KELOMPOK SOSIAL

KELOMPOK SOSIAL

  1. Pengertian Kelompok Sosial

Secara umum, kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama. Menurut Soerjono Soekanto, kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, antaranggotanya saling berhubungan, saling memengaruhi dan memiliki kesadaran untuk saling menolong.

  1. Kriteria Kelompok Sosial

Menurut Soerjono Soekanto, ada beberapa kriteria suatu kumpulan manusia disebut sebagai kelompok sosial yaitu sebagai berikut.

  1. Adanya kesadaran bahwa setiap anggota merupakan bagian dari kelompoknya.
  2. Adanya hubungan timbal balik di antara anggota kelompok
  3. Adanya faktor pengikat hubungan
  4. Adanya struktur, kaidah, dan pola perilaku
  5. Adanya sistem dan proses sosial
  1. Faktor Pembentuk Kelompok Sosial

Beberapa faktor yang melatarbelakangi terbentuknya kelompok sosial adalah sebagai berikut.

  1. Keyakinan bersama akan perlunya pengelompokan
  2. Harapan yang dihayati oleh anggota-anggota kelompok
  3. Ideologi yang mengikat seluruh anggota
  4. Setiap kelompok sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompoknya
  5. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dan lainnya
  6. Ada suatu faktor yang dimiliki bersama sehingga hubungan antaranggota bertambah erat
  1. Proses Terbentuknya Kelompok Sosial

Proses terbentuknya kelompok sosial diawali dengan adanya kontak sosial dan komunikasi sosial yang pada akhirnya melahirkan proses sosial dalam interaksi sosial. Selain itu, kelompok sosial juga terbentuk melalui hasil pengalaman praktis, intelektual, dan emosional. 

  1. Fase perkembangan kelompok:
  • Fase terbentuk
  • Fase tersusun
  • Fase terfokus
  • Fase dewasa
  1. Bentuk-bentuk Kelompok Sosial

Terdapat berbagai macam bentuk kelompok sosial yang diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok yaitu sebagai berikut.

  1. Kelompok tidak teratur, meliputi :
    1. Kerumunan (crowd) – sekumpulan orang yang berkumpul secara fisik
    2. Publik – sekelompok orang dalam suatu tempat yang memiliki tujuan tertentu, misalnya kelas.
    3. Massa – keseluruhan dari kerumunan massal yang heterogen.
  2. Kelompok teratur, meliputi :

   A. Kelompok dasar (basic group)

Kelompok yang dibentuk secara spontan dari bawah untuk melindungi angota-anggotanya terhadap tekanan negatif dari masyarakat besar dan berfungsi sebagai sumber kegiatan bagi pembaruan masyarakat induk itu sendiri.Contoh : kelompok agama. 

   B. Kelompok besar (big group) dan kelompok kecil (small group)

  • Kelompok besar – kelompok yang jumlah anggotanya banyak, tugas yang diemban bersifat penting dan universal.
  • Kelompok kecil – kelompok yang jumlah anggotanya sedikit, dibentuk atas dasar kebutuhan dan spesifik. Contoh : kelompok belajar.

   C. Kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group), Menurut Charles Horton Cooley, 

  • Kelompok primer – kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan secara akrab, berfisat informal, personal, dan total. Contoh : keluarga, klik, dan lain-lain.
  • Kelompok sekunder adalah kelompok – kelompok sosial yang anggota-anggotanya berhubungan secara formal, impersonal, segmental, dan berdasarkan asas manfaat.

   D. Kelompok dalam (in-groups) dan kelompok luar (out-group), Menurut W.G. Summer,

  • Kelompok dalam – sekelompok orang yang memiliki rasa solidaritas, kesetiaan, dan kerelaan berkorban untuk kepentingan dalam kelompoknya. Contoh : PMR
  • Kelompok luar – semua kelompok sosial yang tidak melibatkan kita sebagai anggota. Contoh : PMR sekolah lain.

   E. Paguyuban (Gemeinschaft) dan patembayan (Gesselschaft), Menurut Ferdinand Tonnies,

  • Paguyuban – kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki kemauan bersama, sikap saling pengertian, dan terdapat kaidah-kaidah interaksi. Hubungan para anggota bersifat personal, informal, tradisional, dan sentimental.
  • Patembayan – kelompok sosial yang bersifat impersonal, formal, kontraktual, utilitarian, realistis, ketat, dan umum.

   F. Kelompok informal (informal group) dan kelompok formal (formal group)

  • Kelompok formal – organisasi sosial yang dibentuk secara sengaja, memiliki struktur yang jelas, masing-masing bagian didalamnya memiliki tugas dan tanggung jawab khusus, serta memiliki tujuan bersama.
  • Kelompok informal – organisasi sosial yang terbentuk secara tidak sengaja, tidak memiliki struktur yang jelas.

   G. Kelompok okupasional (occupational group) dan kelompok volunter (voluntary group)

  • Kelompok okupasional – kelompok yang terdiri atas orang-orang yang melakukan pekerjaan sejenis. Contoh : kelompok pengusaha.
  • Kelompok volunteer – kelompok yang terdiri atas orang-orang yang memiliki kepentingan yang sama namun tidak mendapatkan perhatian masyarakat.

   H. Kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok patokan (reference group), Menurut Robert K. Merton,

  • Kelompok keanggotaan – semua kelompok sosial yang melibatkan kita sebagai anggotanya.
  • Kelompok patokan – kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang yang bukan anggota kelompok tersebut untuk membentuk pribadi dan perilakunya.

   I. Kelompok penekan (pressure group)

Adalah kelompok yang anggota-anggotanya bertujuan memperjuangkan kepentingan mereka di tengah masyarakat luas dengan cara menggunakan tekanan sosial.

  1. Kelompok teritorial atau komunitas sosial, meliputi :
  • Komunitas pedesaan
  • Komunitas perkotaan
  • Komunitas religius
  • Komunitas ekonomi
  1. Klasifikasi Kelompok Sosial

    A. Robert Bierstedt membedakan empat jenis kelompok, yaitu sebagai berikut.

  • Kelompok statistik (statistical group) – kelompok yang anggota-anggotanya tidak memiliki kesadaran jenis, tidak memiliki hubungan sosial, dan tidak diikat oleh suatu organisasi formal. Kelompok ini merupakan hasil ciptaan ilmuwan sosial. Contoh : pengelompokan penduduk berdasarkan usia.
  • Kelompok kemasyarakatan (societal group) – kelompok yang anggota-anggotanya memiliki kesadaran jenis tetapi tidak ada hubungan sosial dan ikatan organisasi . Contoh : kelompok berdasarkan jenis kelamin.
  • Kelompok sosial (social group) – kelompok yang anggota-anggotanya memiliki kesadaran jenis dan terjadi hubungan sosial, namun tidak diikat oleh organisasi formal. Contoh : kelompok teman.
  • Kelompok asosiasi (associational group) – kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki kesadaran jenis, persamaan kepentingan, terjadi kontak dan komunikasi sosial, ada ikatan organisasi formal, diarahkan pada suatu tujuan yang jelas, dan keanggotaannya bersifat sukarela bukan berdasarkan status. Contoh : PGRI, ASEAN

    B. Emile Durkheim membedakan dua jenis kelompok sosial, yaitu sebagai berikut.

  • Solidaritas mekanik
  • Solidaritas organik

   Contoh Soal :

  1. Indonesia dan Negara-negara di Asia Tenggara tergabung dalam organisasi yang disebut ASEAN. Mereka mempunyai agenda bersama dalam menyelesaikan persoalan pada bidang-bidang tertentu. Negara-negara ASEAN termasuk …

   A. Kelompok statis

   B. Kelompok kemasyarakatan

   C. Kelompok sosial

   D. Kelompok asosiasi

  • Jawaban : D

    Pembahasan:

Kelompok asosiasi (associational group) adalah kelompok sosial yang anggota-anggotanya memiliki kesadaran jenis, persamaan kepentingan, terjadi kontak dan komunikasi sosial, ada ikatan organisasi formal, diarahkan pada suatu tujuan yang jelas, dan keanggotaannya bersifat sukarela bukan berdasarkan status. Contoh : PGRI, ASEAN

MOBILITAS SOSIAL

MOBILITAS SOSIAL

  1. Pengertian Mobilitas Sosial

Secara umum, mobilitas sosial merupakan perpindahan seseorang/kelompok dari satu lapisan sosial ke lapisan sosial lain. Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial.

  1. Jenis Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial dapat dibedakan berdasarkan arah, waktu, dan upaya individu.  

  • Berdasarkan arahnya, mobilitas sosial dibedakan menjadi mobilitas sosial vertical dan mobilitas sosial horisontal.
  1. Mobilitas sosial vertikal – pergerakan/perpindahan individu/kelompok dari satu lapisan ke lapisan lain yang tidak setingkat. Ada dua mobilitas sosial vertikal yaitu :
    1. Mobilitas sosial naik (social climbing). Contoh : pegawai berprestasi mendapat promosi jabatan.
    2. Mobilitas sosial turun (social sinking). Contoh : ASN yang kedapatan korupsi dipecat dari jabatannya.

Ada dua bentuk mobilitas sosial vertikal yaitu mobilitas sosial vertikal intragenerasi dan mobilitas sosial vertikal antargenerasi.

  1. Mobilitas sosial vertikal intragenerasi. Contoh : Ridwan Kamil yang menjadi Gubernur Jabar setelah sebelumnya menjabat sebagai walikota Bandung.
  2. Mobilitas sosial vertikal antargenerasi. Contoh : Ayah pengusaha, anak seniman.
  1. Mobilitas sosial horisontal – perpindahan individu/kelompok dari satu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Ada dua bentuk mobilitas sosial horisontal yaitu :
    1. Mobilitas sosial horisontal intragenerasi. Contoh : Guru SMA di kota A pindah kerja ke kota B.
    2. Mobilitas sosial horisontal antargenerasi. Contoh : Orang tua adalah seorang guru ASN di SMA A dan anak yang menjadi ASN di sekretariat kepresidenan.
  • Berdasarkan waktunya, mobilitas sosial dibedakan menjadi mobilitas antargenerasi dan mobilitas intergenerasi.  
  1. Mobilitas antargenerasimobilitas yang terjadi antar dua generasi atau lebih. Mis. kakek, ayah, a
  2. Mobilitas intragenerasimobilitas yang terjadi dalam satu generasi. Mis. Kakak, adik.
  • Berdasarkan upaya individu mengubah dirinya, mobilitas sosial dibedakan menjadi mobilitas sosial yang disponsori dan mobilitas sosial tandingan.
  1. Mobilitas sosial yang disponsori (sponsored mobility) – upaya dan kemampuan individu memperoleh pendidikan, keturunan, atau dari kelas sosial yang dianggap memiliki peluang bergerak.
  2. Mobilitas sosial tandingan (contest mobility) – upaya dan kemampuan individu dalam menghadapi persaingan yang terbuka.

 

  1. Faktor Pendorong Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial didorong oleh faktor-faktor berikut.

  1. Perbedaan status sosial
  2. Perbedaan status ekonomi
  3. Masalah kependudukan
  4. Situasi politik
  5. Ambisi pribadi
  6. Motif keagamaan
  1. Faktor Penghambat Mobilitas Sosial

Terhambatnya mobilitas sosial disebabkan hal-hal berikut.

  • Perbedaan Ras dan Agama
  • Terjadinya diskriminasi kelas
  • Pengaruh sosialisasi yang kuat
  • Kemiskinan
  • Perbedaan jenis kelamin
  1. Cara Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial dilakukan dengan cara-cara berikut.

  • Perubahan Standar hidup
  • Perubahan tempat tinggal
  • Perubahan Tingkah laku
  • Perubahan nama
  • Perkawinan
  • Bergabung dengan organisasi tertentu
  1. Saluran Mobilitas Sosial

Saluran penting yang mendukung terjadinya mobilitas sosial yaitu sebagai berikut. 

  1. Organisasi pemerintahan
  2. Angkatan Bersenjata
  3. Lembaga Keagamaan
  4. Organisasi Politik
  5. Lembaga Pendidikan
  6. Lembaga Ekonomi
  7. Organisasi Keahlian,
  8. Perkawinan,
  1. Akibat Mobilitas Sosial

Akibat mobilitas sosial adalah sebagai berikut.

  1. Menimbulkan konflik
  2. Adaptasi
  3. Menimbulkan harapan dan kekecewaan

Contoh Soal :

  1. Ibu Lina adalah staf karyawati di sebuah bank swasta di Bandung yang mendapat promos! menjadi direktur di perusahaannya. Dia menggantikan Pak Akhmad yang dipindah tugaskan di kantor cabang yang baru dibuka di Sukabumi. Dua pergantian direktur itu menandakan terjadinya mobilitas vertikal dan horizontal karena …

   A. Ibu Lina mengalami perubahan status sosial menjadi lebih tinggi dan Pak Akhmad tidak mengalami perubahan

   B. Ibu Lina mengalami perubahan status sosial menjadi lebih tinggi dan Pak Akhmad mengalami penurunan status sosial

   C. Ibu Lina tidak mengalami perubahan status sosial dan Pak Akhmad mengalami perubahan status sosial menjadi lebih tinggi

   D. Ibu mengalami perubahan status sosial menjadi lebih tinggi dan Pak Akhmad jugs mengalami perubahan status sosial lebih tinggi

  • Jawaban: A

    Pembahasan :

  • Mobilitas horizontal merupakan peralihan individu atau obyek-obyek sosial lainnya dari suatu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya yang sederajat. Tidak terjadi perubahan dalam derajat kedudukan seseorang dalam mobilitas sosialnya.
  • Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat.

KONFLIK SOSIAL

KONFLIK SOSIAL

  1. Pengertian Konflik Sosial

Secara umum, konflik sosial merupakan suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

  1. Faktor Penyebab Konflik Sosial

Konflik sosial disebabkan oleh beberapa faktor seperti :

  1. Perbedaan kepribadian.
  2. Perbedaan pendirian. Contoh : perbedaan sikap politik.
  3. Perbedaan keyakinan. Contoh : perbedaan beragama
  4. Perbedaan kepentingan. Contoh : PKL vs Satpol PP
  5. Perbedaan kebudayaan. Contoh : pro kontra diberlakukannya undang-undang anti pornoaksi dan pornografi di Indonesia.
  6. Perubahan sosial. Contoh : reformasi di Indonesia.

 

  1. Bentuk-bentuk Konflik

Konflik yang kerap terjadi di masyarakat adalah sebagai berikut.

  1. Konflik antarpribadi. Contoh : beda pendapat dengan teman.
  2. Konflik antarkelas atau antargolongan sosial. Contoh : buruh vs pengusaha.
  3. Konflik rasial/antar suku/etnis. Contoh : peristiwa Malari 1974.
  4. Konflik politik. Contoh : konflik antarpartai masa Orde Lama.
  5. Konflik internasional. Contoh : Perang Teluk.

 

  1. Penyebab Konflik

Konflik disebabkan oleh hal-hal berikut.

  1. Prasangka buruk
  2. Emosi yang tak terkendali
  3. Masalah yang menimbulkan permusuhan
  4. Persaingan yang tajam
  5. Dorongan yang sangat kuat untuk meraih prestasi

 

  1. Akibat dan Fungsi Konflik

Konflik mengakibatkan hal-hal berikut.

  • Positif
    1. Meningkatkan solidaritas
    2. Alat perubahan sosial
    3. Mental masyarakat yang tahan uji
    4. Perbedaan pendapat dalam diskusi untuk mencari jalan keluar terbaik
    5. Mendorong terbentuknya lembaga pengaman
  • Negatif
    1. Retaknya persatuan kelompok
    2. Perubahan kepribadian kelompok
    3. Dominasi dan takluknya salah satu pihak
    4. Kerugian harta benda
    5. Korban jiwa

 

  1. Indikator Konflik Sosial

Indikator konflik sosial menurut para ahli :

  • Indikator konflik sosial menurut Charles Lewis Taylor dan Michael C. Hudson (1972) adalah sebagai berikut.
    1. Demonstrasi (a protest demonstration)
    2. Kerusuhan (riot)
    3. Serangan bersenjata (armed attack)
    4. Korban jiwa akibat kekerasan politik
  • Indikator konflik sosial menurut Ivo V. Feierabend dan Rosalnd L. Feierabend (1966) adalah sebagai berikut.
    1. Adanya pemilihan umum
    2. Pergantian kabinet
    3. Demonstrasi
    4. Penindakan terhadap tokoh-tokoh politik
    5. Penahanan massal
    6. Kudeta
    7. Perang saudara

 

  1. Penyelesaian Konflik:

Untuk menyelesaikan konflik, diperlukan upaya yang bersifat akomodatif. Akomodasi digunakan untuk menyebut suatu proses penyesuaian antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok, guna mengurangi, mencegah, atau mengatasi ketegangan dan kekacauan. Terdapat berbagai macam bentuk akomodasi yaitu sebagai berikut.

  1. KoersiBentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan dengan paksaan. Salah satu pihak berada dalam kondisi yang lebih lemah dibandingkan dengan pihak lawan. Koersi dapat bersifat fisik maupun psikis.
  2. Kompromi Masing-masing pihak yang terlibat konflik saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian bersama.
  3. Arbritase Cara mencapai kompromi dengan meminta bantuan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau oleh badan yang kedudukannya lebih tinggi dari pihak yang bertikai.
  4. MediasiCara menyelesaikan konflik dengan meminta bantuan pihak ketiga yang bersikap netral dan bertindak sebagai penasihat tanpa memiliki wewenang untuk mengambil keputusan.
  5. Konsiliasi Usaha mempertemukan keinginan-keinginan pihak yang bertikai untuk mencapai persetujuan bersama.
  6. Toleransi Bentuk akomodasi tanpa adanya persetujuan formal dalam wujud saling menghargai, menghormati, dan tidak saling curiga.
  7. Stalemate Masing-masing pihak yang terlibat konflik karena kekuatannya seimbang, terhenti pada suatu titik tertentu untuk tidak melakukan pertentangan
  8. Ajudikasi Bentuk penyelesaian konflik melalui pengadilan.

     Contoh soal :

  • Teror yang terjadi di Indonesia diprediksi ada hubungannya dengan kelompok Negara Islam Irak Suriah (ISIS). Pertentangan aliran agama di Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap gerakan membesarnya intoleransi di Indonesia. Intoleransi di Indonesia meningkat akibat pengaruh konflik aliran di Timur Tengah.
  1. Berikut inl adalah alasan mengapa konflik aliran yang berkembang dI Timur Tengah, dapat mengancam toleransi di Indonesia, kecuali …

    A. Adanya kelompok masyarakat yang saling bertentangan.

    B. Indonesia pemah mengalami konflik yang bemuansa SARA.

    C. Masyarakat memiliki resolusi konflik berdasarkan kearifan lokal.

    D. Berkembangnya stereotip di kelompok keagamaan sebagai yang paling benar.

  • Jawaban: C

   Pembahasan :

Konflik yang terjadi di Timur Tengah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap peta konflik di Indonesia dan mengancam toleransi di Indonesia. Hal ini disebabkan di Indonesia masih adanya kelompok masyarakat yang saling bertentangan, Indonesia pernah mengalami konflik yang bernuansa SARA, dan berkembangnya stereotip di kelompok keagamaan sebagai yang paling benar.

DIFERENSIASI SOSIAL

DIFERENSIASI SOSIAL

  1. Pengertian Diferensiasi Sosial

Secara umum, diferensiasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelompok-kelompok secara horisontal.

  1. Bentuk Diferensiasi Sosial

Bentuk-bentuk diferensiasi sosial antara lain :

  • Diferensiasi berdasarkan ras dan etnis
  • Diferensiasi berdasarkan suku bangsa
  • Diferensiasi berdasarkan agama
  • Diferensiasi berdasarkan jenis kelamin
  • Diferensiasi berdasarkan klan/marga
  • Diferensiasi berdasarkan profesi
  1. Akibat Diferensiasi Sosial

Akibat diferensiasi sosial antara lain sebagai berikut.

  • Diskriminasi ras, jenis kelamin, dan profesi
  • Etnosentrisme
  • Disharmoni kehidupan beragama
  • Benturan kepentingan antargolongan yang mengarah pada pertentangan
  • Konflik akibat terjadi persaingan

     Contoh Soal :

  1. Ekosistem lahan kars di kawasan Pegunungan Kendeng Utara memiliki sungai bawah tanah. Kawasan ini mampu mensuplai kebutuhian air rumah tangga dan lahan pertanian seluas 15.873,9 ha di Kecamatan Sukolilo dan 9.063,232 ha di Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Di sisi lain, kekayaan alam berupa bentang alam kars menjadi incaran perusahan produksi semen. Pada titik inilah ketegangan muncul. Faktor penyebab ketegangan antara pabrik semen dengan warga adalah..

   A. sumber mata air akan tercemari oleh limbah pabrik semen

   B. masyakat menolak keberadaan semen di Kayen dan Sukolilo

   C. area pertanian akan terkena dampak pencemaran lingkungan

   D. masyarakat mengentungkan hidupnya pada sumberdaya alam yang akan diekploitasi oleh perusahaan

  • Jawaban : –

   Pembahasan :

Faktor penyebab ketegangan antara pabrik semen dengan warga sejatinya adalah adanya perbedaan kepentingan. Dari gambaran soal di atas, masyarakat di kedua kecamatan dengan tegas menolak hadirnya pabrik semen di wilayah mereka karena masyarakat di kedua kecamatan tersebut menggantungkan hidupnya pada sumberdaya alam di kawasan Pegunungan Kendeng Utara. Dikhawatirkan, keberadaan pabrik semen dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Sementara itu, bagi si empunya pabrik, lahan kars yang ada di Pegunungan Kendeng Utara merupakan sumber daya alam yang harus dieksploitasi dan mendatangkan manfaat bagi banyak orang. 

Unsur-unsur Stratifikasi Sosial

Unsur-unsur Stratifikasi Sosial

Adapun unsur-unsur stratifikasi sosial adalah kedudukan (status) dan peranan (role).

  • Kedudukan (status) – tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial dan kerap disamaartikan juga dengan status sosial. Ada tiga macam kedudukan yaitu :
    • Ascribed status – kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memerhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan serta diperoleh karena kelahiran.
    • Achieved status – kedudukan yang dicapai oleh seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja
    • Assigned status – kedudukan yang diberikan kepada seseorang
  • Peranan (role) – aspek dinamis dari kedudukan (status). Peranan mencakup tiga hal yaitu :
    • Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat
    • Peranan merupakan konsep tentang apa yang dilakukan oleh individu dalam masyarakat
    • Peranan merupakan perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat

    Contoh Soal

  1. Bagi kelompok masyarakat kelas atas, memakai busana tidak sekadar sebagai media penutup tubuh tetapi juga berkaitan dengan status sosial mereka. Perilaku berbusana ini merupakan wujud dari stratifikasi sosial berdasarkan .

    A. kekayaan

    B. kekuasaan

    C. pendidikan

    D. kehormatan

  • Jawaban : A

    Pembahasan :

Stratifikasi sosial berarti tingkatan yang ada dalam masyarakat. Salah satu stratifikasi berdasar kekayaan, mereka yang memiliki kekayaan paling banyak termasuk dalam golongan lapisan atas. Kekayaan yang dimiliki dapat dilihat dari bentuk dan model rumah, mobil pribadi, cara berpakaian, cara berbelanja, dan tempat makan.

Sifat Stratifikasi Sosial

Sifat Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial bersifat tertutup (closed social stratification) dan terbuka (open social stratification).

  1. Stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification)
    • Disebut juga dengan sistem yang kaku atau ekstrim
    • Mobilitas sosial sangat terbatas atau bahkan tidak ada
    • Kedudukan ditentukan atas dasar kelahiran atau keturunan dan bersifat permanen
    • Dianut oleh masyarakat berpaham feodalisme atau status masyarakat yang ditentukan atas dasar ukuran perbedaan ras dan suku bangsa
    • Bersifat statis
    • Terbatasnya hubungan yang dilakukan dengan anggota masyarakat lainnya karena disesuaikan dengan kedudukan sosial yang dimiliki
    • Contoh : sistem kasta berdasarkan agama Hindu di India

      2. Stratifikasi sosial terbuka (open social stratification)

    • Kemungkinan mobilitas sosial sangat besar
    • Setiap individu memiliki kesempatan berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik ke lapisan yang lebih atas
    • Besarnya peluang bagi anggota masyarakat untuk membangun dirinya dan masyarakat ke arah yang lebih baik

PERILAKU MENYIMPANG & PENGENDALIAN SOSIAL

PERILAKU MENYIMPANG & PENGENDALIAN SOSIAL

  1. Pengertian Perilaku Menyimpang

Secara umum, perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial. Menurut Robert M.Z. Lawang, perilaku menyimpang adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.

  1. Faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang

     A. Faktor Internal:

  • Intelegensi
  • Kondisi fisik
  • Kondisi psikis (kejiwaan)
  • Kepribadian
  • Usia
  • Jenis Kelamin
  • Kedudukan seseorang dalam keluarga

     B. Faktor eksternal

  • Faktor sosial ekonomi
  • Kondisi politik
  • Faktor budaya
  • Kehidupan rumah tangga
  • Pendidikan di sekolah
  • Pergaulan
  • Media massa
  1. Bentuk Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang dapat digolongkan kedalam beberapa kelompok berdasarkan sifat, jumlah pelakunya, dan jenisnya.     

  • Berdasarkan sifatnya, perilaku menyimpang dibedakan menjadi penyimpangan positifdan  penyimpangan negatif.
    • Penyimpangan positif – pelanggaran terhadap nilai dan norma yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat tetapi memberikan dampak yang baik bagi pelaku dan masyarakat. Contoh, dihapuskannya tradisi Saty di India karena sangat merugikan masyarakat. Tradisi Saty adalah tradisi yang mengharuskan seorang istri yang masih hidup untuk ikut mati terbakar bersama jenazah suaminya yang telah meninggal.
    • Penyimpangan negatif – pelanggaran terhadap nilai dan norma yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat yang mengakibatkan dampak buruk bagi pelaku dan masyarakat. Contoh, pelanggaran terhadap nilai-nilai agama.
  • Berdasarkan jumlah pelakunya, perilaku menyimpang dibedakan menjadi penyimpangan individu dan penyimpangan kelompok.
    • Penyimpangan individu (individual deviation) – penyimpangan yang dilakukan hanya oleh satu orang.
    • Penyimpangan kelompok atau kolektif (group deviation) – penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok warga masyarakat secara bersama-sama.
  • Berdasarkan jenisnya, menurut Edwin M. Lemert (1951), ada dua macam penyimpangan yang dapat dilakukan oleh seseorang yaitu penyimpangan primer dan penyimpangan sekunder.
    • Penyimpangan primer (primary deviance) – dilakukan oleh seseorang secara temporer, dan pelakunya masih dapat diterima secara sosial
    • Penyimpangan sekunder (secondary deviance) – penyimpangan yang dilakukan secara berulang-ulang bahkan menjadi kebiasaan dan ciri khas dari pelakunya.
  1. Jenis Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok, yaitu sebagai berikut.

  • Tindak kejahatan atau kriminal. Contoh : pembunuhan, perampokan, pencurian, pemalsuan, penganiayaan, pemerkosaan, penculikan, dll. Terdapat beberapa jenis kejahatan yaitu sebagai berikut.
  • Kejahatan tanpa korban (victimless crime) – kejahatan yang tidak menimbulkan penderitaan pada korban. Contoh : berjudi.
  • Kejahatan terorganisasi (organized crime) – kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berkesinambungan untuk memeroleh uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum melalui penyebaran rasa takut atau melalui korupsi. Contoh : perdagangan narkoba lintas negara, pencucian uang.
  • Kejahatan kerah putih (white collar crime) – kejahatan yang dilakukan oleh orang terpandang atau orang berstatus tinggi demi keuntungan pribadinya. Contoh : penipuan, korupsi.
  • Kejahatan korporat (corporate crime) – kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi formal dengan tujuan meningkatkan keuntungan atau meminimalisir kerugian. Contoh : limbah industri yang mencemari lingkungan sekitarnya.
  • Governmental crime – kejahatan moral yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah yang berdampak buruk. Contoh : genosida.
  • Cyber-crime – kejahatan berupa penyebarluasan virus computer melalui internet dengan tujuan mengubah atau merusak sistem informasi dalam situs tersebut.
  • Penyimpangan seksual. Contoh : sodomi, transeksual, masokisme, homoseks, incest, scoptophilia, transvestite, kumpul kebo, necrophilia, perzinahan, pelacuran, dsb.
  • Pemakaian dan peredaran obat terlarang dan alkoholisme.
  • Penyimpangan gaya hidup. Contoh : arogansi (kesombongan), sikap eksentrik, konsumerisme, dll.
  • Tawuranatau perkelahian antar pelajar.
  1. Perilaku Menyimpang Sebagai Hasil Sosialisasi Tidak Sempurna

Tidak semua agen sosialisasi mampu menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga proses sosialisasi juga tidak berhasil baik. Dalam kerangka ini perilaku menyimpang disebabkan oleh proses sosialisasi yang tidak sempurna. 

  1. Perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi nilai sub kebudayaan menyimpang:

Penyimpangan ini dipicu oleh proses sosialisasi dari kelompok atau golongan masyarakat yang memiliki nilai atau kebudayaan menyimpang, seperti kelompok pencopet, penjudi, koruptor, dll.

     Contoh soal :

  1. Roni dan Rina sudah berumahtangga selama sepuluh tahun. Mereka tinggal di salah satu perumahan di Kota Jakarta yang padat penduduknya. Keluarga ini merasa kesulitan membuang sampah sehingga kadang-kadang mereka membuangnya di sungai. Tindakan mereka ini merupakan …

   A. Peyimpangan alamiah yang dibawa mereka sejak lahir.

   B. Penyimpangan berat yang tidak dapat ditoleransi masyarakat.

   C. Penyimpangan primer yang bersifat sementara dan dapat ditoleransi.

   D. Penyimpangan sekunder yang tidak dapat ditoleransi dan dilakukan berulang,

  • Jawaban : C

   Pembahasan :

Perilaku Roni dan Rina yang kadang-kadang membuang sampah di sungai karena kesulitan membuang sampah ke tempat yang semestinya merupakan bentuk penyimpangan primer. Menurut Edwin M. Lemert (1951), penyimpangan primer (primary deviance) adalah penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang secara temporer, dan pelakunya masih dapat diterima secara sosial.

SOSIOLOGI

We Transform Your Vision into Creative Results

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

icon-G_S.2.png

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing

icon-G_S.1.png

There are many variations of passages of Lorem Ipsum

icon-G_S.3.png

Where does it come from? Contrary to popular belief

icon-G_S.4.png

Here are many variations of passages of Lorem Ipsum

icon-G_S.2.png

Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing

icon-G_S.1.png

There are many variations of passages of Lorem Ipsum

icon-G_S.3.png

Where does it come from? Contrary to popular belief

icon-G_S.4.png

Here are many variations of passages of Lorem Ipsum

Digital Solutions
Boost your Success

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar

Themes
Users
Active Installs

Our Team

I am text block. Click edit button to change this text. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Menulis Laporan Praktikum

MENULIS LAPORAN PRAKTIKUM

Penulisan laporan penelitian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari penelitian yang dilakukan. Penulisan laporan penelitian dimaksudkan agar hasil penelitian dapat dikomunikasikan kepada khalayak umum atau mereka yang berkepentingan. Penulisan laporan penelitian perlu dilakukan dengan menggunakan teknik tertentu dan disusun sistematis.

Format atau sistematika laporan penelitian yang lazim digunakan adalah sebaagi berikut.

  1. Bagian Pendahuluan, meliputi :
  • Judul Penelitian
  • Kata Pengantar
  • Daftar Isi
  • Daftar Tabel
  • Daftar Gambar
  1. Bagian Isi Laporan, meliputi :
  • BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Manfaat Penelitian
  • BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
  1. Penemuan-penemuan Sebelumnya
  2. Teori yang Mendasari
  3. Kerangka Pemikiran
  4. Hipotesis
  • BAB III METODOLOGI PENELITIAN
  1. Metode Penelitian
  2. Pemilihan Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
  3. Teknik Pengumpulan Data
  • BAB IV. PEMBAHASAN
  1. Deskripsi Hasil Penelitian
  2. Analisis Data Penelitian
  3. Pembahasan
  • BAB V PENUTUP
  1. Kesimpulan
  2. Saran
  3. Bagian Penutup, meliputi :
  • DAFTAR KEPUSTAKAAN
  • LAMPIRAN-LAMPIRAN
  • INDEKS

  Contoh Soal (UN 2015-2016) :

  1. Peneliti harus membuat laporan hasil penelitian secara sistematis dalam bentuk karya tulis yang harus dipublikasikan kepada masyarakat. Bagi masyarakat, laporan tersebut sangat bermanfaat untuk …

   A. Menambah pengalaman meneliti

   B. Menjadi motivasi dalam kegiatan peneliti

   C. Sebagai landasan untuk berpikir ilmiah

   D. Memperoleh informasi yang ilmiah

   E. Memecahkan masalah dalam masyarakat

  • Jawaban : E

Penelitian merupakan suatu kegiatan yang sistematis yang dilakukan untuk menguji pengetahuan lama atau menambah pengetahuan baru. Biasanya, hasil penelitian yang diperoleh kemudian ditulis dalam bentuk karya tulis yang sistematis dan dipublikasikan kepada khalayak. Tujuannya adalah agar masyarakat mengetahui dan dapat dijadikan sebagai referensi sekaligus rekomendasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. 

Rancangan Penelitian Sosial

Rancangan Penelitian Sosial

Susunan rancangan penelitian sosial adalah sebagai berkut.

  1. Menentukan topik penelitian
  • Pengertian

Topik merupakan suatu masalah yang akan dibahas dalam penelitian dan dapat diperoleh dari berbagai sumber. Topik yang dipilih harus spesifik dan tidak terlalu luas atau umum.

  • Cara Pembatasan Topik

Pembatasan topik dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

  1. Berdasarkan waktu, periode atau zaman
  2. Berdasarkan tempat
  3. Berdasarkan aspek umum-khusus
  4. Berdasarkan objek materi dan objek formal
  5. Berdasarkan pembagian bidang kehidupan manusia
  6. Berdasarkan hubungan sebab-akibat
  1. Perumusan masalah

Perumusan masalah merujuk pada pertanyaan mengenai hal-hal yang akan dicari jawabannya melalui kegiatan penelitian. Perumusan masalah sangat penting untuk menegaskan berbagai macam hal yang akan diteliti.

  1. Tujuan dan manfaat penelitian
  • Tujuan penelitian – menjawab pertanyaan dari suatu penelitian dan harus sejalan dengan perumusan masalah.
  • Manfaat penelitian – mengetahui hasil yang akan dicapai dari penelitian dan untuk siapa hasil penelitian itu digunakan.
  1. Tinjauan kepustakaan

Tinjauan kepustakaan sangat diperlukan dalam setiap penelitian karena berfungsi sebagai berikut.

  • Menegaskan kerangka teoretis yang dijadikan landasan berpikir
  • Memperdalam pengetahuan tentang masalah yang diteliti.
  • Menghindari pengulangan penelitian.
  • Mempertajam konsep
  • Memudahkan perumusan hipotesis
  1. Hipotesis
  • Pengertian Hipotesis

Hipotesis adalah pendapat yang perlu diuji kenyataannya di lapangan. Hipotesis yang menjadi pijakan penelitian harus dirumuskan mengikuti kaidah sebagai berikut.

  1. Kalimat harus jelas dan tidak bermakna ganda
  2. Menggunakan kalimat berita
  3. Dirumuskan secara operasional agar memudahkan pengujian
  • Ciri-ciri Hipotesis

Hipotesis yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  1. Menjelaskan masalah secara rasional
  2. Diterima dengan akal sehat
  3. Dapat diuji kebenarannya
  4. Konsisten dengan teori
  5. Dinyatakan dengan singkat, padat, jelas
  6. Menyatakan hubungan di antara variable yang dipermasalahkan
  • Jenis Hipotesis

Ada dua macam hipotesis berdasarkan isi dan rumusannya, yaitu sebagai berikut.

  1. Hipotesis nol – hipotesis yang menggunakan statistic untuk menguji kebenarannya.
  2. Hipotesis kerja – hipotesis kerja atau alternatif atau asli adalah hipotesis yang dirumuskan oleh peneliti dan bersifat rasional atau deskriptif
  1. Metode Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan jenis data yang akan digali lebih lanjut, peneliti menentukan metode dan pendekatan penelitian yang akan digunakan. Menurut Sumanto dalam Widianti (2009), ada beberapa macam metode penelitian, yaitu sebagai berikut.

  • Metode historis – mengumpulkan data secara sistematis
  • Metode kausal-komparatif – digunakan untuk menentukan penyebab atau alasan adanya perbedaan perilaku atau status kelompok atau individual kemudian dicari alasan-alasan yang menjadi penyebabnya.
  • Metode korelasi – digunakan untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara dua variable atau lebih. Hasil penelitian yang diperoleh antara lain ada hubungan positif antarvariabel, ada hubungan negatif antarvariabel, dan tidak ada hubungan antarvariabel.
  • Metode deskriptif – digunakan untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan. Dalam penelitian deskriptif, peneliti berusaha untuk menggambarkan atau mendeskripsikan serta menginterpretasikan semua data yang telah dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data seperti angket, wawancara, atau pengamatan.
  • Metode eksperimen – digunakan untuk menguji hipotesis hubungan sebab-akibat.
  1. Pendekatan Penelitian

Dua pendekatan utama dalam penelitian yaitu sebagai berikut.

  • Pendekatan kualitatif – digunakan dalam penelitian yang menggunakan data-data kualitatif yakni data yang berupa kata-kata yang diperoleh melalui pengamatan secara aktif. Data-data tersebut kemudian diolah, dianalisis, dan disajikan dalam bentuk naratif.
  • Pendekatan kuantitatif – digunakan dalam proses penelitian yang memakai data-data kuantitaif yang berupa angka-angka. Data tersebut diolah dengan menggunakan analisis statistic dan disajikan dalam bentuk tabel, grafik, diagram, dan lain sebagainya.
  1. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah orang atau benda yang menjadi sasaran penelitian. Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, yang menjadi subjek penelitian adalah masyarakat. Karena lingkupnya terlalu besar maka terlebih dahulu ditentukan populasi kemudian memilih sampel.

  1. Populasi

Merupakan jumlah keseluruhan unit yang akan dianalisis

  1. Sampel

Merupakan bagian dari populasi yang akan diteliti dan merupakan representasi dari populasi.

  1. Tujuan pengambilan sampel – menghemat waktu, biaya dan tenaga dengan tetap menjaga validitas.
  2. Pertimbangan dalam proses pengambilan sampel

Hal-hal yang harus dipertimbangkan ketika melakukan pengambilan sampel adalah sebagai berikut.

  • Besarnya populasi
  • Biaya
  • Sarana dan prasarana
  • Waktu
  • Tenaga
  • Bebas bias

   3. Langkah-langkah pengambilan sampel

Adapun langkah-langkah pengambilan sampel adalah sebagai berikut.

  • Menentukan bentuk atau jenis sampel yang paling efisien dan menghasilkan keterangan paling seksama
  • Menentukan cara pengambilan sampel dan menentukan siasat penarikan anggota sampel untuk menghindari bias
  • Mempertegas hal-hal yang harus diselidiki yaitu keterangan yang dikehendaki, bilamana keterangan itu diperlukan, dan bagaimana tinggi kesaksamaan keterangan yang diinginkan
  • Menyusun kuesioner, formulir wawancara yang akan digunakan
  • Memasukkan anggota populasi ke dalam sampel
  • Memeriksa data
  • Menyusun hasil penarikan sampel ke dalam daftar dan grafik

   4. Cara pengambilan sampel

Terdapat beberapa cara pengambilan sampel, antara lain sebagai berikut.

  • Berdasarkan peluang atau probabilitas (probability sampling) – pengambilan sampel dilakukan secara acak, undian, atau tabel bilangan random
  • Tidak berdasarkan peluang (nonprobability sampling) – pengambilan sampel dilakukan secara sengaja dengan mempertimbangkan jumlah, tujuan, teknik bola salju, atau kebetulan.
  1. Data Penelitian

Data menurut Asyari dalam Widianti (2009) merupakan fakta atau keterangan yang digunakan dalam penelitian sebagai sumber untuk membuat kesimpulan atau keputusan. Ada dua jenis data, yaitu sebagai berikut.

  • Data kualitatif – data yang tidak berbentuk angka atau tidak dapat diangkakan
  • Data kuantitatif – data yang berupa angka atau dapat diangkakan
  1. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat beberapa jenis teknik pengumpulan data, antara lain sebagai berikut. 

  1. Wawancara
  • Peneliti mengumpulkan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden, Jawaban yang diberikan responden dicatat atau direkam oleh peneliti.
  • Kelebihan :
    • Dapat diterapkan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis termasuk anak-anak
    • Peneliti sebagai pewawancara dapat memberikan penjelasan kepada responden jika responden tidak memahami pertanyaan yang diajukan
    • Peneliti dapat mengecek kebenaran jawaban yang diberikan responden melalui komunikasi nonverbal yang disajikan responden atau memberikan pertanyaan pembanding
  • Kekurangan :
    • Biaya yang dibutuhkan sangat besar
    • Terbatasnya jumlah responden yang dapat dijangkau
    • Responden mungkin terganggu dengan kehadiran peneliti atau pewawancara

   2. Angket

  • Peneliti mengirimkan atau memberikan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden
  • Kelebihan :
    • Dapat menjangkau jumlah sampel yang besar
    • Biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar
    • Responden tidak akan terganggu karena peneliti tidak hadir secara fisik
    • Responden tidak terikat oleh waktu saat menjawab pertanyaan yang disajikan melalui angket
  • Kekurangan :
    • Responden bisa jadi tidak mengembalikan angket yang diberikan sehingga jumlah angket yang dikembalikan kepada peneliti seringkali tidak sesuai dengan jumlah angket yang dikirimkan kepada responden melalui pos
    • Angket hanya bisa diterapkan pada responden yang mampu membaca dan menulis
    • Responden kerap salah menafsirkan pertanyaan yang ada dalam angket
    • Responden tidak dapat bertanya kepada peneliti jika tidak memahami pertanyaan yang disajikan

   3. Observasi

  • Merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan indera penglihatan.
  • Kelebihan :
    • Data yang diperoleh merupakan data yang segar karena merupakan hasil pengamatan secara langsung
    • Sah tidaknya alat ukur dapat diketahui secara langsung
  • Kekurangan :
    • Waktu yang dibutuhkan peneliti sangat panjang
    • Tidak semua tingkah laku yang teramati berhubungan dengan penelitian
    • Beberapa tingkah laku sukar diamati atau dapat membahayakan peneliti

   4. Studi dokumentasi

  • Merupakan teknik pengumpulan data yang ditujukan pada dokumen-dokumen tertentu.
  • Jenis dokumen :
    • Dokumen primer – dokumen yang ditulis langsung oleh seseorang yang mengalami peristiwa secara langsung
    • Dokumen sekunder – dokumen yang ditulis oleh orang lain yang mendapat cerita dari pelaku peristiwa
  • Kelebihan :
    • Memungkinkan untuk meneliti subjek peneltian yang sulit dijangkau
    • Data yang diperoleh lebih objektif
    • Jumlah sampel yang diambil bisa jadi lebih besar
    • Memberi ruang untuk meneliti peristiwa yang telah lalu
  • Kekurangan :
    • Bias data karena data tidak lengkap atau berlebih
    • Dokumen belum tentu disimpan dengan baik
    • Sulit untuk mengumpulkan dan memberi kode pada data karena perbedaan format penulisan dokumen

   5. Kajian kepustakaan

  • Merupakan kegiatan penelusuran serta telaah terhadap berbagai teori yang terdapat dalam perpustakaan.
  • Hal-hal yang dilakukan peneliti antara lain sebagai berikut.
    • Menggali berbagai informasi yang berkaitan dengan penelitian secara lebih mendalam
    • Menggali beberapa teori yang berkaitan dengan penelitian secara lebih mendalam
    • Mencari metode dan teknik pengumpulan data
    • Mencari teknis analisis data
    • Menghindarkan diri dari praktek plagiasi

   6. Analisis isi

  • Merupakan kajian tentang komunikasi verbal
  • Diterapkan pada bahan tertulis atau lisan
  • Digunakan untuk meneliti sikap tokoh terhadap suatu kasus melalui artikel, naskah, dan lain sebagainya
  • Peneliti melakukan klasifikasi terhadap kata-kata yang menyatakan sesuatu yang ditunjukkan oleh tokoh tertentu terhadap kasus tertentu
  1. Pengelompokkan Data

Data yang telah dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data kemudian harus dikelompokkan dengan tujuan untuk mempermudah proses pengolahan data. Proses pengelompokkan data harus memerhatikan jenis-jenis data yang dibutuhkan sesuai dengan penelitian yang dilakukan. Jenis-jenis data yang dimaksud adalah data kualitatif, data kuantitatif, data pribadi, data primer, data sekunder, data tertulis, data lisan, dan data relevan.

  1. Pengolahan dan Analisis Data
  • Pengolahan data dalam penelitian bertujuan mengolah data yang telah diperoleh agar dapat dipahami. Untuk penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, data yang diolah adalah data yang berbentuk kata-kata. Sedangkan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitaif, data yang diolah adalah data yang berupa angka. Sehingga proses pengolahan data menggunakan analisis statistik.
  • Statistik – kumpulan dari cara dan aturan mengenai pengumpulan, pengolahan, penafsiran, dan penarikan simpulan dari data yang berupa angka. Prosedur statistik yang biasa digunakan untuk keperluan penafsiran data antara lain sebagai berikut.
  1. Unit jenjang atau rank order
  2. Rata-rata hitung atau mean – jumlah semua nilai yang terjadi dalam distribusi dibagi atas jumlah pengamatan
  3. Skor tengah atau median – nilai yang merupakan pertengahan dari distribusi frekuensi
  4. Mode atau modus – nilai yang paling besar frekuensinya
  5. Distribusi frekuensi – kumpulan pasangan nilai dengan frekuensinya
  6. Rentangan skor atau range – panjang interval yang memperlihatkan batas atas dan abates bawah nilai pengamatan
  7. Simpangan baku
  8. Varian
  • Langkah-langkah melakukan pengolahan data adalah sebagai berikut.
  1. Menyunting data – bertujuan memperbaiki kualitas data
  2. Memberikan kode (coding) – memberikan simbol berupa angka kepada setiap jawaban yang diberikan responden. Simbol ini yang disebut dengan kode dan dilakukan dengan cara :
    • Pengkodean terhadap jawaban yang berupa angka
    • Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan tertutup
  3. Membuat tabulasi data – proses pembuatan tabel-tabel sesuai dengan analisis yang dibutuhkan.
  1. Analisis dan Interpretasi Data
  • Analisis data

Setelah data diolah, peneliti kemudian melakukan analisis dan interpretasi data. Ada dua macam kegiatan analisis data dalam penelitian sosial, yaitu sebagai berikut.

  1. analisis untuk data kategorial – menggunakan tabulasi silang
  2. analisis untuk data bersambungan – menggunakan teknik statistik

Melalui analisis data, peneliti dapat melakukan interpretasi data dengan lebih mudah.

  • Interpretasi data

Dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.

  1. terbatas – interpretasi data dilakukan hanya pada data dan hubungan-hubungan yang terdapat dalam penelitian.
  2. mencari pengertian yang lebih luas tentang hasil-hasil penelitian yang diperoleh dari analisis. Hal ini dilakukan dengan cara membandingkan hasil analisisnya dengan kesimpulan yang diperoleh dari penelitian lain dengan menghubungkan kembali hasil interpretasinya dengan teori yang ada.
  1. Menarik Kesimpulan
  • Langkah berikutnya yang dilakukan peneliti adalah menarik kesimpulan berdasarkan analisis serta interpretasi data yang telah dilakukan sebelumnya.
  • Untuk dapat menarik kesimpulan, peneliti harus melakukan proses generalisasi yakni kegiatan yang berhubungan dengan pembentukan gagasan atau simpulan umum dari suatu hal. Proses ini dilakukan mengacu pada landasan teori dari penelitian yang dilakukan. Berdasarkan generalisasi inilah kesimpulan diambil.

  Contoh Soal :

  1. Salah satu kelebihan wawancara sebagai teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut, kecuali …

   A. Dapat menjangkau jumlah sampel yang besar

   B. Dapat diterapkan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis termasuk anak-anak

   C. Data yang diperoleh lebih objektif

   D. Sah tidaknya alat ukur dapat diketahui secara langsung

   E. Waktu yang dibutuhkan peneliti sangat panjang

  • Jawaban : B

   Pembahasan :

Kelebihan wawancara sebagai teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut.

  • Dapat diterapkan pada responden yang tidak bisa membaca dan menulis termasuk anak-anak
  • Peneliti sebagai pewawancara dapat memberikan penjelasan kepada responden jika responden tidak memahami pertanyaan yang diajukan
  • Peneliti dapat mengecek kebenaran jawaban yang diberikan responden melalui komunikasi nonverbal yang disajikan responden atau memberikan pertanyaan pembanding