5. Hukum Jihad

Hukum jihad untuk mempertahankan dan memelihara agama dan umat Islam (serta Negara) hukumnya wajib atau fardhu. Baik fardhu ain maupun fardhu kifayah.

  • Sebagian ulama sepakat jihad hukumnya fardhu ain.

Firman Allah SWT Qs. atTaubah (9):41

Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

  • Sebagian ulama sepakat jihad hukumnya fardhu kifayah.

Firman Allah SWTQs. An-Nisa (4):95

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.

  • Hukum jihad bisa berubah menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang telah bergabung dalam barisan perang. Begitu juga bagi setiap individu jika musuh telah mengepung kaum muslimin dengan syarat:
  1. Jika jumlah orang-orang kafir tidak melebihi 2 kali lebih besar dibandingkan kaum muslimin dengan penambahan pasukan yang dapat diperhitungkan.
  2. Tidak ditemukan udzur, baik sakit maupun tidak ada senjata dan kendaraan perang.
  3. Jihad tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki

  *Jika salah satu dari ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, maka boleh meninggalkan peperangan.

   6. Syarat- Syarat wajib jihad

  1. Islam
  2. Dewasa (Baligh)
  3. Berakal sehat
  4. Merdeka
  5. Laki-laki
  6. Sehat badannya
  7. Mampu berperang

   7. Etika Perang dalam Islam

  1. Tidak boleh memerangi orang yang memusuhi Islam dan umat Islam sebelum diberi peringatan. Setelah ada peringatan ternyata tetap menganggu, baru diadakan perang.
  2. Tidak boleh membunuh anak-anak, wanita, orang tua (yang tidak ikut perang)
  3. Tidak boleh membuat kerusakan harta. Seperti menebangi pohon, merusak jembatan, membakar kota dll.
  4. Tidak boleh menggangggu apalagi membunuh utusan yang dikirim musuh secara resmi.
  5. Tidak boleh membunuh musuh yang menyatakan menyerah.

CONTOH SOAL:

  1. Memerangi orang kafir yang memusuhi agama dan umat Islam disebut….

          A. ijtihad

          B. jihad

          C. i’tikaf

          D. ijma’

          E. mujtahid

        Jawaban: B

  1. Sikap toleransi mujtahid yang digariskan oleh Al Qur’an sangatlah jelas dan tegas, yakni….

           A. mempertahankan aqidah islamiyah yang lurus

           B. berjalan sesuai kehendak masing-masing

           C. mencampur adukkan ajaran agama

           D. saling menjaga dan mengerjakan

           E. mengarahkan kepada penganut berbagai agama

          Jawaban:  A

  1. Diperintahkan untuk mengatakan agamaku adalah agamaku dan agamamu adalah agamamu , termasuk sikap terhadap orang…

           A. munafik

           B. beriman

           C. muslim

           D. musyrik

           E. kafir

             Jawaban: E

  1. Tujuan diperintahkannya sikap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat adalah agar hidup manusia menjadi….

          A. bahagia

          B. tentram

          C. mewah

          D. seimbang

          E. gelisah

                Jawaban: B

  1. Menghadapi orang yang berbeda pendapat dalam keyakian, maka kita harus memiliki sifat….

          A. tenggang rasa

          B. keteguhan aqidah

          C. hidup semena-mena

          D. pedoman hidup

          E. prinsip sendiri-sendiri

          Jawban: B

  1. Toleransi antar umat beragama yang diajarkan dalam Islam dibatasi oleh….

            A. nilai-nilai luhur sosialisme

            B. kerjasama dalam urusan agama

            C. pengamalan sesuai ajaran agama masing-masing

            D. adanya penyatuan ajaran agama

            E. mendukung kelestarian agama lain

                 Jawaban:  C

  1. Berikut ini yang dimaksud orang kafir dalam surat Al-Kahf ayat 29 adalah….

             A. orang yang berbeda pendapat

             B. orang yang hati dan ucapannya berbeda

             C. orang yang memusuhi islam

             D. orang yang menganiaya diri sendiri

             E. orang yang tidak percaya kepada kebenaran Islam

                     Jawaban: E

  1. Dalam surat Al-Kahf ayat 29, Allah SWT menegaskan tentang hal-hal sebagai berikut, kecuali….

     A. neraka adalah tempat yang paling buruk

  B. minuman bagi orang dzalim adalah air panas seperti besi yang mendidih

     C. kebenaran datangnya dari Allah

     D. manusia wajib beriman dan bertaqwa

     E. manusia boleh beriman dan kafir

                                  Jawaban: D

  1. Perlakuan Islam terhadap Ahl al Dzimmah, kecuali….

          A. memerangi / melawan

          B. hak perlindungan

          C. perlindungan nyawa dan badan

          D. perlindungan terhadap kehormatan

          E. tidak boleh mencaci

            Jawaban:  B

  1. Pemeluk agama lain yang menganggu keamanan dan ketentraman, bersifat dzalim, dan yang kita diizinkan melawan adalah….

           A. Golongan Ahl Zimmah

           B. Golongan Musta’min

           C. Golongan mu’ahada

           D. Golongan Harbi

           E. Golongan Kafir

                             Jawaban: E

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                                    SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

  A. Perkembangan Islam di Indonesia

  1. Kedatangan Islam dan Penyebarannya

Berdasarkan sumber-sumber historis, kita dapat menemukan berbagai teori tentang masuk dan penyebaran Islam di Indonesia. Teori-teori tersebut juga sangat beragam mulai teori Gujarat, Persia, dan Arab.

   a. Teori Arab

Teori ini menjelaskan bahwa masuknya Islam ke Indonesia langsung dari Mekah atau Madinah pada awal abad VII. Pendukung teori ini antara lain Hamka. Bahkan, menurut Ahmad Mansyur Suryanegara, Islam masuk ke Nusantara dibawa oleh orang-orang Arab Islam generasi pertama atau para sahabat pada masa Khulafaur Rasyidin.

Dalam sumber-sumber literatur Cina juga disebutkan bahwa pada

abad II Hijriah telah muncul perkampungan-perkampungan muslim

Arab di pesisir pantai Sumatra. Di perkampungan tersebut orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lokal serta

membentuk komunitas-komunitas muslim. Teori inilah yang paling kuat dan diterima oleh para sejarawan saat ini.

   b. Teori Persia

Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesai dari tanah Persia (Iran), sedangkan daerah yang pertama kali dijamah

adalah Samudera Pasai. Salah seorang pendukung teori ini adalah Oemar Amin Hoesin. Teori ini berdasarkan pada kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia. Salah satu contohnya adalah kesamaan dalam peristiwa peringatan 10 Muharam sebagai peringatan wafatnya Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Untuk peringatan yang sama, di daerah Sumatra ada juga tradisi bernama tabut yang berarti keranda.

 

   c. Teori Gujarat

Menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada abad XII dan dibawa oleh para pedagang dari wilayah-wilayah di anak Benua India seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Tokoh pendukung teori ini antara lain Snouck Hurgronje, Pijnappel, dan Sucipto Wiryo Suparto. Snouck Hurgronje berpendapat, Islam masuk dari daerah Deccan di India. Hal ini dibuktikan dengan adanya ajaran tasawuf yang dipraktikkan oleh umat Islam di India Selatan mirip dengan ajaran yang diterapkan masyarakat muslim di Indonesia.

Bukti-bukti yang diajukan oleh Sucipto Wiryosuparto untuk memperkuat pendapat atau dugaannya bahwa Islam di Indonesia dibawa

oleh para pedagang dari Gujarat antara lain sebagai berikut.

  • Ditemukan nisan Sultan Malik as-Saleh yang terbuat dari marmer sejenis dengan nisan yang ada di India pada abad XIII.
  • Relief dalam makam Sultan as-Saleh mirip dengan yang ada di kuil Cambay, India.
  • Proses islamisasi mengikuti jalur perdagangan rempah-rempah yang berpusat di India.

Dalam perkembangannya, teori Gujarat ini banyak ditentang oleh para ahli sejarah karena mengandung beberapa kelemahan. Dalam perkembangan waktu, muncul juga teori Cina yang menjelaskan bahwa para pedagang Cina adalah yang pertama kali mengenalkan Islam ke Nusantara. Berdasarkan beberapa teori tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa agama dan kebudayaan Islam diperkirakan telah masuk di Indonesia pada abad VII Masehi, tepatnya pada masa kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang dibawa oleh para pedagang dari Arab.

Selanjutnya, agama Islam mengalami perkembangan secara nyata pada abad XIII. Dari tahapan pengenalan ataupun kedatangan Islam di tanah air meningkat ke tahapan penyebaran Islam. Dimulai persinggahan pedagang muslim menuju beberapa kepulauan di Nusantara dalam rangka kontak dagang sekaligus menyiarkan agama Islam. Selanjutnya, terbentuknya komunitas muslim di Nusantara hingga berdirinya kerajaan-kerajaan Islam, khususnya di beberapa daerah perdagangan di pesisir. (Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus Af (Editor). 2006. Halaman 75)

 

  1. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Islamisasi yang berlangsung di tanah air terjadi melalui jalur perdagangan laut. Oleh karena itu, daerah yang pertama kali tersentuh dakwah Islam adalah di Sumatra dan Jawa. Di sana selanjutnya berdiri kerajaan-kerajaan Islam.

Berikut ini penjelasan ringkas tentang kerajaan-kerajaan Islam yang pernah berdiri di Indonesia.

  • Kerajaan Perlak

Kerajaan Islam yang pertama kali berdiri di Sumatra dan tanah air adalah Kerajaan Perlak (Peureula). Kerajaan Perlak ini berdiri pada pertengahan abad IX dengan raja pertamanya bernama Alauddin Syah. Perlak pada saat itu merupakan kota dagang penyedia lada paling terkenal. Pada akhir abad XII Kerajaan Perlak akhirnya mengalami kemunduran.

  • Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad XIII dan terletak di daerah pantai timur Aceh. Keberadaan kerajaan ini dibuktikan dengan sumber sejarah berupa penemuan batu nisan bertuliskan Sultan Malik as-Saleh dengan angka tahun 1297 yang juga merupakan raja pertama. Menurut sumber sejarah, kerajaan ini pernah didatangi seorang utusan dari Sultan Delhi di India bernama Ibnu Batutah.

  • Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh berdiri pada tahun 1514. Sultan Ibrahim atau Ali Mugayat Syah adalah raja pertama kerajaan ini. Puncak kejayaan Kerajaan Aceh terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Pada saat itu wilayah kekuasaan Aceh sangat luas. Kerajaan

Aceh juga telah menjalin hubungan dengan para pemimpin Islam di kawasan Arab sehingga dikenal dengan sebutan Serambi Mekah. Puncak hubungan tersebut terjadi pada masa kekhalifahan Usmaniyah.

 

  • Kerajaan Demak

Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa adalah Kerajaan Demak. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1478. Pada saat

itu ulama memegang peranan yang penting dalam pemerintahan  Misalnya dengan diangkatnya Sunan Kalijaga dan Ki Wanalapa sebagai penasihat kerajaan. Kerajaan Demak mengalami masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Trenggono. Pada tahun 1527 ketika armada Portugis datang untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa, Kerajaan Demak berhasil memukul mundur. Pada

masa kekuasaan dipegang oleh Jaka Tingkir, pusat pemerintahannya dipindah dari Demak menuju Pajang.

 

  • Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang dipimpin oleh Jaka Tingkir yang merupakan menantu Sultan Trenggono, Raja Demak. Sebagai raja, Jaka Tingkir

mendapat gelar Sultan Adiwijaya. Setelah Sultan Adiwijaya wafat, pemerintahan dilanjutkan oleh Arya Pangiri. Selanjutnya, dipimpin oleh Pangeran Benowo.

  • Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram didirikan oleh Sutawijaya yang memiliki gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Masa kejayaan Kerajaan Mataram dicapai pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma yang bergelar Sultan Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman Khalifatullah. Pada saat itu kekuasaan Mataram sangat luas dan seluruhnya berhasil disatukan.

  • Kerajaan Banten

Setelah Fatahillah yang juga menantu Sunan Gunung Jati berhasil menaklukkan Portugis di Sunda Kelapa, Banten dikembangkan sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat penyiaran agama. Banten juga berhasil merdeka dan melepaskan diri dari Kerajaan Demak. Kerajaan Banten ini mengalami kemajuan yang sangat penting pada masa kekuasaan Ki Ageng Tirtayasa.

  • Kerajaan Banjar

Islam pertama kali masuk ke Banjarmasin pada abad XVI. Saat itu proses islamisasinya sebagian besar dilakukan oleh Kerajaan Demak. Dalam waktu yang tidak cukup lama, bahkan Islam banyak dianut masyarakat dari suku Bugis di sungai bagian timur Kalimantan. Ulama yang sangat terkenal di kerajaan tersebut adalah Syeh Muhammad Arsyad al-Banjari.

  • Kerajaan Sukadana

Pada tahun 1550 Islam telah diperkenalkan kepada Kerajaan Sukadana di wilayah barat Pulau Kalimantan. Meskipun yang berkuasa pada saat itu belum sempat memeluk agama Islam, penerus kerajaan tersebut selanjutnya memeluk agama Islam. Bahkan, pada tahun 1600 Islam menjadi agama yang sangat populer di sepanjang pesisir pantai pulau tersebut.

  • Kerajaan-Kerajaan Lain

Selain kerajaan-kerajaan yang disebutkan di atas, masih ada kerajaan-kerajaan lain di tanah air. Di Sulawesi misalnya, Gowa dan Tallo yang sebelumnya kerajaan Hindu berubah menjadi kerajaan Islam. Kedua kerajaan ini kemudian bergabung dan pernah memiliki raja terkenal Sultan Hasanuddin (1653–1669) yang berjuluk Ayam Jantan dari Timur. Islam juga berkembang di kerajaan-kerajaan lain di wilayah Nusa Tenggara, seperti Bima, Sumbawa, Dompu, dan Tambora. Di Maluku juga berdiri banyak kerajaan seperti Ternate, Tidore, Bacan, Jailolo, dan Obi.

  1. Tahapan Perkembangan Islam di Masyarakat

Perkembangan Islam di kepulauan Nusantara terjadi secara bertahap. Akan tetapi, tahapan perkembangannya antara satu wilayah dengan wilayah lain tidak seragam. Ada suatu wilayah yang baru berada dalam tahapan pengenalan dasar-dasar pokok ajaran agama, tetapi di daerah lain justru telah memasuki tahapan yang bersifat rasional, atau tahapan yang lebih maju. Perkembangan Islam di Nusantara secara umum hingga akhir abad XX dapat dilihat menjadi beberapa tahapan berikut:

   a. Memeluk Islam Secara Formal

Tahapan awal dimulai dengan masa pemelukan Islam secara formal. Pada tahapan ini lebih ditekankan pada pengenalan dasardasar Islam ataupun ketentuan tentang pelaksanaan syariat atau fikih. Tahapan ini merupakan tahap pengenalan masyarakat terhadap ajaran-ajaran Islam, yang tentu belum mereka temukan pada agama sebelumnya.

   b. Pendalaman Islam

Setelah Islam semakin banyak diminati, jumlah penganutnya semakin bertambah. Agama Islam telah tersebar di beberapa wilayah. Tidak hanya di Kepulauan Sumatra bagian utara, tetapi sampai Jawa, dan pulau-pulau lain. Pada akhir abad XV–XVI, proses dakwah Islam di tanah air sangat deras. Islam pada masa itu telah memasuki pelosok daerah di Nusantara, tidak sekadar di kota-kota pesisir. Berkat meningkatnya pemahaman dan pendidikan yang diperoleh kaum muslim, ajaran Islam pada saat itu juga semakin dipahami lebih mendalam. Pemeluk agama Islam pada saat itu memeluk agamanya tidak sekadar formalitas. Pada saat itu lahir para penulis dari kalangan ulama terutama dalam pemikiran agama dan sastra.

   c. Peningkatan Tradisi Intelektual

Pada abad XVII telah terjadi peningkatan dan penyempurnaan ajaran Islam. Tradisi intelektual pada saat itu juga dapat berlangsung secara mengagumkan. Lahir beberapa ulama dengan karya-karya mereka, mulai bidang fikih, usuluddin, tasawuf, tafsir, hadis, retorika, estetika, hingga astronomi. Munculnya karya-karya dari para ulama berdampak juga pada perkembangan bahasa Melayu. Selain itu, beberapa tarekat sufi tumbuh menjadi organisasi keagamaan yang tampak corak aktivitas keduniaannya. Hal ini memberi semangat lahirnya gerakan antikolonial yang merata di penjuru Nusantara. Islam pada saat itu sangat penting sebagai faktor pemersatu bangsa.

   d. Gerakan Pembaruan/Tajdid

Tahapan pembaruan dapat diistilahkan dengan ”tajdid”. Pada tahap ini gerakan-gerakan keagamaan tumbuh menjadi gerakan kebangsaan. Organisasi Sarekat Islam (SI) misalnya, menekankan pada perjuangan politik. Adapun Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), dan organisasi-organisasi lain menekankan pada bidang sosial seperti pendidikan dan dakwah. Untuk mengantisipasi terjadinya sekularisasi, pesantren telah menjadi pendidikan alternatif bagi masyarakat.

   e. Lahirnya Tokoh-Tokoh Pemikir Islam

Tahapan terakhir yaitu lahirnya tokoh-tokoh pemikir Islam, yang dimulai sekitar tahun 1970-an. Para pemikir itu pada umumnya adalah para aktivis masjid kampus. Meskipun mereka memperoleh pendidikan di universitas umum, tetapi masih tetap memotivasi diri untuk mendalami ajaran-ajaran agama dan sendi-sendi peradabannya. Dari para tokoh pemikir Islam ini, lahirlah gagasan agar nilai-nilai Islam tetap mewarnai dalam kehidupan berbangsa. Demikianlah alur perkembangan Islam mulai abad VII hingga sekarang ini yang tidak selalu berjalan lurus. Adakalanya dalam proses perkembangannya menghadapi berbagai kendala. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa islamisasi akan selalu berhadapan dengan kekuasaan, baik yang lingkupnya terbatas maupun kebijakan negara.

 

CONTOH SOAL:

  1. Walisongo menggunakan beberapa strategi dan pendekatan dalam berdakwah, sehingga dalam menyebarkan Islam dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu. Strategi dakwah Walisongo yang patut diteladani oleh generasi muda saat ini yaitu…

       A. Walisongo dalam menyampaikan dakwah tidak menghapus tradisi setempat, melainkan menggabungkan tradisi setempat dengan nilai Islam sehingga dapat, diterima oleh masyarakat…

       B. Ketegasan para Walisongo dalam berdakwah sehingga Islam tidak boleh kompromi dengan adat istiadat Jawa.

       C. Para Walisongo selalu mengikuti apa yang menjadi kemauan masyarakat bertujuan untuk menghindari konflik.

       D. Semua Walisongo membekali diri dengan ilmu olah kanuragan (kesaktian) sehingga ditakuti masyarakat.

 

Jawaban: A

Walisongo menggunakan pendekatan budaya setempat dalam berdakwah.

Soal ini membahas bab Perkembangan Islam di Indonesia.

 

 

  1. Strategi dakwah yang dilakukan Sunan Kudus tampak unik dengan mengumpulkan masyarakat untuk melihat sapi yang dihias bagai pengantin, kemudian diikat di halaman masjid, sehingga masyarakat yang ketika itu masih memeluk agama Hindu datang di masjid, kemudian disampaikan dakwah­nya. Sunan Ampel berdakwah dengan cara mengajak berdiskusi, beradu argumentasi baik secara personal maupun kelompok. Sedangkan Sunan Kalijaga berdakwah dengan cara pementasan wayang kulit yang diberi muatan ajaran agama Islam.

Tiga strategi dakwah Walisongo tersebut dapat digunakari untuk dakwah pada era sekarang adalah…

     A. Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Kudus sangat membahayakan akidah ummat Islam, Karena larangan menyembelih sapi tidak sesuai dengan ajaran yang ada dalam aI-Qur’an.

     B. Dakwah Sunan Ampel yang dilakukan dengan cara mengajak diskusi dan beradu argumentasi itu hanya tepat bagi para ilmuwan.

     C. Dakwah Sunan Kalijaga dapat mengakibatkan tercampurnya antara ajaran Islam dengan kebudayaan jawa, mengakibatkan singkritisme yang buruk.

     D. Dakwah walisongo relevan dengan keadaan sekarang dengan berprinsip pada kebijaksanaan, pemberian nasehat, serta beradu argumentasi dengan cara yang baik.

 

Jawaban: D

 

Metode dakwah yang digunakan 3 wali tersebut adalah dengan hikmah ilmu dan lemah lembut.Soal ini membahas bab Soal ini membahas bab Perkembangan Islam di Indonesia.

Dakwah Rosululloh pada puncak Mekkah

The Story Behind PopIt

Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

                              Dakwah Rosululloh pada puncak Mekkah

   A. Situasi & kondisi masyarakat Mekkah sebelum Islam datang.

Mekkah merupakan kota yang terpenting bagi umat islam di seluruh dunia. Secara tutorial pada abad ke V M telah mengalami perubahan & kemajuan. Dalam kehidupan keagamaan, masyarakat Mekkah banyak memiliki kepercayaan, diantaranya ada yg menyembah pohon, kayu, binatang, dll. Mekkah juga memiliki budaya yg sangat tinggi terutama dlm bidang syair. Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pedagang.

  1. Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rosul

Nabi lahir tepat pada hari Senin tanggal 12 Robi’ul Awal bertepatan 20 April 571 M. Awalnya, Nabi Muhammad disusui oleh budak Abu Lahab yaitu Suaibah Asma’iyah, kemudian Abdul Mutholib memberikan cucunya yg paling disayang kepada Halimah Sa’diyah lalu disusui olehnya.

Pada usia 6 th beliau dibawa ibunya untuk berkunjung ke keluarganya ayahnya di Madinah & untuk berziaroh di makam ayahnya. Ketika dalam perjalanan ke Mekkah ibunya meninggal dunia di sebuah desa bernama Abwa’, Muhammad diasuh oleh Abdul Mutholib hanya 2 th karena meninggal dunia saat Muhammad berumur 8 th. Kemudian diasuh oleh pamannya Abu Tholib.

  1. Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi & Rasul

Di saat kota Mekkah & penduduknya tenggelam dlm kerusakan & kemusyrikan, beliau sering merenung nasib kaumnya yg tersesat itu, karena itulah beliau sering memncilkan diri di Gua Hiro’ untuk mendekatkan diri kpd Allah agar dpt memberikan ketenangan pada hati beliau.

Dalam suatu riwayat hadits Imam Bukhori dikatakan bahwa menjelang datangnya wahyu Allah pertama turun, Muhammad sering mimpi melihat yg terang bagaikan fajar dipagi hari. Tepat ketika beliau tenggelam dlm munajatnya kepada Allah beliau di datangi oleh malaikat Jibril yg membawa perintah Allah. Tepat tanggal 17 Ramadhan / Agustus 610 M wahyu pertama turun, yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5, dalam usia 40 th.

Selama kurang lebih 211/2 th setelah menerima wahyu pertama, barulah beliau menerima wahyu yg ke-2 di Gua Hiro’ juga. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yg kedua berupa surat Al-Maidah ayat 1-7.

  1. Strategi Dakwah Rasululloh SAW di Madinah
  • Dawah secara sembunyi-sembunyi

Sasaran dakwah ini yg pertama adalah keluarga serumah, yg pertama dlm hal ini adalah Khodijah & anak-anaknya. Yg kedua adalah sahabat2 terdekat, Abu Bakar adalah org yg pertama masuk islam. Setelah itu disusul oleh Utsman bin Affan, Abdurrohman bin Auf & para sahabat2 yg lain serta beberapa penduduk quraisy lainnya. Mereka itu disebut Assabiqunal Awwalun. Susunan yg ketiga adalah saudara susuan, yaitu Hamzah bin Abdul Mutholib juga masuk islam dg semangat, sehingga oleh Rasululloh beliau2 dianugerahi gelar Assadulloh yg artinya singa Allah.

  • Dakwah secara terbuka

3 th lamanya Nabi berdakwah secara sembunyi2.Setelah itu turun perintah dari Allah untuk berdakwah secara terbuka dalam surat Al-Hijr ayat 94, yaitu :                                        

فَاصْدَعْ بِمَاتُؤْمَرُوَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْ

Ayat itu memerintahkan agar Rasululloh menyiarkan islam secara terang-terangan. Dengan seruan dakwah secara terang2an ini, maka Rasululloh & ajaran agamanya yg dibawa menjadi perhatian & pembicaraan masyarakat Mekkah.

   C. Penderitaan & Tekanan Kepada Rasululloh & Para Pengikutnya

  • Hambatan & Rintangan

Melihat realita di masyarakat bahwa perkembangan islam semakin cepat, maka terkejutlah para kaum quraisy. Karena mereka mengira kalau dakwah Rasulullhoh hanyalah gerakan kecil yg tdk akan bertahan lama. Berbagai macam siksaan ditiupkan pada para pengikutnya terutama dari golongan hamba sahaya. Rasululloh sebagai pemecah belah bangsa Arab & sebagai org yg dianggap menghinakan nenek moyang & dewa2  sesembahannya.

Sikap Nabi Muhammad yg kuat & konsisten, membuat kaum quraisy semakin biadab dlm menyiksa Rasululloh & pengikutnya. Begitulah sikap Rasululloh, beliau tetap tegar dlm setiap menghadapi hambatan & rintangan yg menimpa dirinya.

  • Boikot terhadap Bani Hasyim dan Bani Mutholib

Seluruh keluarga Bani Hasyim telah memutuskan untuk menjaga Rasululloh & perang habis2an demi kepentingan & keselamatan Rasululloh serta para pengikutnya. Kaum quraisy mengetahui bahwa keselamatan Rasululloh terletak pada Bani Hasyim. Kaum quraisy membentuk persekutuan besar untuk mengurung Bani Hasyim dlm kontek sosial. Mereka di matikan arah langkahnya agar keduanya terisolasi dari masyarakat. Pemboikotan berlangsung selama 3 th mulai pada bulam Muharrom tahun 7 kenabian atau 616M. Isi pemboikotannya antara lain :

      a) Mereka tdk akan menikahi umat islam

      b) Mereka tdk menerima permintaan nikah dg umat islam

      c) Mereka tdk akan berjual beli dg umat islam

      d) Mereka tdk akan menengok org islam yg sakit

      e) Mereka tdk akan mengantar mayat org islam ke kubur

   f) Mereka tdk akan menerima permintaan damai org islam, sebelum menyerahkan Rasululloh kepada kafir quraisy.

    D. Dakwah keluar kota Mekkah

Kehadiran kaum muslimin di negeri Habsyi (Ethiopia) pada tahun ke-5 sesudah masa kerosulan Muhammad adalah untuk menghindari siksaan & gangguan dari kaum kafir quraisy di Mekkah, sekaligus membuka misi dakwah Rasul. Rasululloh mengetahui bahwa raja Habsyi berhati mulia, adil & bijaksana.

Hijrah ke Habsyi dibsgi menjadi 2 tahap, tahap pertama dipimpin oleh Ja’far bin Abi Tholib dg jumlah 16 org muslim, tahap ke-2 diikuti oleh 96 kaum muslimin. Sampai di Habsyi kedua rombongan muslimin diterima baik oleh penguasa Habsyi Raja Negus & dipersilahkan untuk hidup ditanah airnya bahkan ada yg menetap selamanya serta Raja Negus ikut memluk ajaran islam.

  1. Dakwah Rasululloh Pada Periode Madinah

  A. Kondisi Kota Madinah Sebelum Islam Datang

Madinah terletak didaerah Hidzjaz, bagian dari semenanjung Arab yg terletak diantara dataran tinggi Nejd & daerah pantai Tihamah. Di daerah ini terdapat 3 kota utama, yaitu Thaif, Mekkah, & Madinah yg terletak 275 KM dari Laut Merah. Madinah berada disebuah lembah yg subur disebelah selatan berbatasan dg Bukit Air, sebelah utara dg Bukit Uhud dan Sur serta disebelah timur dg gurun pasir (Harah).

Penduduku Yastrib sebelum kedatangan islam terdiri dari 2 suku bangsa, yaitu Bangsa Arab & Bangsa Yahudi. Secara bertahap daerah itu berkembang menjadi kota penting ke-2 setelah Mekkah setelah kehadiran org yahudi. Org yahudi membangun pemukiman besar & benteng2 pertahanan agar mereka terhindar dari org2 Badui. Suku2 yahudi yg terkemuka adalah Bani Quraizah, Bani Nadir & Bani Qoinuqo.

  B. Kehadiran Rasululloh Di Kota Mekkah

Rasululloh melakukan pendekatan pada rombongan haji dari Yastrib yg tiba di kota Mekkah dan mengajak mereka menyembah kepada Allah. Karena mereka telah mendengar ajaran Taurat dari kaum yahudi diantaranya tentang Nabi terakhir yg akan lahir sebagai pendukung agama Monotheisme, maka mereka tidak lagi merasa asing mendengar ajaran Rasululloh. Mereka mengatakan masuk islam & berjanji akan mengajak penduduk Yastrib untuk memeluk islam.

Setibanya di Yastrib mereka bercerita kepada penduduk tentang Rasululloh dan agama yg dibawanya serta mengajak mereka masuk islam.

Tahun 621 M sebanyak 10 org suku Khazraj & 2 org dari suku Aus menemui Rasululloh & menyatakan diri masuk islam & melakukan Bai’at kepada Nabi di Bukit Aqobah (Bai’at Aqobah ke-1). Pada musi haji tahun berikutnya 622 M sebanyak 73 org rombongan haji dari Yastrib, baik yg sudah masuk islam maupun yg belum masuk islam, mendatangi Rasululloh untuk mengajak beliau hijrah ke yastrib. Pertemuan itu diadakan itu diadakan di bukit Aqobah, pada waktu itulah terjadi Bai’at Aqobah ke-2. Beberapa bulan kemudian Rasululloh bersama beberapa org islam lainnya dari Mekkah hijrah ke Yastrib, sejak itu Yastrib diganti dg nama Al Madinah Al Munawwaroh atau Madinah An Nabi.

  1. Langkah-langkah Dakwah Rasululloh di Kota Mekkah

  A. Manyatukan Masyarakat Madinah

Penduduk Madinah setelah peristiwa hijrah terdiri atas 3 golongan, yaitu kaum Muslimin, Bangsa Yahudi & Bangsa Arab yg belum masuk islam. Rasululloh menciptakn susana kekluargaan, mengembangkan sifat toleransi beragama diantara golongan2 tsb. Untuk mencapai maksud tsb, maka dibuatlah perjanjian antara kaum muslimin dg non muslim. Dalam sejarah perjanjian itu dikemas dg istilah Piagam Madinah.

Piagam Madinah mengandung prinsip2 persamaan, persaudaraan, persatuan, kebebasan, toleransi beragama, pedamaian, tolong-menolong & membela yg teraniaya serta mempertahankan Madinah dari serangan musuh. Dengan adanya perjanjian tsb, maka kota Madinah & sekitarnya menjadi kota yg terhormat yg seluruh penduduknya mempunyai rasa tanggung jawab & sanggup memikul kewajiban bersama untuk menyelenggarakan keamanan, menjamin keselamatan & mempertahankan setiap serangan musuh yg datangnya dari luar.

  B. Kebebasan Menjalankan Syariat Agama

Masyarakat Madinah adalah masyarakat yg pluralistik beragam dari suku bangsa & agama. Masyarakat Madinah diberi ruang untuk memilih agama yg diyakini kebenarannya, tdk ada paksaan dlm agama tertnetu. Rasululloh memberi  kemerdekaan beragama kepada penduduk Madinah, dan mengajarkan kepada pengikutnya untuk menghormati kepercayaan agama lainnya serta saling membantu.

  C. Meletakkan dasar Kepemimpinan Yang Demokratis

Di kota Madinah Rasululloh membawa dasar perdamaian & kemakmuran seluruh golongan & lapisan yg berada dikalangan masyarakat Madinah.karena itulah sikap arif dan bijaksana sangat ditonjolkan dlm setiap mengambil keputusan, seluruh lapisan masyarakat dilibatkan dlm mengambil kebijakan melalui unsur perwakilan serta segala aspirasi masyarakat diteriuma sebagai masukan dlm mengambil kebijakan. Disinilah unsur demokratis dlm memimpin benar2 diterapkan, begitu juga keadilan.

  D. Membentuk Pertahanan dan Keamanan

Rasululloh menyadari bahaya yg mengancam dari segenap penjuru, terutama dari pihak quraisy & beliau jg menyadari sepenuhnya akan perlunya pertahanan & keamanan dlm setiap keadaan. Oleh karena itu beliau melakukan segala tindakan yg diperlukan yg dapat memberikan keamanan pada kota Madinah & terhadap pasukannya di medan tempur dari srangan mendadak yg dilakukan oleh nusuh. Rasululloh membuat sistem patroli yg selalu dpt memberinya informasi tentang gerakan, rencana dan kekuatan musuh. Setiap kali ada kebutuhan untuk melakukan tindakan pertahanan & keamanan, berdasarkan informasi itu beliau segera melakukannya. Setiap kali ada gerakan musuh di sekitar kota Madinah, beliau segera menyusun pasukan di bawah sendiri atau di bawah pimpinan sahabatnya.

  E. Perang dan Kedaulatan

Setelah membangun masyarakat Madinah, Rasululloh mengadakan hubungan dg dunia / kekuasan lain. Hubungan dlm bentuk perang terjadi antara umat islam di Madinah dg kafir quraisy di Mekkah pada tahun ke-2 setelah hijrah, perang pertama tsb adalah perang Badar. Dalam peperangan ini umat islam memperoleh kemenangan, sedangkan internal persatuan Madinah terganggu oleh suku yahudi Madinah, yaitu suku Qoinuqo yg meninggalkan Madinah & pindah ke perbatasan Syiria.

Contoh soal:

  1. Pada awal kerasulannya, Nabi Muhammad SAW menunaikan tugas dakwahnya secara diam-diam di lingkunga keluarga sendiri dan di kalangan rekan-rekannya. Hal tersebut dilakukan karena Nabi Muhammad SAW …

          A. Khawatir keselamatan diri dan sanak saudaranya

          B. Belum mendapat perintah terdakwah secara terbuka

          C. Belum memiliki banyak pendukung dan pengikut

          D. Ingin menjaga perasaan para pemuka Qurasy

     Jawaban: C

  • Sasaran dakwah ini yg pertama adalah keluarga serumah, yg pertama dlm hal ini adalah Khodijah & anak-anaknya. Yg kedua adalah sahabat2 terdekat, Abu Bakar adalah org yg pertama masuk Islam. Setelah itu disusul oleh Utsman bin Affan, Abdurrohman bin Auf & para sahabat2 yg lain serta beberapa penduduk quraisy lainnya. Mereka itu disebut Assabiqunal Awwalun. Susunan yg ketiga adalah saudara susuan, yaitu Hamzah bin Abdul Mutholib juga masuk islam dg semangat, sehingga oleh Rasululloh beliau2 dianugerahi gelar Assadulloh yg artinya singa Allah.

Peradaban Bangsa Arab Sebelum Islam

PERADABAN BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

                             

  1. Sistem Peribadatan Bangsa Quraisy

Sebelum Islam, Pada permulaanya bangsa Arab Quraisy telah mengikuti dan meyakini ajaran agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yaitu agama Hanifiyah, “hanif” artinya benar dan lurus. Karena itu sejak dulu, ajaran tauhid sudah mengakar di hati masyarakat Arab. Pembauran dan pergaulan dengan bangsa lain mempengaruhi kepercayaan mereka, tetapi seiring berjalannya waktu, ajaran tersebut mengalami perubahan, penambahan dan pengurangan yang dilakukan oleh para pengikutnya yang tidak bertanggung jawab.

Kemudian muncul berbagai ajaran yang meragukan dan akhirnya jatuh menjadi penyembah berhala yang dibawa oleh Amr bin Luay al Khuzai. Pada masa jahiliyah orang Arab Quraisy banyak yang menyembah berhala atau patung-patung yang mereka buat sendiri dari batu, kayu dan logam. Menurut Ibnu Kalbi yang menyebabkan bangsa Arab menyembah berhala dan batu, ialah barang siapa yang meninggalkan kota Mekkah harus membawa batu yang diambil dari batu-batu yang ada di tanah Haram Ka’bah. Hal itu mereka lakukan dengan maksud untuk menghormati tanah Haram dan untuk memperlihatkan cinta mereka terhadap kota Mekkah. Kemudian di setiap tempat persinggahan, mereka meletakan batu itu dan bertawaf mengelilinginya seperti mengelilingi Ka’bah. Proses ini berlangsung terus menerus dan akhirnya mereka menyembah apa yang mereka sukai dan yakini.

 Bangsa Arab mulai menyembah berhala ketika Ka’bah berada di bawah kekuasaan Jurhum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr bin Luay al Khuzai dari keturunan Khuza’ah datang ke Mekkah dan berhasil mengalahkan Jurhum. Kemudian Amr bin Luay al Khuzai meletakkan sebuah berhala besar bernama Hubal yang terbuat dari batu akik berwarna merah berbentuk patung manusia, yang ditempatkan di sisi Ka’bah. Kemudian ia menyeru kepada penduduk Hijaz supaya menyembah berhala itu. Di samping itu banyak lagi berhala-berhala yang lain seperti al-Latta tempatnya di Thaif, menurut Tsaqif (penduduk Thaif) al-Latta ini adalah berhala yang paling tua. Al-’Uzza tempatnya di Hejaz kedudukannya sesudah Hubal, Manath, tempatnya di dekat kota Madinah Manath ini dimuliakan oleh penduduk Yatsrib.

 Beberapa bentuk pemujaan yang dianut oleh bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam:

  1. Menyembah Malaikat, di antara bangsa Arab ada yang menyembah berhala dan menuhankan Malaikat. Di kota Mekkah ada sebagian bangsa Arab yang menganggap bahwa Malaikat itu adalah putera-puteri Tuhan
  2. Menyembah jin, ruh dan hantu sebagian bangsa Arab yang menyembah hantu, jin dan ruh-ruh leluhur mereka atau menganggap batu-batu sebagai makluk yang terhormat. Bahkan di suatu tempat jin yang terkenal dengan nama ”Darahim” mereka selalu mengorbankan binatang-binatang di tempat itu agar selamat dan terhindar dari segala bencana.
  3. Menyembah bintang-bintang, yang dimaksud bintang-bintang adalah matahari, bulan dan bintang-bintang yang gemerlap cahayanya pada malam hari, mereka menganggap bintang-bintang tersebut diberikan kekuasaan penuh oleh Tuhan untuk mengatur alam ini.
  4. Menyembah berhala, sebagian bangsa Arab menyembah berhala atau arca arca yang terbuat dari batu, kayu dan logam yang mereka buat sendiri dan dengan selera mereka sendiri uantuk kemudian mereka sembah.
  5. Agama Yahudi dan Nasrani (Kristen), agama Yahudi mulai masuk ke Jazirah Arab tahun 1491 SM, mula – mula di Mesir pada zaman Nabi Musa as.

Sedangkan agama Nasrani (Kristen) masuk ke Jazirah Arab kira-kira abad ke-4 M, agama Nasrani berkembang di Jazirah Arab karena mendapat bantuan dari kerajaan Romawi dan Habsyi. Sebelum Islam, orang-orang Arab Quraisy juga banyak percaya pada takhayul, antara lain:

  1. Di dalam setiap perut orang ada ular, perasaan lapar timbul karena ular menggigit usus manusia.
  2. Mereka biasa mengenakan cincin dari tembaga atau besi, dengan keyakinan untuk menambah kekuatan.
  3. Bila mereka mengharapkan turun hujan, mereka mengikatkan rumput kering pada ekor kambing.

    B. Keadaan Sosial Masyarakat Quraisy Sebelum Islam

Keadaan sosial ekonomi masyarakat Arab sangat dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Bagian tengah Jazirah Arab terdiri dari tanah pegunungan yang tandus. Oleh sebab itu banyak penduduk yang hidupnya tidak menetap, mereka tinggal di pedalaman, yaitu masyarakat Badui, yang mata pencahariannya beternak. Mereka berpindah pindah dari satu lembah ke lembah yang lain mencari rumput untuk hewan ternaknya. Bidang pertanian dikerjakan oleh suku-suku yang bertempat tinggal di daerah-daerah subur, terutama mereka yang mendiami daerah subur di sekitar oase seperti Thaif . Di tempat ini mereka menanam buah buahan dan sayur-sayuran.

Masyarakat Arab yang tinggal diperkotaan biasanya mereka berdagang. Mereka dinamakan Ahlul Hadhar, kehidupan sosial ekonomi mereka sangat ditentukan oleh keahlian mereka dalam perdagangan. Oleh karena itu, bangsa Arab Quraisy sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Mereka melakukan perjalanan dagang pada dua musim dalam setahun, yaitu ke Negara Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin. Di kota Mekkah terdapat pusat perdagangan, yaitu pasar Ukaz, yang dibuka pada bulan- bulan tertentu, seperti Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram. Dalam bidang sosial politik, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak memiliki sistem pemerintahan yang mapan dan teratur. Mereka hanya mempunyai pemimpin yang disebut Syeikh atau Amir, yang mengurusi persoalan mereka dalam masalah perang, pembagian harta dalam pertempuran tertentu. Di luar itu seorang Syeikh tidak berkuasa atau tidak berhak mengatur anggota kabilahnya.

Di samping itu, bangsa Arab sebelum Islam juga telah mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini misalnya dapat dilihat dari berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat Arab pada waktu itu. Di antara ilmu pengetahuan yang mereka kembangkan adalah astronomi, yang ditemukan oleh orang-orang Babilonia. Mereka ini pindah ke negeri Arab pada waktu negara mereka diserang oleh bangsa Persia. Dari mereka inilah bangsa Arab belajar banyak ilmu astronomi. Tata sosial bangsa Arab sebelum Islam terkenal pemberani di dalam membela pendirian. Mereka tidak mau mengubah pendirian serta tata cara hidup yang sudah menjadi kebiasaannya, tidak mau mengalah, namun ada sisi kebiasaan yang baik yaitu suka menghormati dan memuliakan tamu.

Moral dan perilaku sangat rusak sehingga mereka disebut kaum jahiliyah “yang bodoh”. Berjudi minum minuman keras dilakukan secara bersama-sama, bahkan tak jarang mereka merampok sehingga sering menimbulkan peperangan antar suku. Yang lebih buruk lagi moralnya adalah adanya suku Arab yang mengubur bayi perempuan mereka secara hidup-hidup, mereka beranggapan bahwa anak perempuan itu tidak berguna dan hanya menyusahkan orang tua. Oleh karena itu mereka merasa terhina apabila mempunyai anak perempuan. Di antara suku yang melakukan perbuatan keji dan tak berperi kemanusiaan itu adalah suku bani Tamim dan suku bani Asad. Dalam bidang bahasa dan seni bahasa, orang-orang Arab pada masa pra Islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah dan kaya. Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka seorang penyair sangat dihormati. Tiap tahun di Pasar ‘Ukaz diadakan deklamasi sajak yang sangat luas. Selain ‘Ukaz masih ada pasar yang dijadikan tempat berkumpulnya para penyair yaitu pasar Majinnah dan Zul Majaz. Salah satu dari pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seorang yang tadinya hina atau sebaliknya menghinakan seseorang yang tadinya terhormat. Satu-satunya alat publisistik yang amat luas lapangannya yaitu Khithabah.

Di samping sebagai penyair, orang-orang Arab Jahiliyah juga sangat fasih berpidato dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Para ahli pidato pada saat itu mereka mendapat derajat tinggi seperti para penyair. Salah satu kelaziman dalam masyarakat Arab Jahiliyah adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana untuk mendeklamasikan sajak, bertanding pidato, tukar menukar berita dan lain sebagainya. Seperti: Nadi Quraisy dan DarunNadwah yang berdiri di samping Ka’bah sebagian dari dakwah mereka. Begitulah seorang ahli sejarah Islam, Ahmad Amin seorang sejarahwan islam memberi definisi tentang kata-kata Arab Jahiliyah yaitu orang-orang Arab sebelum Islam yang membangkang kepada kebenaran. Mereka terus melawan kebenaran, sekalipun telah diketahui bahwa itu benar. Jadi jahiliyah bukanlah Jahl yang berarti bodoh.

CONTOH SOAL:

  1. Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus sebagai Rasulullah, masyarakat Arab dikenal sebagai masyarakat jahiliyah atau masyarakat yang diliputi oleh kebodohan dan keterbelakangan. Sebutan jahiliyah adalah sangat tepat, karena …

            A. Penduduk Arab sebelum Islam belum mengenal tradisi baca-tulis

            B. Penduduk Arab sebelum Islam menyembah berhala

            C. Penduduk Arab sebelum Islam miskin dan mudah terkena penyakit

            D. Penduduk Arab sebelum Islam ateis tidak memiliki kepercayaan

         Jawaban: B

  • Pada masa jahiliyah orang Arab Quraisy banyak yang menyembah berhala atau patung-patung yang mereka buat sendiri dari batu, kayu dan logam. Menurut Ibnu Kalbi yang menyebabkan bangsa Arab menyembah berhala dan batu, ialah barang siapa yang meninggalkan kota Mekkah harus membawa batu yang diambil dari batu-batu yang ada di tanah Haram Ka’bah.
  • Soal ini membahas bab Peradaban bangsa arab sebelum Islam
  1. Sudah menjadi fakta sejarah bahwa agama Islam diturunkan di jazirah Arab, Nabi Muhammad sebagai tokoh utama berbangsa Arab, al-Qur’an sebagai kitab sucinya pun berbahasa Arab. Hal ini menunjukkan bahwa …

     A. Kebudayaan islam adalah sama atau identik dengan kebudayaan Arab

     B. Kebudayaan Arab lebih unggul dibandingkan kebudayaan suku bangsa lain

  C. Kebudayaan bangsa muslim selain Arab tetap penting walaupun pelengkap

   D. Tidak terkait dengan keunggulan salah satu suku bangsa termasuk Arab

      Jawaban: D

  • Agama Islam diturunkan di jazirah arab karena pada masa itu sedang terjadi jahiliyah.
  • Soal ini membahas bab Peradaban bangsa arab sebelum Islam

Sejarah Kebudayaan Islam

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di Indonesia, khususnya di madrasah-madrasah dan perguruan tinggi Islam.

PERADABAN BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

A. PERADABAN BANGSA ARAB SEBELUM ISLAM

Pada masa sebelum kedatangan Islam di Arab dikenal dengan zaman jahiliyah. Periode jahiliyah ini dalam Islam, adalah masa yang tidak mengenal agama tauhid yang membuat moralitas mereka menjadi minim.

DINASTI UMAYAH

B. DINASTI UMAYAH

kekhalifahan Islam pertama setelah masa Khulafaur Rasyidin yang memerintah dari 661 sampai 750 di Jazirah Arab dan sekitarnya; serta dari 756 sampai 1031 di Cordoba, Spanyol sebagai Kekhalifahan Cordoba.

DAKWAH RASULULLOH PADA PUNCAK MEKKAH

C. DAKWAH RASULULLOH PADA PUNCAK MEKKAH

Menurut Ahmad Syalabi dalam kitabnya Al-Mausu’ah Al-Tarikh Al-Islamiyah Fi Ushul Al-Ushtha, faktor pertama yang menjadi pemicu ditentangnya dakwah Rasulullah saw

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

D. SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.